Alumni LPDP Bangun Kedaulatan Pangan, Berawal dari Kegelisahan atas Nasib Petani
Di sebuah pasar di Aceh, seikat bayam dijual sekitar Rp2.000. Namun, petani yang menanam, merawat, dan memanennya hanya menerima sekitar Rp300.
Ketimpangan inilah yang mengusik Rivan Rinaldi. Bagi Rivan, selisih itu bukan sekadar persoalan harga. Di baliknya, ada jerih payah petani yang belum dihargai secara layak dan ketidakpastian yang terus berulang setiap musim panen.
Berbekal ilmu yang diperoleh melalui beasiswa LPDP, Rivan Rinaldi kemudian membangun Rumoh Pangan Aceh untuk memperkuat posisi petani, mengembangkan pangan lokal, dan menghadirkan sistem pangan yang lebih adil.
“Petani yang jagain, yang rawat, panas, hujan, nanam, segalanya. Tapi yang kaya siapa? Yang sejahtera siapa?” kata Rivan.
Melalui Rumoh Pangan Aceh, Rivan bersama timnya kemudian membeli hasil panen tersebut dengan harga yang lebih adil. Sayuran disalurkan kepada masyarakat melalui donasi. Gerakan yang dimulai dari langkah kecil itu kemudian berkembang menjadi berbagai program yang menghubungkan petani, pangan lokal, dan masyarakat yang membutuhkan.
Menjelang HUT ke-81 Republik Indonesia dengan tema Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur, perjalanan Rivan memperlihatkan bahwa kemerdekaan juga dapat dimaknai dari pertanian. Ketika petani memiliki kepastian pasar, hasil bumi daerah memperoleh nilai tambah, dan masyarakat mampu mengandalkan kekuatan pangannya sendiri, itulah salah satu makna kemerdekaan yang ingin Rivan gaungkan.
Pertanyaan dari Desa Ladang
.jpeg)
Rivan lahir di Desa Ladang, Aceh Selatan. Sesuai namanya, kehidupan masyarakat desa tersebut sangat dekat dengan pertanian. Ibunya merupakan ibu rumah tangga yang juga bertani. Sejak kecil, Rivan kerap ikut ke sawah dan kebun pala.
Dari sana, ia melihat ironi yang sulit dipahami. Desa menghasilkan pangan, tetapi orang-orang yang mengusahakannya belum tentu hidup sejahtera.
“Kok petani enggak sejahtera ya?” Pertanyaan itu terus mengikuti perjalanan Rivan.
Ia kemudian menempuh pendidikan di FKIP Biologi Universitas Syiah Kuala. Setelah lulus pada 2016, Rivan mengajar dan membimbing siswa dalam berbagai kompetisi sains. Salah seorang siswa yang dibimbingnya bahkan berhasil meraih medali emas olimpiade.
Namun, kegelisahannya terhadap kehidupan petani belum selesai. Rivan ingin mencari jalan agar ilmu yang dimilikinya juga dapat digunakan untuk menjawab persoalan masyarakat desa.
“Banyak hal yang harus diselesaikan dari pertanian. Saya ingin fokus menyelesaikan masalah pertanian agar masyarakat di desa, khususnya petani, mendapatkan kesejahteraan,” ujarnya.
LPDP Membuka Jalan

Kesempatan menempuh pendidikan tinggi tidak datang dengan mudah. Saat pertama kali masuk perguruan tinggi, keluarga Rivan harus mengumpulkan biaya dari beberapa saudara untuk membayar uang kuliah awal.
Rivan kemudian memperoleh Bidikmisi. Namun, ia tetap bekerja sejak masa kuliah sebagai guru mengaji, tentor, dan pembimbing olimpiade untuk memenuhi kebutuhan tambahan.
Dengan kondisi tersebut, keinginan menempuh pendidikan magister di luar negeri nyaris tidak mungkin dilakukannya tanpa beasiswa.
