Pinjaman "Tunda Tebang" dari BPDLH Naikkan Usaha UMKM di Gunungkidul
Siang itu cuaca begitu terik di sebuah desa Gedangsari. Dua orang pria nampak hilir mudik dari garasi menuju mobil yang terparkir di depannya. Mereka menaikkan muatan kardus-kardus yang telah disatukan per sepuluhan oleh dua orang perempuan di dalam garasi tersebut. Setelah seluruh paket berhasil dimuat, mobil dengan livery Devina Roti itu melaju pergi.
Bolu panggang buah tangan khas hajatan
Aktivitas pengiriman kotak-kotak berisi kue tersebut ramai menghiasi hari-hari sebuah rumah di desa asri yang terletak di Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta ini. Terutama pada waktu-waktu tertentu, seperti Besar, persamaan bulan Zulhijah pada penanggalan Hijriah bagi orang-orang etnis Jawa. Di bulan ke-12 dalam kalender tradisional Jawa ini, banyak masyarakat mengadakan acara besar seperti supitan (khitan-red) dan pernikahan.
“Kalau bulan Besar gini bisa sampai 60-70 (pesanan), bisa. Ini tadi 1700 (boks),” ungkap Fitria Wulandari menjelaskan kapasitas pesanan Devina Roti miliknya. Fitri menjelaskan bahwa usahanya menerima pesanan kue bolu loyang dan bolu kukus dengan berbagai pugasan. Warga di sekitar sini, alih-alih memberi satu boks berisi irisan kecil beberapa jenis kue seperti di kota-kota, memiliki kebiasaan untuk memberikan buah tangan berupa kue bolu seloyang atau segulung bagi para tamu yang menghadiri hajatannya.
Bahkan di bulan-bulan tertentu konsumen yang datang ke Fitria bisa memesan setidaknya 2000 boks. Di luar waktu-waktu tersebut, Devina Roti tetap menerima banyak pesanan kecil dari warga sekitar untuk acara pengajian, arisan, dan lainnya. Di bulan Ramadan dan menjelang Idulfitri, ia pun menerima pesanan berbagai kue kering.

Kisah guru yang banting setir menjadi pembuat kue
Usaha pembuatan kue yang dimiliki Fitria tak lantas besar dan menerima pesanan fantastis begitu saja. Perlu usaha, tetes keringat dan sedikit tangis saat ia merintisnya sejak 2017 sembari melakoni pekerjaan mulia sebagai guru tidak tetap (GTT) di SD Gedangan. Meski terpuji di mata masyarakat, pekerjaan tersebut nyatanya belum mampu melegakan himpitan kebutuhan hidup keluarganya. “Kayak gak ada harapannya gitu. Gajinya hanya 200, 300 sampai 400 mentok itu, terus ya karena kebutuhan hidup semakin meningkat,” tutur ibu dari dua anak ini mengenang keterbatasannya di masa lalu.
Kesempatan datang di tahun 2017, seorang tetangga yang akan membuat hajatan meminta tolong Fitria untuk dibuatkan 150 buah kue. “Itu dua hari dua malam saya nggak tidur,” cerita perempuan berkerudung ini. Kian lama pesanan kue bikinan Fitria makin banyak peminatnya. Pesanan-pesanan awal ia kerjakan secara manual dan menggunakan oven tangkring sederhana yang dipanaskan di atas kompor. Sebagian hasil penjualannya bisa ia sisihkan untuk mengikuti kursus privat pembuatan kue di Yogyakarta untuk membantunya mengembangkan produk.
Dari kursus singkat itu, Fitria mendapatkan tiga buah resep kue. Ilmu yang didapatnya tak serta merta langsung bisa diterapkan untuk tipe konsumennya yang menganggap harga jualnya terlalu tinggi. Fitria lalu memutar otak dan menyesuaikan resepnya agar tetap enak tapi lebih terjangkau. Usaha rumahan yang diberi nama Roti Devina itupun semakin banyak menerima orderan. “Mereknya saya ambil dari nama kedua anak saya Deryan dan Vina,” ungkapnya sambil menerangkan bahwa harapannya memberi nama tersebut memang untuk mencukupi da membahagiakan kedua anaknya.
Konservasi berbuah modal peningkatan mobilitas usaha
Pelanggan Devina Roti makin lama tak hanya dari sekitar Gunungkidul bagian utara, bahkan hingga ke desa-desa tetangga di kabupaten Klaten – Jawa Tengah. Fitria membutuhkan moda transportasi yang dapat membantunya menjangkau seluruh area konsumennya. Dengan kondisi topografi Gunungkidul yang ekstrim, akan sangat merepotkan jika pesanan yang bisa mencapai ribuan itu harus diantar menggunakan sepeda motor. Untuk itu ia merasa butuh mobil operasional. “Pembeli itu maunya pesanannya harus diantar ke rumah,” ucapnya.
Diakui Fitria, ia sempat bingung mendapatkan sumber pendanaan untuk memenuhi harapannya itu. Dalam kebingungannya itu Fitria mendapat kabar baik dari adiknya yang merupakan pengusaha dan pengrajin batu pahat. Dari adiknya itu, Fitria mendapatkan informasi terkait pembiayaan tunda tebang yang ditawarkan oleh Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH). Pembiayaan tersebut ditujukan bagi pemilik lahan di daerah konservasi dengan memanfaatkan pohon-pohon dengan klasifikasi tertentu yang tumbuh di lahannya sebagai agunan. Pohon-pohon yang dijadikan jaminan itu tidak boleh ditebang selama masa tenor pinjaman berlangsung.
