Uang Kita dalam Bentuk Danais dan DAK Nonfisik BOP MTB Dorong Museum Sonobudoyo Menuju Kelas Dunia
Selasa pagi di pusat kota Yogyakarta. Terlihat beberapa siswa berseragam SD sedang berbaris di depan sebuah bangunan berarsitektur jawa yang megah di utara Alun-Alun Utara Kraton Yogyakarta. Raut muka mereka Nampak ceria dan antusias mendengarkan arahan dari guru pembina. Rombongan ini nampaknya adalah sekelompok siswa yang akan melaksakanan kunjungan studi ke Museum Negeri Sonobudoyo.
Sembilan puluh tahun kiprah Sonobudoyo
Pemandangan seperti itu acap kali terlihat di museum yang bersebelahan dengan Masjid Agung Kraton Yogyakarta. Maklum saja, Museum Negeri Sonobudoyo adalah salah satu destinasi wisata pengetahuan, budaya dan sejarah yang cukup mumpuni di kota pelajar. Bisa dibilang, museum ini juga memiliki koleksi yang cukup kaya dan lengkap, setelah Museum Nasional di Jakarta.
Sejarah pendirian museum ini pun telah merentang cukup panjang. Kisahnya dimulai pada tahun 1919 di Surakarta, melalui sebuah yayasan Bernama Java Instituut yang bergerak dalam bidang kebudayaan Jawa, Madura, Bali dan Lombok. Dalam sebuah kongres yang mereka adakan di tahun 1924, yayasan ini berencana mendirikan museum di Yogyakarta. Rencana tersebut berlanjut dengan pengumpulan data kebudayaan dari daerah-daerah tersebut. Hingga akhirnya, museum tersebut berhasil dibuka di tahun 1934.
Peresmian museum kebudayaan ini terjadi pada tanggal 6 November 1935. Pembukaannya dipimpin langsung oleh Sri Sultan Hamengkubuwono VIII. Museum Sonobudoyo menempati lahan bekas shouten, tanah hadiah pemberian sang raja. Sejak pertama kali dibuka 90 tahun lalu hingga kini, museum ini terus memberi pengetahuan kebudayaan-khususnya tentang Jawa, dan juga Madura, Bali serta Lombok kepada pengunjungnya. Seperti para siswa SD yang kerap melakukan karya wisata ke sana.
Mengelola keberlanjutan budaya
Sejak akhir 1974, pengelolaan Museum Sonobudoyo telah diserahkan ke pemerintah pusat/Departemen Pendidikan dan Kebudayaan setelah sebelumnya sejak era kemerdekaan dipegang oleh Bupati Utorodyopati Budaya Prawito yaitu jajaran pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta. Museum Sonobudoyo mulai Januari 2001 bergabung pada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi DIY diusulkan menjadi UPTD Perda No. 7 / Th. 2002 Tgl. 3 Agustus 2002 tentang pembentukan dan organisasi UPTD pada Dinas Daerah dilingkungan Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, dan SK Gubernur No. 161 / Th. 2002 Tgl. 4 Nopember tentang TU – Poksi.
Pemerintah melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) Nonfisik meluncurkan program Bantuan Operasional Penyelenggaraan Museum dan Taman Budaya (BOP MTB). Program ini diadakan untuk membantu meningkatkan kualitas pengelolaan museum dan taman budaya agar memenuhi standar pelayanan. Di tahun 2025, pemerintah telah mengalokasikan Rp169,97 M #UangKita untuk program tersebut. Pemanfaatannya tak hanya untuk Museum Sonobudoyo saja, tapi seluruh museum dan taman budaya setingkat Unit Pelaksana Teknis Daerah Museum dan Taman Budaya (UPTD MTB). Unit pelaksana teknis tersebut bertanggung jawab melaksanakan kegiatan teknis operasional museum dan taman budaya pada dinas yang menyelenggarakan urusan bidang kebudayaan pada pemerintah daerah provinsi dan/atau pemerintah daerah kabupaten/kota.
