Dari TOEFL 437 ke Australia: Kisah LPDP dan Janji yang Terus Dijaga

1 Juli 2026
OLEH: Nur Wahyu Nugroho
Dari TOEFL 437 ke Australia: Kisah LPDP dan Janji yang Terus Dijaga
 

Dari kandang sederhana di Lombok hingga kampus-kampus dunia, Ahmad Munjizun belajar bahwa masa depan kadang tidak datang kepada mereka yang paling siap. Justru, sering kali datang kepada orang yang cukup berani untuk percaya terlebih dahulu, lalu bertahan sekaligus berjuang ketika jalan menuju ke sana belum terlihat.

Pada suatu akhir pekan di tahun 2009, Ahmad Munjizun pulang ke rumah dengan sebuah keputusan yang membuat ibunya terkejut.

Beberapa waktu sebelumnya, ia masih ingin pindah jurusan kuliah. Bagaimana tidak? Sejak kecil, hidupnya sudah begitu dekat dengan dunia ternak. Pagi sebelum sekolah, ia harus memastikan sapi dan kuda sudah makan. Sepulang sekolah, ia kembali menggembala, mencari rumput, membersihkan kandang, atau membantu merawat kuda-kuda milik keluarga.

Ketika akhirnya diterima di Fakultas Peternakan Universitas Mataram, satu pertanyaan muncul dalam benaknya. Mengapa harus peternakan lagi?

Di rumah mengurus ternak. Di kampus juga akan belajar ternak.

Jizun, begitu ia akrab disapa, sempat ingin mengejar cita-cita lamanya menjadi guru matematika. Sejak kecil ia menyukai matematika. Baginya, mengerjakan soal lalu menemukan jawabannya memiliki kepuasan tersendiri. Ia bahkan pernah membayangkan suatu hari ia bisa menjadi guru, lalu membantu murid-muridnya meraih prestasi lebih jauh dari dirinya.

Namun, pagi itu setelah mengikuti sebuah kuliah umum di kampus, arah pikiran Jizun berubah.

Ia pulang dan berkata kepada ibunya, “Mak, saya nggak jadi pindah jurusan kuliah.”

Ibunya heran. Bukankah selama ini ia terus mengeluh karena hidupnya sudah terlalu dekat dengan dunia peternakan?

Jizun lalu menyampaikan kalimat yang saat itu terdengar nyaris mustahil. “Setelah saya di Fakultas Peternakan Unram, Insya Allah saya akan kuliah di University of Queensland, Australia.”

Ibunya terdiam. 

“Gimana saya dapat uang buat biayain kamu ke sana?”

Jawaban Jizun singkat, tetapi teguh. 

“Tenang, Mak. Saya akan dapat beasiswa.”

Saat itu, ia hanyalah mahasiswa baru dari Lombok yang belum pernah menempuh pendidikan tinggi di luar negeri. Bahasa Inggrisnya belum baik. Bahkan, seperti yang ia kenang sambil tersenyum, mengucapkan kata “university” saja belum benar-benar fasih.

Tetapi ada satu hal yang tidak kurang dalam dirinya, yaitu keyakinan.

Janji itu tak pernah ditarik kembali. Justru, bertahun-tahun kemudian janji itu benar-benar menjadi kenyataan.

 

Anak Desa yang Tumbuh Bersama Kuda dan Sapi

JIzun%202.jpg

Jizun lahir dan tumbuh di Desa Batunyale, Lombok Tengah. Rumahnya sekitar dua puluh menit dari Bandara Internasional Lombok. Namun, masa kecilnya tidak diwarnai oleh bayangan perjalanan jauh. Dunianya bergerak di sekitar rumah, kandang, sawah, sapi, kuda, ayam, karung rumput, dan sabit.

Saat masih SD, ia masih punya waktu bermain seperti anak-anak lain. Sekolahnya berada tepat di seberang rumah, sehingga ia bisa pulang-pergi dengan mudah. Tetapi begitu kakak-kakaknya mulai kuliah dan orang-orang yang dahulu membantu keluarga pulang ke daerah masing-masing, tanggung jawab mengurus ternak itu perlahan berpindah kepadanya dan dua adiknya.

Sejak itu, ritme hidupnya berubah.

Pagi hari sebelum sekolah, ternak harus dipastikan sudah makan dan aman. Tali tambat tidak boleh putus. Hewan tidak boleh lepas. Jika tidak sempat memberi makan langsung di kandang, sapi atau kuda akan dibawa keluar dan ditambatkan di lahan yang masih memungkinkan untuk merumput.