Dari program ini, Fitria mendapatkan suntikan dana sebesar Rp107 juta dengan masa pinjaman 8 tahun. Uang yang didapat itu langsung ia belikan sebuah minibus/van yang tak hanya digunakan untuk mengantar pesanan ke pelanggan, tapi juga sebagai sarana promosi karena di badan mobilnya ia menempelkan desain livery merek dan produknya. Meski sempat disibukkan dengan persyaratan administratif yang cukup ketat, Fitria mengaku sangat bersyukur mendapatkan bantuan pinjaman modal usaha ini. “Setelah dapat ini untuk mobilitas, berapapun bisa kita antar, pembeli pun semakin banyak, gitu,” tutur Fitria penuh syukur.

Creative financing untuk lingkungan berkelanjutan
Tunda Tebang adalah bentuk pembiayaan kreatif yang disediakan oleh BPDLH sebagai salah satu special mission vehicle (SMV) di bawah Kementerian Keuangan. Dalam skema ini, debitur mendapat pinjaman lunak atau fasilitas dana bergulir dengan bunga yang relatif rendah, tapi dengan agunan yang berbeda dengan lembaga keuangan lain berupa pohon. “Jadi pohon-pohon ini bukan berarti kami bawa, tapi tetap ada di tempat hanya saja kita ukur, lalu kita catat besarnya, lalu didokumentasikan, setelah itu pohon-pohon tersebut dilarang untuk ditebang selama masa pinjaman,” jelas Arief, pengelola fasilitas dana bergulir di wilayah daerah istimewa Yogyakarta untuk BPDLH.
Warga sekitar memang memiliki kecenderungan untuk mengelolah pohon-pohon di lahannya dengan sistem tebang butuh. Mereka tidak memandang besar kecilnya pohon, selama mereka merasa ada kebutuhan mendesak, akan ditebang. Praktik ini jika dibiarkan akan berakibat fatal bagi alam. Seperti kita ketahui, pohon-pohon dapat membantu alam untuk menyimpan cadangan air dan mempertahankan tanah agar tidak mudah longsor. Solusi unik ini menutup gap kebutuhan warga agar tidak langsung bergantung pada pohon, melainkan didorong untuk menjadi produktif di bidang lain dengan dibantu penyediaan modalnya.
Usaha BPDLH untuk mengajak masyarakat melakukan konservasi alam dengan bonus pembiayaan ini telah dimulai sejak 2015. Arief menyebutkan bahwa syarat yang diwajibkan oleh BPDLH cukup mudah bagi masyarakat yang ingin mengakses program ini, cukup memiliki pohon dan dana yang didapat digunakan untuk usaha yang produktif. Debitur lalu bisa mendaftarkan proposalnya secara kolektif bersama kelompoknya. Lalu, seperti pinjaman yang lain, BPDLH akan memverifikasi keabsahan dari kepemilikan pohonnya. Setelahnya, debitur setidaknya bisa mendapatkan dana sebesar 75% dari nilai total taksiran asetnya. Upaya Arief menggaet minat calon debitur mulai terasa hasilnya sejak 2017 hingga 2020. “Untuk Gunungkidul sendiri sudah ada 38 kelompok dengan lebih dari 650 debitur dengan nilai outstanding lebih dari 20 miliar,” bebernya bangga.
Unggul berkat tunda tebang
Arief yang menjadi pengelola fasilitas dana bergulir yang ada di lapangan, berharap skema pembiayaan kreatif seperti Tunda Tebang ini bisa diakses lebih luas oleh masyarakat. Selain bermanfaat untuk mendorong produktivitas warga, program ini juga membantu pelestarian lingkungan. Cara tersebut juga dinilai dapat meningkatkan nilai dari pohon-pohon yang ditunda penebangannya.
Sebagai salah satu debitur Fitria membagikan sedikit testimoni terkait manfaat mengambil pembiayaan ini. Menurutnya, keunggulan program ini adalah mendapat pinjaman dengan waktu pengembalian yang cukup lama. Dalam rentang waktu itu, Fitria sebagai debitur memiliki waktu lega untuk mengembangkan usahanya yang kini mampu mempekerjakan 4 pegawai tetap dan sekitar 6 orang pegawai lepasan yang merupakan ibu-ibu tetangganya. Pohon-pohonnya yang dijaminkan kini dianggapnya sebagai aset tabungan yang bisa dimanfaatkan di kemudian hari ketika nilainya meningkat. Nantinya , Fitira juga ingin terus mengembangkan usahanya. “Mimpinya ingin membuka outlet, pengennya di sini dan di daerah Wonosari,” ungkapnya.
Bicara dari pengalaman mendampingi penyaluran program pembiayaan ini, Arief merasa perlu sedikit perbaikan dalam pengelolaannya. “Agar bisa diakses lebih luas, sebisa mungkin tata waktunya tidak terlalu panjang dalam hal penyalurannya. Memang sangat-sangat dibutuhkanlah untuk masyarakat apalagi bunganya yang cukup rendah ya saat ini hanya 3%,” tutup Arief. Ia lalu menambahkan, bagi masyarakat yang berminat mengakses pembiayaan Tunda Tebang dapat memperoleh informasi mengenai persyaratan dan tata cara pengajuan pembiayaan melalui petugas BPDLH atau mengakses website www.bpdlh.id