Dari Leeds ke Sumedang: Ketika Beasiswa LPDP Mengubah Cara Guru Mengajar

1 September 2026
OLEH: Nur Wahyu Nugroho
Dari Leeds ke Sumedang: Ketika Beasiswa LPDP Mengubah Cara Guru Mengajar
 

Dari Indragiri Hulu, Noviachri Imroatul Sadiyah terbang ke Inggris untuk belajar tentang pendidikan lewat beasiswa LPDP. Beberapa bulan setelah pulang, ia menemukan dirinya duduk bersama guru-guru di Sumedang, mengulang satu demi satu cara menggunakan teknologi di kelas.

Noviachri2.jpg

“Aduh, habis ini apa tadi ya, Neng?”

Noviachri Imroatul Sadiyah sudah beberapa kali mendengar pertanyaan itu dari Bu Murni. Hari ini sudah belajar, besok ada saja yang terlupa.

Bu Murni sedang berkenalan dengan Papan Interaktif Digital (PID), perangkat layar interaktif yang tersedia di sekolahnya. Guru bisa menggunakannya untuk menampilkan materi, video, hingga berbagai media pembelajaran di kelas. Namun bagi Bu Murni, guru yang sudah berusia sekitar 55 tahun, mengingat langkah-langkah penggunaannya bukan perkara sekali belajar lalu langsung bisa.

Karena itu, Bu Murni selalu mencatat. Kalau ingin membuka fitur tertentu, langkahnya ditulis satu per satu. Dari mana memulai, tombol mana yang harus dipilih, setelah itu apa lagi.

Via, begitu Noviachri biasa dipanggil, ikut mengulanginya jika Bu Murni lupa. Sesekali Via juga masuk ke kelas, berdiri sebagai pendamping ketika Bu Murni mulai mencoba menggunakan PID bersama murid-muridnya.

“Beliau itu yang sebenarnya paling lupaan,” kata Via sambil tertawa saat berbincang dengan redaksi Media Keuangan. 

“Hari ini sudah belajar, besoknya, ‘Neng, Ibu lupa, ini tadi yang mana ya?’” lanjutnya.

Boleh jadi karena usia Bu Murni sama dengan usia ibunya, Via merasa lebih dekat dengannya. Anak pertama Bu Murni pun seumuran dengan Via. Selama tiga bulan berada di Sumedang, hubungan keduanya tidak lagi terasa sebatas sebagai pendamping dan peserta program saja.

Via seperti menemukan ibu lain di sekolah itu. 

Mereka bertemu karena Program Alumni Pejuang Digital (PANA) LPDP 2026. Pada April hingga Juni lalu, Via ditempatkan di SDN Ujung Jaya II, Sumedang. Di sana, Via bertugas untuk mendampingi sekaligus mengajari para guru memanfaatkan teknologi dalam pembelajaran.

Hari-hari pertama di sekolah tidak langsung membuat Via percaya diri. Justru sebaliknya.

“Deg-degan, takut. Ini bisa enggak ya sebenarnya saya bantu guru-guru?”, kenang Via sambil tersenyum.

Ia memilih menggunakan minggu pertama untuk melihat-lihat dulu. Ada sekitar sepuluh guru di sekolah itu. Via ingin tahu sejauh apa PID telah digunakan dan seperti apa kemampuan masing-masing.

Ternyata perangkat yang sudah ada di sekolah itu belum banyak dipakai untuk kegiatan belajar di kelas. Salah satu penggunaannya saat itu masih sebatas untuk menampilkan video senam dan tayangan saja. Beberapa guru bahkan baru merasa cukup pede untuk menghidupkan dan mematikan perangkat itu saja.

Mereka bukannya tidak mau mencoba. Mereka takut.

“Aduh takut, Neng, nanti rusak.”

Perangkat itu mahal. Kalau jatuh bagaimana? Kalau layarnya rusak bagaimana? Apalagi kalau anak-anak ikut memegang.

