Direktur Eksekutif Bank Dunia: ASEAN Treasury Forum adalah Terobosan Kerja Sama Regional
Hubungan antara Bank Dunia dan negara-negara ASEAN sangat erat, khususnya berfokus pada kolaborasi dalam berbagai bidang pembangunan. Berbagai kerja sama telah dan akan dilakukan untuk mendorong kemajuan dan kesejahteraan negara-negara di kawasan ini dengan dukungan dari Bank Dunia. Simak wawancara redaksi Majalah Media Keuangan dengan Direktur Eksekutif Bank Dunia untuk Asia Tenggara, Wempi Saputra, untuk memperoleh pandangan dari sisi global atas pembentukan ASEAN Treasury Forum.
Dari perspektif Bank Dunia, seberapa strategis peran ASEAN dalam perekonomian dan pembangunan di antara negara-negara lain di kawasan ini?
Sebenarnya, izinkan saya memulai dengan menyoroti bahwa ASEAN merupakan salah satu kawasan yang paling cemerlang di dunia dalam hal pertumbuhan ekonomi, investasi, dan pengembangan sumber daya manusia. Jadi, ASEAN sangat penting bagi dunia, termasuk dari perspektif Bank Dunia. Dalam hal ini, kami sangat fokus pada investasi Bank Dunia di ASEAN, baik dalam hal pinjaman, kerja sama, transfer pengetahuan, serta dalam upaya mempercepat pembangunan ekonomi regional.
Bank Dunia memandang ASEAN sebagai bagian dari agenda pengetahuan, serta berfokus pada bagaimana mempercepat penerapan beberapa praktik terbaik pembangunan ekonomi regional ASEAN agar dapat direplikasi ke negara-negara lain. Jadi, bagi Bank Dunia, kerja sama dengan ASEAN sangat penting.
Berarti ada kaitannya dengan tujuan pembangunan berkelanjutan (sustainable development goals atau SDGs)?
Dalam hal tujuan pembangunan berkelanjutan, ASEAN, menurut saya, telah sangat maju. Salah satunya dalam mengurangi kemiskinan. ASEAN sangat berkontribusi untuk mengakhiri kemiskinan ekstrem dan meningkatkan kesejahteraan bersama. Pada saat yang sama, ASEAN juga berkontribusi pada liberalisasi perdagangan dan promosi investasi. Bahkan untuk percakapan tentang transisi energi dalam konteks global, ASEAN adalah salah satu yang menjadi pelopor gerakan ini. Jadi, SDGs sangat terkait dengan pembangunan ASEAN.
Dalam hal ini, tentu saja, kami memahami bahwa ada banyak tantangan di sepanjang perjalanannya . Belum semua target SDGs tercapai sejauh ini. Namun, ASEAN sebagai sebuah kawasan telah berkontribusi secara signifikan terhadap pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan.
Seperti apa pandangan Bapak terhadap reformasi manajemen keuangan pemerintah (public finance management/PFM) pada masa mendatang di negara-negara ASEAN?
Ini adalah pertanyaan yang sangat mendasar. PFM dikenal mendorong transparansi dan mendukung akuntabilitas, terutama terkait tata kelola. Dan juga, PFM dianggap dapat menciptakan nilai tambah yang lebih besar.
Jadi, PFM bukan hanya untuk meningkatkan kapasitas suatu negara, terutama dari perspektif perbendaharaan dan manajemen keuangan, tetapi juga untuk meningkatkan kapasitas sistem tata kelola. Seperti yang kita ketahui, begitu sistem tata kelola terbentuk dengan baik di suatu negara, maka kepercayaan dari negara lain, investor, bank pembangunan multilateral, dan semua pemangku kepentingan internasional juga meningkat. Jadi, PFM adalah inti dari program yang menciptakan nilai tambah ini, tidak hanya terkait tata kelola, transparansi, dan akuntabilitas, tetapi juga dapat menciptakan nilai tambah untuk mempercepat program lain di dalam pemerintahan.
Apa saja kekuatan dan tantangan dari reformasi PFM tersebut?
Reformasi PFM menghadapi tantangan, menurut saya, tidak hanya terkait regulasi, karena dalam hal transparansi, tata kelola, dan hal lainnya, kita harus mengembangkan kemampuan regulasi kita sendiri. Dan ini bukan tugas yang mudah di sejumlah negara.
