Berkat Pembiayaan dari PT SMI, RSUD Sanjiwani Naik Kelas Jadi Rujukan di Bali Timur

1 Februari 2025
OLEH: Dimach Putra
Berkat Pembiayaan dari PT SMI, RSUD Sanjiwani Naik Kelas Jadi Rujukan di Bali Timur
 

Suatu pagi di tengah pekan menjelang siang di Rumah Sakit Umum Daerah Sanjiwani Gianyar nampak ramai. Para pasien dan pengantar terlihat tertib mengantri di beberapa poliklinik yang tersedia di rumah sakit tersebut. Keramaian pelayanan pada fasilitas kesehatan utama di Kabupaten Gianyar itu wajar, mengingat statusnya sebagai satu-satunya RS Tipe B di daerah tersebut. RSUD Sanjiwani kini bahkan telah menjadi rujukan bagi pasien di Bali Timur semenjak mendapat bantuan pembiayaan dari PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI).

Pembiayaan daerah untuk pengembangan fasilitas kesehatan

Dari Jalan Ciung Wanara Gianyar, gedung RSUD Sanjiwani tampak tak begitu besar namun cukup megah dan apik. Fasad komplek bangunan tersebut menggabungkan elemen tradisional dengan sentuhan modern. Di bagian depan pengunjung disambut dengan Instalasi Gawat Darurat (IGD) dan Poliklinik Eksekutif. Dua fasilitas ini merupakan contoh hasil pemanfaatan pembiayaan dari PT SMI. Pengembangan IGD berasal dari Pinjaman Daerah Reguler yang didapat di tahun 2016. Untuk Poliklinik Eksekutif, pembangunannya menggunakan fasilitas Pinjaman PEN 2020-2021. Fasilitas layanan kesehatan unggulan tersebut hanya segelintir hasil pemanfaatan pembiayaan yang diberikan oleh salah satu special mission vehicle di bawah Kementerian Keuangan itu.

Berawal di tahun 2016, Pemerintah Daerah Gianyar hingga kini tercatat telah mengakses pembiayaan ini sebanyak tiga kali. Yang pertama melalui pinjaman reguler sebesar Rp150 M untuk pengembangan gedung serta alat kesehatan (alkes) di UGD, 15 klinik, ruang operasi dan lainnya. Pemda lalu mengambil Pinjaman PEN 2020 dengan alokasi dana sebesar Rp82M dari total plafon Rp134M, di antaranya untuk pembangunan gedung pelayanan dan pengadaan alkes untuk poli umum, mata, THT dan radiologi. Terakhir lewat Pinjaman PEN 2021, Pemda memanfaatkannya untuk perluasan Poliklinik Eksekutif menggunakan dana sebesar Rp94,5 M dari total plafon sebesar Rp343 M, dan pengadaan alkes untuk poli umum dan THT sebesar Rp1,3 M.`

FotoKecilUKBAJan25.jpg

#UangKita dorong layanan kesehatan berkualitas hingga ke daerah

Hasil pembiayaan yang disalurkan oleh PT SMI yang berasal dari #UangKita tersebut kini bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat sekitar. Sejak dilakukan pengembangan bertahap tersebut, RSUD Sanjiwani mencatat kenaikan jumlah kunjungan rawat jalan sebesar 61,5%. Pendapatan RS ini juga tumbuh signifikan sebesar 192,55% dari tahun 2019 hingga 2023. Pertumbuhan ini di antaranya didorong oleh bertambahnya jenis layanan yang ditawarkan sehingga jumlah pasien pun meningkat. Hal ini juga menjadi bukti dampak positif dari program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN).

Sejak mulai dikembangkan di tahun 2016 dengan bantuan dari #UangKita, RS ini mampu menambah layanan poliklinik dari 18 unit menjadi 29 unit. Jumlah kapasitas tempat tidur pun terus meningkat sehingga angka kematian di tujuh kecamatan di Gianyar dapat ditekan. “Rata-rata kunjungan ke poliklinik rawat jalan kita 400 per hari. Kebanyakan yang datang ke kita bervariasi, paling banyak bedah kemudian penyakit dalam karena kita adalah rujukan Bali Timur. Kebetulan dokter spesialis dan sub spesialis kami sudah lengkap, yang belum BTKV (bedah toraks kardiak vascular) dan bedah saraf. Tahun depan kami akan dapatkan spesialis bedah saraf, yang BTKV belum karena sedang kami siapkan ruang OK khusus untuk mereka,” beber dr. Nyoman Bayu Widhiartha, M.M, Direktur Utama RSUD Sanjiwani.

Nyoman menambahkan bahwa salah satu layanan yang membuat RS-nya menjadi rujukan di Bali Timur adalah adanya subspesialis ginjal dan hipertensi di poliklinik penyakit dalam. Layanan ini hanya dapat ditemukan di RS ini di area timur Bali. Lebih lanjut, Nyoman menjelaskan bahwa jajarannya diperkuat oleh 72 orang dokter spesialis dan subspesialis, 43 orang dokter umum dan 10 orang dokter gigi yang juga didominasi oleh subspesialis.

