Sekolah Rakyat: Gebrakan Satu Tahun Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto untuk Memutus Rantai Kemiskinan

12 Oktober 2025
OLEH: CS. Purwowidhu
Sekolah Rakyat: Gebrakan Satu Tahun Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto untuk Memutus Rantai Kemiskinan
 

Satu tahun pemerintahan Prabowo–Gibran menandai langkah nyata menuju pemerataan kesempatan pendidikan bagi anak-anak Indonesia. Melalui program Sekolah Rakyat, pemerintah menghadirkan sekolah berasrama gratis bagi anak-anak dari keluarga miskin agar tetap bisa belajar dan membangun masa depan tanpa terbebani biaya. Dalam satu tahun, telah berdiri 165 Sekolah Rakyat di seluruh Indonesia yang menampung hampir 16 ribu murid. Program ini menjadi bukti hadirnya negara dalam memutus rantai kemiskinan melalui pendidikan yang setara dan berkeadilan.

 

Keterbatasan ekonomi keluarga kini tak lagi menjadi penghalang anak-anak Indonesia dalam meraih impian. Semua itu dimungkinkan dengan adanya Sekolah Rakyat, salah satu program nasional yang diinisiasi oleh Presiden Prabowo Subianto untuk memutus mata rantai kemiskinan dan menghidupkan kembali harapan bagi anak-anak yang berasal dari keluarga miskin dan miskin ekstrem.

Sekolah Rakyat merupakan sekolah berasrama yang memberikan pendidikan gratis dari jenjang SD hingga SMA bagi anak-anak dari kelompok masyarakat desil 1 dan desil 2 Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN). Sekolah Rakyat berada di bawah pengelolaan Kementerian Sosial dan melibatkan kolaborasi antarkementerian seperti Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Pekerjaan Umum, Kementerian Agama, dan instansi terkait lainnya.

Hingga Oktober 2025, secara keseluruhan pemerintah telah membangun dan mengoperasikan 165 Sekolah Rakyat (SR) di seluruh Indonesia yang menampung hampir 16 ribu murid.

Salah satu pionirnya adalah Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 17 Surakarta, yang berdiri sejak 14 Juli 2025 di Sentra Terpadu Prof. Dr. Soeharso, Jebres, Surakarta, Jawa Tengah. Sekolah ini menampung 200 siswa angkatan pertama di jenjang kelas 10 yang terbagi ke dalam 8 ruang kelas atau 25 siswa per kelas, didukung oleh 20 tenaga pendidik serta 12 wali asrama dan wali asuh.   

“Siswa itu kami ambil dari DTSEN jadi ketika itu sudah desil 1 desil 2 kemudian divalidasi dan ground checking oleh pendamping PKH (Program Keluarga Harapan) dari Dinas Sosial bahwa mereka layak, mereka jadi siswa SR,” ungkap Kepala Sekolah SRMA 17 Surakarta Septhina Shinta Sari.

Asa yang Kembali Menyala

Membangun karakter dan mempersiapkan diri menggapai cita-cita menjadi fokus para murid Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 17 Surakarta. Dua di antaranya, Danindra Hanif Saputro (15) dan Agustina Bintang Prasistri (16).

Danindra Hanif Saputro menemukan kegembiraan dan kedisiplinan di lingkungan sekolah rakyat. Murid asal Surakarta yang gemar membaca dan berolahraga lari itu terlahir dalam keluarga sederhana. Ayahnya mencari nafkah dengan berjualan minuman es di depan salah satu gerai minimarket di Surakarta. Sementara ibunya bekerja sebagai buruh pabrik. Namun, sejak tahun 2021 ayah Danindra mengalami penyakit stroke. Sejak saat itu, ibunya menggantikan sang ayah berjualan es sambil merawat ayahnya, dibantu oleh adik laki-lakinya.

Danindra mengaku sejak awal memang berkeinginan untuk bersekolah di boarding school atau sekolah berasrama. Ia menyebut lingkungan SRMA memberikan perubahan signifikan pada pola hidupnya.

"Di sini jadi disiplin dan ditata mulai dari pola makan, pola belajar, screen time, dan yang lainnya," jelas Danindra.

Kedua orang tua Danindra pun menyambut positif kemajuan karakter Danindra yang nampak dari pola hidupnya selama bersekolah di SRMA 17 Surakarta. Orang tuanya menganggap anak mereka sekarang lebih ceria, teratur, dan tertata. 

