Dari Kesempatan Menjadi Kebermanfaatan: Kisah Yohanes Awardee LPDP asal Nagekeo
Dari perjuangan meraih beasiswa LPDP, memilih kembali ke Flores, hingga menggerakkan relawan mahasiswa saat bencana datang, perjalanan Yohanes Freadyanus Kasi menunjukkan bagaimana investasi pada satu anak bangsa dapat bertumbuh menjadi manfaat bagi banyak orang.

Pukul 05.58 pagi, Yohanes Freadyanus Kasi sudah terjaga. Ia hendak menyelesaikan sebuah laporan penelitian ketika suara keras tiba-tiba terdengar dari rumahnya. Hanya berselang beberapa detik, bangunan mulai bergoyang.
Yohanes bergegas membawa istri dan anak-anaknya keluar. Simpang siur informasi mengenai potensi tsunami membuat mereka bersama warga lainnya bergerak menuju tempat yang lebih tinggi. Selama sekitar dua jam, bukit-bukit di sekitar Nagekeo NTT dipenuhi masyarakat yang mencari tempat aman.
Setelah merasa lebih aman, Yohanes terlebih dahulu membawa keluarganya ke rumah kerabat yang berada di kawasan lebih tinggi. Setelah memastikan keluarganya aman, Yohanes kembali turun. Di sepanjang perjalanan pulang, tenda-tenda darurat mulai bermunculan. Warga masih diliputi kecemasan. Gempa susulan pun belum benar-benar berhenti.
Yohanes kemudian mulai menghubungi mahasiswanya. Rumahnya yang berada tidak jauh dari kampus menjadi salah satu titik berkumpul. Dari sana, sekelompok relawan kecil mulai dibentuk untuk membantu masyarakat terdampak.
Pada pagi itu, kapasitas Yohanes sebagai pemimpin sebuah perguruan tinggi diuji dalam situasi nyata. Namun, perjalanan yang membentuknya hingga mampu mengambil peran tersebut telah dimulai bertahun-tahun sebelumnya.
Yohanes adalah salah satu penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Melalui dukungan pendidikan yang menjadi bagian dari investasi negara, ia memperoleh kesempatan menempuh pendidikan doktoral. Kesempatan itu tidak hanya memberinya gelar akademik dan tetapi juga memperluas jejaring. Selain itu, beasiswa LPDP juga membentuk cara pandangnya tentang kepemimpinan dan menguatkan keinginannya untuk kembali berkontribusi kepada daerah.
Kisah Yohanes kemudian menjadi gambaran bagaimana investasi pada pendidikan dapat bergerak lebih jauh. Dari seorang penerima beasiswa, menuju institusi yang dipimpinnya, mahasiswa yang dididiknya, hingga masyarakat yang dilayaninya.
Pendidikan yang Diwariskan dari Rumah
Yohanes lahir dan besar di Kupang. Ia merupakan anak pertama dari tiga bersaudara. Ayahnya pernah bekerja sebagai buruh di PT Semen Kupang, sementara ibunya merupakan ibu rumah tangga. Sejak kecil hingga menyelesaikan pendidikan sarjana, seluruh jenjang pendidikannya ditempuh di Kupang. Baru pada 2012, ia kembali ke Nagekeo tanah asal kedua orang tuanya.
Di keluarganya, pendidikan selalu memiliki tempat khusus. Yohanes masih mengingat pesan yang berulang kali disampaikan Ayahnya kepada ketiga anaknya. Orang tuanya hanya sempat mengenyam pendidikan sampai tingkat sekolah menengah. Karena itu, mereka berharap anak-anaknya dapat melangkah lebih jauh.
“Harapan kami, anak-anak kami itu bisa sampai lewat dari SMA,” kenang Yohanes menirukan pesan ayahnya.
Pesan sederhana itu kemudian terus dibawanya. Perjalanan menuju pendidikan tinggi, bagaimanapun itu, tidak selalu mudah. Ketika Yohanes hendak memasuki jenjang sarjana, ayahnya terkena pemutusan hubungan kerja dan kemudian bekerja serabutan. Keadaan tersebut semakin membuatnya sadar bahwa pendidikan harus diperjuangkan dengan berbagai cara. Salah satunya melalui beasiswa.
Saat menempuh S1, ketekunan akademiknya membuka akses terhadap dukungan pendidikan yang turut membantu ia menyelesaikan kuliah. Pengalaman tersebut membuat Yohanes mengenal sebuah kemungkinan bahwa keterbatasan ekonomi tidak selalu harus menjadi batas dari perjalanan pendidikan seseorang.
Kesempatan Kedua Bernama LPDP

