APBN Jadi Kunci: Konsumsi Terjaga, Investasi Menguat, dan Ekonomi Tumbuh Solid 5,29 Persen
Perekonomian Indonesia kembali mencatatkan capaian yang menggembirakan. Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,29 persen (yoy) pada triwulan II-2026, lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar 5,12 persen. Dengan capaian ini, pertumbuhan ekonomi semester I-2026 menembus level 5,45 persen (c-to-c). Ini menjadi capaian semester pertama tertinggi dalam lima tahun terakhir sekaligus menandai lima triwulan berturut-turut tumbuhnya ekonomi nasional di atas 5 persen.
Pertumbuhan yang diraih di tengah perekonomian global yang masih diliputi tekanan konflik global dan proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia oleh IMF yang hanya sebesar 3,0 persen, membuat capaian tersebut terasa istimewa. Di tengah ketidakpastian tersebut, ada satu instrumen negara yang terus bekerja tanpa henti dalam menjaga momentum pertumbuhan, yaitu APBN. Sepanjang triwulan II-2026, APBN menunjukkan perannya sebagai instrumen fiskal yang responsif dalam menjaga daya beli masyarakat, mendorong investasi, sekaligus meredam dampak tekanan eksternal terhadap perekonomian domestik.
APBN Jaga Daya Beli, Konsumsi Rumah Tangga Tetap Jadi Andalan
Konsumsi rumah tangga tumbuh positif sebesar 5,06 persen (yoy) pada triwulan II-2026 dan tetap menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi. Ketahanan konsumsi domestik ini tidak lepas dari peran APBN yang secara konsisten menjaga daya beli masyarakat. Hal ini dilakukan melalui program perlindungan sosial, pemberian subsidi, penyaluran gaji ke-13 serta menjaga inflasi tetap terkendali. Hasilnya, tingkat keyakinan konsumen terjaga, aktivitas belanja yang terekam pada Mandiri Spending Index meningkat, hingga naiknya konsumsi listrik dan bahan bakar minyak serta penjualan kendaraan bermotor.
Sementara itu, konsumsi pemerintah sendiri melesat 15,97 persen (yoy), mencerminkan belanja negara yang tetap ekspansif dalam menopang agenda pembangunan. Kinerja ini didukung oleh percepatan realisasi Belanja Barang dan Belanja Pegawai yang masing-masing tumbuh 92,2 persen dan 18,6 persen sejalan dengan akselerasi pelaksanaan program pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), Desa Nelayan, dan Sekolah Rakyat.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti, membenarkan bahwa kombinasi daya beli masyarakat yang solid dan stimulus fiskal pemerintah menjadi kunci penopang pertumbuhan pada triwulan ini.
"Tentunya pertama daya beli masyarakat masih solid karena memang kalau kita lihat konsumsi masyarakat, tumbuhnya masih terjaga di sekitar 5 persen. Kemudian yang kedua, adalah investasi. Investasi kita itu kan masih tumbuh sekitar 6,87 persen atau 6,9 persen, dan ini tentunya di tengah ketidakpastian global investasi masih terus ekspansi. Dan ketiga tentunya ini, stimulus pemerintah melalui belanja pemerintah yang tumbuh 15,97 persen atau mendekati 16 persen, ini kan tentunya menjadi penopang dari pertumbuhan ekonomi kita di triwulan II-2026,” ucap Kepala BPS dalam wawancara dengan Kompas TV.
Kepala BPS juga menyoroti bahwa percepatan realisasi belanja pemerintah sejak awal tahun 2026 tercermin jelas dalam struktur Produk Domestik Bruto (PDB) dari sisi pengeluaran. Ini berbeda dari pola tahun-tahun sebelumnya di mana realisasi belanja cenderung menumpuk di akhir tahun. Komitmen mempercepat belanja sejak awal tahun ini menjadi salah satu faktor pendorong konsumsi pemerintah mampu tumbuh dua digit dan menjadi komponen dengan pertumbuhan tertinggi dari sisi pengeluaran.
