Cara Menabung untuk Haji: Ini 5 Tips Menyiapkan Dana Haji

16 Agustus 2026
OLEH: H. Kholil Aziz Hasri, CFP
Cara Menabung untuk Haji: Ini 5 Tips Menyiapkan Dana Haji
 

Ongkos naik haji hampir selalu bergerak naik setiap tahun, mengikuti nilai tukar rupiah, biaya penerbangan, dan penyesuaian layanan di Arab Saudi. Bagi banyak calon jemaah, kenyataan ini sering membuat niat berhaji terasa jauh, apalagi jika belum tahu harus mulai dari mana. Pembahasan kali ini difokuskan pada haji reguler, jalur yang ditempuh mayoritas jemaah Indonesia melalui pendaftaran resmi Kementerian Agama.

Kabar baiknya, menabung untuk haji tidak harus dimulai dari dana besar sekaligus. Berikut lima langkah simulasi realistis menyiapkan biaya haji dari nol, mulai dari nominal setoran awal sampai strategi mengelola dana selama masa tunggu.

 

1. Pahami Dua Tahap Biaya yang Harus Disiapkan

Biaya haji reguler terbagi menjadi dua tahap pembayaran, bukan sekali bayar penuh di awal.

  • Setoran awal sebesar Rp25 juta* untuk mendapatkan nomor porsi dan resmi masuk daftar antrean (angka perkiraan untuk simulasi).
  • Pelunasan Biaya Perjalanan Ibadah Haji (Bipih) yang dibayarkan menjelang keberangkatan. Untuk musim haji 2026, rata-rata Bipih ditetapkan sebesar Rp54,19 juta* (angka perkiraan untuk simulasi), sehingga sisa pelunasan setelah dikurangi setoran awal berada di kisaran Rp29 juta.

Memahami dua tahap ini penting supaya target menabung terasa lebih realistis dan tidak menakutkan di awal.

2. Fokus Kejar Setoran Awal Lebih Dulu

Kesalahan umum adalah menunggu sampai dana penuh sebelum mendaftar. Padahal semakin cepat setoran awal Rp25 juta* terkumpul dan nomor porsi didapat, semakin cepat pula posisi antrean terbentuk, mengingat masa tunggu haji reguler di banyak provinsi bisa lebih dari sepuluh tahun.

Simulasi sederhana, jika disiplin menyisihkan Rp1 juta per bulan, target Rp25 juta bisa tercapai dalam waktu sekitar dua tahun. Jika ditambah dana nonrutin seperti THR atau bonus tahunan, waktu ini bisa dipangkas lebih cepat.

3. Buka Rekening Tabungan Haji Terpisah

Dana calon haji sebaiknya tidak bercampur dengan rekening yang dipakai untuk kebutuhan sehari-hari, supaya lebih mudah dipantau dan tidak tergoda terpakai untuk keperluan lain. Buka tabungan haji khusus di bank syariah yang menjadi Bank Penerima Setoran (BPS-BPIH). Rekening inilah yang nantinya juga menjadi pintu masuk pendaftaran. Begitu setoran awal Rp25 juta masuk, dana otomatis tercatat di sistem pendaftaran haji nasional (SISKOHAT) dan calon jemaah langsung mendapat nomor porsi. Jadi rekening ini bukan sekadar tempat menabung, melainkan juga rekening resmi untuk daftar haji.

4. Manfaatkan Waktu Tunggu untuk Menyiapkan Sisa Pelunasan

Masa tunggu yang panjang sebenarnya adalah keuntungan, bukan hanya beban. Selama masa ini, dana yang mengendap di BPKH turut dikelola dan memberikan nilai manfaat yang membantu meringankan porsi pelunasan di kemudian hari. Manfaatkan periode ini untuk:

  • Menyisihkan dana bulanan secara konsisten menuju target pelunasan.
  • Menerapkan prinsip diversifikasi, jangan menaruh seluruh dana di satu jenis instrumen saja. Setiap instrumen punya karakter risiko dan likuiditas berbeda, sehingga menyebar dana ke beberapa pilihan membantu meredam dampak jika salah satu instrumen sedang turun nilainya saat dana dibutuhkan.
  • Mengalokasikan sebagian dana ke instrumen sesuai prinsip syariah, seperti Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) atau reksa dana syariah, untuk membantu mengejar target lebih cepat.
  • Mempertimbangkan logam mulia sebagai pelengkap. Tren harga emas jangka panjang cenderung sejalan dengan kenaikan biaya haji, cocok untuk horizon menabung yang panjang. Meski begitu, harga emas tetap fluktuatif dalam jangka pendek dan ada selisih harga jual beli, sehingga sebaiknya tidak dijadikan satu-satunya instrumen dan mulai dicairkan bertahap menjelang masa pelunasan, bukan mendadak.
  • Meninjau ulang progres tabungan setiap tahun, menyesuaikan jika ada perubahan besaran Bipih.

5. Siapkan Dana di Luar Komponen Resmi

Bipih menutup penerbangan, akomodasi, dan sebagian besar biaya hidup selama di Arab Saudi. Namun tetap ada pos yang perlu disiapkan sendiri, seperti:

  • Oleh-oleh dan kebutuhan pribadi selama di tanah suci.
  • Dam atau denda pelanggaran ketentuan haji bila diperlukan.
  • Dana cadangan untuk kondisi tak terduga, termasuk kebutuhan kesehatan tambahan.

Idealnya, dana cadangan ini disiapkan terpisah dari tabungan pelunasan Bipih agar tidak mengganggu target utama.

Menabung untuk haji pada dasarnya melatih kesabaran dan konsistensi, dua nilai yang juga menjadi inti dari ibadah haji itu sendiri. Semakin awal mulai menabung, semakin ringan langkahnya. Ongkos boleh naik setiap tahun, tetapi niat yang disertai perencanaan yang matang akan selalu menemukan jalannya menuju tanah suci.

*Catatan: Data biaya haji 2026 bersumber dari keputusan Komisi VIII DPR RI dan Kementerian Haji dan Umrah, Oktober 2025, serta ketentuan setoran awal BPKH.


H. Kholil Aziz Hasri, CFP