Jejak Sumitro Djojohadikusumo: Dari Rotterdam Hingga Jakarta School of Economic

23 Oktober 2025
OLEH: Gumilar Rachdityo M, Rukmi Hapsari, Yani Kurnia
Jejak Sumitro Djojohadikusumo: Dari Rotterdam Hingga Jakarta School of Economic
 

Seorang guru tidak hanya memberi ilmu, tetapi juga menyiapkan muridnya menghadapi dunia.” — Sumitro Djojohadikusumo

Gaya necis, berpakaian sipil lengkap dengan jas dan dasi menjadi ciri khas Prof. Sumitro Djojohadikusumo saat mengajar siswanya. Secangkir kopi tubruk racikan Pak Cas - julukan dari mahasiswanya, dan asbak menemani di podium. Ketika mengajar di ruang kelas, ia jarang menggunakan papan tulis.

Di ruang kuliah Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FE-UI) pada akhir 1970-an, mahasiswa angkatan muda seperti Faisal Basri masih mengenang sosok dosen yang karismatik itu: berpakaian jas lengkap dengan dasi, secangkir kopi tubruk di tangan, dan asbak kecil di sisi podium. Ia jarang menulis di papan tulis, tetapi tutur katanya menancap kuat di kepala para mahasiswa. Dialah Prof. Sumitro Djojohadikusumo, begawan ekonomi Indonesia yang bukan hanya mengajarkan teori, tapi menanamkan cara berpikir kritis dan terbuka terhadap dunia.

“Selama dua semester kuliah bersama Prof. Sumitro, pandangan Prof. Sumitro sangat terbuka dan berwawasan jauh ke depan. Tidak ada kesan sedikit pun mendukung proteksionisme, anti-asing, apalagi anti-pasar,” kenang Faisal Basri yang ia tulis dalam blog pribadinya.

Sumitro bukan sekadar akademisi. Ia adalah perancang jalan berpikir ekonomi Indonesia — sosok yang meletakkan fondasi bagi lahirnya generasi ekonom modern dan institusi yang hari ini menjadi jantung intelektual ekonomi nasional: FE-UI dan LPEM UI.

Awal Perjalanan Intelektual: Dari Kebumen ke Rotterdam

Lahir di Kebumen pada 29 Mei 1917, Sumitro tumbuh dalam lingkungan priyayi terdidik. Ayahnya, Margono Djojohadikusumo, adalah tokoh penting pendiri Bank Negara Indonesia (BNI) dan anggota BPUPKI. Sejak muda, Sumitro dikenal cerdas dan kritis — dua sifat yang membawanya menembus dunia akademik Eropa.

Pada 1935, ia berangkat ke Belanda menempuh studi ekonomi di Nederlandse Economische Hogeschool, Rotterdam (kini Erasmus University). Dua tahun kemudian, ia memperdalam filsafat dan sejarah di Universitas Paris atau lebih dikenal sebagai Collège de Sorbonne (La Sorbonne). Di sana, ia berjumpa dengan atmosfer pemikiran Eropa yang sedang berubah cepat oleh krisis ekonomi dan ketegangan perang.

Sekembalinya ke Belanda, Sumitro menulis disertasi bertajuk Het Volkscredietwezen in de Depressie (Kredit Rakyat di Masa Depresi) di tengah invasi Nazi Jerman pada 1940. Dengan penuh perjuangan, ia menuntaskan riset itu dan meraih gelar doktor ekonomi pada 1943 — di usia 26 tahun.

Disertasinya kelak menjadi bacaan penting di masa pascakemerdekaan, karena menyoroti sistem kredit rakyat dan dinamika ekonomi di tengah krisis.

Salah satu pengaruh terbesar dalam karier intelektualnya datang dari sang guru, Prof. Jan Tinbergen, peraih Nobel Ekonomi pertama di dunia. Dari Tinbergen, Sumitro belajar tentang pentingnya kebijakan ekonomi yang terukur — satu instrumen kebijakan untuk satu tujuan. Prinsip inilah yang kelak menjadi dasar berpikirnya dalam membangun kebijakan ekonomi Indonesia.

Kembali ke Tanah Air: Dari Kabinet ke Kampus

Tahun 1946, setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan, Sumitro kembali ke tanah air. Dalam waktu singkat, ia dipercaya menjadi pejabat tinggi di bidang perdagangan dan keuangan. Namun, di tengah kesibukan pemerintahan, muncul panggilan lain: membangun dunia akademik Indonesia.

Ketika menjabat Menteri Perdagangan dan Perindustrian tahun 1950, sekelompok mahasiswa Universitas Indonesia mendatanginya untuk meminta ia memimpin fakultas ekonomi yang baru berdiri. Permintaan itu ia sambut dengan kesungguhan. Setahun kemudian, Sumitro resmi menjadi Dekan Fakultas Ekonomi UI (1951–1957).

Sekalipun ia bukan dekan pertama, namun Sumitro-lah yang menjadikan FE-UI sebagai institusi mandiri. Ia mereformasi fakultas yang masih “menumpang” di Fakultas Hukum menjadi institusi independen dan bergengsi. Dengan visi besar, ia menamai fakultas itu “Jakarta School of Economics”, menggemakan semangat “London School of Economics” — pusat studi ekonomi dunia yang menjadi kiblatnya.