Yang kedua adalah tentang penyelarasan dengan agenda prioritas domestik. Karena di banyak negara, mereka berbicara tentang bagaimana mempertahankan dan membangun kerangka akuntabilitas dari PFM, sekaligus juga menciptakan kapasitas untuk meningkatkan keterbukaan transaksi, transaksi keuangan, dan hal-hal lainnya. Jadi, perihal kapasitas ini juga menjadi perhatian antarnegara.
Dan yang ketiga, yang ingin saya soroti adalah tentang bagaimana menjalankan PFM dengan prioritas domestik, dan bagaimana kita memandang sistemnya. Ini bukan hanya tentang sistem informasi, sistem digital, atau kemampuan sistem informasi, tetapi juga bagaimana mengoperasionalkannya di seluruh negeri. Misalnya Indonesia, yang sangat besar di dalam ASEAN, populasinya sekitar 40% dari populasi ASEAN. Begitu projek PFM berhasil dilaksanakan di Indonesia, maka akan jauh lebih mudah direplikasi ke negara-negara lain. Jadi, dalam hal ini, saya pikir tantangan terkait regulasi, penyelarasan dengan agenda prioritas domestik, dan kapasitas untuk mengoperasionalkan langkah-langkah PFM, menjadi hal yang sangat penting untuk dituntaskan.
Bermula dari Indonesia untuk kemudian direplikasi ke negara lain. Jadi, seperti apa dukungan Bank Dunia untuk reformasi PFM?
Ada beberapa bentuk kerja sama antara Bank Dunia dan negara-negara ASEAN saat ini. Yang pertama, Bank Dunia dapat menyediakan pinjaman dan mendukung perencanaan. Analisis terhadap agenda dan rencana pembangunan suatu negara termasuk dalam prioritas Bank Dunia.
Yang kedua, dalam hal berbagi pengetahuan, Bank Dunia sangat berfokus pada pengembangan kapasitas, penyediaan bantuan teknis, bantuan perangkat analitis, atau bantuan penelitian yang relevan. Kerja sama semacam ini sudah banyak dilaksanakan dengan berbagai negara..
Dan pada saat yang sama, Bank Dunia juga belajar dari Indonesia dan dari negara-negara lain yang menerapkan program PFM ini. Dengan demikian Bank Dunia dapat memahami, bukan hanya berfokus pada hal-hal yang sangat spesifik, tetapi juga memahami apa hambatan utama di sisi implementasi maupun di sisi perencanaan. Pemahaman ini dapat menjadi masukan agar kerja sama pada masa mendatang lebih baik lagi, baik dalam hal pinjaman, operasi, pengembangan kapasitas pengetahuan, bantuan teknis, dan juga analitik.
Sekarang kita beralih pada bahasan ASEAN Treasury Forum (ATF). Bagaimana pembentukan ASEAN Treasury Forum dapat mendukung tujuan strategis ekonomi ASEAN?
Oh, ini pertanyaan yang sangat bagus. Jika kita melihat ASEAN, ASEAN ini sangat stabil dalam hal kerja sama regional. ASEAN juga sangat terbuka terhadap ekonomi global, dan ASEAN dianggap sebagai salah satu titik paling menjanjikan bagi investasi dan pertumbuhan ekonomi. Jadi, PFM menjadi tulang punggungnya, karena sekarang kita sudah sangat terbiasa dengan transaksi lintas batas, pembayaran lintas batas, juga beberapa sistem seperti QRIS dan lain-lainnya. Jika Anda berkunjung ke Vietnam atau mungkin Thailand, mereka sangat maju dalam hal sistem pembayaran semacam ini.
Jadi, PFM adalah bagian dari tulang punggung untuk tidak hanya meningkatkan kelancaran, akuntabilitas sistem pembayaran, tetapi juga menciptakan nilai tambah dan sistem tata kelola di dalam negeri. Jadi, nilai tambah ini, saya pikir, adalah bagian dari kontribusi signifikan PFM ke kawasan ASEAN. Peran PFM juga masih dapat ditingkatkan, tidak hanya dalam hal kerja sama regional, tetapi juga menjadi contoh keberhasilan suatu sistem yang awalnya diterapkan dari kawasan ke konteks global.
