Sekolah Rakyat: Cerdas Bersama, Tumbuh Setara
Sekolah Rakyat hadir sebagai solusi pendidikan gratis bagi anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem di Indonesia. Program yang digagas Presiden Prabowo Subianto ini bertujuan memutus rantai kemiskinan melalui akses pendidikan formal setara SD, SMP, hingga SMA. Dengan dukungan APBN, sekolah berformat asrama ini dikelola Kementerian Sosial dan menjadi bukti nyata hadirnya negara dalam menjamin hak pendidikan sebagaimana diamanatkan UUD 1945 Pasal 31.
Sekolah Rakyat diperuntukkan bagi anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem, khususnya kelompok desil 1 dan desil 2 Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN). Desil merupakan pengkategorian rumah tangga berdasarkan tingkat kesejahteraannya. Desil 1 mewakili kelompok termiskin dan desil 10 mewakili kelompok terkaya.
Jembatan menuju impian
Sekolah Rakyat merupakan sekolah formal berformat asrama setara jenjang SD/SMP/SMA sehingga ijazah para lulusan diakui sesuai aturan yang berlaku. Operasional Sekolah Rakyat berada dalam kewenangan Kementerian Sosial.
Mutu pendidikan Sekolah Rakyat dijaga berkualitas sejalan dengan standar mutu pendidikan nasional, baik dari sisi pengajar maupun kebijakan sistem pembelajaran. Dari sisi pengajar, Kemendikdasmen terlibat dalam penyusunan mekanisme seleksi dan kandidat peserta (guru dan tenaga kependidikan). Sehingga para guru yang terpilih benar-benar sesuai standar guru yang profesional dan kompeten.
Kandidat calon guru berasal dari lulusan program PPG (Pendidikan Profesi Guru) Calon Guru yang telah bersertifikat pendidik yang telah memiliki nilai CAT melalui seleksi ASN PPPK tahun 2024. Sedangkan kandidat Kepala Sekolah berasal dari data guru PNS Pemerintah daerah yang telah memenuhi syarat-syarat menjadi kepala sekolah sesuai aturan yang berlaku yang diberi penugasan ke Sekolah Rakyat.
Hal tersebut diungkapkan oleh Dirjen Guru, Tenaga Kependidikan, dan Pendidikan Guru Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) Nunuk Suryani.
“Lulusan PPG Calon Guru merupakan calon guru baru yang telah dibekali peningkatan kompetensi dan bekal pedagogi selama 1 tahun. Sehingga mutu pendidikan di sekolah rakyat akan tetap terjaga dari sisi pengajar maupun proses pembelajarannya,” ungkap Nunuk Suryani.
Motivasi yang kuat disertai pemberian fasilitas yang memadai dapat mendorong semangat dan komitmen para calon guru untuk berkontribusi di Sekolah Rakyat.
Hal tersebut seperti yang dirasakan oleh Nuni Febriyanti, Guru Bahasa Indonesia Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 13 Bekasi, Jawa Barat. Nuni mengakui kemiripan latar belakangnya dengan anak-anak sekolah rakyat mendorongnya untuk berkarya sebagai guru SRMA.
Sebagaimana anak-anak Sekolah Rakyat (SR) yang sebagian besar sempat terputus mimpinya untuk melanjutkan pendidikan akibat tekanan ekonomi keluarga, Nuni juga mengalami kendala serupa ketika duduk di bangku SMA.
Empat bersaudara yang lahir di tengah keluarga menengah ke bawah tersebut sempat hampir tidak bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi karena orang tuanya tak mampu membiayai. Namun dengan semangat yang teguh ia berhasil meraih mimpinya berkuliah di Universitas Negeri Jakarta melalui beasiswa kuliah dari Pemprov DKI Jakarta dan meraih gelar sarjana.
“Saya merasa bahwa anak-anak di Sekolah Rakyat ini memiliki background yang sama dengan saya, sama-sama pernah sempat terkubur mimpinya. Tapi karena adanya banyaknya program pemerintah, kami bisa kembali meraih mimpi kami,” tutur Nuni.
Guru Bahasa Indonesia yang lulus seleksi ASN tahun 2024 ini lanjut menceritakan pengalamannya saat mengajar di SRMA 13 Bekasi.
Berbeda dengan sekolah pada umumnya, Sekolah Rakyat merupakan sekolah asrama. Aktivitas yang mereka lakukan tidak hanya berfokus pada kegiatan belajar mengajar (KBM) intrakurikuler, namun mereka juga melaksanakan pembiasaan dalam bentuk kedisiplinan serta pengayaan materi untuk mengembangkan keterampilan kehidupan sosial. Bahkan SRMA 13 Kota Bekasi menyediakan 12 jenis kegiatan ekstrakurikuler untuk para siswanya.
“Ketika non-KBM, di sini juga anak-anak dilatih untuk melakukan kegiatan lain. Jadi waktu luangnya itu tidak terbuang sia-sia,” terangnya.
