19 Kali Gagal Beasiswa, Bangkit Lewat Kesempatan dari Negara: Pritta dan Misi untuk Anak Indonesia
Belajar dari Kegagalan, Bertumbuh dalam Proses
Sembilan belas kali gagal seleksi beasiswa. Angka itu bukan sekadar penolakan, melainkan perjalanan panjang yang ditempuh Pritta Novia Lora Damanik selama hampir tujuh tahun. Di tengah dinamika pekerjaaan, keterbatasan akses saat ia berada di Indonesia timur, hingga pengorbanan finansial yang tidak kecil, Pritta terus mencoba mendaftar seleksi beasiswa. Hingga akhirnya pada percobaan ke-20 kesempatan melanjutkan sekolah itu datang padanya.
Bagi Pritta, perjalanan tersebut tidak pernah semata tentang lolos beasiswa. Sejak awal, ada satu tujuan yang ia simpan yaitu berkontribusi bagi perlindungan anak-anak Indonesia.
Peran keluarga dalam perjalanan ini sangat besar. Sejak kecil, Pritta sudah diajarkan oleh orang tuanya bahwa pendidikan adalah hal utama. Ayahnya adalah sarjana pertama di kampungnya, dan itu memberi contoh bagi Pritta bahwa pendidikan adalah jalan untuk mengubah hidup. Keluarga selalu mendorongnya untuk berjuang keras mewujudkan mimpi dan cita-cita, meski dengan segala keterbatasan yang ada dalam perjalanannya.
Di salah satu fase perjuangannya, Pritta pernah mengosongkan tabungannya demi mengikuti tes bahasa Inggris. Ia harus terbang ke Jakarta, menyesuaikan waktu dengan pekerjaan, dan mengambil risiko tanpa kepastian hasil. Bagi banyak orang, langkah itu mungkin terasa terlalu berani. Namun bagi Pritta, itu adalah bagian dari komitmen dan ikhtiarnya.
Sejak pertama kali mencoba pada tahun 2015, ia terus mengajukan berbagai aplikasi beasiswa. Selama hampir tujuh tahun, ia berulang kali mengikuti seleksi beasiswa dan sebagian besar berakhir pada penolakan. Namun, kegagalan tidak pernah ia tempatkan sebagai akhir dari perjuangan.
“Ketika saya membaca kembali setiap esai yang saya tulis dalam proses seleksi beasiswa, saya melihat bahwa ternyata saya selalu bertumbuh,” ujarnya kepada redaksi Majalah Media Keuangan.
Setiap aplikasi menjadi ruang refleksi. Ia belajar mengenali dirinya, memperbaiki kekurangan, dan menajamkan tujuan. Dari proses itulah ia memahami bahwa kegagalan bukan sekadar hasil yang tertunda, tetapi bagian dari pembentukan kapasitas diri.
Dalam perjalanannya, semangat itu tidak selalu stabil. Ada masa ia berhenti sejenak menghadapi dinamika hidup, termasuk saat sebagai penyintas gempa Palu. Namun, di saat-saat yang berat, selalu ada teman dan sahabatnya yang terus mengingatkan betapa penting mengejar kesempatan beasiswa.
Pritta kembali bangkit dan semangat. Setelah sempat berhenti sejenak, ia kembali melangkah dengan perspektif yang lebih matang. Ia percaya bahwa untuk terus berjalan, seseorang tidak harus selalu berlari.
Akar Kepedulian: Dari Bacaan Masa Kecil ke Pilihan Hidup
Ketertarikan Pritta pada isu perlindungan anak telah tumbuh sejak masa kecil. Perempuan yang lahir dan tumbuh di Pematangsiantar ini gemar membaca berbagai jenis bacaan dari koran hingga majalah, yang memperkenalkannya pada berbagai realitas sosial. Dari bacaannya itu, ia mulai memahami bahwa banyak praktik yang selama ini dianggap wajar dan berkembang di masyarakat ternyata bertentangan dengan prinsip perlindungan anak.
Kesadaran itu kemudian mengarahkannya pada pilihan hidup. Setelah menyelesaikan studi sarjana di bidang hubungan internasional, Pritta memilih menapaki karier di sektor pembangunan sosial. Selama lebih dari satu dekade, ia terlibat dalam berbagai inisiatif yang berfokus pada pemenuhan hak anak, mulai dari tingkat komunitas hingga advokasi kebijakan. Pengalaman tersebut membentuk pemahaman bahwa perlindungan anak bukan hanya soal kepedulian, tetapi juga membutuhkan pendekatan yang sistematis dan berkelanjutan.
Peran Negara: Membuka Jalan, Membangun Kapasitas

Kesempatan itu akhirnya datang pada 2023, ketika Pritta dinyatakan lolos sebagai penerima beasiswa LPDP. Ia melanjutkan studi magister di bidang Education Policy and Society di King's College London.
Bagi Pritta, keberhasilan tersebut bukan sekadar capaian personal. Ia juga memaknainya sebagai bentuk kehadiran negara dalam membuka akses pendidikan bagi masyarakat.
“LPDP ini bagian dari uang kita, uang rakyat Indonesia. Maka pertanggungjawaban kita sebagai awardee adalah kepada rakyat Indonesia,” tuturnya.
Beasiswa LPDP menjadi instrumen negara dalam menyiapkan sumber daya manusia unggul. Melalui skema ini, negara tidak hanya membuka akses pendidikan, tetapi juga mendorong lahirnya kontribusi nyata bagi pembangunan.
Selama menempuh studi di luar negeri, Pritta tidak hanya memperoleh pengetahuan akademik, tetapi juga memperluas perspektifnya terhadap praktik kebijakan publik dan sistem pendidikan. Ia mengamati bagaimana kebijakan dirancang, bagaimana anggaran dikelola, dan bagaimana implementasi dijalankan dalam konteks yang berbeda.
“Kalau bukan dari beasiswa LPDP, belum tentu saya bisa berkembang sejauh ini,” ujarnya.
Dari Ilmu ke Dampak Nyata