India juga memiliki sistem pembayaran domestik yang disebut Unified Payments Interface (UPI) mengingat wilayahnya juga sangat besar. ASEAN, dengan populasi sekitar 600 juta, akan menjadi contoh yang sangat baik atas bagaimana mengintegrasikan PFM dan ASEAN Treasury Forum, sebagai bagian dari nilai tambah di dalam kawasan.
Jadi, menurut Bapak, ASEAN Treasury Forum akan sangat bermanfaat bagi negara-negara anggota ASEAN?
Betul, sangat bermanfaat bagi negara-negara anggota ASEAN.
Bank Dunia telah memberikan dukungan untuk peluncuran dan pertemuan pertama ASEAN Treasury Forum melalui Public Financial Management Multi-Donor Trust Fund (PFM-MDTF). Apa arti penting ASEAN Treasury Forum dilihat dari sudut pandang kepentingan Bank Dunia?
Sebenarnya, ketika saya melihat ASEAN Treasury Forum, berkat Bapak Dirjen Perbendaharaan yang menginisiasinya, forum ini bisa menjadi bukan hanya kegiatan sampingan dari pertemuan rutin ASEAN, tetapi sekarang menjadi bagian dari agenda inti. Bank Dunia melihat bahwa pengetahuan dari ASEAN Treasury Forum ini sangat bermanfaat bagi negara-negara anggota. Tidak hanya itu, sebenarnya ASEAN Treasury Forum menjadi ikatan baru dalam kegiatan-kegiatan ASEAN.
Pengembangan ASEAN Treasury Forum bisa dilakukan dengan mentransfer pengetahuan dan bertukar ide. Transfer pengetahuan dapat dilakukan untuk saling memahami sistem yang diterapkan oleh negara lain di kawasan yang sama, sekaligus untuk menemukan cara agar memperlancar transaksi untuk mengembangkan tidak hanya kerja sama dalam hal perdagangan atau investasi, tetapi juga menciptakan tata kelola baru di tingkat regional. Saya pikir ini adalah terobosan baru dari ASEAN Treasury Forum.
Dan tampaknya, Bank Dunia sangat membutuhkan pendekatan semacam ini. Karena, di satu sisi, Bank Dunia ingin membantu menciptakan tata kelola global di dalam kawasan, dan pada saat yang sama juga mempercepat pembangunan ekonomi dalam hal keberlanjutan.
Jadi, ASEAN Treasury Forum menjadi, menurut saya, contoh yang sangat baik sebagai penggerak utama kerja sama di tingkat regional untuk menciptakan nilai dan juga untuk meningkatkan kerja sama, terutama di sisi ekonomi.
Seperti apa kelanjutan yang diharapkan dari pertemuan ASEAN Treasury Forum?
Saya akan menyarankan tiga hal. ASEAN Treasury Forum, seperti yang saya sebutkan sebelumnya, tidak hanya berbagi pengetahuan sebagai bagian dari kerja sama ini, tetapi juga dapat menciptakan nilai untuk mempertahankan tata kelola dan meningkatkan akuntabilitas. Hal ini sangat penting dalam kerja sama antara Bank Dunia dan negara mitra.
Yang kedua, kita dapat melihat ASEAN Treasury Forum sebagai contoh untuk mendukung pembangunan ekonomi di dalam negeri maupun di kawasan. Liberalisasi perdagangan, promosi investasi, dan kerja sama keuangan lainnya di dalam kawasan saya pikir dapat memperoleh manfaat yang sangat besar dari ASEAN Treasury Forum. Jenis pertukaran pengetahuan dan ide ini, termasuk beberapa program untuk perbaikan berkelanjutan, saya pikir harus menjadi bahan diskusi sehari-hari bagi para pakar perbendaharaan di ASEAN.
Yang ketiga, tolong sampaikan juga pengetahuan yang telah diolah ini, tidak hanya untuk lembaga pemerintah, tetapi juga untuk sektor swasta. Dengan demikian sektor swasta bisa memahami terobosan dan reformasi yang dilakukan oleh pemerintah, sekaligus juga mendorong peningkatan kerja sama antara sektor swasta dan sektor publik.
Lalu, seperti yang Anda tahu, di ASEAN kita memiliki begitu kaum muda. Kita harus mempersiapkan mereka untuk masa depan. Jadi, tolong undang juga mereka sebagai bagian dari ASEAN Treasury Forum, sehingga mereka bisa memahami seperti apa masa depan mereka, dan kemudian bisa berkontribusi untuk masa depan mereka dengan cara-cara terbaik menggunakan sistem ini. Itu saran saya.
