Biji Kopi Berprestasi Buah dari Konservasi

Uang Kita Buat Apa?
16 Mei 2023
OLEH: Dimach Putra
Biji Kopi Berprestasi Buah dari Konservasi

Tengah hari yang terik di pertengahan tahun 1994, beberapa buruh muda perkebunan teh di Kampung Cibulao sedang menghabiskan waktu senggangnya di hutan. Mereka awalnya ingin mencari burung di sana. Tiba-tiba angin panas berhembus menerpa dedaunan yang mengering berguguran karena kemarau berkepanjangan. Ranting pohon dan rerumputan mengangguk-angguk bergesekan menghasilkan suara nan sendu. Air mata Kiryono, salah satu kawanan pemuda itu, tiba-tiba meleleh di pipi saat ia menyaksikan dan mendengar langsung fenomena aneh ini.

Sejak saat itu mata Kiryono seakan terbuka. Ia mulai bisa melihat perubahan alam yang tengah terjadi di sekitar tempat tinggalnya. Hutan-hutan di lereng pegunungan Gede-Pangrango yang melindungi kawasan perkebunan teh tempatnya bekerja dan tinggal mulai gundul. (Foto:Resha A.P)

Mendengar rintihan alam

“Suka merinding saya kalau ingat itu,” ungkap Kiryono sesaat setelah kembali mengingat kenangannya 30 tahun silam. Menurutnya, fenomena yang ia alami saat itu sungguh menggugah emosinya. Ia seakan mendengar rintihan alam yang tengah menderita. Ia mengaku bahwa baru pertama kali itu ia merasakan fenomena yang menurutnya adalah panggilan dari alam. ”Seperti menangis meminta pertolongan,” jelasnya.

Sejak saat itu mata Kiryono seakan terbuka. Ia mulai bisa melihat perubahan alam yang tengah terjadi di sekitar tempat tinggalnya. Hutan-hutan di lereng pegunungan Gede-Pangrango yang melindungi kawasan perkebunan teh tempatnya bekerja dan tinggal mulai gundul. Kawasan berbukit-bukit yang dulunya hijau mulai menguning karena kemarau yang tidak berkesudahan. Bahkan, suhu daerah pegunungan yang biasanya terasa sejuk, perlahan meningkat.

Kesadaran itu tumbuh perlahan dan semakin kuat saat beberapa lembaga swadaya masyarakat (LSM) lingkungan mulai masuk ke Kampung Cibulao. Hadirnya orang dari luar ini seakan menyentil Kiryono dan beberapa warga sekitar untuk lebih peduli terhadap lingkungannya. Ia sendiri sejatinya warga pendatang di kampung ini. Keluarganya pindah untuk menjadi buruh di perkebunan teh saat Kiryono berusia 9 tahun. Namun hal ini bukan menjadi alasan untuk tidak turut menjaga kampung yang menjadi tempatnya tumbuh besar dan hidup ini. ”Alam dan manusia itu harus berdampingan,” ucap pria kelahiran Temanggung ini.

Melawan perambah hutan

Meski beberapa warga telah tumbuh kesadarannya untuk lebih menjaga alam, namun faktor ekonomis mendorong beberapa warga untuk melakukan hal sebaliknya. Upah sebagai pemetik teh sangat kecil di tengah himpitan ekonomi yang makin sulit di tengah bayang-bayang krisis moneter akhir tahun 90-an. Warga yang awalnya hanya merambah hutan untuk mencari bahan makanan di hutan berubah menjadi perambah. Pohon-pohon ditebang untuk membuka lahan. Kayu-kayunya dijual, tanahnya dialihfungsikan menjadi lahan pertanian sayuran.

Solusi ini mungkin memberi sedikit napas bagi warga yang berjuang untuk bertahan hidup. Tapi dibanding manfaat ekonomi, dampak ekologi yang ditimbulkan akan semakin merugikan warga. Efek dominonya bahkan bisa dirasakan warga sepanjang daerah aliran sungai (DAS) Ciliwung. Di kampung ini, di Telaga Saat, hulu dari DAS Ciliwung berasal. Bukit-bukit yang makin gundul terancam longsor. Tanpa adanya pohon yang membantu menyerap dan meresap air, hujan tidak akan tertampung dan mengalir begitu saja dari hulu menjadi banjir kiriman di Bogor, Depok dan Jakarta.

Melihat ini, Kiryono dan kawan-kawannya yang saat itu telah membentuk Kelompok Peduli Alam (KPA) memulai gerakannya. Terciptanya kelompok ini merupakan buah dari gigihnya beberapa LSM lingkungan yang tak lelah melakukan pendekatan ke warga Kampung Cibulao. ”Memang perlu sosialisasi dan pendampingan berkelanjutan untuk meningkatkan kesadaran warga,” ungkap bapak dua anak ini bersyukur. Namun, sosialisasi saja sudah tidak cukup untuk menangani masalah yang makin urgen ini. Para punggawa KPA ini harus melakukan aksinya segera, dimulai dengan reboisasi.