Di tangan Sumitro, fakultas itu tidak sekadar tempat belajar teori, tetapi menjadi laboratorium pemikiran pembangunan Indonesia. Ia memperkenalkan mata kuliah ekonomi pembangunan dan makroekonomi, bidang yang saat itu nyaris belum dikenal di Indonesia.

“Sumitro-lah yang memperkenalkan ekonomi makro ke Indonesia,” kenang Emil Salim, murid sekaligus asistennya, yang kelak menjadi Menteri Lingkungan Hidup. “Pak Sumitro tidak sekadar dosen. Ia seorang perancang jalan berpikir ekonomi yang melampaui zaman.”

Lahirnya Generasi Begawan dan Institusi Intelektual

Dari tangan Sumitro, lahir generasi ekonom yang kemudian dikenal sebagai begawan ekonomi Indonesia: Ali Wardhana, JB Sumarlin, Emil Salim, dan Widjojo Nitisastro.

Mereka bukan hanya murid, tapi juga penerus gagasan — para pemikir yang kelak membentuk kebijakan ekonomi makro Orde Baru.

Sumitro percaya, pendidikan ekonomi harus berbasis riset dan kebijakan nyata. Karena itu, pada 1953 ia mendirikan Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) — lembaga riset pertama di bidang ekonomi di Indonesia. Dari sini lahir tradisi penelitian berbasis data, analisis kebijakan, dan konsultasi ekonomi untuk pemerintah.

LPEM UI kemudian menjadi wadah intelektual yang melahirkan ekonom-ekonom besar Indonesia dan menjembatani kolaborasi dengan lembaga internasional seperti Ford Foundation dan University of California, Berkeley. Kemitraan ini membuka kesempatan bagi para dosen muda untuk belajar ke luar negeri — di Massachusetts Institute of Technology (MIT), Stanford, hingga Cornell — dan mengembalikan ilmunya ke tanah air.

“Tidak ada orang lain yang berkualifikasi seperti Sumitro,” ujar Suhadi Mangkusuwondo, salah satu delegasi mahasiswa kala itu.

sumitro_01.jpg
Sumitro Djojohadikusumo dalam Seminar 'Peranan Pasar Modal dalam Pengerahan Dana Investasi' di Flores Room Hotel Borobudur, Jakarta, 1985.

Membangun Fondasi Pendidikan Ekonomi Indonesia

Ford Foundation mencatat, pada tahun 1949 hanya ada sekitar sepuluh ekonom terlatih di Indonesia — jumlah yang sangat kecil untuk populasi 70 juta jiwa. Sumitro menyadari kesenjangan itu dan bergerak cepat. Ia mengajukan proposal bantuan pendidikan senilai 400.000 dolar AS kepada Ford Foundation.

Butuh lima tahun hingga akhirnya bantuan disetujui, dan dana sebesar dua juta dolar AS dikucurkan untuk mengembangkan FE-UI.

Dana itu digunakan untuk memperkuat kurikulum, menghadirkan pengajar internasional, dan mengirim mahasiswa terbaik ke luar negeri. Sejak saat itu, wajah pendidikan ekonomi Indonesia berubah. Fakultas Ekonomi UI menjadi pusat lahirnya para pemikir kebijakan, teknokrat, dan akademisi yang berpengaruh hingga kini.

“Beberapa orang sering bicara soal membangun institusi. Tapi jika Anda menemukan orang yang tepat, mereka akan membangun institusi itu sendiri,” ujar John Bresnan, perwakilan Ford Foundation di Indonesia. “Dan Sumitro adalah salah satu orang itu.”

Warisan Intelektual yang Tak Pernah Padam

Bagi Sumitro, ilmu ekonomi bukan sekadar teori pasar dan angka. Ia melihatnya sebagai alat untuk memerdekakan bangsa dari ketergantungan.

Dalam kuliahnya, ia sering menekankan pentingnya keseimbangan antara kebijakan pasar dan peran negara. “Pemerintah harus menjadi nakhoda pembangunan,” ujarnya suatu kali.

Ia menolak ekstrem: baik proteksionisme berlebihan maupun liberalisme buta.

Wawasannya yang terbuka membuatnya dihormati lintas generasi. Thee Kian Wie menyebutnya sebagai “pelopor studi ekonomi modern di Indonesia.” Sedangkan Emil Salim menggambarkannya sebagai “sang perancang jalan berpikir ekonomi bangsa.”

Warisan Sumitro tidak hanya tertulis di buku-buku ekonomi, tetapi juga hidup dalam setiap lembaga pendidikan, kebijakan publik, dan generasi intelektual yang terus belajar dari teladan seorang guru bangsa.

“Seorang guru tidak hanya memberi ilmu, tetapi juga menyiapkan muridnya menghadapi dunia.” – Prof. Sumitro Djojohadikusumo


Gumilar Rachdityo M, Rukmi Hapsari, Yani Kurnia