Pada 2016, Rivan kemudian mengikuti seleksi beasiswa LPDP melalui jalur afirmasi. Kemampuan bahasa Inggris menjadi salah satu keterbatasan terbesarnya. Program pengayaan bahasa memberinya ruang untuk meningkatkan kemampuan sekaligus mempersiapkan studi.
Rivan berhasil lolos dalam percobaan pertama.
Beasiswa LPDP kemudian membawanya ke Wageningen University & Research di Belanda. Dukungan pembiayaan yang diterimanya membebaskan Rivan dari kekhawatiran finansial sehingga ia dapat memusatkan perhatian pada studinya.
Namun, manfaat LPDP baginya jauh melampaui biaya pendidikan. Kesempatan tersebut mempertemukannya dengan pengetahuan baru, teknologi pertanian, jejaring internasional, serta para ahli yang masih terhubung dengannya hingga kini.
“Ketika kita di luar negeri, kita tidak cuma kuliah. Banyak hal yang kita lihat dan itu membuka pikiran kita,” tuturnya.
Rivan dapat melihat langsung kemajuan pertanian di negara lain, lalu membandingkannya dengan persoalan di Indonesia. Dari sana muncul pertanyaan baru: pengetahuan apa yang dapat segera dibawa pulang dan diterapkan untuk membantu petani?
“Kalau tidak ada beasiswa LPDP, itu tidak akan terjadi,” katanya.
Awalnya, Rivan ingin mendalami pemuliaan tanaman untuk menjawab persoalan hama dan penyakit pala di Aceh. Namun, setelah mengikuti perkuliahan awal, ia memilih bidang yang dinilai lebih cepat diterapkan.
“Apa sih masalah mendasar yang bisa segera saya selesaikan dan memberikan manfaat bagi orang banyak?” kenangnya.
Ia kemudian mempelajari sistem produksi tanaman, pertanian regeneratif, pertanian berkelanjutan, serta hubungan antara teknologi, lingkungan, produktivitas, dan pasar.
Di Wageningen, Rivan memahami bahwa pertanian tidak cukup dibangun dengan mengajarkan cara menanam. Petani perlu ditempatkan dalam ekosistem yang menghubungkan produksi, pengolahan, industri, dan konsumen.
Tumbuh melalui Kegagalan

Perjalanan studi Rivan di luar negeri tidak selalu berjalan mulus. Materi statistik, pemrograman, dan penelitian mandiri membuatnya sempat merasa tertinggal. Ia juga menjadi satu-satunya mahasiswa Indonesia di program tersebut. Tekanan itu membuat Rivan sempat mempertanyakan kemampuannya dan merasa belum pantas menerima kepercayaan negara.
“Saya merasa Indonesia sudah menitipkan mimpinya kepada saya. Dana sudah digunakan, tetapi saya merasa tidak pantas,” tuturnya.
Dukungan senior, teman-teman komunitas Indonesia, dan pendampingan kampus perlahan membantunya bangkit. Rivan menemukan pola belajar yang sesuai, mengulang mata kuliah yang belum lulus, dan akhirnya menyelesaikan studinya dengan baik.
Pengalaman tersebut mengajarkan bahwa pendidikan bukan hanya tentang memperoleh ilmu. Pendidikan juga menuntut keberanian mengakui keterbatasan, menerima pertolongan, dan kembali berdiri setelah mengalami kegagalan.
Ketika Wageningen Mengubah Cara Pandang
Sekitar satu bulan sebelum lulus kuliah di Wageningen, Rivan telah memperoleh pekerjaan di sebuah perusahaan pengolahan kelapa di Aceh. Di sana, ia bekerja bersama lebih dari 600 petani mitra.
Ia mendampingi petani, menjaga kualitas bahan baku, dan menangani sertifikasi organik. Peran tersebut memberinya pemahaman mengenai rantai bisnis pertanian, sejak hasil dipanen hingga diproses untuk pasar ekspor.
