Sumitro Djojohadikusumo: Begawan Ekonomi Indonesia dan Pemikir di Balik Fondasi Pembangunan Nasional

13 Oktober 2025
OLEH: Gumilar Rachdityo Mumpuni dan Rukmi Hapsari
Sumitro Djojohadikusumo: Begawan Ekonomi Indonesia dan Pemikir di Balik Fondasi Pembangunan Nasional
 

"Pembangunan ekonomi bukan semata soal angka, melainkan proses perubahan struktural yang menentukan harkat suatu bangsa." — Sumitro Djojohadikusumo

Sumitro Djojohadikusumo: Begawan Ekonomi, Pejuang Bangsa

Nama Sumitro Djojohadikusumo tercatat dalam buku-buku sejarah sebagai ekonom ulung. Ia juga melekat dalam ingatan banyak orang sebagai seorang pejuang dengan hati dan visi besar. Julukan “Begawan Ekonomi” yang disematkan kepadanya bukan sekadar penghormatan akademis, melainkan cermin dari perjalanan seorang manusia yang penuh dedikasi, keberanian, dan cinta pada bangsanya.

Menteri Keuangan periode 1952-1953 dan 1955-1956 ini juga dikenal sebagai seorang arsitek utama kebijakan ekonomi Indonesia pascakemerdekaan. Ia menduduki beberapa posisi penting di bidang ekonomi baik di masa awal pascakemerdekaan maupun Orde Baru. Sosok pengagum Nehru dan Andre Malraux ini dianggap sebagai “Guru Ekonomi Agung” dalam sejarah Republik Indonesia.

Sepanjang perjalanan hidup Sumitro Djojohadikusumo, ia mengalami gejolak politik yang luar biasa. Ia bergerak di bawah tanah dengan melawan Nazi di Belanda. Ia juga turut serta dalam diplomasi demi penegakan kemerdekaan Republik untuk mendapatkan pengakuan internasional. Putra dari Raden Mas Margono Djojohadikusumo ini juga berjuang membangun Indonesia dengan menjadi menteri bidang keuangan dan ekonomi seraya menjadi pendiri Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

Di balik sosok teknokrat dengan reputasi internasional, Sumitro juga adalah seorang ayah, pendidik, dan pribadi yang hangat. Ia berani mengambil risiko besar demi prinsip yang diyakini, bahkan jika itu berarti harus berhadapan dengan pemerintahannya sendiri atau hidup di tanah asing. Hidupnya adalah kisah tentang kecerdasan yang berpadu dengan keberanian moral.

 

Jejak Awal Sang Pemikir: Dari HBS hingga Sorbonne

Sejak muda, Sumitro menorehkan prestasi akademik yang mencengangkan. Setelah menamatkan pendidikan di HBS, ia melanjutkan studi ke Rotterdam pada 1935. Dalam waktu hanya dua tahun tiga bulan, ia berhasil meraih gelar Bachelor of Arts—rekor tercepat di Netherlands School of Economics. Ia kemudian melanjutkan studi ke Sorbonne, Paris, sebelum akhirnya meraih gelar doktor di Rotterdam pada 1943.

Disertasinya, The People’s Credit System during the Depression, bukan sekadar karya ilmiah. Di balik halaman-halamannya, terselip jeritan hati seorang anak Jawa yang menyaksikan penderitaan rakyat akibat depresi ekonomi global. 

“Pengangguran terselubung dan pekerjaan setengah waktu itu bukan soal budaya, tapi soal produktivitas dan struktur ekonomi yang timpang,” demikian Sumitro muda dengan tajam menyimpulkan.

Pandangan kritis tersebut menjadi fondasi dari seluruh karya dan kebijakan yang ia perjuangkan kelak. Ekonomi harus berpihak pada rakyat, bukan hanya pada angka atau kepentingan elit.

 

Merancang Jalan Ekonomi Indonesia

Jika Indonesia memiliki seorang arsitek ekonomi, maka Sumitro adalah tiangnya. Ia tercatat lima kali menjabat menteri di masa Orde Lama maupun Orde Baru. Di kancah internasional, ia menjadi anggota “lima ahli dunia” (Group of Five Top Experts) PBB, dan di dunia akademik, ia ikut mendirikan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FEUI)—almamater yang kemudian melahirkan generasi-generasi ekonom penerus bangsa.

Sebagai menteri, Sumitro melahirkan berbagai gebrakan. Program Urgensi Perekonomian atau yang dikenal sebagai “Rencana Sumitro” (1951), berupaya mentransformasi industri rakyat menjadi industri modern berskala besar. Ia juga menggagas Program Benteng, kebijakan afirmatif untuk mendorong pengusaha pribumi agar mampu bersaing dalam dunia usaha yang kala itu didominasi non-pribumi.

Saat menjabat Menteri Perdagangan (1968–1973), Sumitro mengambil langkah berani dengan melarang impor mobil mewah serta mengatur lisensi otomotif agar industri lokal memiliki ruang tumbuh. Pandangan visionernya tentang industrialisasi, swasembada pangan, hingga investasi asing yang berpihak pada tenaga kerja Indonesia, kelak menjadi cetak biru pembangunan nasional.

“Bagi Sumitro, kebijakan publik bukan sekadar penstabil, tetapi instrumen untuk merespons ketidakseimbangan struktural,” tutur sejarawan ekonomi Thee Kian Wie merangkum esensi pemikiran Sumitro.
 

