Ramadan Effect: Lonjakan Konsumsi, THR, dan Mudik yang Menggerakkan Ekonomi

17 Maret 2026
OLEH: Dara Haspramudilla
Ramadan Effect: Lonjakan Konsumsi, THR, dan Mudik yang Menggerakkan Ekonomi
 

Ramadan dan Idulfitri menjadi salah satu momen yang istimewa bagi masyarakat Indonesia. Selain memiliki makna religius dan sosial yang kuat, momentum ini juga membawa dinamika ekonomi yang berbeda dibandingkan periode lain dalam setahun. Aktivitas konsumsi masyarakat meningkat, mobilitas melonjak, dan berbagai sektor usaha mengalami peningkatan permintaan dari masyarakat.

Fenomena ini disebut “Ramadan Effect”, yaitu lonjakan konsumsi dan aktivitas ekonomi masyarakat yang terjadi secara musiman pada bulan Ramadan hingga Idulfitri. Momentum ini sering kali menjadi salah satu penggerak utama aktivitas ekonomi pada awal tahun terutama bagi Indonesia yang ekonominya ditopang oleh konsumsi domestik. Hal senada diutarakan oleh Josua Pardede, Chief Economist Permata Bank, yang menyebutkan bahwa momen Ramadan memberikan dorongan ekonomi yang cukup signifikan.

“Prospek pertumbuhan ekonomi di kuartal 1 ini memang momentumnya cukup baik karena seasonal factor. Kita melihat bahwa hari besar keagamaan nasional yang jatuh di kuartal 1, ada bulan Ramadan dan Idulfitri yang memang ini menjadi penggerak biasanya untuk faktor musiman bagi perekonomian Indonesia di setiap tahunnya,” terang Josua.

 

Lonjakan Konsumsi Rumah Tangga

Konsumsi masyarakat yang meningkat. Inilah yang hampir selalu identik dengan bulan Ramadan. Pola konsumsi rumah tangga berubah seiring dengan meningkatnya kebutuhan makanan, pakaian, hingga berbagai keperluan Lebaran. Aktivitas belanja ini membuat sektor perdagangan ritel mengalami peningkatan permintaan yang cukup signifikan. Tidak hanya kebutuhan pokok, konsumsi juga meningkat pada sektor jasa seperti restoran, pusat perbelanjaan, hingga hiburan. Banyak keluarga memanfaatkan momentum Ramadan untuk berkumpul dan melakukan aktivitas bersama.

“Momentum Ramadan dan Idulfitri itu memang biasanya akan menjadi faktor yang mendorong pertumbuhan ekonomi di tahun berjalan. Pada bulan Ramadan konsumsi makanan justru malah lebih meningkat dibandingkan periode di luar Ramadan. Aktivitas mudik berpergian, mobilitas, itu pun juga cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan periode-periode di luar perjalanan mudik,” ucap Josua.

Indikasi keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi yang tetap kuat tercermin dari Survei Konsumen Bank Indonesia pada Februari 2026. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Februari 2026 yang berada pada level optimis (indeks >100) sebesar 125,2. Tetap kuatnya keyakinan konsumen pada Februari 2026 ditopang oleh Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) yang tercatat sebesar 115,9, lebih tinggi dibandingkan dengan indeks bulan sebelumnya sebesar 115,1. Sementara itu, Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) tetap berada pada level optimis sebesar 134,4, meski lebih rendah dibandingkan dengan indeks bulan sebelumnya sebesar 138,8.

“Penjualan ritel tumbuh positif dan indeks keyakinan konsumen bertahan tinggi. Ini menunjukkan konsumsi rumah tangga tetap solid dan ekspektasi masyarakat tetap optimis. Consumer Confidence Index juga di level yang tinggi di atas 100, signifikan di atas 100, konsisten di sana. Itu menunjukkan daya beli masyarakat,” terang Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam Konferensi Pers APBN Kita Maret 2026.

Dominasi konsumsi ini tidak terlepas dari struktur ekonomi Indonesia yang memang sangat bergantung pada permintaan domestik. Konsumsi rumah tangga menyumbang porsi terbesar dibanding komponen lain dalam komposisi produk domestik bruto (PDB). Oleh karena itu, setiap peningkatan konsumsi dalam skala besar akan langsung berdampak pada aktivitas ekonomi secara keseluruhan. Ramadan menjadi salah satu periode ketika fenomena tersebut terlihat paling jelas.

Menurut Menkeu, pertumbuhan ekonomi pada triwulan I tahun ini diproyeksikan tumbuh 5,5 – 6,0 persen yang ditopang resiliensi konsumsi rumah tangga, akselerasi investasi pada proyek strategis dan perumahan, serta output sektor manufaktur berbasis hilirisasi.

