Imam Santoso, Manusia Beasiswa Lulusan LPDP dan Dosen Metalurgi yang Tak Mau Sukses Sendiri

1 September 2024
OLEH: Irfan Bayu Pradhana
Imam Santoso, Manusia Beasiswa Lulusan LPDP dan Dosen Metalurgi yang Tak Mau Sukses Sendiri
 

Pendidikan adalah hak setiap warga negara, pendidikan bukan hanya menjadi pisau pemutus kebodohan, kemiskinan, serta hal buruk lainnya. Banyak langkah yang telah dilakukan oleh pemerintah dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan dan memerangi putus sekolah. Namun tetap masih ada saja kasus banyaknya anak bangsa yang kurang mampu, tidak mampu mengenyam pendidikan lanjut akibat berbagai faktor, mulai dari kurangnya informasi hingga pola pikir orang tua yang lebih menginginkan anaknya untuk bekerja daripada harus bersekolah tinggi.

Manusia Beasiswa

Dr. Imam Santoso, S.T., M.Phil., pria yang terlihat selalu bersemangat ini adalah salah seorang pakar dan dosen Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan di Institut Teknologi Bandung (ITB). Teknik Metalurgi menjadi “kekasih” yang dia pinang mulai dari awal dia mengejar gelar sarjana hingga kini dia sebagai pengajar di ITB. Sosok muda yang murah senyum ini ternyata telah menamatkan kuliah doktoralnya 6 tahun yang lalu. Lahir dan besar di Jember, Imam memulai langkahnya dari desa dengan kehidupan sederhana.

“Waktu itu, saya sangat ingin menjadi dokter, tetapi tidak kesampaian,” kenang Imam. “Lalu, suatu hari, saya diajak bapak saya untuk membayar arisan ke rumah seseorang yang sangat kaya di desa kami. Ternyata orang itu adalah seorang satpam tambang. Saya langsung berpikir, "apakah saya harus pindah ke jurusan tambang saja ya? Kok mereka jadi tajir-tajir?",” lanjutnya. Hal itu yang menggugahnya untuk memilih jurusan Teknik Pertambangan (Metalurgi) di ITB, dengan harapan Imam mampu mengangkat derajat keluarganya suatu hari nanti.

Sempat “gap year” selama setahun, pada 2003, berkat kerja kerasnya Imam berhasil masuk di Program Studi Teknik Metalurgi ITB. Perjuangan tak berhenti sampai disitu, Imam harus bergerilya mencari beasiswa demi beasiswa untuk bisa terus berkuliah dan hidup di Bandung. “Ketika kuliah, saya juga mendapatkan banyak beasiswa, mulai dari perusahaan minyak, Bank BRI, hingga Supersemar dan banyak lagi,” terang pria yang lulus SMA di 2002 itu. Hal itu tidak asing bagi Imam. Bagaimana tidak, Imam sudah sejak masuk SMA mendapat beasiswa. Setiap 6 bulan sekali dia harus ke kantor pos untuk mengambil uang beasiswa agar SPP-nya bisa terbayar.

“Kita harus proaktif mencari beasiswa karena memang banyak sekali kesempatan. Tapi kita juga harus memantaskan diri untuk mendapatkannya. Saya dulu rajin mencari info beasiswa, baik di dalam maupun luar negeri,” terangnya. Mungkin kebiasaannya itu lah yang membawa Imam setelah lulus Sarjana pergi ke Australia. Setelah lulus dari ITB, pada 2011, Imam mendapat beasiswa Australian Development Scholarship (sekarang dikenal sebagai Australian Awards), di University of Queensland, masih dengan Teknik Metalurginya.

