Darlane Litaay: Dari Sorong ke New York, Kembali ke Papua untuk Mengajar
Masih ingat sosok pemuda bertoga yang menari di atas kapal dan sempat viral pada 2023 lalu? Dialah Darlane Litaay, putra Sorong, Papua Barat Daya, yang merayakan kelulusannya dari City University of New York. Kini, setelah menyelesaikan studi dengan IPK sempurna 4,0, Darlane memilih pulang ke tanah kelahirannya dan mengabdi sebagai dosen di Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Tanah Papua.
Dari Sorong untuk Dunia
Tumbuh besar di Sorong, Darlane akrab dengan dunia seni tari. Meski awalnya menempuh pendidikan di jurusan elektro di STM (kini SMK), ia tak bisa melepaskan diri dari klub street dance yang rutin tampil di jalanan kota.
Selepas STM, Darlane melanjutkan kuliah di Universitas AKPRIND Yogyakarta. Di kota pelajar itu, pandangannya terbuka. Ia baru tahu ada kampus khusus seni: Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Tanpa ragu, ia mengambil dua kuliah sekaligus: elektro dan tari.
“Di Sorong waktu itu, saya tidak tahu bahwa ada kampus seni di Indonesia. Setelah saya lanjut kuliah di Jogja, elektro, saya baru tahu bahwa ada kampus seni di Jogja”, tutur pemuda berambut gondrong ini. “Langsung, immediately, aku harus masuk kampus ISI gitu,” kenang Darlane.\
Dari Selatan ke Utara
Tentu bukan hal yang mudah memutuskan untuk berkuliah di dua tempat. Selama enam tahun, Darlane menjalani rutinitas padat. Pagi kuliah di kampus teknik, siang hingga malam mengejar kelas tari. Dengan vespa tua, ia menempuh puluhan kilometer setiap hari. “Like everyday seperti itu, dan itu oh my God!” ujarnya.
Tak hanya lelah fisik, ia juga harus berjuang secara finansial. Orang tuanya hanya mampu membiayai satu kampus. Demi bertahan, Darlane tampil di berbagai pentas dan mendaftar beasiswa. Usahanya terbayar ketika ISI memberinya beasiswa penuh hingga lulus.
Berkarya dan Berkelana
“I have to nail this commitment” adalah rapal yang selalu dia katakan pada dirinya selama menjalani masa kuliah itu. Pada akhirnya setelah 6 tahun berlalu, Darlane berhasil menyelesaikan pendidikannya. Tak lama setelah itu Darlane mengikuti kegiatan residensi yang membuatnya merasakan hidup di Korea Selatan selama 6 bulan. Setelahnya Jogja tetap menjadi magnet bagi Darlane yang membuatnya kembali ke kota berhati nyaman itu.
Selama tinggal di Yogya, Darlane banyak berkecimpung di dunia pertunjukan. Dari satu panggung ke panggung lainnya, Darlane mementaskan seni yang ciamik. Namun, ada yang menggelitik pikirannya. Dia melihat beberapa dosennya kala itu selain berkontribusi untuk dunia seni, mereka juga bisa mengajar dan berkontribusi pada institusi yang menciptakan seniman-seniman handal lainnya, “Jadi saya lihat bahwa saya harus jadi dosen. Caranya gimana? Harus sekolah,” kata Darlane. Namun niatnya terbentur biaya. Belum banyak beasiswa pada saat itu. Kalaupun ada syaratnya terlampau tinggi menurutnya, terutama Bahasa Inggris. Darlane sadar biaya untuknya kursus Bahasa Inggris tak ada.
Akhirnya Darlane memutuskan untuk berkelana terlebih dahulu. Dia berpindah dari satu negara ke negara lain, bergeser dari satu benua ke benua lainnya untuk menampilkan pertunjukan seninya. “Akhirnya saya memutuskan untuk travel dulu. Mengembangkan pengalaman saya di luar kampus. 10 tahun saya ada gap dari S1 ke S2. Nah dalam 10 tahun itu saya bolak balik ke Eropa, Indonesia-Eropa, ya, Indonesia, Australia, New Zealand, kemana-mana gitu untuk nyari pengalaman sebanyak-banyaknya,” terang Darlane.
Menuju New York
Selain berkelana ke berbagai negara, Darlane juga sempat mencicipi menjadi dosen S-1 di Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Tanah Papua di Jayapura. Namun, karena pendidikan terakhirnya yang masih sarjana, Darlane tak leluasa bergerak menjadi seorang dosen. “Kayaknya pengalaman di lapangan 10 tahun cukup. Secara experience sudah cukup. Sekarang aku mau yang akademik gitu dan aku mulai apply beasiswa,” ucapnya menirukan tekadnya waktu itu.
Perjuangannya mendapatkan beasiswa pascasarjana tidak mudah. Lima kali ditolak, hingga akhirnya LPDP membukakan jalan pada 2018. Darlane memilih jurusan Performance and Interactive Media Arts di City University of New York, satu-satunya program yang menggabungkan minatnya di tari dan elektro.
Darlane sangat menikmati masa kuliahnya di New York. Apalagi, dia juga tak pernah absen untuk melakukan pertunjukan jalanan di jantung kota New York itu. Banyaknya pertunjukan seni di kota itu juga membuatnya banyak belajar. Dua tahun studi ia jalani penuh semangat. Selain kuliah, ia tetap menari di jalanan New York. Hasilnya gemilang: ia lulus dengan IPK sempurna 4,0. Setelahnya seperti video yang sempat viral pada 2023 lalu, Darlane merayakan kelulusannya dengan menari di atas kapal hingga sudut-sudut kota New York.
Panggilan dari Tanah Papua
Meski sempat ditawari mengajar di New York, Darlane memilih pulang. “Because it’s my home. Aku harus pulang ke rumah,” tegasnya. Menurutnya, Papua perlu menjadi pusat seni baru di Indonesia. “Karena saya mau balikin konsep bahwa kita enggak harus terus keluar begitu. Center is us. Kita mestinya jadi center. Internasional itu kita,” lanjutnya lagi. Menurutnya Jakarta, Jogja, Bali dan kota besar lainnya sudah cukup banyak seniman tenar. Ia lebih memilih untuk membangun Papua untuk menjadi center seni baru di Indonesia.
Darlane juga ingin mahasiswa di ISBI Tanah Papua tidak hanya setara, tapi bahkan lebih baik dari dirinya. “Standarku segini, kamu harus jauh lebih tinggi,” tantangnya kepada murid-muridnya.
Harapan
Kini, Darlane tengah mempersiapkan studi doktoralnya. Ia bercita-cita mengembangkan jurusan baru yang mengintegrasikan seni tari dan teknologi di Papua.
“Bukan lagi sekadar belajar menari, tapi bagaimana dance and technology bisa dieksekusi. Itu yang dibutuhkan anak-anak Gen Z,” pungkasnya.