Via akhirnya memilih cara yang barangkali tidak terlalu canggih. Duduk dan belajar bersama mereka. Satu per satu dengan para guru.

Setiap hari ada guru yang ia dampingi. Setiap Senin, mereka punya waktu untuk belajar bersama lewat komunitas belajar. Ada yang lekas menangkap, ada pula yang perlu beberapa kali mengulang.

Termasuk Bu Murni.

Sampai perlahan-lahan, PID yang semula lebih banyak menjadi benda diam di sekolah mulai dibawa masuk ke pelajaran.

Murid-murid ternyata menyukainya. Menjelang masa tugas Via berakhir, beberapa anak bahkan khawatir mereka tak lagi belajar menggunakan PID setelah “Miss Via” pulang.

Via bilang tidak perlu khawatir. Guru-guru mereka sudah belajar.

 

Via yang Pulang Menjadi Guru

Noviachri3.jpg

Via lahir dan besar di sebuah desa di Indragiri Hulu, Riau, yang berjarak sekitar lima hingga enam jam perjalanan dari Pekanbaru. Ketika kondisi jalan sedang tidak bagus, perjalanan bisa lebih lama lagi.

“Bahkan enggak ada Gramedia di sana,” katanya, memberi gambaran betapa sederhananya tentang tempat ia dibesarkan.

Namun, buku dan pendidikan bukan barang asing di keluarganya.

Ibunya guru. Pakde dan budenya guru. Om dan tantenya juga ada yang menjadi guru. Ibunya sendiri menamatkan pendidikan hingga jenjang magister. Di rumah, sekolah dan jenjang pendidikan bukan perkara yang bisa ditawar.

“Pokoknya sekolah itu harus setinggi-tingginya,” cerita Via mengenai prinsip di keluarganya.

Pesan itu berlaku juga untuk anak perempuan.

Via kemudian mengambil Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Negeri Malang. Pada usia 18 tahun, untuk pertama kalinya ia meninggalkan rumah dan merantau ke Jawa.

Ia menyelesaikan kuliah S1 pada 2022. Alih-alih langsung mencari pekerjaan di kota besar, Via justru pulang ke Buluh Rampai, kampungnya. Ia sempat menjadi guru honorer di SDN 020 Simpang 4 Belilas selama sekitar tiga bulan. Pada waktu yang berdekatan ia juga mengajar Bahasa Inggris di Madrasah Aliyah Al-Ihsan Buluh Rampai.

Menjadi guru di sana membuat Via melihat anak-anak yang kurang lebih tumbuh dalam lingkungan yang sama dengannya dulu. Sebagian punya mimpi untuk kuliah. Sebagian lainnya bahkan belum benar-benar membayangkan kuliah sebagai pilihan.

Maka pelajaran Bahasa Inggris kadang melebar ke urusan masa depan.

Via bercerita tentang dunia di luar desa. Ia mendorong murid-muridnya melanjutkan pendidikan. Kalau bisa kuliah, katanya, kuliahlah. Kalau bisa pergi lebih jauh, coba pergi lebih jauh.

Bagi Via, banyak dari mereka sebenarnya mampu. Mereka hanya membutuhkan dorongan, lingkungan yang mendukung, dan sesekali inspirasi dari seseorang yang menunjukkan bahwa pilihan hidup mereka tidak boleh hanya berhenti di tempat mereka lahir.

Di sekolah itu pula Via menemukan sesuatu yang kemudian mengubah arah kariernya. Ternyata ia tidak hanya suka mengajar murid. Ia juga senang ngobrol dengan guru. Di sekolah ataupun forum MGMP, Via senang bertukar cerita tentang kelas, metode mengajar, dan masalah yang mereka hadapi. Ada kepuasan yang berbeda ketika ia melihat guru lain belajar lalu membawa pengetahuan itu ke muridnya.

“Saya senang melihat guru-guru itu belajar,” kata Via sambil tersenyum lebar.