Sekolah Rakyat menjadi jembatan penyambung mimpi anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem. Di salah satu kelas SRMA 13 Bekasi nampak terpampang pohon impian para siswa. Ada yang bercita-cita menjadi insinyur, dokter gigi, dokter anak, tentara, guru, pengusaha, hingga fesyen desainer.
Di Sekolah Rakyat, potensi masing-masing anak telah dipetakan sejak masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS) melalui metode inovatif pemetaan minat dan bakat berbasis teknologi Talent DNA. Hal tersebut menurut Nuni membantu para murid dalam menentukan arah minat dan profesinya di masa depan.
Lingkungan ramah anak
Nuni mengakui terdapat tantangan tersendiri dalam mendisiplinkan para siswa di Sekolah Rakyat karena sebelumnya anak-anak tersebut tidak terbiasa dengan kondisi keseharian yang teratur. Namun dengan koordinasi yang baik antara wali asuh, wali asrama, wali kelas, dan guru-guru, anak-anak SRMA 13 Bekasi lambat laun mulai menunjukkan perubahan sikap menjadi lebih disiplin, tertib, serta berkarakter dan berakhlak terpuji.
Anak-anak Sekolah Rakyat mendapatkan pendampingan menyeluruh selama 24 jam, contohnya di SRMA 13 Bekasi ini sehingga kapan pun anak-anak membutuhkan sesuatu, selalu ada wali yang tersedia untuk membantu mereka, termasuk tenaga kesehatan yang disediakan oleh Kemensos.
Bahkan, tak jarang pula para guru membimbing murid-murid yang memerlukan pendampingan pada program-program tertentu di luar jam kegiatan belajar mengajar apabila dibutuhkan seperti mengajar membaca dan berhitung bagi para siswa yang masih tertinggal dari sisi akademis. Fasilitas asrama untuk para guru yang disediakan oleh Kemensos tak jauh dari lingkungan sekolah rakyat, memudahkan akses para guru dalam memberikan pendampingan bagi murid.
“Balik lagi karena anak-anak itu sebenarnya, meskipun sudah beranjak dewasa, mereka masih perlu pendampingan 24 jam,” ujar Nuni.
Di samping itu, kemampuan akademis dan gaya belajar para murid yang berbeda-beda juga mendorong kreativitas para guru SRMA 13 Bekasi dalam menerapkan metode pembelajaran. Sebagian besar murid SRMA 13 Bekasi memiliki gaya belajar kinestetik sehingga para guru menyiasatinya dengan pembelajaran berbasis project.
SRMA 13 Bekasi juga memiliki fasilitas yang lengkap seperti laboratorium fisika, kimia, biologi, dan bahasa, perpustakaan, ruang kelas, ruang guru, ruang makan terpisah putra dan putri, asrama terpisah putra dan putri, fasilitas olahraga seperti lapangan sepak bola, bulu tangkis, dan tenis, fasilitas kesehatan, ibadah, serta fasilitas pendukung lainnya.
Saat ini, SRMA 13 Bekasi memiliki 9 ruang kelas dan 180 murid yang pada semester satu tahun ajaran baru ini kesemuanya ditempatkan di jenjang kelas 10 mengingat masih diperlukan sinkronisasi data sekolah dengan data pokok pendidikan Dikdasmen dan pemetaan kemampuan dasar siswa.
“Karena ada beberapa anak yang memang sudah pernah di SMA tapi putus sekolah lalu bekerja nonformal seperti jadi kernet atau kerja di tempat percetakan. Karena ada SR, mereka kembali lagi semangat bersekolah,” papar Nuni.
Adapun setiap kelas terdiri dari 20 murid, satu wali kelas, dan dua wali asuh. Sementara jumlah guru di SRMA 13 Bekasi sebanyak 20 orang guru.
Dalam dua bulan berjalan ini, sarana prasarana belajar mengajar di setiap kelas pun nampak cukup memadai, dilengkapi dengan smart TV, white board, set meja kursi, dan kipas angin. Adapun pengadaan laptop untuk para siswa masih dalam tahap proses. Jadi untuk saat ini para siswa dibekali dengan tablet yang digunakan secara berkelompok.
Sementara itu, fasilitas asrama untuk murid di SRMA 13 Bekasi terbilang nyaman, layak, dan bersih. Setiap kamar dilengkapi dengan fasilitas ranjang susun, lemari, dan set meja kursi. Masing-masing kamar ditempati oleh 4 orang siswa. Tersedia pula kamar mandi dan ruang laundry.
Semua siswa mendapatkan seragam sekolah lengkap dan perlengkapan belajar. Setiap hari siswa diberikan makan 3 kali sehari dan camilan 2 kali sehari dengan pemenuhan gizi dan pertumbuhan anak yang terpantau.
Kegiatan siswa
Kegiatan siswa SRMA 13 Bekasi terdiri dari kegiatan sekolah dan keasramaan. Setiap hari para siswa bangun pada pukul 04.00 subuh untuk persiapan salat subuh bagi yang beragama Islam. Sedangkan bagi siswa yang beragama nonIslam beribadah didampingi wali asuh dan wali asrama yang beragama non Islam.