PT SMI salurkan pembiayaan publik untuk daerah-daerah di Indonesia

PT SMI sebagai penyedia pembiayaan regular dan PEN ke daerah di Indonesia didirikan pada tanggal 26 Februari 2009 di bawah koordinasi Kementerian Keuangan. Perseroan plat merah ini mendapat mandat sebagai katalis pembangunan infrastruktur di Indonesia dan mengatasi market mismatch pembiayaan serta project readiness di sektor infrastruktur nasional hingga pembangunan di daerah. PT SMI menjalankan tugas tersebut melalui tiga pilar bisnisnya yaitu Pembiayaan dan Investasi, Pengembangan Proyek, dan Jasa Konsultasi. Dua fokus utama yang dijalankan oleh PT SMI adalah pemberian manfaat serta kontribusi pada masyarakat melalui tindakan sadar sosio ekonomi dan mempromosikan keberlanjutan melalui sustainable development goals (SDGs) serta mitigasi perubahan iklim.

Pembiayaan Daerah Reguler telah disalurkan oleh PT SMI sejak tahun 2016 berdasarkan PMK No. 174/PMK.08/2016 tentang Pemberian Jaminan kepada Perseroan dalam rangka Penugasan Penyediaan Pembiayaan Infrastruktur Daerah. Sementara itu, Pembiayaan PEN PEMDA merupakan manifestasi peran PT SMI sebagai alat countercyclical pemerintah untuk menanggulangi dampak yang terjadi akibat adanya perubahan situasi ekonomi yang signifikan berdasarkan PMK 105/PMK.07/2020 yang diamandemen oleh PMK 179/PMK.07/2020, dan diamandemen oleh PMK 43/PMK.07/2021).

Ada empat poin yang merupakan syarat penyaluran Pinjaman PEN Daerah oleh PT SMI. Satu, daerah tersebut terdampak pandemi Covid-19. Berikutnya, daerah tersebut memiliki program dan/atau kegiatan pemulihan ekonomi daerah yang mendukung program PEN. Selanjutnya, sisa pinjaman dengan jumlah pinjaman yang akan ditarik tidak melebihi 75% dari jumlah penerimaan umum APBD tahun sebelumnya. Terakhir, memenuhi nilai rasio kemampuan keuangan daerah untuk mengembalikan Pinjaman Daerah paling sedikit sebesar 2,5 persen.

Efek berganda dari pembiayaan publik

Per September 2024, PT SMI telah menyalurkan pembiayaan publik ke berbagai daerah di Indonesia dengan total nilai komitmen Rp38,98 T. Untuk Pembiayaan PEN Pemda, total nilai komitmennya sebesar Rp35,27 T tersebar ke 92 Pemda dengan pemanfaatan yang tersebar di multisektor. Sedangkan untuk Pembiayaan Daerah Reguler, nilai komitmennya total mencapai Rp3,70 T yang hingga saat ini tersalurkan ke 13 Pemda. Sebanyak 60 persen Pembiayaan Daerah Reguler tersebut dimanfaatkan untuk jalan dan jembatan, 37 persen untuk rumah sakit, dan 3 persen untuk pasar.

Kabupaten Gianyar sendiri telah tercatat mengakses pembiayaan publik ini sebanyak tiga kali. Pertama lewat skema Pembiayaan Reguler di tahun 2016 sebanyak Rp130 M dan telah lunas di tahun 2022 lalu. Berikutnya, Pemda Gianyar kembali mengakses pembiayaan lewat skema Pembiayaan PEN 2020 sebesar Rp134 M, dan terakhir Pembiayaan PEN 2021 sebesar Rp343 M. Dari total plafon pinjaman Pemda Gianyar sebesar Rp627,8 M, lebih dari setengahnya atau sebesar Rp329,6 M dimanfaatkan untuk pengembangan RSUD Sanjiwani.  Selain membiayai RSUD Sanjiwani, Pemkab Gianyar turut membangun infrastruktur lain seperti RSUD Payangan, Puskesmas, Terowongan Pasar Sukawati, Pasar Rakyat Bitera, gedung pendidikan anak usia dini (PAUD), jalan dan jembatan.

Manfaat pembiayaan daerah tersebut tak hanya dapat dirasakan dalam bentuk meningkatnya kualitas layanan kesehatan dan infrastruktur saja. Pembangunan infrastruktur dengan bantuan suntikan pembiayaan dari PT SMI yang bersumber dari #UangKita ini juga menciptakan multiplier effect. Contoh kecilnya berasal dari RSUD Sanjiwani. Pengembangan RS ini juga bermanfaat menyediakan lapangan pekerjaan dan perputaran ekonomi dari belanja bahan baku lokal. Pinjaman PEN 2020 dan 2021 yang dimanfaatkan untuk pembangunan gedung pelayanan mampu menyerap tenaga kerja sebesar 195 orang (75 orang di tahun 2020 dan 120 orang di tahun 2021) dengan nilai pembelian bahan baku mencapai Rp49 M. Untuk pembangunan Poliklinik Eksekutif dan Rehab dapat menyerap tenaga kerja sebanyak 640 orang dengan nilai pembelian bahan baku lokal mencapai Rp19 M.


Dimach Putra