Via lalu membuat hitung-hitungan sederhana. Satu guru bisa mengajar lebih dari 30 anak dalam satu kelas. Membantu satu guru berarti bisa membuka peluang agar manfaatnya sampai kepada lebih banyak murid.

Di situlah teacher development mulai terasa seperti jalan yang ingin Via tekuni.

 

Esai LPDP Membuatnya Mengenali Diri Sendiri

Noviachri4.jpg

Via tahu ia perlu belajar lagi. Lulusan Pendidikan Bahasa Inggris memang sudah cukup memberinya bekal untuk menjadi seorang guru. Namun, jika ingin bekerja lebih jauh dalam pengembangan guru, ia merasa belum punya cukup ilmu.

Pada 2023, Via mendaftar LPDP. Ia sempat mencoba satu beasiswa lain, Fulbright. Namun, saat menyiapkan aplikasi LPDP, justru ada proses lain yang menurut Via cukup menentukan, yaitu esai. Menurutnya, menulis esai membuatnya terpaksa menjawab pertanyaan tentang dirinya sendiri.

Ia mau jadi apa, sebenarnya?

Ia suka mengajar. Itu jelas. Tetapi apakah kontribusinya harus selalu berbentuk mengajar murid secara langsung?

“Ketika saya nulis esai, saya baru sadar, oh saya ternyata sukanya lebih kalau ngobrol sama guru. Kalau gurunya bisa ngajarin apa yang sudah dipelajari ke anak-anak, manfaatnya bisa lebih luas,” jelas Via dengan mata berbinar.

Beasiswa LPDP kemudian ia dapatkan dalam sekali percobaan. Ini bukan berarti persiapannya santai. Untuk menghadapi Tes Bakat Skolastik, Via mengaku belajar begitu intens. Saat itu ia sedang berpuasa dan kurang minum sampai akhirnya sempat masuk klinik.

Baginya sekarang, cerita itu terdengar lucu kalau diingat-ingat.

Beasiswa LPDP tersebut kemudian membawa Via mengambil MA Education di University of Leeds, Inggris, pada 2024–2025.

Untuk setahun, tugas utama Via hanya satu: belajar.

Via mendalami bagaimana manusia belajar, strategi pembelajaran, kurikulum, hingga pengembangan guru. LPDP menanggung kebutuhan studinya. Via bahkan masih ingat satu hal yang membuat hidup sebagai mahasiswa terasa lebih tenang.

“Keuangan (dari LPDP) tidak pernah telat. Jadi itu (saat kuliah) benar-benar kita tenang. Karena ke sana belajar saja,” imbuh Via.

Kesempatan belajarnya tidak berhenti di ruang kuliah. Selama sekitar enam minggu, Via menjalani penempatan di sebuah sekolah dasar di West Yorkshire. Ia mengamati guru mempersiapkan kelas, mengajar, melakukan evaluasi, lalu mengobrol dengan mereka tentang sistem pendidikan di Inggris.

Via juga terpilih sebagai satu dari lima peserta, dari lebih dari 50 pendaftar di School of Education, untuk mengikuti international internship selama dua minggu di American University of Armenia. Di sana ia belajar mengajar peserta dengan latar yang berbeda dan merancang pembelajaran sesuai kebutuhan mereka.

Namun, persoalan yang ia bawa ke Leeds sebenarnya tidak datang dari Inggris.

Ia membawanya dari ruang kelas di Indonesia.

Saat menjadi guru setelah pandemi, Via melihat motivasi belajar anak-anak menurun. Ia mencoba menggunakan teknologi agar pelajaran terasa lebih menarik dan murid bisa lebih terlibat.

Ketertarikan itu kemudian ia bawa lebih jauh dalam studinya. Penelitian masternya menyinggung kompetensi digital guru di wilayah rural Indonesia.

Kelak, hanya beberapa bulan setelah menyelesaikan studi, Via akan bertemu dengan persoalan yang hampir sama. Kali ini bukan sebagai mahasiswa yang sedang membaca penelitian. Namun, Via menghadapinya langsung bersama Bu Murni.