Pada 2013, Yohanes pertama kali mencoba mendaftar LPDP untuk jenjang S2. Namun, hasilnya belum sesuai harapan. Ia gagal pada tahap wawancara.
Tapi kegagalan itu tidak mengakhiri keinginannya melanjutkan pendidikan. Justru sebaliknya. Yohanes menjadikannya sebagai bahan refleksi. Ia mengingat pertanyaan-pertanyaan yang muncul dalam wawancara dan mencoba memahami apa yang perlu diperbaiki apabila kesempatan berikutnya datang.
Lima tahun kemudian, kesempatan itu muncul.
Pada 2018, Yohanes kembali mengikuti seleksi LPDP. Kali ini melalui skema Beasiswa Indonesia Timur (BIT). Untuk memenuhi persyaratan kemampuan bahasa Inggris, ia harus pergi dari Flores menuju Kupang. Selama kurang lebih dua minggu, ia belajar TOEFL bersama adiknya.
Perjuangannya tidak berhenti di situ. Untuk mengurus beberapa persyaratan administrasi, ia harus bepergian ke wilayah lain karena fasilitas yang dibutuhkan belum tersedia di Nagekeo.
Yang paling membekas justru hadir menjelang batas akhir pengumpulan berkas. Koneksi internet di tempat tinggalnya tidak cukup stabil untuk mengunggah dokumen pendaftaran. Yohanes pun mendatangi kantor Bappeda setempat dan meminta izin menggunakan jaringan internet di sana. Ia masih mengingat tanggalnya: 28 Desember.
Beberapa bulan setelah rangkaian seleksi tersebut, kabar yang ditunggu akhirnya tiba. Yohanes dinyatakan lolos beasiswa LPDP. Upayanya yang sempat terhenti pada 2013 akhirnya menemukan jalan lima tahun kemudian. Dan justru, pada jenjang doktoral Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)
Bukan Sekadar Membiayai Kuliah

Bagi Yohanes, LPDP memberinya ruang untuk benar-benar fokus kuliah. Ia merasakan dukungan untuk berbagai kebutuhan selama studi, mulai dari biaya pendidikan hingga sejumlah kebutuhan penunjang. Menurut Yohanes, ini membuat penerima beasiswa dapat mencurahkan lebih banyak perhatian pada proses belajar.
Namun, ketika diminta merefleksikan pengaruh LPDP terhadap dirinya, Yohanes justru banyak berbicara tentang sesuatu yang tidak tercantum dalam ijazah, yaitu nilai-nilai kehidupan.
Dalam kegiatan Persiapan Keberangkatan (PK LPDP), ia mendapatkan pembelajaran mengenai integritas, kontribusi, sinergi, dan kolaborasi. Dari pengalaman itu tumbuh kepercayaan bahwa asal daerah bukan batas bagi seseorang untuk bisa memberi sumbangsih lebih besar.
“Saya diyakinkan bahwa saya bisa. Anak timur bisa ikut berkontribusi,” terang Yohanes.
Kalimat tersebut menjadi salah satu keyakinan yang terus dibawanya. Menurut Yohanes, berbagai nilai yang diperoleh selama menjadi awardee juga menjadi bekal ketika ia kemudian dipercaya memimpin sebuah perguruan tinggi.
Pendidikan juga memperluas jejaringnya. Selama menempuh studi doktoral di UPI, Yohanes aktif dalam berbagai kegiatan bersama komunitas awardee. Ia mengikuti kegiatan akademik, pengembangan kapasitas, kegiatan sosial, hingga berinteraksi dengan awardee dari perguruan tinggi lain.
Jejaring itu tidak berhenti setelah studi selesai. Bersama sejumlah rekan, Yohanes kemudian terlibat dalam Perkumpulan Afirmasi Pengajar Nusantara (PAPENTARA) yang bergerak di bidang pendidikan.
Bertahun-tahun kemudian, ketika bencana datang, jejaring tersebut kembali menunjukkan nilainya.
Memilih untuk Pulang