Mungkin “Manusia Beasiswa” bisa kita sematkan jadi julukannya karena setelah berhasil lulus Master di 2013, setahun setelahnya Imam berhasil juga mendapat beasiswa dari LPDP untuk melanjutkan kuliahnya di bidang Metalurgi di Aalto University di Finlandia. Saat itu Imam memprediksi bahwa Indonesia akan dilarang menjual bijih tembaga mentah, dan harus ada pengolahan tembaga di dalam negeri. Karena itu, Imam mencari negara yang paling maju teknologinya dalam bidang pengolahan tembaga, dan Finlandia adalah salah satunya. Itulah yang menjadi alasan Imam memilih untuk berkuliah di Finlandia.

FotoKecilGenmasAgus24v1.jpg

Tak Mau Sukses Sendiri

Ketika masih berkuliah di Bandung, Imam sudah terbiasa mencari uang dengan mengajar les anak sekolah, selain itu dia juga kerap dimintai tolong untuk menjadi tutor teman-teman kuliahnya. Dari situ Imam merasa mendapat kepuasan batin saat bisa mengajar. “Dari situ saya merasa bahwa menjadi dosen bisa menjadi jalan hidup saya, agar bisa terus mengajar dan menginspirasi anak-anak di kampung,” terang Imam.

Selain kecintaannya dengan mengajar, sejak Imam masih duduk di bangku kuliah pada 2004, Imam juga aktif untuk memotivasi anak-anak di kampungnya untuk terus melanjutkan pendidikan. “Saya merasa bahwa pendidikan bisa merubah hidup. Saya ingin adik-adik di kampung yang mungkin ekonominya sulit, bisa mendapatkan pendidikan yang lebih baik. Saya ingin sukses bareng-bareng, bukan hanya untuk diri saya sendiri, tapi juga untuk orang-orang di sekitar saya,” kata Imam yang datang dari keluarga sederhana. Imam hidup Bersama Ayah dan neneknya yang bekerja sebagai buruh tani, sedangkan ibunya sudah meninggal ketika Imam masih SD.

Kegiatan blusukan yang dilakukan Imam terus berlanjut sampai saat ini. Awalnya Imam hanya blusukan di daerahnya sendiri, dengan tetangga sekitar rumah atau kampungnya karena keterbatasan dana. “Tapi sekarang, sebagai dosen, saya sudah menjangkau banyak daerah, mulai dari Malang, Padang, Aceh, hingga Sulawesi. Saya mendatangi SMA-SMA untuk memotivasi mereka agar melanjutkan kuliah,” ujar Imam.

Selain untuk memotivasi anak muda untuk melanjutkan kuliah, Imam juga memberikan informasi berbagai beasiswa yang tersedia. Selain itu, Imam juga aktif mencari anak muda yang memiliki potensi namun kurang mampu baik dalam hal finansial, keluarga, maupun lingkungan untuk dipersiapkan melanjutkan studi baik S2 maupun S3 entah di dalam negeri maupun di luar negeri. Imam membagikan ilmunya bagaimana untuk bisa melewati tahapan tes dan lulus seleksi beasiswa. Imam juga coba mengatasi kendala yang ada misalnya dengan mencarikan tempat bimbel, mencarikan info beasiswa, memberi rekomendasi untuk beasiswa dan lainnya, karena dia tahu tak semua orang punya atau bisa mengakses segala informasi tersebut. Kalaupun tahu, sebagian sudah surut semangatnya karena khawatir akan biaya atau keruwetan administrasinya.

“Pendidikan itu tidak hanya mengubah mindset, tetapi juga ekonomi. Saya sangat percaya bahwa pendidikan bisa mengubah nasib. Alhamdulillah, sekarang kondisi ekonomi keluarga saya sudah jauh lebih baik. Bapak saya yang dulunya buruh tani, sekarang sudah tidak perlu buru-buru bekerja. Bahkan, saya bisa membantu keluarga besar saya untuk mendapatkan pendidikan yang lebih baik,” jelas Imam.

