Perjalanan Ekonomi Indonesia 2025: Hadapi Tahun Penuh Tekanan Hingga Kembali Pulihkan Kepercayaan

19 Januari 2026
OLEH: Dara Haspramudilla
Perjalanan Ekonomi Indonesia 2025: Hadapi Tahun Penuh Tekanan Hingga Kembali Pulihkan Kepercayaan
 

Sepanjang tahun 2025, ekonomi global bergerak dinamis dan sarat ketidakpastian. Proteksionisme menguat, perang dagang kembali menjadi alat tekanan geopolitik, dan arus perdagangan global semakin terfragmentasi. Kebijakan moneter di negara maju yang kerap berubah, adanya fluktuasi arus modal, serta konflik geopolitik turut memperbesar volatilitas pasar keuangan global.

Dunia saat ini menghadapi tekanan global dan ekonomi belum sepenuhnya pulih. Pertumbuhan tetap ada, tetapi cukup rapuh dan mudah terganggu keputusan politik dan sentimen pasar. Menjaga stabilitas ekonomi domestik dan mempertahankan momentum pertumbuhan menjadi tantangan besar bagi negara-negara berkembang. Di tengah situasi global yang penuh tantangan, ekonomi Indonesia sepanjang 2025 masih menunjukkan ketahanan yang relatif kuat. Meski tidak melesat tinggi, ekonomi Indonesia konsisten tumbuh dan membaik di tiap triwulannya.

“Kalau kita lihat pertumbuhan ekonomi Indonesia di triwulan pertama 4,67 naik ke 5,12 terakhir 5,04. Mungkin di triwulan keempat juga di atas 5, kira-kira 5,45. Masih lebih tinggi dibanding triwulan-triwulan sebelumnya. Momentum pembalikan arah ekonomi sudah terjadi, jadi kita ke depan harusnya akan tumbuh lebih baik,” papar Menteri Keuangan dalam Konferensi Pers APBN Kita Edisi Januari 2026.

Selain pertumbuhan ekonomi, beberapa indikator ekonomi juga memperlihatkan kinerja yang positif. Surplus Neraca Perdagangan sepanjang 2025 mencapai USD46,0 miliar atau tumbuh 46,8 persen. PMI Manufaktur Desember berada di 51,2 persen yang menggambarkan ekspansi di sektor ekonomi secara keseluruhan. Hal menggembirakan juga diperlihatkan oleh yield SBN yang turun 101 basis point dari 7,02 persen di akhir 2024 menjadi 6,01 persen di akhir 2025. Tren yield SBN yang terus menurun ini menunjukkan kepercayaan investor meningkat dan membuat pembiayaan APBN lebih efisien. Tidak hanya itu, kinerja IHSG juga menunjukkan sentimen positif, naik 22,1 persen dibanding tahun sebelumnya.

InfoLAPUTJAN260402.jpg

Triwulan Pertama: Meredam Dampak Kebijakan Tarif Agresif AS

Realisasi kinerja setahun ekonomi Indonesia tidak terlepas dari pengaruh faktor eksternal yang dinamis di tiap triwulannya. Pada triwulan pertama, tekanan ekonomi global menjadi tantangan ekonomi Indonesia. Amerika Serikat yang kedua kali dipimpin oleh Presiden Trump memunculkan gebrakan yang mengejutkan dunia dengan Kebijakan Tarif Agresif. Hal ini memicu proteksionisme dan fragmentasi perdagangan global. Dampaknya sangat cepat terasa pada sentimen domestik yang terlihat dari melemahnya Indeks Keyakinan Konsumen secara signifikan pada bulan Maret 2025 di angka 121,13.

Lalu, bagaimana pemerintah merespon situasi tersebut? Melalui bauran kebijakan strategis untuk pertumbuhan dan stabilitas ekonomi, seperti targeted taxation, paket stimulus ekonomi, pelonggaran moneter, disiplin fiskal dan strategic investment.

Targeted taxation, ada penyesuaian tarif PPN 12 persen hanya terbatas untuk barang mewah, tadinya kan untuk semua, jadi ada adjustment ke bawah dari total tarif PPN-nya secara rata-rata ya. Kami juga sudah menunjukkan paket stimulus ekonomi ini untuk menjaga daya beli rumah tangga, mendukung UMKM, sektor padat karya, perumahan, dan otomotif, antara lain juga diskon tarif listrik. Stimulus totalnya mencapai Rp33,3 triliun. Ada juga kebijakan pelonggaran moneter di mana BI memangkas suku bunganya 26 basis point ke 5,75 persen. Terus disiplin fiskal, Inpres nomor 1/2025 terkait efisiensi APBN. Kemudian kita juga melakukan strategic investment dengan meluncurkan BPI Danantara,” papar Menkeu.