 

Dari Catatan Bu Murni, Lahir Sebuah Buku

Noviachri5.jpg

Di Sumedang, Via segera mengetahui bahwa ilmu di kampus dan ruang kelas punya jarak.

Di University of Leeds, ia pernah mengambil mata kuliah tentang bagaimana manusia belajar. Teori tentu penting. Tetapi begitu kembali berhadapan dengan kelas sungguhan, variabelnya bisa macam-macam.

“Kalau teori mengatakan kita melakukan A, hasilnya akan B. Ketika saya datang langsung ke sekolah, ternyata variabelnya banyak banget,” tandas Via.

Maka ketika mendampingi guru di Sumedang, ia tidak ingin datang membawa satu resep untuk semua. Contohnya, guru seperti Bu Murni perlu didampingi lebih sering karena mungkin beliau mudah lupa materi. Guru lain mungkin kebutuhannya berbeda lagi. Via mencoba menyesuaikan.

Kebiasaan Bu Murni mencatat akhirnya membuat Via berpikir.

Ternyata bukan hanya Bu Murni. Beberapa guru juga punya catatan sendiri. Cara membuka aplikasi, cara menggunakan fitur, sampai langkah memakai tools-nya ditulis tahap demi tahap agar suatu hari bisa dilihat lagi.

Daripada setiap orang membuat catatan sendiri, kenapa tidak dibuat satu panduan?

Via kemudian mengajak rekan-rekannya di PANA Sumedang menyusun Buku Saku Pembelajaran Inovatif. Ia menjadi project leader untuk penyusunannya. Isinya sengaja praktis. Guru bisa membuka kembali tutorial yang dibutuhkan ketika lupa, termasuk setelah para pendamping PANA tidak lagi berada di sekolah.

Menurut Via, buku saku tersebut kemudian didistribusikan ke sekitar 600 sekolah dasar di Kabupaten Sumedang. Via menyebut ini sebagai salah satu legasi program. Tetapi asal-usulnya jauh lebih sederhana: seorang ibu guru yang tidak mau menyerah hanya karena mudah lupa.

 

Guru Juga Perlu Diberi Ruang Belajar

Pengalaman di Sumedang semakin meneguhkan sesuatu yang Via temukan dalam studinya.

“Guru tidak bisa berjalan sendiri”. Kalimat itu ia ulang beberapa kali selama wawancara bersama Redaksi Media Keuangan.

Menurut Via, persoalan transformasi digital pendidikan tidak hanya bisa selesai dengan mengirim perangkat ke sekolah saja. Guru juga perlu tahu cara memakainya. Tetapi mereka juga perlu tahu untuk apa alat itu digunakan dan bagaimana memasukkannya ke proses belajar.

Jenis pendampingannya pun tidak bisa seragam. Guru di kota dan guru di daerah bisa berangkat dari kemampuan awal yang berbeda. Kondisi sekolahnya berbeda. Muridnya berbeda. Aksesnya juga berbeda.

Via masih mengingat hasil percakapannya dengan sejumlah guru ketika melakukan penelitian. Banyak yang merasa pelatihan yang pernah mereka ikuti terlalu banyak teori dan terlalu sedikit praktik.

Padahal kadang kebutuhan mereka sesederhana yang ia lihat di Sumedang: ada orang yang duduk di samping para guru itu, menunjukkan caranya, lalu membiarkan mereka mencoba. Kalau lupa, ulangi.

Tentu saja, meminta guru untuk terus belajar juga mudah diucapkan ketika kita tidak menjalani kehidupan mereka. Namun, Via pernah menjadi guru honorer. Saat itu, honor pertamanya berkisar Rp500 ribu sebulan. Senin sampai Sabtu.

Via pernah mengeluh kepada seorang guru karena murid-muridnya tidak mau belajar. Sebagai guru muda, Via langsung memikirkan dirinya sendiri. Jangan-jangan cara mengajarnya yang salah.

