Bangun Generasi Sehat dan Unggul Melalui MBG, Wujudkan Gizi Seimbang untuk Masa Depan

25 November 2025
OLEH: Dara Haspramudilla
Bangun Generasi Sehat dan Unggul Melalui MBG, Wujudkan Gizi Seimbang untuk Masa Depan
 

Tahukah kamu bahwa 82 persen anak-anak sekolah dasar memiliki pola makan yang tidak sehat terutama ketika mengonsumsi makanan di sekolah? Ini adalah salah satu temuan dari penelitian yang dipaparkan dalam The 5th International Conference on Public Health 2024.

Di banyak sekolah, anak-anak terpapar dengan jajanan yang tinggi gula, garam, dan lemak serta minuman dengan kandungan pemanis tinggi. Anak-anak hari ini tumbuh dalam budaya makan yang serba instan dan seringkali lebih akrab dengan rasa gurih dari keripik kemasan atau manis pekat dari minuman botol dibanding rasa alami sayur dan buah

Di usia yang seharusnya menjadi masa emas pertumbuhan, anak-anak justru dihadapkan pada risiko obesitas, kekurangan gizi, gangguan metabolisme hingga gangguan kesehatan jangka panjang. Oleh karena itu, penting untuk dapat memperkenalkan kebiasaan makan yang sehat sejak dini. Salah satu upaya yang dilakukan oleh pemerintah untuk mengatasi masalah ini adalah melalui program Makan Bergizi Gratis.

Program yang dimulai pada awal tahun 2025 ini hadir sebagai salah satu terobosan besar pemerintah dalam memperbaiki kualitas gizi anak-anak Indonesia. MBG dirancang tidak hanya sebagai upaya mengatasi persoalan gizi kronis seperti kekurangan gizi, stunting, atau anemia, tetapi juga sebagai langkah strategis untuk memperbaiki pola makan anak yang semakin dipengaruhi oleh jajanan tinggi gula, garam, dan lemak.

“Di dalamnya harus ada karbohidrat seperti nasi misalnya, kemudian harus ada protein yang kita dapat dari lauk seperti sayur, ikan, telur, maupun daging. Kemudian juga ada komponen sayur, komponen buah, kemudian juga ada komponen yang lainnya seperti susu,” tutur Arsono Beduwaliyo, Kepala Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi Sleman.

Setiap siswa akan mendapatkan satu kali makan bergizi gratis setiap hari di sekolah. Menu MBG harus memenuhi standar tertentu agar dapat memberikan gizi yang seimbang bagi anak-anak. Dengan menyantap makanan lengkap berisi karbohidrat, protein, sayuran, buah, serta susu, pemerintah berharap anak-anak dapat terbiasa melihat dan menikmati makanan sehat. MBG bukan sekadar makan gratis, tetapi sebuah intervensi gizi yang berorientasi pada keseluruhan aspek tumbuh kembang anak.

“Beberapa hal yang wajib di dalam menu MBG, karena ini juga salah satunya adalah pembelajaran buat anak-anaknya supaya mereka terbiasa melihat makanan yang sehat,” tambah Arsono.

Menurut Fitri, Guru Kelas 4B SD Negeri 1 Sendangadi, menu MBG yang disajikan kepada anak-anak memiliki gizi yang baik.

“Kalau menurut saya, yang jelas sudah ada protein, sudah ada karbohidratnya, seratnya dari sayuran dan buah, itu saya rasa sudah cukup,” ujar Fitri.

 

Pengolahan, Distribusi dan Penyajian Makanan MBG

Dalam prosesnya, program MBG ini sudah melalui persiapan yang matang dan distribusi yang terstruktur. Pemilihan bahan baku untuk program MBG dilakukan melalui proses yang ketat dan teruji. Jarak waktu antara makanan dimasak dan siap dikonsumsi juga diatur agar seminimal mungkin hingga waktunya didistribusikan ke sekolah-sekolah dan dikonsumsi dalam batas waktu yang sudah ditetapkan.