“Jadi keasramaan ini mengenai sifat ahlak siswa. Bagaimana siswa yang harusnya disiplin, dari mulai jam 4 mereka mulai ibadah pagi,” kata Nuni.
Setelah itu mereka mandi dan melakukan persiapan mandiri. Dilanjutkan dengan sarapan di pukul 06.00 lalu berangkat ke sekolah. Pada pukul 07.00 para siswa melakukan aktivitas pembiasaan yang berbeda-beda setiap harinya seperti upacara di hari Senin, salat dhuha atau tadarus di Selasa atau Kamis, membersihkan lingkungan di hari Rabu, dan literasi di hari Jumat. Sedangkan di Sabtu dan Minggu mereka melakukan senam pagi ceria.
Lalu diteruskan dengan kegiatan belajar mengajar yang berlangsung dari pukul 07.30 hingga 15.30, dan waktu makan siang di pukul 11.30-12.50. Nuni mengatakan pada program persiapan di semester satu ini kegiatan belajar mengajar (KBM) masih berfokus pada pemetaan kemampuan dasar siswa yang memang sangat beragam. Untuk itu program belajar siswa masih mengenai life skill, social skill, kewirausahaan dan karya ilmiah. Sembari para guru memberikan matrikulasi di luar KBM bagi para siswa yang sebelumnya pernah mengalami ketertinggalan akademis akibat putus sekolah maupun tinggal kelas.
Setelah kegiatan belajar mengajar selesai, dilakukan apel bersama penyerahan para siswa dari guru kepada wali asuh dan wali asrama, dilakukan penghitungan berapa anak yang ikut kegiatan belajar mengajar, berapa anak yang sakit.
Di asrama Sekolah Rakyat diberlakukan jam malam. Anak-anak harus sudah tidur pada pukul 21.00. Anak-anak sekolah rakyat juga tidak diperkenankan memakai ponsel selama bersekolah di Sekolah Rakyat.
Sementara itu, di hari Sabtu orang tua siswa boleh mengunjungi anak mereka di asrama, mulai pukul 15.00-17.00. Namun menurut Nuni kadang orang tua tidak rutin mengunjungi anak mereka setiap minggu karena kendala ekonomi. Rata-rata orang tua siswa bekerja sebagai buruh serabutan yang berpenghasilan tak tentu. Sementara jarak antara tempat tinggal dan asrama yang sangat jauh membutuhkan biaya transportasi yang tidak sedikit untuk mereka.
“Jadi ketika memang tidak punya uang, kita tidak mewajibkan anak-anak untuk dijenguki, karena kita juga memfasilitasi anak-anak dengan tab (tablet) ada di Wali Asuh, ada di Wali Kelas untuk komunikasi dengan orang tua,” jelasnya.
Nuni meyakini sekolah rakyat menjadi strategi yang tepat untuk memutus rantai kemiskinan. Di sekolah rakyat, anak-anak tidak hanya mendapatkan pendidikan berkualitas namun juga lingkungan yang layak dan mendukung tumbuh kembang mereka untuk menjadi SDM unggul dan merdeka dari kemiskinan.
“Ketika mereka datang kesini ada anak yang nanya ‘bu kita tidurnya di kasur ya?’ karena sebelumnya mereka tinggal di rumah yang tidak layak huni. Ada juga anak-anak yang bertanya ‘Ini kita makan tiga kali sehari bu?’ karena mereka tidak terbiasa makan teratur. Bahkan ada anak-anak yang mengumpulkan susu atau camilan yang mereka peroleh untuk dimakan bersama adik-adik mereka ketika berkunjung ke asrama,” tutur Nuni menceritakan pengalamannya bersama para siswa SR.
Sekolah Rakyat juga berfungsi sebagai miniatur sistem pengentasan kemiskinan terpadu. Seluruh siswa dan keluarganya otomatis masuk dalam skema jaminan kesehatan (PBI-JKN), bantuan sosial seperti PKH dan sembako, serta program pemberdayaan ekonomi. Keluarga juga didorong untuk masuk dalam koperasi desa melalui skema Kopdes Merah Putih.
“Bukan hanya anaknya diberikan fasilitas sekolah rakyat, ternyata orang tuanya juga diberdayakan. Jadi, wah, ternyata program Presiden saling berkesinambungan gitu. Bukan cuma siswanya, tapi orang tuanya juga diberdayakan, dibantu kebutuhan pokoknya, diberikan modal untuk usaha. Saya berharap bukan cuma setahun dua tahun program ini karena ternyata sangat membantu,” ungkap Nuni.
Nuni berharap sekolah rakyat dengan fasilitas yang memadai untuk mendukung perkembangan siswa bisa diselenggarakan di seluruh wilayah di Indonesia.
“Karena banyak mimpi anak Indonesia yang masih terkubur karena kendala ekonomi. Dengan sekolah rakyat ini saya berharap anak-anak yang mempunyai mimpi kembali lagi bisa meraih mimpinya. Karena Pendidikan itu kan salah satu jalan untuk meraih kesuksesan,” pungkasnya.