Sebagian ilmu dari Wageningen dapat langsung diterapkan. Namun, tidak semua gagasannya bisa dijalankan karena ia bekerja dalam struktur perusahaan.
Pengalaman itu memperkuat satu keyakinan dalam dirinya: petani Indonesia harus ditempatkan sebagai bagian penting dalam ekosistem bisnis. Petani kini seharusnya bukan sekadar pemasok bahan mentah di ujung rantai produksi.
Setelah hampir tiga tahun bekerja, Rivan mengikuti program fellowship di Amerika Serikat. Ia belajar dari organisasi lokal dan petani di sana mengenai pasar yang lebih adil dan pengelolaan organisasi. Di sana, Rivan juga sempat mendalami peran bank pangan dalam membantu masyarakat sekaligus menyerap hasil panen.
Sepulang dari program fellowship tersebut, Rivan memilih meninggalkan pekerjaannya dan mendirikan Rumoh Pangan Aceh pada 2024.
Agar Bertani Tidak Lagi Seperti Berjudi
.jpeg)
Rumoh Pangan Aceh dibangun untuk menjawab dua persoalan sekaligus: petani yang membutuhkan pasar layak dan masyarakat yang membutuhkan akses pangan.
Rivan melihat, salah satu persoalan terbesar petani adalah ketidakpastian harga. Para petani harus mengeluarkan modal dan bekerja selama berbulan-bulan, tetapi belum mengetahui apakah akan memperoleh keuntungan saat panen.
“Bertani itu seperti berjudi. Kita tidak tahu setelah panen akan untung atau rugi,” ujarnya.
Untuk mengurangi ketidakpastian tersebut, Rivan melalui Rumoh Pangan Aceh mengembangkan skema contract farming. Harga minimum disepakati sejak awal sehingga petani dapat memperkirakan hasil yang akan diterima.
Rivan tidak ingin petani hanya diberi bibit, diminta menanam, lalu dibiarkan mencari pembeli sendiri. Petani perlu dihubungkan dengan pasar dan rantai industri yang mampu menyerap hasil produksi secara berkelanjutan.
Rumoh Pangan Aceh juga mengembangkan pangan lokal menjadi produk olahan. Tujuannya bukan sekadar menghasilkan produk baru, tetapi menciptakan pasar bagi petani dan menjaga agar nilai tambah tetap tumbuh di daerah.
Saat wawancara dilakukan, sekitar 200 petani dan pelaku pangan telah terlibat dalam berbagai program Rumoh Pangan Aceh. Unit produksi pangan yang dikembangkan ini juga membuka kesempatan kerja bagi perempuan di sekitar lokasi program.
Di sisi lain, Rumoh Pangan Aceh juga menjalankan penyelamatan pangan, sedekah pangan, dan edukasi gizi. Gerakan tersebut berupaya memastikan hasil panen tidak terbuang, petani memperoleh nilai lebih layak, dan pangan dapat sampai kepada masyarakat yang membutuhkan.
“Sebagus-bagusnya program adalah program yang dijalankan. Walaupun kecil, ia bisa menjadi gelombang yang berkelanjutan,” kata Rivan.
Mimpi Petani Naik Kelas
Membangun Rumoh Pangan Aceh bukan perjalanan tanpa hambatan. Rivan menghadapi keterbatasan pendanaan, pergantian anggota tim, penolakan kerja sama, hingga kegagalan menjaga konsistensi produk.
Namun, tantangan tersebut tidak mengubah cita-cita besarnya.
Rivan ingin petani menjadi bagian penting dalam rantai industri, bukan hanya penghasil bahan mentah. Ia juga ingin anak muda memandang pertanian sebagai profesi yang bernilai, membutuhkan ilmu dan teknologi, serta mampu memberikan kehidupan yang layak.
Aceh memiliki lahan dan komoditas yang besar. Menurut Rivan, potensi itu perlu diolah di daerah agar dapat menciptakan nilai tambah, pekerjaan, dan kesejahteraan yang lebih luas.
