Kisah Rizky Ilham Ramadhan, Anak Pekebun Lolos Beasiswa SDM Sawit dan Ingin Majukan Kebun Keluarga
Dari Lahan Transmigrasi ke Kebun Rakyat
Pagi di kebun sawit, para petani selalu memulai dengan pekerjaan yang hampir serupa; membersihkan pelepah yang rontok, memanen tandan buah segar, mengutip brondolan, lalu mengangkutnya ke Tempat Pengumpulan Hasil (TPH). Rutinitas itu berulang dari musim ke musim.
Di Desa Margabakti, Kecamatan Pinangraya, Kabupaten Bengkulu Utara, kehidupan berjalan dalam pola yang tak jauh berbeda. Di desa itulah Rizky Ilham Ramadhan tumbuh sebagai anak pekebun sawit. Sejak kecil, ia terbiasa membantu pekerjaan orang tuanya untuk mengumpulkan brondolan, buah kelapa sawit yang terpisah dari spikelet karena sudah terlalu matang. Rizky juga turut mengangkut hasil panen atau sekadar mengikuti ritme kerja orang tuanya.
Bagi keluarganya, sawit bukan sekadar komoditas, melainkan penopang hidup.
Namun, seperti banyak kebun rakyat lainnya, pengelolaan kebun sering bertumpu pada kebiasaan yang diwariskan turun-temurun. Prinsipnya sederhana: yang penting panen. Padahal, sektor perkebunan telah berkembang pesat. Pengelolaan kebun kini tak hanya soal tenaga dan waktu, tetapi juga data, efisiensi, serta perhitungan biaya yang terukur. Tanpa itu, produktivitas kebun kecil mudah tergerus naik-turunnya ongkos produksi.

Tekad untuk Belajar Lebih Jauh
Rizky adalah anak keempat dari lima bersaudara. Orang tuanya menamatkan pendidikan hanya sampai sekolah dasar. Penghasilan dari kebun rakyat tak selalu memberi ruang bagi rencana besar. Kakaknya pernah mencoba kuliah, tetapi harus berhenti karena kendala biaya.
Bagi Rizky, melanjutkan pendidikan tinggi sempat terasa seperti kemungkinan yang jauh. "Bener-bener nih kalau nggak dapet beasiswa, saya nggak kuliah", terang pemuda Bengkulu ini.Rizky sendiri percaya, jika tanpa bantuan, ia akan tetap tinggal di kampung dan membantu orang tua, melanjutkan rutinitas kebun sawit seperti biasa.
Kesadaran akan keterbatasan itulah yang perlahan menumbuhkan tekad dalam diri Rizky. Ia tak pernah menyalahkan cara orang tuanya bekerja. Sebaliknya, ia ingin memahami sawit secara lebih utuh—dari kondisi tanah dan kesehatan tanaman, hingga keputusan-keputusan yang mempengaruhi hasil panen.
Rizky percaya, dengan pengetahuan yang lebih baik, kebun sawit bukan hanya bisa bertahan, tetapi juga benar-benar memberi kesejahteraan bagi keluarga dan masyarakat di sekitarnya.
Jalan ke Kampus Lewat Beasiswa SDM Sawit
Kesempatan itu datang dari informasi yang beredar di lingkaran komunitas desa, dari grup WhatsApp hingga sosialisasi di sekolah. Rizky mendaftar Beasiswa SDM Sawit melalui jalur afirmasi pekebun. Ia diterima, bahkan menjadi satu-satunya siswa dari sekolahnya yang lolos saat itu.
Program Beasiswa SDM Sawit yang didukung Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dirancang untuk membuka akses pendidikan bagi anak pekebun sawit. Pada 2025, jumlah penerima ditargetkan meningkat menjadi 4.000 orang dari 3.000 orang pada tahun sebelumnya. Program ini mencakup jenjang D1 hingga S1 di berbagai perguruan tinggi.