Sore hari, ia dan adik-adiknya kembali menggembala. Mereka membawa karung dan sabit. Pulang bukan hanya membawa sapi dan kuda yang perutnya sudah kenyang, tetapi juga dengan membawa karung yang penuh rumput untuk persediaan pakan.

Kegiatan itu tidak berhenti ketika matahari terbenam.

Jika siang atau sore hari ia harus mengikuti kegiatan sekolah, pekerjaan mengurus ternak ia kerjakan pada malamnya. Memberi makan, membersihkan kandang, memotong kuku kuda, hingga merawat ternak yang sakit.

Ia bercerita, kadang jumlah kuda di rumahnya bisa mencapai lebih dari 15 ekor. Sebagian digunakan untuk pacuan kuda. Jizun dan adik-adiknya ikut melatih kuda-kuda itu. Ia bahkan sempat menjadi joki latihan, meskipun tubuhnya yang mulai besar membuatnya tidak lagi cocok untuk lomba.

Sebagai anak sekolah, tentu ada rasa lelah. Ada hari-hari ketika ia ingin punya waktu seluas teman-temannya. Ada saat-saat ketika di kelas, pikirannya bukan hanya dipenuhi pelajaran, tetapi juga pertanyaan yang menggelayut. “Nanti cari rumput di mana? Kalau rumput kurang, alternatifnya apa?”

Namun dari kehidupan itu, ia belajar lebih dari sekadar merawat ternak.

Ia belajar tentang tanggung jawab. Tentang bekerja sebelum diminta. Tentang menyelesaikan tugas bahkan ketika tidak ada yang melihat. Tentang menerima keadaan tanpa menjadikannya alasan untuk menyerah.

Pelajaran itu kelak menjadi bekal yang jauh lebih besar daripada yang ia bayangkan.

 

Ketika Hidup Hampir Membawanya ke Jalan Lain

Jizun%203.jpg

Meski tumbuh bersama sapi dan kuda, Jizun tidak sejak awal bermimpi menjadi ahli peternakan.

Minat awalnya justru matematika. Sejak SD, ia kerap dikirim sekolah untuk mengikuti lomba bidang studi matematika. Ia tidak merasa dirinya paling luar biasa, tetapi ia menyukai proses menemukan jawaban. Ada kesenangan yang sulit dijelaskan ketika sebuah soal yang rumit akhirnya bisa diselesaikan.

Saat Tsanawiyah (SMP) dan Aliyah (SMA), prestasinya di lomba matematika berhenti di tingkat kabupaten atau provinsi. Ia belum pernah menembus tingkat nasional. Dari situ, lahir semacam “utang” kepada dirinya sendiri. Jika ia tidak sampai ke tingkat nasional, kelak murid-muridnya yang harus sampai ke sana.

Ia ingin menjadi guru matematika.

Namun menjelang akhir SMA, salah seorang guru memanggil Jizun dan beberapa temannya. Mereka diarahkan mengisi formulir penerimaan mahasiswa jalur khusus untuk Fakultas Peternakan Universitas Mataram.

Jizun mengisi formulir itu bukan karena yakin sepenuhnya. Peternakan memang terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari, tetapi belum menjadi prioritas. Bahkan setelah diterima, ia masih memikirkan kemungkinan pindah jurusan.

Lalu sebuah peristiwa kecil mengubah arah hidupnya.

Menjelang pengumuman kelulusan, kakinya tertusuk paku di kandang. Saat itu ia sedang membawa rumput untuk sapi. Paku tua yang menghadap ke atas menembus sandal dan masuk cukup dalam ke kakinya. Luka luar memang cepat kering, tetapi bagian dalamnya lama sembuh. Sekitar satu bulan, ia lebih banyak terbaring.

Di saat yang sama, ia harus mengambil keputusan: mengikuti tes masuk jurusan lain atau menerima kursi di Fakultas Peternakan. Karena kondisi tubuhnya belum pulih, ia memilih tidak mengikuti tes. Ia menerima Fakultas Peternakan.

Keputusan itu pada awalnya terasa seperti keterpaksaan.

Namun hidup, rupanya, sedang membawanya kembali ke jalan yang sejak kecil sudah ia kenal.

 

Profesor yang Menyalakan Mimpi

Titik balik itu datang pada sebuah acara kuliah umum di tahun 2009. Pagi itu, Prof. Suhubdy Yasin berdiri di hadapan para mahasiswa baru Fakultas Peternakan Universitas Mataram. Kalimat pembukanya tidak biasa.