KTH Cibulao menerapkan sistem tumpangsari kopi untuk konservasi hutan di kampung tersebut. Usaha  ini awalnya mendapat reaksi dingin oleh warga sekitar yang tidak familiar dengan tanaman kopi. (Foto: Resha A.P)

Kopi dan konservasi

Kiryono dan kawan-kawan mulai gencar melakukan penanaman kembali hutan di perbukitan Kampung Cibulao. Saat itu mereka kembali menanam pohon-pohon endemik seperti pohon pasang, puspa dan ki riung anak. Usaha mereka tersebut awalnya berjalan normal sampai akhirnya ketika pohon-pohon itu tumbuh cukup besar. Warga sekitar kembali membabat habis pohon-pohon penghijauan itu untuk diambil kayunya. Hal ini sempat membuat kapok KPA hingga bubar di tahun 2006.

Saat vakum, Kiryono memperhatikan pohon-pohon endemik yang ditanam berselang-seling dengan pohon kopi oleh bapaknya dibiarkan dan tidak diambil oleh warga yang mencari kayu. Alasan Bapaknya menanam kopi saat itu sebatas konsumsi pribadi agar menghemat pengeluaran saja. Jika ditebang, pohon-pohon peneduh tersebut akan roboh menimpa pohon-pohon kopi yang hasilnya dikonsumsi langsung. Tentu ini akan menimbulkan gesekan sosial yang harus dihindari antarwarga. Rupanya hal ini menggelitik benaknya. ”Apa mungkin penanaman tumpangsari ini secara tidak langsung melarang orang untuk menebang pohon?” pikirnya saat itu.

Di pertengahan 2007 semangat para pemuda Cibulao ini terpercik lagi dengan hadirnya program Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat (PHBM) dari Perhutani. Kiryono yang saat itu ditemani kakak dan adiknya, Jumpono dan Dasimto membentuk Kelompok Tani Hutan (KTH) Cibulao. KTH Cibulao menerapkan sistem tumpangsari kopi ini untuk konservasi hutan di kampung tersebut. Usaha  ini awalnya mendapat reaksi dingin oleh warga sekitar yang tidak familiar dengan tanaman kopi. Jangankan warga umum, para anggota KTH saja melakukan konservasi dengan tumpangsari kopi berbekal pengetahuan yang terbatas. Bahkan bibit kopi yang digunakan pun merupakan jenis robusta yang umumnya tumbuh di dataran rendah. Kurang sesuai dengan ketinggian sekitar 1300 meter di atas permukaan laut (mdpl) seperti Cibulao.

Titik balik KTH Cibulao dimulai ketika mengikuti Kontes Kopi Spesialti Indonesia di tahun 2016. Kopi Cibulao didapuk menjadi Kopi Robusta Terbaik Nasional pada ajang yang diselenggarakan Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia (AEKI) itu.. (Foto: Resha A.P)

Ketidaksengajaan berbuah keuntungan

Kegigihan para petani KTH Cibulao patut diapresiasi setinggi-tingginya. Seiring berjalan waktu mereka jadi tahu bahwa ternyata akar pohon kopi terbukti cukup kuat untuk menopang tanah di lereng pegunungan. Tak hanya bermanfaat di sisi ekologi, biji kopi yang dihasilkan cukup memiliki nilai ekonomi. Awalnya hanya untuk konsumsi pribadi, lama-lama hasilnya dipasarkan ke luar. Meski tidak ditanam pada tempat semestinya, kopi Cibulao ternyata memiliki kekhasan tersendiri.

Titik balik KTH Cibulao dimulai ketika mengikuti Kontes Kopi Spesialti Indonesia di tahun 2016. Kopi Cibulao didapuk menjadi Kopi Robusta Terbaik Nasional pada ajang yang diselenggarakan Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia (AEKI) itu. Dari prestasi itu warga yang semula acuh mulai menyambut hangat program yang diinisai oleh tiga bersaudara ini. Antusiasme warga yang ingin bergabung menjadi anggota KTH Cibulao meningkat melihat potensi ekonomis dari kopi konservasi ini. Hal ini tentunya baik karena akan semakin banyak lahan yang akan menjadi area konservasi karena sistem tumpangsari ini mewajibkan keseimbangan antara pohon produksi, yaitu kopi, dan pohon peneduh berupa pohon endemik.

Popularitas kopi Cibulao sebagai kopi robusta unik dan terbaik pun naik sejak kontes tersebut. Beberapa pembeli mulai tertarik membeli biji kopi dan olahannya dari kampung di lereng Gunung Pangrango ini. Untuk memenuhi kebutuhan pasar, KTH Cibulao pun mulai menanam kopi jenis arabika yang memang lebih sesuai dengan kondisi geografis di sana. Peningkatan permintaan pasar ini membuat para petani membutuhkan suntikan dana untuk mengembangkan usahanya. Sebagai solusi untuk tantangan tersebut, uang kita hadir melalui pembiayaan yang disalurkan oleh Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH) melalui skema Fasilitas Dana Bergulir (FDB).

