Dokter Gigi Difabel dengan Kaki Palsu, Ramadhani, Penerima Beasiswa LPDP

Generasi Emas
15 November 2022
OLEH: Irfan Bayu
Dokter Gigi Difabel dengan Kaki Palsu, Ramadhani, Penerima Beasiswa LPDP

Sekilas tak ada yang aneh dari penampilan seorang dokter gigi, yang juga merupakan penerima beasiswa afirmasi LPDP, bernama Muchamad Nur Ramadhani. Balutan busana putih, berkacamata, rambut rapi dan senyum ramah menjadi paket lengkap yang dimiliki Dhani, sapaannya. Namun tak banyak yang tahu, kaki kanan, penopang utama tubuhnya telah hilang sejak 2008 lalu dan saat ini telah tergantikan oleh kaki palsu atau prostesis.

Hilangnya Penopang Utama

Lahir di bumi Pasundan, Bandung, Muchamad Nur Ramadhani tumbuh seperti halnya anak pada umumnya. Karena pekerjaan ayahnya, pada 1999 dia pindah ke Jerman. Sedari kelas I sekolah dasar bermula hingga kelas VII berakhir, dia lewati di Negeri Panzer. Masa kecilnya dihiasai dengan bermain, utamanya sepak bola, olahraga kegemarannya.

Setelah tunai pekerjaan ayahnya di Jerman, pada 2006 dia kembali ke tanah air. Namun bak disambar petir, kabar tak terduga hinggap dalam kehidupan normal yang dia jalani selama ini. Satu tahun setelah kepulangannya, ia divonis menderita kanker tulang. Sel ganas yang berawal di atas lutut kanannya, menyebar cepat ke kakinya.

"Karena mungkin terbentur ketika olahraga, atau mutasi gen yang menyebabkan perubahan sel sehat menjadi sel kanker", jelas Dhani. Setelah 6 bulan berjuang, dokter menyarankan untuk segera mengambil tindakan dengan mengamputasi kaki utamanya itu. Peristiwa ini bukan perkara mudah.

 "Sangat berat di keluarga untuk memutuskan untuk diamputasi atau tidak", imbuhnya. Dia sadar jika dilakukan, kegiatannya akan menjadi sangat terbatas, namun dia juga yakin menunggu kanker menyebar ke seluruh tubuh juga bukan hal yang baik. Akhirnya pada 2008, dia harus berpisah dengan kaki kanannya. Paha bagian atas hingga ujung kaki harus dikorbankan untuk membunuh sang sel jahat, tentu saja dilengkapi dengan kemoterapi beberapa saat setelahnya.

Seolah membungkam semua yang meragukannya, Dhani dan tongkat bantu berjalannya berhasil menyelesaikan studi dan mendapatkan gelar spesialis dokter gigi pada 2018. (Foto:Dok. Pribadi)

Roller Coaster Sang Dokter Gigi

Kursi roda setelahnya menjadi teman setia Dhani. Badan yang habis digerogoti kanker pun berdampak pada seluruh aktifitasnya termasuk sekolah. Bukan hal mudah ketika teman-temannya melakukan ujian nasional, Dhani justru harus melakukan proses penyembuhan pasca operasi. Ia pun memutuskan mengulang kelas 9 SMP di tahun berikutnya. Tambahan nutrisi protein sedikit demi sedikit membentuk kembali tubuh kurusnya, membuat Dhani bisa beralih ke kruk sebagi penyangga tubuhnya.

"Umur (baru) 14 tahun, minder pasti ada. Secara pribadi awalnya masih belum siap, tapi hidup harus terus berjalan dan ini adalah ujian yang akan membuat saya lebih kuat", kata anak pertama dari empat bersaudara tersebut.

Sampai tiba saat ia akan berkuliah, tak tanggung-tanggung Dhani berhasil menjadi peringkat satu di SMA-nya dan berkesempatan mengikuti SNMPTN jalur undangan. "Awalnya mau kedokteran umum, namun ketika seleksi SNMPTN undangan belum berhasil. Namun hikmahnya minat saya di kedokteran gigi", jelas pria 29 tahun ini. Pengalamannya yang pernah dirawat giginya di Jerman juga membuat Dhani semakin mantap dengan pilihannya.

Bukan tanpa halangan, cerita Dhani pun tak selalu dipenuhi peristiwa-peristiwa manis. Saat pemilihan kampus contohnya, banyak yang mensyaratkan mahasiswanya tidak boleh tunadaksa. Akhirnya Universitas Padjajaran menjadi pahlawan karena mereka tidak mensyaratkan hal tersebut. Namun, bak roller coaster, baru saja dia lega setelah diterima, Dhani dipanggil ke ruang dekan.