Shinta mengonfirmasi hal tersebut, ia mengatakan para orang tua murid mengapresiasi pendidikan yang diberikan di Sekolah Rakyat karena mampu memperbaiki karakter anak-anak mereka menjadi lebih disiplin, tertib, dan bersemangat tinggi untuk belajar. Adapun pihak sekolah memberikan waktu berkunjung kepada orang tua sebanyak dua kali dalam sebulan sesuai waktu yang telah ditentukan.

Sekolah Rakyat tak hanya membekali para peserta didik dengan pendidikan formal, tetapi juga pendidikan karakter untuk melatih kedisiplinan, serta kesempatan untuk mengembangkan kreativitas melalui ragam kegiatan ekstrakurikuler.

Di Sekolah Rakyat, kebutuhan dasar para murid terpenuhi, kesehatan mereka juga dijaga dengan memberikan asupan gizi seimbang setiap hari melalui penyediaan makan sebanyak tiga kali sehari dan snack dua kali sehari serta pemantauan kesehatan secara rutin. Bahkan layanan kesehatan pun tersedia selama 24 jam bekerja sama dengan pihak sentra.

Setiap hari para murid SRMA 17 Surakarta mengikuti jadwal yang telah ditetapkan pihak sekolah. Mereka mengawali hari di pukul 04.15 subuh dilanjutkan ibadah, merapikan asrama, dan mempersiapkan diri untuk bersekolah. Pukul 06.30-07.00 mereka lanjut sarapan. Setelah itu mereka mengikuti kegiatan pembelajaran (Senin-Jumat) atau kegiatan keasramaan (Sabtu dan Minggu) dari pukul 08.00-12.00.

Istirahat, ibadah, dan makan siang dilaksanakan pada pukul 12.00-13.30, kemudian aktivitas pembelajaran berlanjut hingga pukul 15.00. Adapun kegiatan ekstrakurikuler dimulai pukul 16.00-17.00. Saat ini SRMA 17 Surakarta mengadakan beberapa ekstrakurikuler (ekskul) seperti olimpiade sains, matematika, dan bahasa Inggris, seni musik, dan olahraga di antaranya futsal, pencak silat, hingga kriket. Para pembina olimpiade merupakan guru internal SRMA 17, sementara ekskul lain didukung oleh pelatih yang sudah bersertifikat.

Selepas aktivitas pembelajaran usai, diteruskan dengan kegiatan keasramaan termasuk pendidikan karakter dan kegiatan kerohanian yang diampu oleh wali asuh, kemudian diakhiri dengan tidur malam pada pukul 21.30.

Danindra mengatakan meskipun kebebasan hidup di asrama tidak seperti ketika bersekolah di sekolah umum, namun ia menyadari perlunya berjuang demi masa depan yang lebih cerah dan sukses. Ia sangat mengapresiasi lingkungan sekolah yang mendukung tumbuh kembangnya.

“Sangat senang karena di sini banyak banget teman-teman yang kompetitif, sangat membantu saya dalam meraih cita-cita saya. Sangat suportif, yang tentunya, yang paling asyik di sini adalah teman-temannya saling support satu sama lain, melengkapi kekurangan satu sama lain, dan juga saling tolong menolong,” bebernya.

Murid yang menggemari mata pelajaran Sejarah tersebut bercita-cita menjadi Kadet Unhan RI (Universitas Pertahanan Republik Indonesia) di Fakultas Sejarah Militer. Untuk mengejar cita-citanya, Danindra berfokus mengatur pola hidup sehat dan teratur, termasuk tidur, makan, belajar, dan olahraga.

“Harapan saya setelah masuk sekolah rakyat ini, yang pertama adalah agar saya bisa meraih cita-cita saya sebagai Kadet Unhan RI dalam Fakultas Sejarah Militer, yang tentunya membanggakan orang tua dan berguna bagi masyarakat dan agama,” tutur Danindra.

Senada dengan Danindra, murid SRMA 17 Surakarta lainnya, Agustina Bintang Prasistri (16) juga mengaku senang bisa bersekolah di sekolah rakyat.

Bintang mengatakan awalnya ibunya sempat merasa khawatir karena Bintang harus tinggal di asrama mengingat bungsu dari empat bersaudara itu sangat dekat dan sehari-hari terbiasa bersama ibunya. Namun, ia berhasil meyakinkan ibunya bahwa ia mampu menjalani hidup dengan baik di asrama.