Sebagai Chair ASEAN Treasury Forum untuk tahun 2024-2025, apa yang harus menjadi prioritas Indonesia?
Sebetulnya pertanyaan ini lebih tepat ditanyakan kepada Ibu Menteri Keuangan atau Bapak Dirjen Perbendaharaan. Izinkan saya berbagi dari sudut pandang dalam peran saya sebagai perwakilan pemerintah Indonesia, tetapi sekaligus juga sebagai anggota dewan Bank Dunia untuk lima negara.
Di Bank Dunia, kami melihat bahwa pertanyaan tentang kerja sama multilateral sangat penting. Tidak hanya untuk kawasan, tetapi juga dalam konteks global. Sebab kita hanya memiliki satu bumi, satu planet. Kita harus memastikan bahwa planet yang layak huni ini bisa sejahtera dan bermanfaat untuk semua.
Jadi, dalam hal Indonesia sebagai sebagai Ketua ASEAN, saya ingin menyoroti dua hal. Pertama, pembangunan ekonomi regional harus mempertahankan kerja sama multilateral sekaligus meningkatkan pembangunan ekonomi regional di kawasan ASEAN serta memberikan manfaat bagi dunia luas.
Mengapa hal ini penting? Karena sekarang kita menghadapi begitu banyak tantangan global. Ada perubahan iklim, pandemi, kerentanan, masalah ketahanan pangan, juga keterbatasan akses terhadap air bersih, energi, dan hal-hal lainnya. Jadi, kita tidak bisa melakukannya sendirian.
Untuk Indonesia, usulan dari saya adalah untuk dapat mempertimbangkan berbagai jenis kerja sama multilateral, agar dapat secara kolektif mengatasi tantangan global dan mendorong pembangunan ekonomi regional. Bahkan merumuskan bagaimana agar secara bersama-sama negara-negara di regional ini dapat menjaga perdamaian di dunia. Saya pikir inilah yang penting untuk bagian awalnya, karena kita membutuhkan diskusi dengan negara-negara berkembang.
Hal kedua yang ingin saya soroti adalah tentang bagaimana kita sebagai ASEAN harus dilihat dalam konteks global. Seperti yang Anda tahu, sekarang ada masalah legitimasi dari isu geopolitik. Begitu banyak ketegangan di dunia. Di Bank Dunia, kami membagi kawasan di dunia menjadi enam bagian: Asia Timur dan Pasifik, Amerika Latin dan Karibia, Timur Tengah dan Afrika Utara, Eropa dan Asia Tengah, serta dua kawasan Afrika. Sayangnya, di setiap kawasan ada konflik. Di Asia Timur dan Pasifik, ada Myanmar. Di Amerika Latin dan Karibia, ada Haiti. Di Timur Tengah dan Afrika Utara, ada Gaza. Di Eropa dan Asia Tengah, ada Ukraina. Dan setidaknya ada enam kudeta militer serta konflik domestik di Afrika sub-Sahara.
Jadi, pesan tentang bagaimana mempertahankan kepemimpinan global, bagaimana menangani atau mengurangi ketegangan geopolitik antarnegara, dan bagaimana mendorong kesejahteraan untuk semua, ini adalah isu-isu utama yang harus disuarakan oleh ASEAN ke tingkat dunia. Perlu pula untuk mengundang dunia agar lebih banyak berinvestasi di ASEAN, karena di sini adalah titik potensi paling terang sebagai mesin pertumbuhan ekonomi dalam kawasan.
Kedua pesan ini mungkin dapat dipertimbangkan dalam kepemimpinan ASEAN Treasury Forum.
Untuk mengatasi tantangan global, seberapa penting kerja sama antara negara-negara anggota ASEAN untuk meningkatkan kapasitas di sektor perbendaharaan dan PFM?
Ini pertanyaan yang sangat spesifik. Katakanlah kita ingin menangani masalah ketahanan pangan. Setidaknya sekarang sebanyak 700 juta orang berada dalam kemiskinan ekstrem, yang berarti hidup dengan pendapatan di bawah $2,15 per kepala per hari. Bayangkan, 700 juta orang.