Imam masih terus berkontak baik dengan anak-anak yang dibantunya. Imam merasa bahagia ketika anak didiknya berhasil dalam pendidikan maupun kehidupannya. Namun, terkadang ada juga yang gagal dan membuatnya harus bersedih. “Salah satunya adalah kisah Devi Donat, anak ITB yang tinggal di got selama setahun karena kekurangan duit. Dia jual donat dan jalan kaki untuk bertahan hidup. Sekarang dia sudah sukses menjadi konsultan dan manajer. Itu sangat mengharukan, melihat bagaimana pendidikan bisa mengubah hidupnya. Namun, ada juga kisah sedih, seperti anak yang gagal survive di ITB dan akhirnya DO. Itu sangat menyedihkan karena harapan orang tuanya begitu tinggi,” cerita Imam dengan sedikit air mata menggenang di matanya. Rasa kecewa ketika tak mampu mengantar anak bimbingannya sukses tak kemudian membuat Imam putus asa, bahkan justru menjadi semangat baru untuknya.

FotoKecilGenmasAgus24v2.jpg

Memotivasi Lewat Sosial Media

Saat ini Imam juga aktif sebagai influencer lewat kanal media sosialnya. Imam membagikan berbagai kisah inspiratif tentang anak muda yang dia bantu, yang saat ini telah sukses dalam hal pendidikan maupun karirnya. Imam juga membagikan banyak ilmu terutama tentang keahliannya di bidang metalurgi dengan bahasa awam yang sangat mudah dipahami masyarakat. Imam percaya semua orang berhak dan mampu untuk bisa memperoleh pendidikan setinggi-tingginya.

“Mimpi saya adalah semakin banyak orang yang bisa kuliah dan meraih pendidikan setinggi-tingginya. Saya juga ingin terus berbagi dan membantu orang lain untuk sukses,” kata Imam ketika ditanya apa impiannya. “Saya hanya ingin terus menjadi dosen yang bisa menginspirasi banyak orang,” sambungnya. Harapannya dengan media sosialnya Imam mampu memperluas jangkauan dan pengaruhnya, sehingga pesan semangat belajarnya mampu menjangkau jutaan orang di seluruh pelosok Indonesia.

Imam menyadari bahwa tidak semua anak punya semangat dan kesempatan yang sama, misalnya saja anak-anak di desa. Mereka tidak mempunyai privilege sebanyak anak-anak di kota besar. Mereka seringkali kalah dalam UTBK karena fasilitas yang terbatas, rasa minder dan kurang percaya diri juga hal yang harus jadi catatan. Namun hal itu bisa diatasi, Imam hadir untuk menutup kekurangan tersebut.

FotoKecilGenmasAgus24v3.jpg

Pesan Imam

Pendidikan di Indonesia memang masih belum sempurna dan bahkan masih tertinggal dari negara maju lain di luar sana. Namun hal itu tidak berarti kita harus menyerah dan berhenti memperjuangkannya. Imam Santoso menjadi contoh bagi kita bahwa pergerakan untuk memajukan pendidikan Indonesia tidak harus menunggu pihak manapun. Lakukan apa yang bisa kita lakukan adalah kunci sebuah pergerakan yang sesungguhnya.

Saat ini mungkin sudah ratusan atau ribuan anak muda yang telah Imam bantu. Etalase di sosial medianya hanya sebagian kecil kisah inspiratif yang Imam bagikan kepada masyarakat. Imam hanya ingin menegaskan bahwa siapapun bisa merubah nasibnya lewat pendidikan. Imam juga percaya jika nantinya anak muda yang dia bantu akan menjadi simpul baru yang merubah anak muda lainnya bahkan mungkin merubah Indonesia untuk lebih baik lagi.

“Pendidikan itu penting dan bisa merubah hidup. Ayo kuliah dengan sungguh-sungguh karena banyak beasiswa yang tersedia. Jangan pakai joki, karena kuliah adalah untuk diri kalian sendiri,” pesan Imam diakhiri senyum khasnya.