“Ilmu peternakan akan membawa kalian ke surga.”

Mahasiswa yang hadir tentu bertanya-tanya. Namun sang profesor kemudian menjelaskan dengan cara yang membumi. Dari pangan, pakaian, ekonomi, hingga kemampuan seseorang membangun kehidupan yang lebih baik, bisa dilakukan melalui ilmu peternakan.

Bagi Jizun, ada bagian lain yang lebih membekas.

Prof. Suhubdy bercerita tentang perjalanannya sebagai alumni Fakultas Peternakan Unram yang kemudian melanjutkan pendidikan doktoral di University of Queensland, Australia. Ia menampilkan foto-foto kampus itu. Gedung-gedungnya megah. Dunia yang tampak sangat jauh dari Lombok tiba-tiba hadir di depan mata.

Jizun menatap foto itu.

Di kepalanya, sebuah kalimat lahir, “Kalau Prof. Suhubdy bisa, suatu hari saya pasti juga bisa”

Hari itu ia memutuskan untuk bertahan. Bukan lagi karena terpaksa. Bukan karena tidak punya pilihan lain. Jizun mulai melihat peternakan bukan lagi sebagai pengulangan dari pekerjaan masa kecil, melainkan sebagai jalan yang bisa membawanya lebih jauh.

Akhir pekan setelah itu, ia pulang dan menyampaikan janji kepada ibunya.

Ia akan kuliah di University of Queensland.

Dengan beasiswa.

Ibunya hanya bisa mendoakan. Tetapi bagi Jizun, doa itu cukup. Selebihnya, ia harus berjalan.

 

Gong Datu dan Luka yang Menjadi Arah
 

Jizun%204.jpg

Ada satu cerita lain yang ikut membentuk hubungan Jizun dengan dunia kuda.

Saat SMA, ia memiliki kuda kesayangan bernama Gong Datu. Ketika nafsu makan kuda itu menurun dan badannya mulai kurus, Jizun merawatnya dengan intensif. Setelah semua pekerjaan lain selesai, ia menyuapi Gong Datu pada malam hari. Ia menunggu di samping kandang, bahkan kadang sampai tertidur di samping kudanya.

Perlahan, Gong Datu membaik. Badannya kembali berisi. Larinya lebih kencang. Penampilannya kembali gagah.

Namun suatu malam, ayah Jizun melihat napas Gong Datu seperti terengah. Dikira mengalami gangguan pernapasan, kuda itu diberi ramuan tradisional yang biasa digunakan untuk manusia. Setelah itu, Gong Datu kembali tidak mau makan.

Empat hari kemudian, kuda itu mati.

Rasa kehilangan itu tinggal lama dalam diri Jizun. Ia merasa bersalah karena tidak mampu mencegah keputusan ayahnya yang memberi ramuan tersebut. Di dalam hatinya, muncul angan-angan kecil. “Andaikan aku lebih memahami dunia kuda, mungkin orang tuaku akan mendengarkanku.”

Saat peristiwa itu, ia belum membayangkan akan benar-benar menekuni Equine Science. Ia masih ingin menjadi guru matematika. Namun seperti yang kemudian ia sadari, ada angan-angan kecil yang tidak kita sangka-sangka, tetapi Tuhan simpan untuk menjadi kenyataan.

Kelak, bidang itulah yang ia pelajari di Australia dan Amerika Serikat.

 

TOEFL 437 dan Mimpi yang Tidak Mau Menyerah

Setelah lulus dari Universitas Mataram pada 2014, Jizun mulai serius mencari jalan menuju beasiswa.

Ia sudah pernah menjadi mahasiswa berprestasi Universitas Mataram. Ia aktif dalam kegiatan luar kampus dan pelatihan kepemimpinan. Namun untuk kuliah ke luar negeri, prestasi akademik saja tidak cukup. Ada satu tantangan besar yang harus ia hadapi: kemampuan bahasa Inggris.

Nilai TOEFL prediksinya tidak kunjung memenuhi standar. Setelah beberapa kali mencoba, nilainya mentok di angka 437.

Bagi banyak orang, angka itu mungkin cukup untuk membuat mundur.

Jizun tidak berhenti. Ia membeli buku TOEFL, belajar sendiri, dan terus mencari jalan. Pada saat yang sama, ia mendengar tentang beasiswa LPDP. Awalnya ia ragu. Namun kemudian ia mengetahui ada beasiswa LPDP jalur afirmasi. Jalur itu memberi ruang bagi calon penerima beasiswa dari daerah untuk mengikuti pengayaan bahasa.