Pandangan senada disampaikan Ekonom Senior Prasasti Center, Piter Abdullah. Ia menilai bahwa daya beli masyarakat secara umum masih terjaga, termasuk pada kelompok bawah yang rentan terhadap dampak tekanan ekonomi, berkat dukungan bantuan sosial pemerintah.
“Sementara di sisi lain di kelompok bawah, ini yang sering disebut yang mengalami penurunan daya beli, tetapi mereka juga masih dapat support dari pemerintah dalam bentuk bantuan sosial. Sehingga saya melihat secara keseluruhan, walaupun mungkin ada tekanan-tekanan, tetapi daya beli itu masih ada dan itu yang kemudian terrefleksi pada angka pertumbuhan konsumsi,” ucap Piter dalam wawancara dengan CNBC Indonesia.
APBN Jadi Pendorong Investasi dan Pembentukan Modal Tetap Bruto
Selain menjaga konsumsi, APBN juga berperan mendorong investasi. Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) tumbuh sangat kuat sebesar 6,87 persen (yoy). Ini ditopang oleh belanja modal pemerintah dan investasi swasta yang berjalan beriringan. Investasi bangunan menguat 6,6 persen (yoy) seiring meningkatnya aktivitas konstruksi jalan, irigasi, dan jaringan. Selain itu, aktivitas yang turut didukung oleh belanja modal pemerintah yang tumbuh 5,6 persen sejalan dengan percepatan pelaksanaan program-program prioritas seperti MBG, gerai Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, Desa Nelayan, Sekolah Garuda, dan Sekolah Rakyat.
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan komitmen pemerintah untuk terus memperkuat mesin-mesin pertumbuhan melalui sinergi kebijakan fiskal dan reformasi struktural.
“Di tengah tantangan global yang masih tinggi, Pemerintah akan terus memperkuat mesin-mesin pertumbuhan ekonomi melalui sinergi kebijakan dan reformasi struktural guna menjaga momentum pertumbuhan yang lebih tinggi,” ujar Menkeu.
Belanja modal pemerintah dan BUMN yang mengalir ke berbagai program prioritas tersebut tidak hanya mendorong aktivitas konstruksi, tetapi juga menciptakan efek pengganda (multiplier effect) bagi investasi swasta. Hal ini terlihat dari investasi nonbangunan yang menguat signifikan, tercermin dari investasi kendaraan dan peralatan lainnya yang masing-masing tumbuh 26,0 persen dan 16,2 persen. Realisasi investasi langsung turut tumbuh 7,1 persen, terutama ditopang oleh Penanaman Modal Asing (PMA) yang meningkat 25,7 persen. Angka ini mencerminkan tetap terjaganya kepercayaan investor sekaligus keberhasilan upaya debottlenecking sebagai langkah strategis memperkuat iklim investasi nasional.
Piter Abdullah juga menyoroti bahwa program-program prioritas pemerintah turut tercatat sebagai bagian dari investasi yang menopang pertumbuhan ekonomi triwulan II-2026.
“Ya kalau dilihat dari angkanya ya, karena memang baik itu investasi yang sifatnya PMA maupun PMDN masih ada ya, laporan dari kementerian investasi menunjukkan hal itu. Di sisi lain, kita lihat juga ada program-program pemerintah yang tercatat sebagai bagian dari investasi kan, baik itu di MBG maupun di Koperasi Merah Putih. Dan itu saya kira berkontribusi terhadap angka investasi yang men-support dari pertumbuhan ekonomi di triwulan II,” tutur Piter.
Secara agregat, realisasi investasi pada semester I-2026 mencapai Rp1.010,6 triliun, tumbuh 7,2 persen (yoy) atau setara 49,5 persen dari target tahunan sebesar Rp2.041,3 triliun dengan komposisi yang berimbang antara PMA sebesar Rp507,6 triliun dan PMDN sebesar Rp502,9 triliun. Untuk sebarannya pun semakin merata, dengan realisasi di luar Pulau Jawa mencapai Rp507,8 triliun. Sementara, investasi pada sektor hilirisasi menyumbang Rp300,1 triliun atau hampir 30 persen dari total investasi nasional dan menyerap 1,45 juta tenaga kerja langsung. Kepercayaan internasional pun tetap terjaga, tercermin dari afirmasi S&P Global Ratings terhadap peringkat kredit Indonesia pada level BBB dengan outlook stabil, serta penerbitan Panda Bond yang memperoleh peringkat AAA dari lembaga pemeringkat Tiongkok.