Mereka meragukan kemampuan Dhani untuk menjalankan pendidikan maupun  tanggungjawab dan segala tantangannya jika ia lulus nanti. Bukan tanpa alasan, senior sebelumnya yang tunadaksa dengan kursi roda juga kesulitan dan tidak mampu menyelesaikan pendidikannya. Namun Dhani menolak menyerah, meyakinkan pihak kampus bahwa dia bisa.

 "Yang menguatkan saya adalah semangat, keyakinan bahwa pendidikan dokter gigi ini merupakan amanah Allah SWT", ujarnya.  Sempat divonis hanya mampu sampai sarjana saja tanpa bisa melanjutkan pendidikan spesialisasinya, dokter gigi ini pun membuktikan keberhasilannya dengan hasil ujian baik tertulis maupun ketrampilan yang dia babat habis dengan nilai memuaskan. Syahdan, seolah membungkam semua yang meragukannya, Dhani dan tongkat bantu berjalannya berhasil menyelesaikan studi dan mendapatkan gelar spesialis dokter gigi pada 2018. Setelahnya, dia bekerja pada beberapa klinik dokter gigi dan di Puskesmas di Gorontalo, tempat dia menemukan tambatan hatinya. Barulah setelah itu, ia menggunakan kaki palsu atau prostesis untuk mempermudah aktivitasnya.

Dhani diterima dan menimba ilmu di Berlin, Jerman pada 2020 lalu. Sesuai rencana, Humbold Universitaet Zu Berlin, Institut of Tropical Medicine at Charite, Universitat Medizin Berlin. (Foto:Dok. Pribadi)

Kembali ke Jerman

Masih haus akan pengetahuan, Dhani mencari beasiswa LPDP untuk bisa meneruskan studinya. Merasa ada keterikatan dengan Jerman, tujuan studinya ia arahkan kesana. "Awalnya kampus saya tidak ada dalam list LPDP Jerman, tetapi karena saya (lewat jalur) afirmasi dan di afirmasi ada nama Humbold Universitaet dan saya melamar disitu", ungkap Dhani. Lewat jalur afirmasi jalan Dhani terbuka meraih impiannya kembali ke Jerman. "Proses sangat dimudahkan oleh LPDP dari segi aksesbilitas fisik", tambahnya.

Singkat cerita Dhani diterima dan menimba ilmu di Berlin, Jerman pada 2020 lalu. Sesuai rencana, Humbold Universitaet Zu Berlin, Institut of Tropical Medicine at Charite, Universitat Medizin Berlin menjadi tempat belajarnya. Pada 2022 ini dia telah berhasil meraih gelar Master of Science in International Health. Mungkin karena darah sang ayah yang merupakan abdi negara, Dhani kemudian tertarik pula menekuni hal yang sama. Setelah selesai studi dan kembali ke Indonesia, Dhani bekerja pada Direktorat Jenderal Tenaga Kesehatan di Kementerian Kesehatan Republik Indonesia sampai saat ini.

 

Penyandang diabilitas masih lebih sering dijadikan model medis saja, bukan model sosial. (Foto: Dok. Pribadi)

Model Sosial untuk Difabel

Masyarakat memang memiliki persepsi tersendiri terhadap penyandang disabilitas. Menurut Dhani,  hal ini merupakan sebuah tantangan yang harus dijawab. Menurutnya, penyandang diabilitas masih lebih sering dijadikan model medis saja, bukan model sosial.

“Model sosial berarti mengakui kesetaraan kesempatan dalam meraih kesejahteraan dan kesuksesan seperti halnya orang yang tidak menyandang disabilitas", ungkap ayah dari seorang anak ini. Tak lupa, Dhani juga berpesan pada para penyandang disabilitas baik yg masih anak-anak atau dewasa.  "Banyak sekali kesempatan kita untuk berprestasi, melakukan ibadah, beramal, berkreasi, membanggakan orang tua, keluarga, negara, menjadi inspirasi bagi masyarakat sekitar, (karena) dalam kehidupan ini  banyak sekali anugerah di samping memang kita banyak sekali cobaan. Saya yakin banyak disabilitas memiliki kelebihan yang sangat besar dibanding kekurangannya sehingga itulah yang harus digali untuk mendapatkan prestasi tersebut", pungkasnya.