“Jangan memandang pertanian sebagai pekerjaan kelas bawah. Tanpa adanya petani, siapa yang akan memberi makan kita?” ujarnya.
Adil Dulu, Baru Makmur

Tema HUT ke-81 Republik Indonesia terasa dekat dengan perjuangan Rivan.
Baginya, kemakmuran petani hanya dapat tumbuh apabila lebih dahulu hadir keadilan. Pasar yang jelas, harga yang layak, dan posisi tawar yang lebih kuat.
“Adil dan makmur itu sejalan. Tanpa keadilan, kemakmuran tidak akan bisa tercapai,” kata Rivan.
Dari sana, kedaulatan pangan memperoleh makna yang lebih nyata. Kedaulatan itu hadir ketika petani mengetahui ke mana hasil panennya akan dijual, daerah mampu mengolah potensinya sendiri, dan masyarakat tidak mudah terguncang oleh perubahan pasokan dari luar.
Kemerdekaan pangan bukan berarti menutup diri dari perdagangan. Kemerdekaan berarti Indonesia mempunyai kemampuan dan pilihan untuk mengembangkan, mengolah, dan memenuhi lebih banyak kebutuhan pangannya dari kekuatan sendiri.
Ketika Manfaat LPDP Kembali kepada Masyarakat

Perjalanan Rivan memperlihatkan bagaimana manfaat APBN melalui LPDP dapat terus bertumbuh setelah penerima beasiswa menyelesaikan pendidikan.
LPDP memberinya akses terhadap pendidikan yang sebelumnya sulit dijangkau karena keterbatasan akses atau ekonomi. Beasiswa tersebut menghadirkan ilmu, pengalaman internasional, jejaring, dan keberanian untuk melihat persoalan pertanian secara lebih utuh.
Manfaat itu tidak berhenti pada gelar magister.
Ilmu yang diperoleh Rivan diterapkan ketika mendampingi ratusan petani. Kapasitas tersebut kemudian dikembangkan melalui Rumoh Pangan Aceh untuk memperkuat pasar petani, mengolah pangan lokal, membuka kesempatan kerja, dan memperluas akses pangan masyarakat.
Di situlah efek berantai #UangKita terlihat. Investasi pendidikan kepada satu orang kembali kepada Indonesia dalam bentuk pengetahuan, inovasi, pekerjaan, serta kesempatan bagi lebih banyak orang.
Bagi Rivan, kontribusi tidak cukup diukur dari pencapaian pribadi atau besarnya pendapatan.
“Jangan hanya memikirkan omzet atau uang yang kita peroleh. Pikirkan juga dampak gerakan kita kepada masyarakat luas,” ujarnya.
Ia percaya, misi sosial harus berjalan bersama kegiatan ekonomi. Pemberdayaan tanpa model usaha yang berkelanjutan akan sulit bertahan. Sebaliknya, bisnis yang tidak memberi manfaat kepada masyarakat akan kehilangan nilai kontribusinya.
“Banyak orang ingin berkontribusi untuk perubahan bangsa, tetapi sedikit orang yang sudah memulainya,” katanya.
Menurut Rivan, rekam jejak kecil yang benar-benar dijalankan akan lebih bermakna daripada gagasan besar yang masih berhenti sebagai angan-angan.
Rumoh Pangan Aceh pun lahir dari langkah yang sederhana. Membeli hasil panen petani dengan harga yang lebih adil.
Dari Desa Ladang, langkah kecil membeli bayam seharga lebih layak kini telah menjangkau ratusan petani. Bagi Rivan, kedaulatan pangan bukan slogan. Ia dimulai ketika seorang petani tidak lagi takut rugi saat musim panen tiba.
Rivan ingin agar makna kemerdekaan Indonesia juga dirasakan oleh mereka yang memastikan makanan selalu tersedia di meja kita.