“Proses pemilahan bahan baku dimulai sekitar pukul 5 sore. Kemudian bahan baku yang sudah diterima dan diuji kualitasnya itu mulai pemprosesan sekitar pukul 7 malam. Kemudian setelah dipotong-potong tidak langsung dimasak karena kita mencoba meminimalkan jarak antara matang dan siap konsumsi. Jadi, biasanya proses memasaknya sendiri dimulai sekitar pukul 3 dini hari dengan harapan pukul 4 ataupun setengah 5 lah kita mendapatkan makanan yang sudah siap saji dan siap porsi. Jam setengah 8, itu sudah bisa kita distribuskan ke sekolah dan harapannya juga akan segera dikonsumsi dalam batas waktu 0 sampai 4 jam,” ujar Arsono menjelaskan bagaimana proses makanan MBG disiapkan.

Proses memasak dimulai pada malam hari agar makanan yang sudah matang dapat segera didistribusikan ke sekolah-sekolah pada pagi hari. Untuk memastikan kualitas makanan tetap terjaga, Arsono menambahkan bahwa makanan yang dimasak harus segera dikonsumsi dalam waktu yang singkat. Makanan yang sudah matang diharapkan dapat segera dikonsumsi di sekolah tanpa perlu dibawa pulang. Oleh karena itu, distribusi makanan harus dilakukan dengan cepat dan tepat waktu agar tidak terjadi penurunan kualitas yang mempengaruhi rasa dan gizi makanan.

Untuk seluruh Yogyakarta, KPPG Sleman memiliki target 315 SPPG dan saat ini sudah tercapai sebanyak 145 SPPG. Sementara untuk wilayah Sleman targetnya 94 SPPG dan saat ini sudah tercakup sekitar 66 SPPG.

“Harapannya tahun ini dengan percepatan seluruh dapur dapat beroperasi. Tentunya dengan kualitas yang lebih bagus daripada pada saat awal-awal pemberlakuan MBG ini,” tutur Arsono

Sesampainya di sekolah, distribusi makanan dilakukan dengan melibatkan perangkat sekolah. Setiap pihak di sekolah bekerja sama untuk memastikan bahwa anak-anak mendapatkan makanan yang sehat dengan cara yang efisien.

“Pelaksanaannya biasanya menjelang istirahat pertama. Kemudian, untuk kegiatan pendistribusiannya itu biasanya dibantu dengan Bapak-Bapak Guru untuk nanti didistribusikan di kelas. Nanti di kelas Guru yang akan mendistribusikan. Untuk satu kelas itu ada sekitar rata-rata itu ada sekitar 25 – 28 siswa. Jadi, kemungkinan untuk waktu pelaksanaan MBG-nya sekitar 20 menit itu dengan cuci tangannya,” ujar Fitri.

Dengan penjadwalan yang tepat, diharapkan setelah anak-anak makan makanan bergizi, mereka tidak merasa tergoda untuk membeli jajanan di luar yang tidak sehat. Pendekatan ini bertujuan untuk mengurangi kebiasaan anak-anak yang gemar membeli jajanan tidak sehat di luar sekolah.

 

Tantangan dan Harapan Pelaksanaan MBG di Sekolah

Sebelum ada program MBG masuk ke sekolahnya, Dutro, salah satu siswa di kelas 4B SD Negeri 1 Sendangadi, biasanya membawa uang jajan untuk membeli makanan dari kantin atau pedagang sekitar sekolah. Menurutnya setelah ada MBG ia tidak perlu mengeluarkan uang untuk mendapatkan makanan dan sebagian uang jajannya bisa ditabung.

“Jajan sehari kadang Rp5.000, kadang Rp8.000, kadang Rp10.000. Enak MBG karena nggak bayar dan dapat makan lengkap,” ujar Dutro sambil tertawa riang.

Menurut Dutro menu MBG di sekolahnya enak dan lengkap.

“Hari ini makan ayam, sayur, tahu, sama kelengkeng, sama susu, sama nasi. Rasanya enak. Paling suka kalo MBG dapat lauk ayam,” celoteh Dutro.