Dukungan yang diberikan bersifat menyeluruh. Dari biaya pendidikan penuh, uang saku, bantuan buku, sertifikasi kompetensi, hingga transportasi dari daerah asal ke kampus dan kesempatan magang. "Beasiswa BPDP ini tergolong kompleks,lengkap. Terus kalau di perkuliaannya itu kayak biaya buku, biaya pendidikan, dan biaya kehidupan lainnya itu sudah ditanggung", ujar Rizky. Bagi penerima beasiswa sawit, bantuan itu bukan sekadar fasilitas, melainkan penghapus hambatan terbesar yaitu biaya.
Melihat Kebun dangan Cara Baru
Rizky melanjutkan studi S1 Agribisnis di Institut Pertanian STIPER (Instiper) Yogyakarta, dengan minat Sistem Manajemen Bisnis Perkebunan. Latar belakang IPA di SMA tak menghalanginya memilih jalur yang menuntut kemampuan manajerial dan perhitungan usaha.
Di kampus, ia mulai melihat kebun dari sudut pandang berbeda. Ia mengikuti pelatihan pemanfaatan drone untuk pemetaan lahan serta praktikum agronomi yang mengajarkannya memahami hubungan antara perlakuan tanaman dan dampaknya terhadap produktivitas maupun biaya.
Perubahan terbesar justru datang dari kebiasaan sederhana yaitu pencatatan.
Di kebun keluarga, pengelolaan berjalan apa adanya. Bekerja, memanen, menjual, lalu menggunakan hasilnya untuk kebutuhan sehari-hari. Tanpa catatan rinci, sulit mengetahui berapa biaya tenaga kerja, berapa modal yang keluar, atau berapa keuntungan bersih yang sebenarnya diperoleh.
Di bangku kuliah, Rizky belajar bahwa kebun yang sehat bukan hanya rajin dirawat, tetapi juga terukur. Perhitungan biaya, pembagian tenaga kerja, pemupukan yang tepat, perawatan seperti pruning, hingga evaluasi rutin menjadi bagian dari manajemen yang sistematis.
"Pencatatan itu biasanya kebun rakyat itu nggak ada sama sekali. Pencatatan kayak keuntungan, modal itu nggak ada. Kalau yang kami pelajari itu semuanya dicatat, diperhitungkan gitu", ujar Rizky.
Dari situ ia memahami perbedaan antara kebiasaan dan pengelolaan berbasis perencanaan.
Ilmu untuk Pulang
Kini Rizky menjaga prestasinya dengan IPK 3,86. Ia menyimpan keinginan melanjutkan studi ke jenjang S2. Namun, langkah terdekatnya adalah bekerja lebih dulu di perusahaan sawit untuk membangun pengalaman dan kemandirian finansial.
Ia ingin suatu hari kembali ke kampung.
Bukan sekadar membawa gelar, tetapi membawa cara pandang baru bahwa kebun dapat dikelola dengan ilmu, dicatat dengan rapi, dan dihitung dengan cermat. Bahwa sawit bisa menjadi jalan kesejahteraan yang lebih terencana, bukan hanya pekerjaan yang diwariskan.
Beasiswa itu mungkin hanya satu pintu kecil. Namun, dari pintu itulah perubahan berpeluang tumbuh—pelan, tetapi berakar.

Efek Berantai dari Sebuah Kesempatan
Program Beasiswa SDM Sawit tidak hanya memberikan akses pendidikan bagi penerimanya, tetapi juga membuka peluang peningkatan kapasitas di tingkat pekebun rakyat. Ketika anak pekebun memperoleh pendidikan formal di bidang perkebunan dan manajemen usaha, pengetahuan tersebut berpotensi diterapkan kembali di kebun keluarga.
Rizky memandang pendidikan sebagai bekal jangka panjang. Seusai lulus, ia berencana bekerja lebih dulu di perusahaan sawit untuk memperdalam pengalaman teknis dan manajerial. Setelah itu, ia ingin kembali ke kampung halamannya di Bengkulu Utara.
Baginya, perubahan bukan sekadar soal gelar, tetapi tentang cara kerja. Kebun yang dikelola dengan pencatatan rapi, perhitungan biaya yang jelas, serta keputusan budidaya berbasis pengetahuan diyakini dapat meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan pekebun.