Jawaban seniornya singkat. “Sudahlah Via, ngajar ya sudah ngajar saja. Gaji kamu kayak banyak saja.” Via masih ingat kalimat itu.

Di Sumedang, Via bertemu dengan guru yang tetap antusias mempelajari teknologi meski menghadapi keterbatasan. Baginya, semangat seperti itu perlu direspons dengan dukungan yang memadai. Sebab, guru bukan hanya pelaksana perubahan di ruang kelas. Mereka juga bagian penting dari ekosistem pendidikan yang perlu terus diperkuat.

Karena itu, Via tidak ingin seluruh beban perubahan pendidikan diletakkan di pundak guru. Guru memang perlu terus belajar, tetapi kepala sekolah, pengawas, pemerintah daerah, dan pemerintah pusat juga memiliki peran dan tanggung jawab masing-masing.

 

Beasiswa yang Tidak Berhenti di Leeds

Noviachri7.jpg

Ada satu cara mudah untuk menceritakan beasiswa: berapa biaya yang diberikan, ke kampus mana penerimanya pergi, lalu gelar apa yang dibawa pulang.

Namun, Via memilih menghitungnya dengan cara lain.

Sebelum ke Leeds, ia sudah menjadi guru. Setelah pulang, ia merasa punya bekal untuk bekerja dengan lebih banyak guru.

“Sebelumnya kan saya memang guru, tapi tidak punya kompetensi dan tidak punya bekal ilmu yang cukup untuk bagaimana bisa membagikan ke lebih banyak orang, yaitu ke guru-guru.”

Via memperkirakan sejauh ini ia sudah berbagi dengan lebih dari 400 guru. Ada yang ditemuinya di Sumedang, ada yang berasal dari Riau, ada pula yang mengikuti kegiatannya secara daring.

Selepas PANA, ia juga kembali ke Indragiri Hulu. Di sana, ia berbagi di komunitas guru dan bekerja sama dalam kegiatan literasi.

“Saya dapatkan bekal itu dengan saya S2. Saya S2 dengan dukungan dari LPDP,” katanya.

Baginya, kesempatan yang diberikan melalui LPDP membuat ruang kontribusinya membesar.

“Tanpa dukungan dari LPDP, saya tidak bisa membantu guru yang insyaallah semoga nantinya bisa lebih banyak,” jelas Via dengan senyum merekah.

Di situlah manfaat APBN sebagai #UangKita melalui beasiswa LPDP menjadi lebih mudah dilihat. Tidak berhenti pada keberangkatan seorang penerima beasiswa ke Inggris. Tidak pula selesai ketika ijazah diterima.

Ada ilmu yang dibawa pulang. Ada guru yang kemudian belajar. Ada buku saku yang ditinggalkan. Dan ada murid-murid yang pada akhirnya ikut merasakan perubahan di kelasnya.

Via sendiri masih mencari langkah berikutnya.

Ia ingin tetap bekerja di bidang teacher development. Menjadi pelatih guru bahkan sudah ia tuliskan sejak masih menyusun esai LPDP. Suatu hari, ia ingin bekerja lebih dekat dengan ekosistem Guru dan Tenaga Kependidikan agar dapat menjangkau guru dalam skala yang lebih luas.

Untuk sekarang, salah satu cerita yang ia bawa dari Sumedang tetaplah Bu Murni.

Guru yang sering lupa itu akhirnya bisa menggunakan PID di kelas. Bu Murni memang masih perlu mencatat. Kadang masih bertanya. Tetapi itu tidak membuatnya berhenti belajar.

Mungkin memang begitu teknologi akhirnya benar-benar bekerja di sekolah. Bukan ketika kardusnya dibuka, perangkatnya dipasang dan aplikasi di-install. Melainkan ketika seorang guru yang sebelumnya takut dengan perangkat, pada akhirnya berani menyentuh layar, membuka pelajaran, lalu berkata kepada murid-muridnya: “Mari kita mulai belajar.”