Menyajikan menu yang sehat, bergizi dan sesuai dengan selera makan anak-anak menjadi salah satu tantangan. Saat ini, banyak anak-anak di sekolah dasar yang lebih tertarik pada makanan yang mengandung banyak gula, garam atau lemak. Anak-anak yang sering kali lebih memilih makanan yang lebih enak dan mengundang selera mereka, seperti fast food atau makanan dengan rasa gurih yang kuat.

“Mungkin karena anak-anak terbiasa makanan yang fast food, itu kan biasanya gurih, jadi kadang anak-anak banyak requestnya. Biasanya setelah makan mereka tempelkan kertas berisi request menu yang mereka mau,” cerita Fitri.

Meski begitu, Fitri dan rekan-rekan Guru di sekolah berusaha memberi penjelasan kepada anak-anak mengenai pentingnya gizi yang baik dan mengapa makanan yang disediakan harus memiliki kadar gula dan garam yang lebih rendah.

“Kita harapkan MBG ini kan adalah makanan bergizi, jadi mungkin kadar gula dan garamnya pun dikurangi. Ya kita beri informasi dan motivasi ke anak-anak bahwa makanan yang disediakan adalah makakan yang memang bergizi yang kadar garam dan kadar gulanya sudah diatur,” jelas Fitri.

Fitri juga mengatakan bahwa setelah ada MBG, anak-anak jadi berkurang untuk jajan makanan yang kurang bergizi. Untuk SD Negeri 1 Sendangadi sendiri juga ada peraturan yang membatasi anak-anak jajan di luar selain kantin sekolah.

“Jadi berkurang untuk jajannya. Kita itu memang jajannya dibatasi. Memang ada kantin, tetapi jadwal jajan di luar selain hari Senin dan hari Jum’at gerbang sekolah kami tutup. Jadi, jajannya khusus di kantin saja,” ujar Fitri.

Anak-anak di SD Negeri 1 Sendangadi sendiri juga setiap harinya selalu semangat menunggu kedatangan menu MBG di sekolahnya.

“Kalau misalnya telat datang 5 menit saja itu sudah ditanya ‘Bu MBG-nya kok belum datang?’ Terus mereka pasti penasaran, menu hari ini apa,” ucap Fitri.

Berkaca pada keinginan anak-anak, Fitri berharap MBG tetap berlanjut dengan variasi menu yang bisa lebih beragam, dapat sesuai dengan selera makan anak-anak namun tetap memiliki nilai gizi yang baik.

Menurut Arsono, tantangan terberat dalam program ini adalah menentukan waktu yang pas dari sisi pengantaran dan kesiapan sekolah untuk mendistribusikan menu MBG untuk segera dikonsumsi oleh anak-anak

“Tantangan yang terberat barangkali adalah kita berusaha mencari kombinasi yang pas. Seperti yang saya sampaikan tadi bahwa makanan ini adalah makanan sehat yang harus segera dikonsumsi. Kita berupaya mencari titik temu yang pas antara pengantaran dengan kesiapan penerima manfaat untuk segera mengonsumsi masakan ini. Sebab, beda sekolah beda juga jam kegiatan belajarnya,” ucap Arsono.

Program MBG di sekolah-sekolah di Yogyakarta tidak hanya soal memberikan makanan bergizi kepada anak-anak, tetapi juga merupakan langkah besar dalam menciptakan generasi yang lebih sehat dan lebih unggul di masa depan.

“Harapan utamanya di 2045 kita akan mendapatkan generasi yang unggul, berkualitas, dan tentunya dengan cakupan gizi yang memadai,” ujar Arsono

Selain itu, program MBG juga memberikan dampak positif yang luas bagi masyarakat.

“MBG ini menurut saya adalah salah satu program yang sangat bagus sekali. Bukan hanya sekadar program pemberian makanan bergizi gratis, tetapi mencakup seluruh aspek. Aspek positif dari program ini dari sisi penyerapan tenaga kerja, perputaran ekonomi, dan ketahanan pangan,” pungkas Arsono