Anggaran Pendidikan Sudah Terealisasi 463,1 Triliun Hingga Oktober 2024, Untuk Apa Saja?

18 November 2024
OLEH: CS. Purwowidhu
Anggaran Pendidikan Sudah Terealisasi 463,1 Triliun Hingga Oktober 2024, Untuk Apa Saja?
 

“Seandainya tidak ada bantuan KIP Kuliah, saya tidak tahu, mungkin akan sulit sekali untuk bisa berkuliah karena ekonomi keluarga sangat tidak mendukung,” ungkap Melly Puspita, alumni Program Studi Teknik Metalurgi Institut Teknologi Bandung (ITB).

Dikutip dari laman puslapdik.kemdikbud.go.id, Melly membagikan kisah inspiratifnya. Lahir di tengah keluarga dengan kondisi ekonomi rentan, tidak menghalangi Melly menempuh pendidikan hingga jenjang perguruan tinggi. Dia mengaku KIP (Kartu Indonesia Pintar) Kuliah berkontribusi besar dalam perkuliahannya.

Melly merupakan anak bungsu dari dua bersaudara. Kakaknya hanya tamatan SMA. Untuk membantu membiayai kehidupan keluarga mereka sehari-hari, Melly dan kakaknya membuat usaha catering kecil-kecilan. Melly juga mencari uang tambahan dengan mengajar les murid SD sampai SMA. Semua usaha dilakoni mengingat ayah Melly yang tidak tamat sekolah dasar hanya bekerja serabutan sebagai tukang cat rumah. Sementara ibu Melly yang hanya lulusan sekolah dasar sudah tutup usia.

Dengan daya juang tinggi, Melly sukses meraih prestasi membanggakan. Mengawali studi di ITB dengan KIP Kuliah pada tahun 2020, Melly berhasil menyelesaikan studinya hanya dalam waktu 3,5 tahun dan menyandang predikat cumlaude dengan IPK 3,6.

Skripsi Melly yang berjudul “Optimization of Methylammonium Lead Iodide (MAPbI3) Based Perovskite Solar Cell by Using Tin Oxide As Electron Transport Layer” atau Optimisasi sel surya perovskit jenis MAPbI3 dengan menggunakan Timah Oksida Sebagai Electron Transport Layer mendapat nilai A.

Melly merasa terharu karena berhasill memenuhi janji kepada orang tua terlebih kepada mendiang ibundanya untuk membawa gelar sarjana dari ITB.

“Saya sangat senang karena pada akhirnya menamatkan perjuangan kuliah dan tugas akhir saya dengan hasil yang cukup memuaskan,” ucapnya.

Senada, Ahmat Ikhsan penerima KIP Kuliah di Universitas Negeri Padang (UNP) juga membagikan kisahnya. Berasal dari keluarga petani di Kabupaten Agam, Sumatera Barat, Ahmat mengenyam perkuliahan di jurusan Teknik Otomotif UNP pada tahun 2021 melalui jalur seleksi nasional berbasis prestasi (SNBP).

Sebelum mendaftar KIP Kuliah, Ahmat juga memperoleh bantuan PIP (Program Indonesia Pintar) selama jenjang pendidikan dasar dan menengah.

Selama menjalani perkuliahan, Ahmat juga bergabung dengan Tim Hemat Energi UNP. Bersama timnya, Ahmat berhasil mencatatkan prestasi di berbagai kontes mobil hemat energi nasional dan internasional.

“Saya sangat bangga menjadi penerima KIP Kuliah karena orang tua saya tidak mampu membiayai kuliah saya dan dengan bantuan KIP Kuliah ini saya bisa melanjutkan perkuliahan saya dan juga meringankan beban orang tua di kampung," kata Ahmat.

Kelompok miskin dan rentan bisa kuliah gratis

Berdasarkan Pedoman Pendaftaran KIP Kuliah 2024 yang diterbitkan oleh Kemdikbud, persyaratan penerima manfaat Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah Tahun 2024 adalah lulusan Sekolah Menengah Atas atau sederajat, yang lulus pada tahun berjalan atau maksimal lulus 2 tahun sebelumnya; telah lulus seleksi penerimaan mahasiswa baru melalui semua jalur masuk perguruan tinggi akademik atau vokasi baik PTN atau PTS dan program studi yang telah terakreditasi secara resmi; memiliki potensi akademi baik namun mempunyai keterbatasan ekonomi atau berasal dari keluarga miskin/rentan miskin/ dan /atau pertimbangan khusus yang didukung dengan bukti dokumen sah.

Sementara keunggulan penerima KIP Kuliah yakni pembebasan biaya pendaftaran seleksi masuk perguruan tinggi; pembebasan biaya pendidikan atau biaya kuliah (UKT/SPP), pemerintah membayarkan langsung biaya tersebut ke rekening perguruan tinggi; dan bantuan biaya hidup yang ditetapkan oleh Puslapdik Kemdikbud berdasarkan perhitungan besaran indeks harga lokal masing-masing wilayah perguruan tinggi dan diberikan dalam 5 klaster besaran yaitu Rp800.000, Rp950.000, Rp1.100.000, Rp1.250.000, dan Rp1.400.000.

