Desa Nglanggeran Gunung Kidul, Desa Keuangan Pertama di Indonesia yang Jatuh Bangun Wujudkan Desa Wisata dan Desa Devisa
Pagi hari yang cerah di Gunungkidul. Gugusan batuan karst hitam legam menjulang kontras dengan birunya langit menjadi pemandangan khas di kabupaten tenggara provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta ini. Konon, dulu bentang alam di Gunungkidul ini merupakan dasar laut yang terangkat ke permukaan karena aktivitas geologis selama jutaan tahun. Kondisi alam ekstrim tersebut menjadikan Gunungkidul sebagai daerah yang kering dan tandus. Berbagai cara dilakukan warganya untuk dapat hidup berdampingan dengan alam yang keras. Syahdan di Desa Nglanggeran, usaha tersebut makin giat digalakkan sejak tahun 1999 oleh sekelompok pemuda yang tergabung dalam Karang Taruna Desa Nglanggeran.
Para pemuda ini melakukan berbagai daya dan upaya cinta lingkungan di lahan seluas 48 hektare yang dipercayakan oleh perangkat desa. Mereka butuh setidaknya sewindu menghijaukan kawasan sampai layak diangkat daya tarik wisatanya. Hingga akhirnya di tahun 2007, mereka membentuk Badan Pengelola Desa Wisata (BPDW) Nglanggeran berdasarkan arahan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Gunungkidul. Kelompok sadar wisata (Pokdarwis) ini melibatkan kolaborasi seluruh komponen masyarakat dari pemerintah desa, pemuda karang taruna, kelompok tani, dan ibu-ibu kelompok pemberdayaan kesejahteraan keluarga (PKK).
Tantangan menghadapi tentangan
Aris Budiyono, salah satu penggerak Pokdarwis Nglanggeran mengatakan bahwa perjuangannya dan rekan-rekan untuk bisa sampai di titik ini sangat berat. Di awal kiprahnya, mereka keras ditentang orang sekitar. Tentangan itu biasanya berasal dari orang tua maupun pasangan yang menyangsikan usaha mereka. Para pemuda ini dianggap pengangguran yang lontang-lantung tidak menghasilkan apa-apa. Sangat kontras jika dibandingkan beberapa kisah sukses banyak warga sana yang berhasil menjadi tenaga kerja Indonesia (TKI) di luar negeri. “Kamu mau makan batu, Le?” cerita Aris menirukan ucapan ibunya saat itu .
Kelompok penggerak ini terus mengalami silih berganti kepengurusan karena beberapa anggotanya memilih merantau. Termasuk Aris, yang saat itu sempat berniat menjadi buruh migran asing. Sayangnya, usaha Aris saat itu dikhianati tipu daya perusahaan pemberangkatan. Beberapa tahun Aris sempat terkatung-katung di Jakarta menunggu kepastian pemberangkatan, hingga modalnya habis. Ia pun memutuskan kembali ke Nglanggeran. Tekadnya saat itu makin bulat untuk menggandeng delapan orang tokoh utama dari sekitar 80-an anggota Pokdarwis untuk serius mewujudkan Nglanggeran menjadi desa wisata yang ada di angan-angan mereka.
Strategi mereka adalah dengan mengubah stigma yang dimiliki oleh warga desa itu sendiri. Lahir dan tumbuh di daerah terpencil yang gersang sedikit banyak mengecilkan mental warga desa ini. ”Memangnya orang kota mau wisata melihat batu, panas-panasan menanam padi dan memanen cokelat, makan masakan menu pedesaan?” cerita Aris di acara press tour di Pawon Purba, restoran dan homestay miliknya di Nglanggeran. Tanpa mereka sadari di situlah daya tarik yang dimiliki oleh desa Nglanggeran. Orang-orang kota sudah bosan melihat gedung-gedung yang mencakar langit, kalau bebatuan purba lain cerita. Pun demikian dengan menu makanan cepat saji yang itu-itu saja, nasi tiwul dengan lauk mangut lele, tempe dan sambal lebih menggugah selera mereka.
