Literasi & Inklusi Keuangan: Mengapa Sektor Nonbank Masih Tertinggal dari Perbankan?

1 Oktober 2025
OLEH: Irfan Bayu Pradhana
Literasi & Inklusi Keuangan: Mengapa Sektor Nonbank Masih Tertinggal dari Perbankan?
 

Ketika berbicara soal keuangan, kebanyakan orang langsung teringat bank. Wajar saja, karena bank memang menjadi pintu masuk utama masyarakat untuk menabung, transfer, hingga mengajukan pinjaman. Padahal, sektor keuangan jauh lebih luas dari sekadar perbankan. Ada asuransi, pasar modal, fintech, koperasi, hingga lembaga keuangan mikro (LKM).

Namun, survei nasional literasi dan inklusi keuangan (SNLIK) 2025 dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan fakta menarik: sektor nonbank masih tertinggal jauh dibanding perbankan.

Data Literasi & Inklusi Keuangan 2025 (OJK)

  • Perbankan
    Indeks literasi: 74,06%
    Indeks inklusi: 83,04%
  • Perasuransian
    Indeks literasi: 45,45%
    Indeks inklusi: 28,50%
  • Pasar Modal
    Indeks literasi: 38,52%
    Indeks inklusi: 5,19%
  • Lembaga Keuangan Mikro
    Indeks literasi: 31,87%
    Indeks inklusi: 11,73%
  • Fintech (P2P Lending, dsb.)
    Indeks literasi: 35,57%
    Indeks inklusi: 12,79%

Artinya, meskipun masyarakat makin sadar pentingnya mengatur uang, sebagian besar masih nyaman dengan produk bank tradisional.

Kenapa Sektor Nonbank Sulit Mengejar?

  1. Kurangnya Edukasi & Sosialisasi
    Produk nonbank sering dianggap rumit. Misalnya, asuransi yang penuh dengan istilah teknis, pasar modal yang identik dengan “main saham” yang berisiko, atau fintech yang dikhawatirkan terjebak utang.
  2. Kurangnya Kepercayaan
    Kasus penipuan berkedok investasi, asuransi bermasalah, atau fintech ilegal membuat masyarakat lebih waspada. Akibatnya, mereka memilih untuk “main aman” di bank tradisional.
  3. Akses yang Belum Merata
    Layanan nonbank sering terkonsentrasi di kota besar. Sementara di daerah, masyarakat lebih mengenal bank konvensional atau koperasi lokal.
  4. Mindset Jangka Pendek
    Banyak orang masih melihat keuangan hanya sebatas “simpan uang” dan “ambil kalau perlu”. Padahal, produk nonbank justru bisa membantu menjadi proteksi (asuransi), pengembangan aset (pasar modal), hingga modal usaha (LKM/fintech).

Ketertinggalan sektor nonbank ini berakibat masyarakat kehilangan peluang:

  • Proteksi Finansial Minim membuat rendahnya kepemilikan asuransi yang berakibat risiko finansial saat sakit/kejadian tak terduga jadi lebih besar.
  • Peluang Investasi yang Terlewat berpengaruh dengan inklusi pasar modal yang hanya 5,19%, mayoritas masyarakat belum ikut menikmati pertumbuhan ekonomi lewat investasi.
  • Akses Usaha Terbatas terlihat pada LKM dan fintech yang sebenarnya bisa jadi solusi UMKM, tapi rendahnya literasi membuat pemanfaatannya belum optimal.

Apa yang Bisa Dilakukan?

  • Edukasi Lebih Intensif
    Literasi keuangan harus makin dekat ke anak muda dan daerah. Edukasi dengan bahasa ringan, lewat media sosial, komunitas kampus, sampai program TV bisa jadi cara efektif.
  • Regulasi & Pengawasan Ketat
    Kasus bodong membuat citra sektor nonbank menjadi jelek. Penguatan pengawasan, transparansi produk, dan publikasi daftar entitas legal sangat penting untuk ditingkatkan.
  • Kolaborasi Digital
    Aplikasi keuangan bisa mulai mengintegrasikan produk lintas sektor. Misalnya, dalam satu aplikasi terdapat tabungan, reksa dana, asuransi mikro, dan kredit usaha.

Waktunya Buka Pintu Lebih Lebar

Perbankan sudah menjadi “primadona”, tapi untuk menciptakan masyarakat yang benar-benar sejahtera finansial, sektor nonbank tidak boleh tertinggal. Asuransi, pasar modal, fintech, hingga lembaga keuangan mikro punya peran penting untuk melengkapi kebutuhan masyarakat.

Karena pada akhirnya, melek finansial bukan hanya soal tahu cara menabung di bank, tapi juga paham bagaimana melindungi, mengembangkan, dan memanfaatkan uang secara bijak.