 

Mobilitas Mudik dan Perputaran Ekonomi

Selain konsumsi, faktor penting lain dalam Ramadan effect adalah meningkatnya mobilitas masyarakat, terutama menjelang Idulfitri. Tradisi mudik yang sangat kuat di Indonesia menciptakan lonjakan mobilitas manusia dalam jumlah besar.

Setiap tahunnya jutaan orang melakukan perjalanan dari kota-kota besar menuju kampung halaman. Perpindahan mobilitas ini memicu peningkatan aktivitas ekonomi pada sektor transportasi. Survei Kementerian Perhubungan memproyeksi jumlah pemudik pada Ramadan dan Idulfitri 2026 ini diperkirakan mencapai sekitar 143 – 144 juta orang.

Menjelang Idulfitri mobilitas masyarakat memang cenderung meningkat dibandingkan periode lain dalam setahun. Aktivitas perjalanan mudik biasanya jauh lebih tinggi dibandingkan periode normal. Peningkatan mobilitas ini juga akan mendorong aktivitas ekonomi di daerah karena para perantau akan membawa daya beli dari kota besar. Dampaknya, perputaran uang tidak hanya terjadi di pusat-pusat ekonomi seperti Jakarta atau kota-kota besar lainnya, tetapi juga menjangkau hingga ke daerah-daerah.

“Minat masyarakat untuk mudik juga akan bisa menggerakkan spending dari masyarakat di daerah. Artinya perputaran uang dari kota ke daerah ke desa itu akan semakin berjalan. Saya melihat bahwa dampak ataupun efek penggandanya ini akan cukup besar untuk bisa menggerakkan, bukan hanya di kota-kota besar, tapi juga di daerah-daerah tujuan mudik. Sehingga dampaknya akan bisa menyeluruh bagi ekonomi kita dan harapannya akan bisa mendorong pemerataan pembangunan juga,” kata Josua.

 

THR sebagai Injeksi Likuiditas Ekonomi

Salah satu faktor penting yang memperkuat Ramadan effect adalah pembayaran Tunjangan Hari Raya (THR). Setiap tahunnya pemerintah maupun perusahaan swasta membayarkan THR kepada para pekerja menjelang Idulfitri. Dana tersebut biasanya langsung masuk ke dalam perputaran ekonomi melalui konsumsi masyarakat.

APBN mengalokasikan anggaran sebesar Rp55 triliun untuk THR dan pensiun. Target penerima THR adalah 6,0 juta ASN, TNI, Polri, Pensiun, sementara untuk penerima pensiun adalah sebesar 3,7 juta. Hingga 10 Maret 2026 sudah tersalurkan 45 persen dari total alokasi anggaran.

“THR sudah disalurkan Rp24,7 triliun atau sekitar 45 persen dari alokasi Rp55 triliun ini per 10 Maret. Kami mendorong seluruh kementerian lembaga dan seluruh pemerintah daerah agar segera menuntaskan pembayaran THR kepada seluruh pegawai dan juga ASN TNI Polri di seluruh Indonesia. Moga-moga cepat selesai dan harusnya selesai sebelum hari raya. Lalu kemudian terkait dengan pembayaran pensiun juga sudah dibayarkan dari APBN 2026. APBN membayar pensiun Rp36,6 triliun untuk 3,7 juta pensiunan,” papar Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara dalam Konferensi Pers APBN Kita Maret 2026.

Tambahan pendapatan berupa THR ini menciptakan lonjakan likuiditas rumah tangga yang signifikan dalam waktu yang relatif singkat karena dibayarkan dalam waktu yang hampir bersamaan kepada jutaan orang.

“Kalau bicara terkait dengan pembayaran pencairan THR, ini kan memang tadi akan bisa memberikan dorongan kuat ya, bukan hanya kepada swasta, tetapi juga kepada ASN. Ini tentunya akan menambah likuiditas untuk rumah tangga penerimanya yang memang belanjanya cenderung akan lebih tinggi. Kalau dari sisi perilakunya memang kondisi keuangan konsumen ini akan menunjukkan rata-rata porsi pendapatan itu untuk konsumsi masih relatif dominan,” ujar Josua.

Perilaku konsumsi ini membuat THR menjadi stimulus ekonomi musiman yang secara langsung akan meningkatkan aktivitas ekonomi. Menurut Josua, THR juga bisa menjadi medium perputaran uang dari pusat ke daerah terutama bagi penerima THR yang melakukan tradisi mudik.

Dengan demikian, THR tidak hanya menjadi tambahan pendapatan bagi rumah tangga tetapi juga berperan sebagai pendorong perputaran uang dalam perekonomian. Momentum ini menunjukkan kebijakan pembayaran THR dapat memberikan efek ekonomi yang cukup luas dalam waktu singkat.