Bagi Jizun, informasi itu seperti pintu yang terbuka.

Ia lanjut mendaftar.

Saat proses wawancara LPDP, ia tidak tampil sempurna. Ia bahkan sempat dibombardir dengan pertanyaan seputar materi ekonomi karena saat itu sempat mempertimbangkan jurusan lain. Bahasa Inggrisnya pun belum kuat. Ketika diminta berbicara dalam bahasa Inggris, ia menggunakan pengalaman singkatnya mengikuti program di Northern Territory Australia sebagai pegangan.

Aksennya mungkin belum sempurna. Tata bahasanya mungkin masih terbatas. Tetapi ia menunjukkan satu hal: ia pernah berusaha, dan ia mau belajar.

Akhirnya pengumuman itu datang.

Ahmad Munjizun. Animal Science. University of Queensland.

Hidup membawanya kembali ke jalur yang sama.

 

Kesempatan Itu Bernama LPDP
 

Jizun%205.jpg

Bagi Jizun, LPDP bukan sekadar beasiswa.

LPDP adalah titik balik.

Ia menyebutnya sebagai batu loncatan yang mengubah hidupnya dalam banyak hal. Bukan hanya karena membawanya ke University of Queensland, melainkan juga karena prosesnya membentuk disiplin, ketekunan, dan rasa percaya diri.

Pelatihan bahasa selama berbulan-bulan mengajarkannya bahwa motivasi saja tidak cukup. Ada proses yang harus dijalani. Ada konsistensi yang harus dijaga. Ada disiplin yang harus dilatih setiap hari.

“Motivasi itu tidak cukup. Tanpa konsistensi dan disiplin, kita tidak akan pernah sampai pada tujuan,” ujarnya.

LPDP juga mempertemukannya dengan orang-orang yang memiliki mimpi serupa. Dari pelatihan bahasa, persiapan keberangkatan, hingga kehidupan sebagai mahasiswa Indonesia di Australia. Ia menemukan jejaring yang terus memberi manfaat hingga hari ini.

Namun perubahan terpenting terjadi di dalam dirinya.

Ia merasa menjadi orang yang berbeda.

“Saya yang sekarang tidak sama dengan saya yang dulu,” katanya.

Dari seorang pemuda yang dulu ragu dengan kemampuan bahasa Inggrisnya, Jizun berubah menjadi seseorang yang percaya bahwa satu kesempatan bisa membuka pintu untuk kesempatan berikutnya.

Setelah menyelesaikan studi magister di University of Queensland, Jizun kemudian mendaftar beasiswa Fulbright. Keyakinannya sederhana: ia telah melalui proses pembentukan kapasitas. Ia sudah bertumbuh. Ia berhak mencoba lagi.

Kesempatan itu datang.

Jizun melanjutkan studi doktoral di North Carolina State University Amerika Serikat, mendalami Animal Science dengan spesialisasi Equine Science.

 

Ilmu yang Mengubah Cara Memandang

Jizun%206.jpg

Di University of Queensland, Jizun melihat betapa majunya pengelolaan kuda dilakukan di sana.

Reproduksi kuda dipantau dengan teknologi. Dokter hewan terlibat rutin. Kondisi biologis hewan diperiksa secara berkala. Siklus reproduksi diamati, masalah hormonal bisa diprediksi, dan keputusan pemeliharaan tidak lagi hanya bertumpu pada kebiasaan atau tradisi.

Banyak hal yang dulu ia lakukan di kandang berdasarkan pengalaman turun-temurun, kini ia pahami secara ilmiah.

Jizun mulai melihat bahwa peternakan bukan hanya soal produksi. Dalam konteks kuda, pendekatannya telah bergeser. Kuda tidak selalu ditempatkan sebagai hewan kerja atau sumber produksi, tetapi juga sebagai companion animal yang membutuhkan perhatian terhadap kesejahteraan hewan.

Dari sana, Jizun menaruh perhatian pada bidang animal welfare.

Ia ingin standar pemeliharaan hewan, termasuk kuda, bisa meningkat. Cara mengikat, kondisi kandang, kesehatan, hingga perlakuan terhadap hewan harus menjadi bagian dari perhatian. Bukan semata karena hewan memiliki nilai ekonomi, tetapi karena cara manusia memperlakukan hewan juga mencerminkan cara manusia memahami tanggung jawab.