Pada triwulan pertama ini, pemerintah juga mulai menjalankan program-program prioritas. Makan Bergizi Gratis sejak 6 Januari 2025, Cek Kesehatan Gratis dimulai pada 10 Februari 2025, dan pembentukan Sovereign Wealth Fund Danantara pada 24 Februari 2025. Selain itu subsidi pupuk juga diberikan, stok beras Bulog ditingkatkan mencapai 2,3 juta ton dan sektor pertanian mendapat subsidi sebesar 10,5 persen.

 

Triwulan Kedua: Perang Dagang Eskalatif, Paket Stimulus Berbasis Konsumsi Domestik Diberikan

Tensi perang dagang semakin menguat di triwulan kedua yang masih dipicu oleh kebijakan tarif agresif Amerika Serikat. Bagi Indonesia sendiri, tarif resiprokal Amerika Serikat berdampak pada sektor manufaktur padat karya. Hal ini disebabkan lima besar komoditas yang diekspor Indonesia ke Amerika Serikat adalah perlengkapan mesin dan elektrik, pakaian dan aksesoris, alas kaki, minyak sawit dan karet.

“Jadi top 5 komoditas yang terpengaruh ini, tapi kita mempunyai daya saing di masing-masing barang itu dan kita lakukan kebijakan supaya tetap barang kita punya daya saing di pasar luar negeri. Respon kita adalah paket stimulus diberikan untuk mendorong daya beli dan mobilitas serta sektor padat karya,” ucap Menkeu.

Untuk meningkatkan aktivitas masyarakat di sektor transportasi, energi dan bantuan sosial, pemerintah juga memberikan paket stimulus berbasis konsumsi domestik. Total anggaran yang digelontorkan untuk paket stimulus tersebut sebesar Rp24,4 triliun.

“Kita luncurkan diskon transportasi selama libur sekolah, potongan tarif tol untuk sekitar 110 pengendara, penebalan bansos dengan kartu sembako dan bantuan pangan untuk 18,3 juta keluarga. Kemudian, kita juga memberikan bantuan subsidi upah bagi pekerja dengan gaji di bawah Rp3,5 juta atau UMP juga diberikan diskon JKK 50 persen bagi pekerja di sektor padat karya,” jelas Menkeu.

Sementara, untuk program prioritas pada triwulan kedua juga terjadi peningkatan pencapaian. Makan Bergizi Gratis sudah dirasakan manfaatnya oleh 5,6 juta penerima. Tercapainya swasembada beras di mana stok beras Bulog mencapai 4,2 juta ton. Rumah bersubsidi juga sudah terbangun sebanyak 101,7 ribu unit dan investasi langsung tumbuh 11,5 persen.

InfoLAPUTJAN260401.jpg

Triwulan Ketiga: Momen Pembalikan Sentimen Ekonomi Setelah Tekanan Internal dan Eksternal

Kondisi paling menantang bagi ekonomi Indonesia di tahun 2025 muncul pada triwulan ketiga. Pada akhir Agustus 2025, gelombang demo besar terjadi memprotes besaran tunjangan anggota Dewan Perwakilan Rakyat. Hal ini tentu saja turut mempengaruhi ekonomi yang menyebabkan tekanan di pasar keuangan. Ketidakstabilan ini mempengaruhi persepsi investor, mengganggu aktivitas bisnis dan berdampak pada keputusan konsumen.

“Unjuk rasa pada Agustus-September menekan pasar keuangan, terutama rupiah. Bahkan sebagian khawatirkan apakah kita akan bisa berlangsung terus pemerintahannya,” ucap Menkeu.

Pemerintah pun merespon cepat dengan melakukan terobosan kebijakan dan proaktif, salah satunya melalui pemindahan kas pemerintah sebesar Rp200 triliun. Langkah ini dilakukan untuk meningkatkan produktivitas dana dan mendorong ekonomi secara langsung. Paket stimulus ketiga sebesar Rp15,6 triliun juga digelontorkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi berupa diskon iuran JKK dan JKM, PPh Pasal 21 sektor pariwisata, bantuan pangan, dan perpanjangan jangka waktu PPh final 0,5% bagi WP UMKM. Dampaknya terasa cepat. Penyaluran kredit meningkat, sentimen masyarakat berbalik lebih optimis, dan aktivitas ekonomi kembali berjalan. Stabilitas sosial dan politik pun kembali terjaga.

“Akibatnya di bulan September laju pertumbuhan itu naik dari hampir 0 ke 13,2 persen. Ini membalikkan sentimen di masyarakat, sehingga masyarakat menjadi lebih optimis terhadap pergerakan ekonomi ke depan dan masa depan mereka, sehingga mereka lebih fokus menjalankan aktivitas ekonomi dan otomatis mengurangi kegiatan mereka melakukan demo-demo di jalan, yang itu menciptakan stabilitas sosial dan politik sehingga ekonomi kita bisa terus recover,” terang Menkeu.