Jadi, bagaimana kita menangani masalah ketahanan pangan di ASEAN? Di ASEAN terdapat sekitar 2,2% kemiskinan ekstrem dari 600 juta orang. Ini cukup besar. Dengan PFM yang baik, negara-negara ASEAN bisa meningkatkan kerja sama di antara mereka untuk memfokuskan belanja negara pada hal-hal yang diperlukan. Sebab kualitas belanja negara penting untuk menangani kemiskinan ekstrem di dalam kawasan ASEAN. Bagaimana menciptakan sistem tata kelola yang baik untuk menangani masalah ketahanan pangan regional? Bagaimana caranya untuk meningkatkan kerja sama antarnegara? Jika kita sudah mengatasi kemiskinan ekstrem di satu negara, bagaimana kita membantu negara lain? Seperti apa praktik terbaik di negara-negara lain yang dapat kita pelajari bersama dan bagaimana untuk bisa menerapkannya ke negara-negara lain?
Jadi, ASEAN Treasury Forum dapat mewujudkan pertukaran ide dan juga menciptakan lebih banyak kerja sama antarnegara anggota ASEAN sehingga bisa belajar satu sama lain. Bahkan mungkin memberikan bantuan teknis sehingga kita bisa bersama-sama menangani masalah serupa di dalam kawasan, terutama yang berfokus pada ketahanan pangan. Ini adalah salah satu contoh bagaimana ASEAN Treasury Forum dapat menciptakan nilai.
Seperti apa kerja sama masa depan yang mungkin terjadi antara ASEAN Treasury Forum dan Bank Dunia, termasuk dalam membangun kapasitas pejabat PFM dan perbendaharaan di negara-negara anggota ASEAN?
Saya akan menyarankan tiga hal, karena sejauh ini kerja sama ASEAN Treasury Forum dengan Bank Dunia melalui program PFM MDTF berjalan cukup sukses. Pertama, kisah sukses ini dapat disebarluaskan sehingga makin banyak negara yang dapat mereplikasinya.
Kedua, perlu ditingkatkan partisipasi dari hanya negara maju dan tentunya negara-negara berpenghasilan menengah. Sebenarnya, saat ini, kita tidak hanya berbicara tentang memberikan dana, tetapi juga tentang kerja sama. Saya sering memberikan contoh dengan menggunakan tangan saya. ASEAN selama ini punya mentalitas menerima (sambil memajukan tangan dengan telapak membuka ke atas seperti meminta-Red), tetapi sekarang Anda harus mulai berkolaborasi (memajukan tangan seperti hendak berjabat tangan-Red).
Kenapa? Mereka punya dana, Anda membawa pengetahuan. Mereka memiliki teknologi, Anda membawa komitmen. Jadi, kerja sama semacam ini dengan basis ASEAN Treasury Forum sangat penting bagi kawasan dan juga bagi pemangku kepentingan internasional. Anda bisa mengundang pemangku kepentingan internasional, tidak hanya dari negara yang ekonominya maju, tetapi juga dari negara berpenghasilan menengah.
Dan yang ketiga, saya ingin menyarankan bahwa ASEAN Treasury Forum juga bisa mulai memikirkan integrasi. Yang saya maksud adalah sistem informasi terintegrasi atau ASEAN Treasury Forum yang terintegrasi. Karena sekarang sektor keuangan di mana pun sangat terhubung. Harapannya, kita dapat mengurangi ketidakseimbangan informasi di antara negara-negara anggota ASEAN. Merupakan ide yang bagus untuk mengembangkan sistem ASEAN bagi ASEAN Treasury Forum, dengan sistem informasi terintegrasi sehingga semua bisa mengakses, memahami, mendistribusikan, dan berkomunikasi secara tepat waktu serta dengan cara yang akuntabel.
Apa harapan Bapak untuk ASEAN Treasury Forum?
ASEAN Treasury Forum perlu terus meningkatkan sistem, akuntabilitas, dan transparansi di antara negara-negara anggota ASEAN. Penting juga untuk saling belajar bagaimana caranya untuk meningkatkan kualitas sistem pengelolaan keuangan agar dapat direplikasi oleh negara-negara lain. Tolong bagikan kisah sukses ini tidak hanya kepada negara-negara anggota ASEAN, tetapi juga kepada dunia.