Uang kita untuk lingkungan berkelanjutan

BPDLH adalah salah satu special mission vehicle di bawah Kementerian Keuangan yang resmi dibentuk sejak September 2019. Tugas BPDLH secara umum berada di bawah komite pengarah 10 kementerian dan diawasi oleh dewan pengawas.  Badan ini berfungsi untuk mengumpulkan pendanaan dari berbagai sumber agar dapat dimanfaatkan melalui beberapa instrumen di berbagai sektor. Beberapa sektor yang mendapat perhatian BPDLH antara lain meliputi kehutanan, energi dan sumber daya mineral, carbon trading, pertanian, kelautan, perikanan dan lain-lain.

BLU ini didirikan dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas lingkungan dan ketahanan masyarakat melalui mekanisme pembiayaan berkelanjutan. Misi mulia tersebut diharapkan membawa dampak positif yaitu menurunnya emisi gas rumah kaca, kualitas lingkungan hidup  membaik, tercapainya ketahanan iklim dan bencana, serta terbentuknya masyarakat yang tangguh. Hingga 2026 anggaran yang tersedia di BPDLH sebesar Rp22,3 T dengan potensi tambahan yang akan segera masuk senilai Rp16,9 T. Nominal dana tersebut terkumpul dari 16 mitra dan donor dari dalam dan luar negeri serta 8 windows atau sumber dana.

FDB yang diterima oleh Kiryono dan kawan-kawan termasuk salah satu program unggulan BPDLH. Fasilitas tersebut masuk dalam Program Pengelolaan Hutan, Penggunaan Lahan, dan Ekosistem yang Berkelanjutan yang juga menangani dana kesejahteraan untuk masyarakat adat, serta pelestarian mangrove untuk daerah pesisir. Sepanjang tahun 2022 hingga 2023, total dana yang disalurkan melalui FDB sebesar Rp4,21 T. Seumber pendanaan dari fasilitas ini adalah langsung dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Melalui mekanisme ini, #UangKita berhasil tersalurkan ke 28.339 debitur di 30 provinsi yang berhasil melindungi sekitar 15 juta pohon. Dari pengukuran ke sekitar 4,4 juta pohon yang terlindungi tersebut, emisi gas karbondioksida sebanyak 371 ribu ton dapat terserap.

Sebagai penghubung para petani sebagai debitur dengan BPDLH dibutuhkan peran seorang petugas lapangan (PL). Untuk wilayah Kabupaten Bogor, Cianjur dan Sukabumi, tugas ini dijalankan oleh Aldi Sepriandra. (Foto: ReshaA.P)

Menjaga sinambung kopi konservasi

Sebagai penghubung para petani sebagai debitur dengan BPDLH dibutuhkan peran seorang petugas lapangan (PL). Untuk wilayah Kabupaten Bogor, Cianjur dan Sukabumi, tugas ini dijalankan oleh Aldi Sepriandra. Ia telah bertugas di area tersebut sejak 2019. “Pas waktu penyaluran dana pertama kali ke debitur di Kampung Cibulao ini saya mulai bertugas di sini,” jelas pria asal Aceh ini. Selama hampir 4 tahun ini Aldi telah menjalin hubungan baik dengan para debitur di Cibulao dan sekitarnya. Tugas PL meliputi pelaksanaan pengawasan dan evaluasi kinerja debitur, mobilisasi, pendataan, penyaluran FDB, termasuk penyerahan FDB macet ke Panitia Urusan Piutang Negara (PUPN).

Hingga saat ini, total pembiayaan yang disalurkan ke KTH Cibulao tercatat sebesar Rp401,46 juta. Dana tersebut disalurkan ke 14 petani anggota di kelompok tersebut. Untuk skema FDB, besaran pembiayaannya berbeda-beda tiap debitur tergantung banyak pohon yang dikelola oleh petani tersebut. Menurut Aldi, rata-rata pemanfaatan pembiayaan tersebut digunakan untuk perawatan pohon kopi. ”Dulu mereka terkendala di biaya perawatan. Semenjak dibiayai BPDLH, hasil kopinya melimpah,” tukas Aldi.

Kiryono mengapresiasi kepedulian pemerintah yang menyediakan skema pembiayaan bagi petani hutan. Ke depan pria yang lebih dari separuh hidupnya dihabiskan menjaga lingkungan Kampung Cibulao ini bermimpi untuk membentuk koperasi petani hutan Cibulao. Nantinya tugas koperasi adalah memetakan kebutuhan dari anggotanya. Selain itu  peran koperasi dapat meningkatkan posisi tawar petani di mata pembeli sehingga harga jual kopi Cibulao dapat lebih terjaga. ”Mudah-mudahan semua bisa bersinergi. Supaya semuanya berkesinambungan. Konservasinya dapat,  dampak ekonomi juga tetap dirasakan masyarakat," tutup Kiryono.


Dimach Putra