Pada saat yang sama, Indonesia juga terus proaktif melakukan diplomasi perdagangan. Indonesia dan Amerika Serikat menyepakati penurunan tarif dari 32 persen ke 19 persen. Selain itu, Indonesia dan Uni Eropa menandatangani perjanjian kemitraan ekonomi, Indonesian-European Comprehensive Economic Partnership (IEU-CEPA). Kesepakatan ini akan memberikan peluang percepatan ekspor dan memberi akses lebih besar bagi produk Indonesia ke Eropa. Perjanjian kemitraan ini mencakup perdagangan barang dan jasa, investasi, hingga ekonomi berkelanjutan.

Pada triwulan ini juga terjadi surplus neraca dagang dari Januari hingga September, naik sebesar 50,9 persen. Ekspor mencapai USD209,80 miliar atau naik sebesar 8,14 persen dan impor mencapai USD 176,32 miliar atau naik 2,62 persen.

InfoLAPUTJAN260403.jpg

Triwulan Keempat: Tekanan Mereda, Kredibilitas Ekonomi dan Pasar Keuangan Pulih

Menjelang akhir tahun 2025, tekanan dan gejolak global mulai mereda yang membuat prospek global semakin membaik. Pemerintah memanfaatkan momentum ini untuk menjaga kesinambungan pertumbuhan ekonomi Indonesia melalui pemberian stimulus yang lebih terarah. Anggaran yang diberikan untuk paket stimulus ke-IV ini adalah sebesar Rp37,4 triliun. Fokus kebijakan diarahkan pada penguatan konsumsi akhir tahun, dukungan bagi dunia kerja khususnya pemberdayaan generasi muda, serta kelancaran mobilitas masyarakat.

“Kita melakukan stimulus ekonomi dengan memberikan BLT sementara, program magang, serta diskon transportasi Nataru,” papar Menkeu.

Pada triwulan ini penempatan kas negara kembali dilakukan untuk menjaga likuiditas. Selain itu, deregulasi dan penyelesaian hambatan usaha juga mulai dipercepat. Hasilnya terlihat pada penguatan aktivitas ritel di angka 5,94, berlanjutnya ekspansi sektor manufaktur dalam lima bulan terakhir di level 51,2, menguatnya pasar saham di mana IHSG mencetak 24 kali all-time high, serta menurunnya imbal hasil surat utang negara di bawah 6 persen.

“Kita juga melakukan penempatan kas di bank komersial, ditambah Rp76 triliun pada waktu itu. Kita juga mulai melakukan debottlenecking dan deregulasi dengan penyediaan kanal aduan P2SK ya. Hasil kebijakan tadi, indeks penjualan retail terus menguat, itu menunjukkan bahwa masyarakat sudah optimis, daya beli sudah mulai bukan membaik, mereka mulai berani belanja lebih banyak dibanding sebelumnya.,” jelas Menkeu.

Pemulihan kepercayaan tersebut semakin jelas terlihat dari arus modal ke pasar keuangan. Setelah sebelumnya sempat melemah hingga September 2025, aliran dana kembali berbalik arah pada Oktober dan berlanjut hingga akhir tahun. Investor asing mulai kembali menempatkan dananya di surat utang negara, instrumen moneter, dan saham. Kembalinya arus modal asing ini menjadi penanda bahwa kredibilitas ekonomi dan pasar keuangan Indonesia telah pulih.

“Oktober, November, Desember, garisnya sudah naik ke atas, arti trendnya menuju ke positif, dan di bulan November dan Desember sudah positif dengan total inflow mencapai Rp6,1 triliun, di bulan November-Desember mencapai Rp46,8 triliun. Kalau kita lihat, di bulan Desember ya, SBN inflow sudah mencapai naik 6,49 triliun, SRBI inflow tercatat sebesar 27,40 triliun, dan saham inflow di bulan Desember mencapai 12,24 triliun, artinya asing sudah masuk ke sini lagi,” terang Menkeu.

Pada akhirnya, perjalanan ekonomi Indonesia sepanjang tahun 2025 menunjukkan bahwa stabilitas tidak hadir dengan sendirinya, melainkan dibangun melalui kebijakan dan keputusan yang tepat waktu, fleksible, dan konsisten. Paket stimulus yang digelontorkan juga mencerminkan APBN sebagai instrumen yang antisipatif dan responsif. APBN berperan dalam meredam guncangan atau shock absorber, menjaga kepercayaan, dan memastikan roda ekonomi terus berputar. Dalam kondisi global yang terus berubah dan penuh ketidakpastian, ketahanan kebijakan menjadi kunci dan APBN kembali membuktikan perannya sebagai jangkar stabilitas ekonomi nasional.