Dilansir dari laman Kemdikbud, menurut Kepala Puslapdik Adhika Ganendra, dalam rancangan regulasi pengelolaan KIP Kuliah mulai tahun akademik 2025/2026, siswa penerima PIP Dikdasmen yang lulus Seleksi Nasional Berbasis Prestasi (SNBP) dan Seleksi Nasional Berbasis Tes (SNBT), akan otomatis menjadi penerima KIP Kuliah setelah dilakukan verifikasi dan validasi oleh perguruan tinggi.  

Informasi lebih lanjut mengenai KIP Kuliah, PIP, dan program layanan pendidikan lainnya dapat diakses melalui https://puslapdik.kemdikbud.go.id/.        

Pendidikan adalah kunci

Pendidikan merupakan kunci menuju masa depan yang lebih sejahtera. Peta Jalan Pendidikan Indonesia 2025-2045 berfokus antara lain pada percepatan wajib belajar 13 tahun, peningkatan angka partisipasi pada jenjang pendidikan tinggi, dan peningkatan kualitas lulusan sains, teknologi, engineering, dan matematika (STEM). Di samping itu, terobosan lainnya adalah restrukturisasi kewenangan pengelolaan guru secara terpadu guna memastikan ketersediaan guru berkualitas secara merata.

Adapun angka partisipasi kasar (APK) Pendidikan Tinggi meningkat tajam dari 13,10% di 2005 menjadi 31,45% di 2023. Namun demikian, angka tersebut masih lebih rendah dibandingkan negara-negara ASEAN lainnya seperti APK Pendidikan Tinggi Malaysia 43%, Thailand 49,29%, dan Singapura 91,09%.

Melalui berbagai kebijakan pendidikan, APK Pendidikan Tinggi Indonesia ditargetkan mencapai 43,87% di tahun 2035 dan 60% di 2045. Proporsi penduduk berusia di atas 15 tahun yang mengenyam pendidikan tinggi meningkat dari 10,12% di tahun 2022 menjadi 11,63% di tahun 2045. Terakhir, persentase pekerja lulusan pendidikan menengah dan tinggi yang bekerja di bidang keahlian menengah dan tinggi ditargetkan mencapai 75% di tahun 2045.

Untuk mendukung terciptanya sumber daya manusia inovatif dan berdaya saing, pemerintah menerapkan berbagai kebijakan dan melakukan pembangunan di sektor pendidikan. Berdasarkan data Kementerian Keuangan yang disampaikan oleh Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara pada Konferensi Pers APBN KiTa Edisi November 2024, Jumat (8/11/24), anggaran pendidikan hingga 31 Oktober 2024 telah terealisasi sebesar Rp463,1 triliun atau 69,6% dari pagu. Realisasi tersebut tumbuh 10,9% dibandingkan periode sama tahun 2023.  Tren alokasi APBN untuk pendidikan pun terus bertumbuh dalam kurun 5 tahun terakhir. Pertumbuhan tersebut mencerminkan komitmen pemerintah untuk memperkuat SDM. Anggaran pendidikan dimanfaatkan untuk mendukung pelaksanaan beragam program pendidikan.

Dari realisasi sebesar Rp463,1 triliun tersebut, realisasi melalui belanja pemerintah pusat (BPP) tercatat sebesar Rp152,5 triliun. Terdiri dari belanja Kemendikbud (nomenklatur lama) sebesar Rp74,1 triliun yang antara lain dimanfaatkan untuk memberikan bantuan Program Indonesia Pintar (PIP) bagi 15,1 juta siswa, KIP Kuliah bagi 789,1 ribu mahasiswa, dan membayar Tunjangan Profesi Guru non PNS bagi 335,4 ribu guru.

Selanjutnya, belanja pendidikan Kementerian Agama tercatat sebesar Rp54,7 triliun yang antara lain dimanfaatkan untuk membayar gaji pengajar, bantuan PIP untuk 2,2 juta siswa, KIP Kuliah bagi 99,86 ribu mahasiswa, dan Bantuan Operasional Sekolah (BOS) bagi 9,3 juta siswa.

Selain itu, realisasi belanja pendidikan melalui transfer ke daerah (TKD) terdata sebesar Rp295,6 triliun. Anggaran tersebut dimanfaatkan untuk dana alokasi umum (DAU) earmark pendidikan untuk peningkatan kualitas layanan dasar di daerah, BOS bagi 43,7 juta siswa, dan bantuan operasional PAUD untuk 6,2 juta peserta didik.

Sementara itu, pembiayaan untuk sektor pendidikan telah terealisasi sebesar Rp15,0 triliun yang salah satunya dimanfaatkan untuk dana abadi pendidikan.


CS. Purwowidhu