Ibunda Bintang adalah tulang punggung keluarga yang bekerja sebagai pedagang kaki lima, berjualan kue bawang ke sekolah-sekolah dasar sejak ia berusia 2 tahun. Dari ibunya juga Bintang belajar mengenai kemandirian.

Murid yang hobi membaca, menulis, dan memasak tersebut menyatakan antusiasmenya terhadap aktivitas yang dirancang oleh sekolah rakyat bagi para siswa. Mulai dari kegiatan pembelajaran yang aplikatif dan menarik, aktivitas keasramaan yang dilakukan bersama teman-teman hingga outing class yang rutin diselenggarakan oleh SRMA 17 Surakarta bekerja sama dengan komunitas eksternal.   

Bintang menuturkan kesempatan bersekolah di SRMA 17 memberinya harapan untuk dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Karena itu, ia berjanji tidak akan menyiakan peluang ini dan akan giat belajar sehingga impiannya untuk berkuliah di jurusan Psikologi Universitas Gadjah Mada bisa tercapai.

“Di sini yang saya lakuin itu giat belajar yang pertama. Terus memperbaiki karakter saya, bila ada karakter yang perlu diperbaiki, tentang kedisiplinan, tanggung jawab, kejujuran, itu saya sedang mencoba memperbaiki,” ungkap siswi peserta ekstrakurikuler olimpiade sains dan paskibra tersebut dengan mantap.

Mengukir Generasi Emas

Keberlangsungan sekolah rakyat tak lepas dari kontribusi para guru yang tanpa lelah memberikan waktu, tenaga, dan pikiran mereka bagi para murid yang jumlahnya tak sedikit. Fasda Akhsanul Latief, guru Fisika SRMA 17 Surakarta, berbagi sekelumit pengalaman dalam mendidik 200 siswa angkatan pertama di sekolah tersebut.

Guru yang sebelumnya mengajar di salah satu SMP negeri di Cilacap, Jawa Tengah tersebut menyatakan peluang mengajar di sekolah rakyat merupakan panggilan yang tak ingin ia lewatkan karena ia dapat turut berkontribusi langsung pada program prioritas nasional. 

"Yang pertama, tentunya karena ada peluang dan juga keinginan. Sekolah rakyat ini merupakan program yang sangat luar biasa dari Bapak Presiden Prabowo Subianto, yang mana saya ingin ikut andil atau berperan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa," ungkap Fasda.

Ia menekankan sekolah rakyat hadir untuk membantu anak-anak yang sebelumnya tidak terjangkau akses pendidikan berkualitas. Berpegang pada prinsip sebaik-baiknya manusia adalah yang membawa manfaat, Fasda melihat peran ini sebagai ladang pengabdian nyata.

Fasda tak menampik awal mengajar di sekolah rakyat, proses adaptasi menjadi tantangan terberat. Anak-anak dengan latar belakang beragam, kini harus menjalani kehidupan kolektif. Masalah indisipliner di masa-masa awal, yang mungkin terbawa dari lingkungan kehidupan siswa sebelumnya pun tak terelakkan.

Namun, berkat sinergi kuat antara guru, wali asuh, wali asrama, siswa sendiri, serta dukungan dari masyarakat sekitar, Pemkot Surakarta, bahkan instansi terkait, disiplin dan semangat belajar siswa kini jauh lebih baik.

"Alhamdulillah anak-anak sekarang jadi lebih kerasan atau lebih bisa menaati aturan-aturan yang ada, punya semangat belajar yang tinggi. terutama itu ya, daya juangnya itu alhamdulillah sudah lebih baik dibanding sebelumnya," ujar Fasda optimis.

Sementara itu, Kepala Sekolah SRMA 17 Surakarta Septhina Shinta Sari menambahkan sebagai program rintisan, di samping tantangan dalam hal mendisiplinkan siswa, kendala sarana prasarana di masa awal berjalannya sekolah juga menjadi tantangan tersendiri, seperti belum tersedianya laptop, smartboard, dan sebagainya. Mengingat proses pengadaan yang membutuhkan waktu. Kondisi tersebut menuntut Kepala Sekolah untuk berkreasi dan memotivasi para guru.