Sebagaimana diatur dalam Permendikbud RI No. 2 Tahun 2021, pemanfaatan DAK Nonfisik-BOP MTB untuk museum digunakan untuk pengelolaan koleksi, program publik, dan pemeliharaan sarana dan prasarana. Sedangkan untuk taman budaya, perbedaannya ada pada pemanfaatan untuk langganan daya dan jasa, sebagai pengganti pengelolaan koleksi. Sasaran program DAK Nonfisik BOP MTB adalah pemerintah daerah yang memiliki museum dan taman budaya yang telah ditetapkan oleh Menteri (Kebudayaan).
Keistimewaan Sonobudoyo Yogyakarta
Museum Sonobudoyo tak hanya istimewa dan unggul karena koleksi lengkap mengenai kebudayaan Jawa, Madura, Bali dan Lombok saja. Museum ini juga memiliki privilese lebih dalam hal pendanaannya. Tak hanya berhak mendapat suntikan DAK Nonfisik-BOP MTB dalam pengelolaannya, Sonobudoyo juga turut memperoleh alokasi Dana Keistimewaan (Danais) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) melalui transfer ke daerah (TKD).
Pada Selasa, 19 Maret 2024 silam museum ini baru meresmikan tata pamer baru di Gedung Thomas Karsten. Pelaksanaan pembangunan ruangan tersebut berlangsung sejak Juli hingga Desember 2023 lalu menggunakan anggaran Danais DIY senilai Rp6,9 miliar. Di tahun 2023 lalu, pemerintah tercatat menyalurkan Rp 1,42 triliun Danais DIY. Pembuatan tata pamer baru itu bertujuan untuk bisa menampung koleksi dan menuju museum bertaraf internasional.
Tata pamer baru di gedung, yang namanya merupakan bentuk penghormatan kepada Thomas Karsten sang arsitek bangunan museum, tersebut terbagi ke dalam beberapa segmen. Begitu masuk, pengunjung akan disuguhi tema rumah adat Jawa dengan berbagai koleksi dan pernak-pernik rumah tangga. Ruang selanjutnya bertema budaya praaksara dengan artefak kuno dan koleksi kendinya. Kemudian, ada ruangan Hindu-Budha diikuti dengan koleksi budaya Islam dengan koleksi khasnya masing-masing. “Tata pamer baru ini memang kita siapkan untuk bisa memberikan pengalaman yang lebih maksimal untuk para pengunjung museum, sehingga ini bisa lebih menarik minat dan lebih mampu memberikan presentasi yang optimal bagi masyarakat terkait dengan apa yang kita sajikan,” ungkap Dian Lakshmi Pratiwi, SS, M.A, Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY saat meluncurkan tata pamer baru gedung Thomas Karsten.
Tujuan wisata dan edukasi budaya lintas kalangan
Museum Sonobudoyo tak hanya mampu menarik minat pelajar lokal Yogyakarta saja untuk berkunjung. Daya tariknya juga mampu memikat beragam wisatawan di kota yang menjadi salah satu pusat destinasi pariwisata Indonesia ini. Tak sedikit pula pengunjung yang berasal dari wisatawan mancanegara. “Ini kunjungan kedua saya di Jogja tapi baru pertama kali ke (museum) sini. Saya menyesal (baru ke sini) karena museum ini sangat luar biasa. Kualitas koleksinya sangat bagus!” tegas seorang wisatawan mancanegara dari Belanda.
“Tahunya dari media sosial, saya memang ingin explore kebudayaan,” ucap Selma Dwi Utami dari Tasikmalaya. Ia mengaku sangat tertarik dengan koleksi museum ini setelah melihat foto-foto di akun media sosial museum tersebut. Selma menunjukkan area favoritnya adalah teater di lantai 5. “Menurut saya itu merupakan pertunjukan yang membuka mata saya mengenai apa yang ada dan terjadi di masa lalu, disajikannya melalui audio visual,”
Lain lagi yang diutarakan oleh Radit dari Jakarta. Ia mengaku sangat menyukai koleksi senjata khas Nusantara. Beragam senjata khas daerah seperti keris, golok, tombak dengan berbagai bentuk dan jenis dipamerkan di ruangan Keris dan Senjata. “Bagus juga ya, Jogja kan memang membudidayakan seni dan sejarahnya yang bikin semua museum dibikin terjangkau dan senyaman mungkin,” ungkapnya mengapresiasi.