Pada 11 Januari 2023, Yohanes menyelesaikan pendidikan doktornya.
Setelah itu, peluang untuk membangun karier di luar Nagekeo sempat datang. Ia mengaku memperoleh tawaran dari sebuah perguruan tinggi di Jakarta. Ada pula kesempatan akademik lain yang terbuka bagi lulusan doktor seperti dirinya.
Namun, Yohanes memilih menolak.
“Saya harus kembali ke daerah saya,” katanya.
Baginya, kepulangan bukan sekadar memenuhi kewajiban formal. Ada sesuatu yang ingin ia kembalikan.
Ia ingin ilmu dan pengalaman yang diperoleh selama studi dapat dirasakan pula oleh masyarakat di daerahnya. Lebih dari itu, Yohanes ingin anak-anak muda di Nagekeo melihat bahwa mereka pun memiliki kesempatan untuk bisa menempuh pendidikan tinggi.
Sepulangnya ke Nagekeo, Yohanes kemudian dipercaya memimpin Institut Nasional Flores (INF).
Keterlibatannya dengan INF sebenarnya telah dimulai sebelum ia menyelesaikan studi doktoral. Yohanes terlibat bersama para pendiri lainnya dalam melakukan pengkajian program studi yang disesuaikan dengan potensi wilayah Nagekeo, NTT. Program Studi Ilmu Pertanian, Ilmu Perikanan dan Peternakan yang kemudian menjadi fokus awal sejak INF berdiri tanggal 8 Desember 2020.
Seusai studi, Yohanes juga berkeliling ke sekolah-sekolah. Ia berbicara kepada para pelajar dan mendorong mereka untuk tidak berhenti belajar setelah lulus SMA.
Baginya, pengalaman pendidikan melalui beasiswa LPDP yang dimilikinya, akan memiliki arti lebih besar ketika dapat membuka cara pandang orang lain terhadap kemungkinan yang sebelumnya terasa jauh.
Membuka Jalan bagi yang Lain

Selepas menjadi awardee, Yohanes tidak menyimpan pengalaman LPDP hanya untuk dirinya sendiri.
Setiap kali kesempatan seleksi beasiswa sedang dibuka, ia mengajak orang-orang di sekitarnya untuk berkumpul dan berbagi pengalaman. Guru, ASN, tenaga kesehatan, hingga dokter menjadi bagian dari kelompok yang ia dorong untuk mencoba.
Pesannya sederhana, “Saya bisa dapat, kalian pasti bisa dapat juga.”
Menurut Yohanes, sejumlah orang yang pernah mengikuti sosialisasi dan pendampingan darinya kemudian berhasil memperoleh kesempatan melanjutkan pendidikan. Di sinilah efek dari investasi pendidikan mulai melampaui penerima pertamanya.
Satu orang memperoleh kesempatan belajar. Setelah kembali, ia membantu orang lain melihat dan mengejar kesempatan yang sama.
Saat Jejaring itu Bergerak

Gempa pada Agustus 2026 membawa seluruh pengalaman Yohanes itu ke konteks yang sama sekali berbeda.
Setelah memastikan istri dan ketiga anaknya aman, Yohanes mulai menghubungi mahasiswa yang memungkinkan untuk ikut membantu.
Pada tahap awal, sekitar delapan mahasiswa bergabung. Mereka menjadi bagian dari relawan yang membantu pendistribusian bantuan kepada warga terdampak.
Salah satu jaringan yang menghubungi Yohanes adalah Mata Garuda NTT, organisasi alumni penerima beasiswa LPDP. Melalui koordinasi tersebut, bantuan dikumpulkan, dibelanjakan menjadi berbagai kebutuhan, kemudian disalurkan ke titik-titik yang membutuhkan.
Pada fase awal pasca gempa, bantuan banyak berupa sembako. Seiring berjalannya waktu, kebutuhan masyarakat bergeser. Ketika semakin banyak warga memilih tidur di luar rumah karena khawatir terjadinya gempa susulan, terpal menjadi salah satu kebutuhan yang semakin penting.
Dukungan juga datang dari jejaring lain. Rekan-rekan Yohanes semasa menempuh studi doktoral juga ikut menggalang bantuan. Begitu pula sejumlah jejaring akademik lainnya. Hubungan yang sebelumnya tumbuh melalui kegiatan pendidikan kini bekerja dalam bentuk yang berbeda yaitu mengalirkan dukungan kepada masyarakat terdampak bencana.
Dalam situasi tersebut, investasi pendidikan memperlihatkan dimensi yang tidak selalu tampak dalam angka. Pengetahuan memang penting. Namun jejaring, kepemimpinan, kemampuan berkolaborasi, dan keberanian mengambil peran juga menjadi modal yang dapat bekerja ketika keadaan menuntutnya.
Membantu di Tengah Kondisi yang Sama