“Jadi bagaimana dengan terbatasnya fasilitas yang ada di setiap kelas bahwa sekolah harus tetap berjalan. Bagaimana itu menjadi kendala, tapi juga harus menjadi penguatan bagi kita. Itu memang terbatas, tapi kita nggak boleh berpikir secara terbatas,” tutur Shinta yang sebelumnya bekerja sebagai guru Bahasa Inggris di SMA 1 Solo.

Sebagai bagian dari strategi pengentasan kemiskinan berbasis pendidikan, Sekolah Rakyat menerapkan kurikulum yang dirancang khusus sesuai kebutuhan siswa mulai dari kurikulum persiapan untuk pemetaan bakat, kurikulum nasional, dan kurikulum asrama.

Kurikulum dirancang untuk memberikan kemampuan praktis dan keahlian yang memungkinkan para siswa melanjutkan studi atau bekerja setelah menyelesaikan pendidikan di Sekolah Rakyat.

“Anak-anak ini nanti akan memutus kemiskinan di keluarga mereka. Mereka harus berkuliah, mereka harus bekerja,” ucap Shinta.

Ia melanjutkan pihak Kementerian Sosial telah menggandeng beberapa pihak guna memastikan tercapainya cita-cita para siswa Sekolah Rakyat. Seperti penyediaan beasiswa kuliah maupun pelatihan kerja bagi lulusan SR yang ingin langsung bekerja.

“Caranya sementara ini, dari sentra-sentra yang mengampu kami, jadi misalnya di SRMA di sini, berarti sentra yang mengampu kan Sentra Soeharso. Jadi Sentra Soeharso ini harus bertanggung jawab memberikan pelatihan ke anak yang dalam potensi bakat minat anak itu berminat untuk bekerja,” jelas Shinta.

Dilansir Kemendikdasmen, terkait metode pembelajaran, pendekatan Multi-Entry Multi-Exit (MEME) dipilih karena dapat memberikan fleksibilitas bagi murid untuk memulai dan menyelesaikan studi sesuai dengan kemampuan mereka.

Materi pelajaran dalam Sekolah Rakyat disusun mengikuti pendidikan formal, tetapi dikemas dalam bentuk modul. Dengan begitu, murid memiliki keleluasaan untuk menyelesaikan modul secara berbeda-beda sesuai dengan kapasitas mereka.

“Dalam mengajar, tentunya sebisa mungkin kami arahkan ke pembelajaran yang kontekstual dan interaktif. Karena learning by doing, kemudian praktik diskusi secara langsung, itu akan terekam lebih baik untuk anak-anak di sini,” papar Fasda.

Tak hanya pembelajaran di ruang kelas, Shinta mengatakan pihaknya juga mengadakan outing class atau aktivitas pembelajaran di luar kelas berkolaborasi dengan komunitas eksternal. Seperti kunjungan yang mereka adakan beberapa waktu lalu ke Kampung Batik Laweyan. Di sana para siswa belajar sejarah batik dan cara membatik.

Shinta mengharapkan dukungan semua pihak untuk keberhasilan visi Sekolah Rakyat. Ia berharap para murid memanfaatkan kesempatan bersekolah selama tiga tahun di SR seoptimal mungkin. Para orang tua diharapkan memberikan dukungan penuh pada program sekolah dan menyinkronkan kedisiplinan di rumah. Sementara kepada pemerintah diharapkan mengawal dan mengevaluasi program secara berkelanjutan serta memberikan solusi atas segala kendala yang dihadapi Sekolah Rakyat.

“Supaya mimpi besar kita mengentaskan kemiskinan di Indonesia bisa tercapai, generasi emas 2045 bisa tercapai, karena itu mimpi besar Bapak Presiden Prabowo Subianto,” harapnya.

Senada, Fasda menyampaikan harapannya yang besar terhadap keberlanjutan Sekolah Rakyat. Ia menekankan pentingnya sinergi yang lebih baik lintas kementerian, stakeholder, instansi, hingga komunitas pendidikan termasuk sekolah, keluarga, dan masyarakat.

“Sekolah Rakyat ini kan memang tempat untuk tumbuh berkembangnya anak-anak yang insya Allah menjadi generasi emas di tahun 2045 nanti. Dan kami sangat optimis untuk mewujudkan Astacita dari Bapak Presiden Prabowo Subianto ini,” pungkas Fasda, penuh keyakinan.


CS. Purwowidhu