Pengakuan Internasional atas Sang Begawan

Kontribusi Sumitro tidak hanya diakui di tanah air, tetapi juga oleh dunia internasional. Ia dianugerahi sejumlah penghargaan bergengsi, di antaranya Bintang Mahaputera Adipradana (II) dari Indonesia, Grand Cross of Most Exalted Order of the White Elephant dari Thailand, Grand Cross of the Crown dari Belgia, serta tanda kehormatan dari Malaysia, Tunisia, dan Prancis.

sumitro_07.jpg
Menteri Luar Negeri (Menlu) Tunisia, Habib Ben Yahya menyematkan bintang kehormatan "Wissam Jamhuriah Republik" kepada Sumitro Djojohadikusumo, Jakarta, 1992.

Karya-karyanya pun terbilang monumental. Lebih dari 130 buku dan makalah dalam bahasa Inggris ia hasilkan, termasuk karya reflektifnya Jejak Perlawanan Begawan Pejuang (2000). Tulisan-tulisan tersebut membuktikan bahwa Sumitro adalah intelektual yang tak pernah berhenti berpikir, menulis, dan melawan stagnasi.

Namun, hidupnya tidak selalu berjalan mulus. Ia pernah dituding sebagai penyelundup, dicap pemberontak PRRI/Permesta, dan terpaksa hidup sepuluh tahun sebagai pelarian. Di masa-masa sulit itulah sisi manusianya terlihat jelas. Seorang ayah yang harus menjaga keluarganya, seorang intelektual yang tetap menulis di pengasingan, dan seorang pejuang yang tidak pernah menyerah pada keadaan. Luka-luka itu justru mempertegas keberaniannya untuk tetap berdiri di jalannya sendiri.

 

Menggali Relevansi Sumitronomics

Kini, ketika dunia tengah memasuki babak baru perekonomian global—bergeser dari kapitalisme dan sosialisme menuju the age of ambition, era di mana negara-negara saling berebut dominasi ekonomi—pemikiran Sumitro kembali menemukan relevansinya.

Guru Besar FEB UI, Prof. Dorodjatun Kuntjoro-Jakti, menegaskan bahwa dunia kini menghadapi risiko resesi dan depresi akibat ambisi ekonomi negara-negara besar. Dalam konteks ketidakpastian global ini, ia menyebut pemikiran Sumitro sebagai warisan intelektual yang layak dijadikan pijakan.

sumitro_06.jpg
Sumitro Djojohadikusumo (ke 2 dari kiri) saat promosi Doktor Kartomo Wirosuhardjo di Universitas Indonesia.

“Berbagai pemikiran Begawan Ekonomi Sumitro Djojohadikusumo masih relevan membantu Indonesia bertahan di tengah ketidakpastian. Ia adalah salah satu dari tiga orang yang layak disebut begawan ekonomi Indonesia dan bisa diteladani hingga kini,” ujar Dorodjatun dalam Simposium Nasional ‘Sumitronomics dan Arah Ekonomi Indonesia.’

Menurut Dorodjatun, kekuatan pemikiran Sumitro terletak pada kelengkapannya, mulai dari filosofi, visi, dan misi pembangunan ekonomi; teori ekonomi yang solid; analisis tajam; hingga formulasi kebijakan berbasis kepentingan rakyat. Gagasan tentang ekonomi kerakyatan yang ia usung sejak masa awal kemerdekaan hingga kini tetap menjadi inspirasi berbagai kebijakan publik di Indonesia.

Bahkan, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam pidatonya di Rapat Paripurna terkait APBN 2026 pada 23 September 2025 lalu menyatakan untuk menjadi negara maju dan mencapai target pertumbuhan ekonomi 8 persen dalam jangka menengah, strategi pembangunan ekonomi Indonesia berbasis pada konsep Sumitronomics yang difokuskan pada tiga pilar utama yakni pertumbuhan ekonomi yang tinggi, pemerataan manfaat pembangunan, dan stabilitas nasional yang dinamis. 

 

Jejak Pemikiran yang Tak Pernah Padam

Warisan Sumitro bukan hanya berupa kebijakan, melainkan sebuah cara pandang yang lahir dari pergulatan hidupnya. Ia menekankan bahwa negara tidak boleh menyerahkan sepenuhnya nasib rakyat pada mekanisme pasar. Pemerintah harus hadir secara aktif dengan menentukan arah, melindungi yang lemah, dan memastikan pembangunan benar-benar membawa kesejahteraan nyata di tengah masyarakat.

Dalam perjalanan panjangnya, Sumitro bukan hanya seorang akademisi yang menulis buku dan teori. Ia adalah seorang pengembara pemikiran, yang gagasannya kerap lahir dari pertemuan antara idealisme intelektual dan realitas politik. Dari ruang kuliah hingga kursi kabinet di berbagai era, ia selalu membawa pesan yang sama bahwa pembangunan ekonomi harus berpihak pada manusia, pada rakyat.

Dua dekade setelah kepergiannya, nama Sumitro tetap hidup dalam setiap diskusi tentang ekonomi Indonesia. Ia menjadi cermin seorang intelektual sejati yang tidak hanya berpikir di ruang kelas atau menulis di atas kertas, tetapi berani membawa ide ke gelanggang sejarah.

Di sana, di tengah pusaran krisis, ambisi global, serta harapan bangsa, nama Sumitro Djojohadikusumo akan selalu dikenang sebagai Begawan Ekonomi—pejuang yang membangun fondasi bangsa dengan pena, pikiran, dan keberanian.


Gumilar Rachdityo Mumpuni dan Rukmi Hapsari