Berbekal perspektif dan pengalaman tersebut, Pritta kembali ke Indonesia tidak hanya dengan gelar akademik, tetapi juga dengan kesiapan untuk menerjemahkan pengetahuan menjadi langkah-langkah nyata di lapangan.
Sepulang dari studi, ia kembali menekuni bidang perlindungan anak. Sebuah ruang yang telah ia geluti selama lebih dari satu dekade melalui kelibatannya pada berbagai organisasi nonpemerintah (NGO), baik di tingkat nasional maupun dalam kemitraan dengan lembaga internasional.
Saat ini, Pritta bekerja di NGO yang bermitra dengan pemerintah Indonesia untuk memperkuat sistem perlindungan anak terutama melalui sektor pendidikan. Dalam perannya, ia tidak hanya terlibat dalam perancangan program, tetapi juga memastikan bahwa pendekatan yang dikembangkan dapat selaras dengan kebijakan nasional dan relevan dengan kondisi di lapangan.
Di titik inilah peran Pritta menjadi penting. Ia menjembatani antara kebijakan yang dirancang di tingkat pusat dengan realitas yang dihadapi anak-anak di lapangan.
Salah satu pendekatan yang pernah ia kembangkan bersama tim adalah mendorong terciptanya lingkungan sekolah yang aman dan nyaman, termasuk melalui program pencegahan perundungan yang melibatkan siswa sebagai agen perubahan. Melalui pendekatan ini, siswa tidak hanya menjadi penerima program, tetapi juga berperan aktif dalam membangun budaya saling menghargai di lingkungan sekolah.
Pengalaman lapangan tetap menjadi bagian penting dalam perjalanannya. Ia pernah tinggal di daerah terpencil di Flores, hidup bersama masyarakat, dan menyaksikan langsung bagaimana anak-anak menghadapi keterbatasan terhadap akses pendidikan dan layanan dasar. Dalam kondisi serba terbatas, ia melihat bagaimana keluarga dan komunitas tetap berupaya memberikan yang terbaik bagi anak-anak mereka.
Dari pengalaman tersebut, ia belajar bahwa perubahan tidak bisa hanya bertumpu pada kebijakan, tetapi juga harus tumbuh dari keterlibatan masyarakat.
“Bagi saya, salah satu sektor strategis untuk mengimplementasikan perlindungan anak adalah melalui pendidikan,” ungkapnya.
Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor. Melalui kemitraan antara organisasi nonpemerintah dan pemerintah, berbagai upaya perlindungan anak dapat diintegrasikan dalam kebijakan dan praktik yang lebih luas, sehingga dampaknya dapat dirasakan secara berkelanjutan.
Melihat Hasil dari Sebuah Ikhtiar
Bagi Pritta, makna dari pekerjaannya terletak pada dampak yang dirasakan oleh anak-anak. “Kepuasan tertinggi bagi saya adalah melihat anak-anak itu bisa bertumbuh,” katanya.
Ia menceritakan bagaimana anak-anak yang pernah terlibat dalam program yang ia rancang kini tumbuh menjadi individu yang lebih percaya diri dan aktif. Ada anak yang aktif dalam organisasi sekolah, ada pula yang berperan dalam berbagai kegiatan kepemimpinan. Perubahan tersebut menjadi bukti bahwa intervensi yang tepat dapat membuka peluang bagi anak-anak untuk berkembang.
Lebih dari itu, Pritta melihat bahwa setiap anak yang tumbuh dalam lingkungan yang aman dan suportif merupakan bagian dari fondasi pembangunan bangsa. Investasi pada perlindungan anak, bagi Pritta, adalah investasi jangka panjang bagi kualitas sumber daya manusia Indonesia.
Membangun Masa Depan Anak Indonesia

Ke depan, Pritta membawa harapan yang sederhana namun mendasar. Ia ingin setiap anak di Indonesia dapat tumbuh dalam lingkungan yang aman, nyaman, dan mendukung.
“Saya ingin semua anak di Indonesia bisa belajar dengan tenang, menemukan potensi dirinya, dan didukung oleh lingkungan yang positif,” ujarnya.
Ia meyakini bahwa untuk mewujudkan hal tersebut, dibutuhkan pendekatan komprehensif yang melibatkan keluarga, sekolah, masyarakat, hingga negara. Perlindungan anak bukanlah tanggung jawab satu pihak, melainkan hasil dari kolaborasi yang berlapis.
Kegagalan sebagai Bagian dari Kebangkitan

Perjalanan Pritta menunjukkan bahwa kegagalan bukanlah sesuatu yang harus dihindari, melainkan bagian dari proses pembelajaran. Bagi generasi muda yang tengah berjuang, ia berpesan untuk tidak berhenti pada satu titik kegagalan.
“Kegagalan itu bukan alasan untuk berhenti, tetapi kesempatan untuk menemukan jalan yang lain,” tuturnya.
Dari 19 kali penolakan hingga akhirnya lolos pada percobaan ke-20, kisah Pritta ini menjadi refleksi bahwa ketika ketekunan bertemu dengan kesempatan, maka dapat menghasilkan dampak yang lebih luas.
Sebuah perjalanan mengenai nilai kegigihan dan kebangkitan yang tidak hanya berbicara tentang keberhasilan personal, tetapi juga tentang bagaimana investasi negara dalam pengembangan sumber daya manusia dapat kembali kepada masyarakat melalui karya, kontribusi, dan komitmen untuk masa depan generasi Indonesia.