Asa itu jadi nyata
Titik balik perjuangan warga Nglanggeran mengubah desanya terjadi pasca gempa bumi yang memporak-porandakan DIY di tahun 2006. Peristiwa tersebut semakin melecut semangat warga untuk kian berbenah. Setahun setelahnya, gerakan yang diinisiasi oleh Karang Taruna ini berubah nomenklatur menjadi BPDW Nglanggeran. Strategi para warga pun semakin terarah berkat bimbingan Disbudpar Gunungkidul. Di tahun itu mereka mulai mencoba membuka homestay. “Kami coba lakukan trial and error dari 2007-2010,” ungkap Aris. Usaha tersebut baru berbuah hasil di tahun 2011 saat homestay-nya kedatangan sekitar seratusan tamu dari sebuah sekolah di Tangerang untuk live-in di desa itu selama beberapa malam.
Untuk memperlama masa singgah para tamu di Nglanggeran, warga desa memutar otak menciptakan beberapa aktivitas menarik. Para pengunjung bisa sejenak merasakan sensasi menjadi warga desa dengan mengikuti beberapa kegiatan yang telah dirancang ke dalam beberapa jenis. Untuk wisata edukasi misalnya, para turis bisa membajak sawah dan menanam padi, belajar membatik tulis di kain dan topeng maupun dengan metode ecoprint, mencoba beragam kerajinan berbahan janur, serta membuat beberapa hidangan olahan cokelat yang terkenal dari Nglanggeran. Sementara itu pada kelompok wisata budaya, pengunjung bisa mempelajari unggah-ungguh (tata krama) orang Jawa, bermain karawitan (gamelan), berlatih tari Reog Mataram, mengikuti kenduri, sekaligus pengenalan pakaian adat Jawa.
Ragam aktivitas yang dihadirkan warga untuk menggaet wisatawan itu semakin memperkaya dan melengkapi daya tarik alam yang dimiliki desa ini. Pengunjung pasti akan dibuat takjub melihat Gunung Api Purba yang menjulang sebagai backdrop megah di desa ini. Bagi yang suka tantangan, trekking ke puncak gunung karst ini bisa dijadikan pilihan berwisata. Namun jika ingin sekadar menikmati terbit atau terbenamnya sang surya, bersantai di sekitar Embung Nglanggeran memiliki daya pikatnya tersendiri. Berkat kecantikan alam yang dikelola, dijaga dan dikembangkan warga dengan berbagai aktivitas uniknya ini, tak heran jika Desa Wisata Nglanggeran berhasil menorehkan prestasi. Desa Wisata Nglanggeran meraih penghargaan ASEAN Community Based Tourism (CBT) Award 2017, penghargaan ASEAN Sustainable Tourism Award 2018, dan Sertifikasi Desa Wisata Berkelanjutan oleh Kemenparekraf di awal Maret 2021. Di tahun 2021 pula, Nglanggeran berhasil meraih predikat “Best Tourism Village 2021” dari organisasi pariwisata dunia di bawah perserikatan bangsa-bangsa (UNWTO).
Uang kita untuk membangun desa
Ragam prestasi yang ditorehkan oleh desa Nglanggeran tak hanya menjadikannya layak menjadi prototipe pengembangan wisata pedesaan. Baru-baru ini desa ini juga didapuk menjadi desa percontohan dalam pengelolaan dana desa. Dana Desa adalah dana yang bersumber dari APBN dan diperuntukan bagi desa-desa di seluruh Indonesia. Transfernya dilakukan melalui APBD kabupaten/kota dan digunakan untuk membiayai penyelenggaraan pemerintahan, pelaksanaan pembangunan, pembinaan, kemasyarakatan dan pemberdayaan masyarakat.
Komitmen pemerintah dalam membangun negeri dimulai dari lingkup pedesaan ditunjukkan dengan alokasi anggaran dana desa di tahun 2024 sebesar Rp 71 triliun. Anggaran tersebut disalurkan ke 75.259 desa di 434 kabupaten dan kota, utamanya ditujukan bagi desa dengan kinerja dan tata kelola keuangan yang baik. Dari total anggarannya, Rp 69 triliun telah disalurkan sebelum tahun anggaran dimulai, Rp 2 triliun sisanya dialokasikan selama tahun berjalan sebagai insentif atau tambahan dana desa. Dana ini merupakan bagian dari Rp 857 triliun dana transfer ke daerah (TKD) dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun 2024.
Berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan (DJPK) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) pada 2024, Desa Nglanggeran mendapatkan dana desa sebesar Rp 813 juta dengan rincian alokasi dasar Rp 607 juta dan alokasi formula Rp 205 juta. Hingga 18 April 2024, realisasi penyaluran #UangKita yang telah disalurkan ke Desa Nglanggeran telah mencapai Rp 488 juta atau 60 persen dari pagu. Sekitar 20 persen dana tersebut digunakan untuk melengkapi bantuan langsung tunai (BLT), sementara 30 persen dimanfaatkan untuk pembangunan infrastruktur desa. Negara tak hanya hadir lewat dana desa, tapi juga lewat program-program yang dilakukan oleh beberapa special mission vehicle (SMV) di bawah Kemenkeu.
Menggagas pengembangan Desa Keuangan
Pada puncak acara rangkaian press tour 2 Mei 2024 silam, DJPK Kemenkeu secara resmi menetapkan Desa Nglanggeran sebagai desa keuangan (Desakeu) pertama di Indonesia. Langkah ini merupakan bentuk apresiasi bagi desa Nglanggeran yang dinilai berhasil menjadi success story pembangunan infrastruktur dan ekonomi desa. Penobatan itu sekaligus sebagai bukti keseriusan negara, lewat Kemenkeu, dalam memberikan pendampingan membangun ekonomi di pedesaan. Dalam pelaksanaan program-program ini, Kemenkeu menggandeng beberapa SMV yaitu Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI – Eximbank), melalui Desa Devisa, PT Sarana Multigriya Finance (PT. SMF) lewat pembiayaan pengembangan homestay, dan Pusat Investasi Pemerintah (PIP) dengan program pembiayaan ultra mikro (UMi).
Program Desa Devisa Kakao Nglanggeran yang digagas oleh LPEI telah dilakukan sejak tahun 2023. Kakao memang menjadi komoditas warga desa ini karena bisa tumbuh di area kering khas daerah Gunungkidul. LPEI telah memberi pelatihan ke kurang lebih 96 petani dengan cakupan kebun kakao seluas 10,2 hektare. Potensi sebesar itu mampu menghasilkan 10 ton buah kakao dan 3,1 ton beans kakao kering per tahun. Pendampingan Desa Devisa juga berhasil memberi nilai tambah yang tercipta yaitu kakao fermentasi yang harga awalnya Rp25 ribu per kg, setelah diolah menjadi Rp100 ribu per kg. Selain itu, biji kakao berkualitas dari Nglanggeran kini telah berhasil menembus pasar ekspor ke Swiss.
Seperti halnya LPEI, PT SMF menunjukkan keseriusannya dalam menawarkan pendampingan bagi warga desa Nglanggeran. SMV di bawah Kemenkeu yang tugas utamanya memberi pembiayaan kepemilikan rumah ini hadir lewat program tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL) berupa inovasi bantuan pembiayaan pengembangan homestay. Warga bisa mengambil program pembiayaan tersebut untuk perbaikan fasilitas bagi wisatawan yang ingin menginap di desa itu. Tidak kurang dari 24 kepala keluarga di desa ini dengan nilai investasi sebesar Rp1,5 miliar yang telah dibantu PT SMF dalam menyulap rumah tinggalnya menjadi penginapan yang nyaman bagi pengunjung. Homestay yang dimiliki Aris di kompleks restoran Pawon Purba miliknya menjadi salah satu fasilitas yang mendapat bantuan itu pertama kali hingga dijadikan percontohan bagi proyek serupa di desa ini.
Keberhasilan LPEI dan PT SMF lewat program-program pemberdayaan desa menginspirasi PIP untuk juga melakukan perannya. Di Griya Coklat Nglanggeran, masih dalam rangkaian press tour, Direktur Utama PIP, Ismed Saputra telah menandatangani perjanjian kerja sama dengan Pemerintah Desa Nglanggeran. Momen ini menjadi wujud komitmen PIP dalam menjangkau pemilik usaha ultra mikro yang belum tersentuh sistem perbankan dalam mengakses bantuan pembiayaan sekaligus pendampingan dalam pengembangan produknya. Penunjukkan desa Nglanggeran sebagai Desakeu pertama menjadi motivasi dan harapan bagi desa-desa lain agar bisa menyusul keberhasilan tersebut. Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan, Luky Alfirman, menyadari tantangan bagi para desa-desa ini sekaligus mengingatkan tentang pentingnya untuk memperbaiki tata kelola keuangan desa. “Desa Nglanggeran ditetapkan sebagai desa keuangan pertama karena bisa mengelola dana hingga sukses, dan kinerjanya juga bagus. Ini menjadi desa percontohan dan bisa dicontoh desa yang lain,” pesannya siang itu.