Jumlah mahasiswa yang terlibat kemudian bertambah. Sejumlah mahasiswa yang tengah mengikuti kegiatan di Manggarai Timur ditarik kembali agar lebih dekat dengan keluarga. Menurut Yohanes, secara keseluruhan sekitar 35 mahasiswa terlibat dalam rangkaian kegiatan kerelawanan sejak fase awal hingga tahap berikutnya.
Namun ada satu hal penting. Mereka bukan kelompok yang sepenuhnya berada di luar bencana. Sebagian mahasiswa yang menjadi relawan juga merupakan warga terdampak.
Yohanes mengingat satu pengalaman ketika seorang mahasiswa mengantar bantuan berupa telur. Saat mendengar keluhan warga mengenai bantuan yang diterima, mahasiswa tersebut menjawab bahwa dirinya sendiri di rumah bahkan hanya makan nasi tanpa lauk.
Cerita kecil itu memperlihatkan bahwa solidaritas yang tumbuh tidak selalu datang dari mereka yang berada dalam keadaan lebih nyaman. Di Nagekeo, mereka yang membantu pun sedang mengalami kesulitan.
Karena itu, Yohanes juga belajar satu hal lain tentang kepemimpinan. Tidak semua orang harus dipaksa bergerak pada saat yang sama. Ketika ada beberapa mahasiswa yang menyampaikan belum mampu terlibat karena keluarganya sendiri masih menghadapi kesulitan, ia memilih memahami kondisi tersebut.
Menggerakkan orang ternyata bukan hanya soal memberi instruksi, tetapi juga mengetahui kapan harus memberi ruang.
Investasi yang Berlipat

Ketika berbicara mengenai peran negara dalam pendidikannya, Yohanes menyampaikan rasa terima kasih atas kesempatan yang diperolehnya.
Baginya, investasi pada sumber daya manusia memberi seseorang kesempatan untuk memperoleh ilmu, pengetahuan, dan keterampilan yang kemudian dapat dibawa kembali ke daerah.
“Setelah studi bekal yang kami dapatkan, ilmu, pengetahuan, keterampilan, semua yang kita dapatkan bisa kami secara kontribusi kembali ke daerah,” ujarnya.
Perjalanan Yohanes menunjukkan bagaimana proses itu dapat berlangsung.
Dukungan pendidikan membantunya memperoleh kapasitas akademik. Pengalaman sebagai awardee memperluas jejaring dan membentuk cara pandangnya. Setelah studi, ia memilih kembali ke Nagekeo, memimpin perguruan tinggi, memotivasi generasi muda, dan membuka akses informasi mengenai beasiswa kepada orang-orang di sekitarnya.
Ketika bencana datang, bekal tersebut memperoleh bentuk lain. Jejaring yang dulu terbentuk melalui pendidikan ikut bergerak. Mahasiswa yang ia pimpin menjadi relawan. Kampus hadir bersama masyarakat.
Namun, barangkali efek dari perjalanan itu paling mudah terlihat dari apa yang kini dilakukan Yohanes kepada generasi sesudahnya. Ia masih mendampingi mahasiswa yang ingin mencoba mendaftar beasiswa LPDP. Beberapa di antaranya telah mengikuti seleksi lebih dari sekali dan belum berhasil. Alih-alih meminta mereka berhenti, Yohanes terus mendorong mereka mencoba kembali.
Ada bagian dari perjalanan hidupnya sendiri yang berulang di sana. Pada 2013, Yohanes pernah gagal. Pada 2018, ia mencoba lagi. Kesempatan itu kemudian membawanya menempuh pendidikan doktoral. Selepasnya, ia kembali ke Nagekeo, memimpin perguruan tinggi, dan bergerak bersama masyarakat ketika daerahnya menghadapi bencana.
Di sisi lain, keinginannya untuk belajar juga belum padam. Yohanes masih berharap suatu hari dapat melanjutkan ke jenjang postdoctoral. Bukan semata untuk menambah gelar atau pengalaman, tetapi juga sebagai bagian dari cita-cita akademiknya menuju guru besar. Di usia 37 tahun ini, ia menaruh harapan bisa mencapai jenjang itu ketika memasuki usia 40-an.
Kini, ia berdiri di posisi yang berbeda. Bukan lagi hanya sebagai seseorang yang mengejar kesempatan, tetapi juga sebagai orang yang membantu orang lain percaya bahwa kesempatan itu juga tersedia bagi mereka.
Begitulah investasi pada manusia menemukan jalannya kembali. Tidak berhenti pada satu gelar, satu penerima, atau satu perjalanan pendidikan saja. Tetapi tumbuh melalui orang-orang yang dididik, institusi yang dibangun, dan masyarakat yang disentuhnya.