Dampak Nyata bagi Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan
Sinergi antara konsumsi yang terjaga, investasi yang tumbuh kuat, serta akselerasi program prioritas pemerintah pada akhirnya bermuara pada satu hal yang paling dirasakan masyarakat yakni perbaikan kesejahteraan. Jumlah penduduk bekerja pada Mei 2026 mencapai 148,19 juta orang, bertambah 522 ribu orang dibandingkan Februari 2026. Sejalan dengan itu, Tingkat Pengangguran Terbuka menurun dari 4,68 persen pada Februari 2026 menjadi 4,65 persen pada Mei 2026, dengan jumlah pengangguran turun 24 ribu orang menjadi 7,22 juta orang.
Tingkat kemiskinan pada Maret 2026 juga menurun menjadi 8,07 persen dari 8,25 persen pada September 2025. Angka ini adalah level terendah sepanjang sejarah pencatatan. Dengan demikian, jumlah penduduk miskin berkurang dari 23,36 juta orang menjadi 22,93 juta orang.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto menegaskan bahwa kualitas pertumbuhan inilah yang menjadi fokus utama pemerintah.
“Pertumbuhan yang baik adalah pertumbuhan yang menciptakan lapangan kerja dan menurunkan kemiskinan. Pada Semester I ini keduanya terjadi bersamaan, dan lapangan kerja yang tercipta semakin berkualitas karena porsi pekerja formal meningkat,” tegas Menko Perekonomian.
Untuk menjaga momentum tersebut hingga akhir tahun, pemerintah telah menyiapkan Paket Stimulus Ekonomi Semester II senilai Rp26,34 triliun. Paket ini mencakup bantuan pangan bagi 33,24 juta penerima manfaat, insentif transportasi pada periode libur sekolah serta Natal dan Tahun Baru berupa diskon tarif kereta api dan angkutan laut, pembebasan tarif jasa kepelabuhan, PPN Ditanggung Pemerintah untuk tiket pesawat kelas ekonomi, hingga program magang dan pelatihan vokasi bagi angkatan kerja muda. Pemerintah juga memastikan tidak ada kenaikan harga BBM hingga akhir tahun 2026. Di sini APBN tetap berfungsi sebagai shock absorber menahan lonjakan harga minyak dunia yang rata-rata mencapai USD90,46 per barel sepanjang semester I-2026, jauh di atas asumsi APBN.
Menjaga Momentum Pertumbuhan Tetap Terjaga
Rangkaian pencapaian pada triwulan II-2026 ini menunjukkan adanya satu benang merah yakni APBN telah menjalankan fungsinya secara optimal sebagai instrumen fiskal yang responsif, menjaga daya beli masyarakat sekaligus menjadi pendorong investasi di tengah gejolak ekonomi global. Konsumsi rumah tangga yang tetap tumbuh solid, belanja pemerintah yang ekspansif, serta investasi yang terus menguat menjadi bukti bahwa sinergi kebijakan fiskal dan reformasi struktural pemerintah masih berjalan on track.
“Dengan capaian semester I yang solid, pemerintah optimis momentum pertumbuhan dapat terus dijaga hingga akhir tahun 2026 dan menjadi landasan menuju pertumbuhan yang lebih tinggi pada 2027 dan seterusnya,” ucap Menko Perekonomian.
Ke depan, pemerintah akan terus memperkuat penciptaan lapangan kerja, terus menjaga daya beli masyarakat, serta meningkatkan kualitas pertumbuhan agar manfaat pembangunan dapat semakin inklusif dan dirasakan secara lebih merata oleh seluruh lapisan masyarakat. Dengan fondasi APBN yang kuat dan responsif serta momentum pertumbuhan ekonomi Indonesia di atas 5 persen selama lima triwulan berturut-turut menjadi modal berharga untuk menghadapi tantangan global yang masih akan berlanjut. Ini juga sekaligus menjadi landasan kokoh menuju pertumbuhan yang lebih tinggi pada tahun-tahun mendatang.