Ia sadar, perubahan semacam itu tidak bisa dilakukan sekaligus. Ekonomi masyarakat juga harus tumbuh. Ketika kebutuhan dasar belum terpenuhi, standar kesejahteraan hewan sering kali belum menjadi prioritas.

Tetapi ia percaya, perubahan bisa dimulai dari ruang yang lebih kecil.

Dari daerah. Dari komunitas. Dari kesadaran bahwa ilmu yang baik bukan hanya membuat seseorang pergi jauh, tetapi juga membantunya pulang dengan cara pandang yang lebih utuh

.

Pulang ke Daerah, Memberi Kontribusi

Pendidikan tinggi tidak membuat Jizun menjauh dari akar kehidupannya.

Justru sebaliknya.

Hari ini, sebagai salah satu asisten Gubernur Nusa Tenggara Barat kiprah Jizun terus melebar. Ia tidak hanya bersentuhan dengan pertanian dan peternakan. Ia juga bersentuhan dengan bidang energi, pariwisata, investasi, serta hubungan eksternal. Jizun turut membantu mengawal rencana investasi dan menghubungkan daerah dengan calon investor maupun perwakilan negara sahabat.

Pengalamannya di bidang peternakan tetap menemukan ruang. Dalam beberapa pertemuan, termasuk dengan perwakilan negara sahabat, isu pengembangan peternakan dan kuda kembali muncul sebagai salah satu potensi kerja sama.

Ilmu yang dulu ia perjuangkan tidak berhenti di ruang akademik.

Ia mulai menemukan jalan pulang ke daerah.

Baginya, inilah salah satu makna terbesar dari beasiswa. Beasiswa bukan hanya memberi kesempatan kepada seseorang untuk belajar di tempat terbaik, tetapi juga memperluas cara seseorang melihat persoalan di tempat asalnya.

Seorang anak gembala dari Batunyale tidak hanya belajar cara merawat kuda dengan standar dunia. Ia juga belajar membaca peluang daerah, memahami pentingnya jejaring, dan melihat bahwa pembangunan membutuhkan orang-orang yang mampu menjembatani pengalaman lokal dengan pengetahuan global.

 

Jangan Mencoret Diri Sendiri

Jizun%207.jpg

Ada satu pesan yang berulang kali ingin Jizun sampaikan kepada generasi muda.

Jangan terlalu cepat merasa tidak layak.

Menurutnya, generasi hari ini tumbuh dengan banyak hal-hal yang memudahkan kehidupan. Akses informasi terbuka. Kesempatan belajar lebih luas. Beasiswa tersedia. Dunia bisa dijangkau dari gawai yang setiap hari digenggam.

Dulu, untuk belajar bahasa Inggris, seseorang harus mencari buku, guru, kursus, atau pergi ke warnet untuk mengakses materi pembelajaran. Hari ini, banyak sumber belajar tersedia dalam satu genggaman HP.

Namun di tengah banyaknya kesempatan itu, justru banyak anak muda tidak melihatnya. Mereka terlalu sibuk membandingkan diri dengan orang lain. Mereka merasa ada orang yang lebih pintar, lebih siap, atau lebih berhak.

Jizun memahami perasaan itu.

Ia pernah berada di sana.

Ia pernah punya TOEFL 437. Ia pernah hampir tidak percaya diri. Ia pernah ragu mendaftar. Ia pernah merasa jalannya tidak jelas. Tetapi jika dulu ia mencoret namanya sendiri, cerita hari ini tidak akan pernah ada.

Karena itu pesan Jizun sederhana. 

“Jangan sesekali memutuskan untuk tidak mendaftar beasiswa, termasuk LPDP, hanya karena Anda berpikir bahwa ada orang lain yang lebih baik dan lebih berhak,” pesannya.

Lima belas tahun lalu, seorang ibu bertanya dari mana uang untuk membiayai anaknya kuliah di Australia.

Hari ini, pertanyaan itu sudah terjawab.

Bukan hanya oleh gelar yang berhasil diraih Ahmad Munjizun. Bukan hanya oleh kampus-kampus dunia yang pernah ia singgahi. Bukan pula oleh pidato kelulusan yang sudah ditonton banyak orang.

Pertanyaan itu dijawab oleh keyakinan yang tidak pernah ia tarik kembali sejak pertama kali diucapkan.

Bahwa mimpi kadang tidak datang kepada orang yang paling siap.

Mimpi datang kepada mereka yang cukup berani untuk percaya lebih dulu, lalu bekerja keras sampai Tuhan perlahan-lahan membuka jalan.