LPEI Dorong Kelor dan Sargassum Madura Makin Dikenal Dunia

17 September 2024
OLEH: Dimach Putra
LPEI Dorong Kelor dan Sargassum Madura Makin Dikenal Dunia
 

Siang menjelang sore yang tenang di desa Batang-Batang Daya, Kabupaten Sumenep. Beberapa wanita paruh baya sedang melakukan aktivitas bersama di sebuah bangunan menyerupai gudang terbuka di belakang pasar desa. Di sela renyahnya canda tawa, mereka nampak serius membolak-balik batang tanaman berdaun banyak. Dalam sekejap, sekarung plastik penuh tanaman kelor itu telah terpisah antara daun dan batangnya.

FotoHeroUangKitaBuatApa_0924.JPG
Para Pekerja Sedang Menjemur Daun Kelor di Ruang Penjemuran. (Foto: Firman Akhmadi H.)

Komoditas Madura bukan tembakau saja

Kegiatan tersebut rutin dikerjakan ibu-ibu ini  dari jam 10 hingga menjelang azan Maghrib. Mereka sedang melorot daun kelor dari batangnya, langkah pertama yang mereka lakukan dalam industri pengolahan daun kelor di CV Bhumikara Kula Sejahtera. Daun-daun yang sudah dipipili tersebut lantas ditempatkan di bakul-bakul yang kemudian dibawa ke ruang penjemuran. “Menjemurnya tidak boleh langsung kena matahari, nanti hasilnya tidak bagus,” ungkap Mardiah.

Mardiah sendiri hanyalah satu pegawai yang bekerja di sentra industri tersebut. Perempuan paruh baya ini telah bekerja di sana selama enam tahun. Ia mengambil pekerjaan ini  di sela-sela aktivitasnya bertani untuk mencukupi kebutuhan pangannya, Mardiah mengaku penghasilan yang didapat lumayan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, terlebih sejak suaminya meninggal tahun lalu. “Ya, buat bayar listrik, air, makan dan ngasih uang jajan ke cucu,” ungkapnya.

Sebelum menyebar daun-daun yang baru mereka lorot, ibu-ibu itu mengangkat daun-daun dari kelompok sebelumnya yang telah kering. Lalu, daun-daun itu mereka sebar merata supaya kering sempurna. Selanjutnya, mereka bergegas melakukan proses selanjutnya yaitu penyortiran. Daun-daun yang telah kering mereka tabur di depan kipas angin. Di bawahnya disediakan kawat penyaring. Hanya daun-daun yang tersaring yang mereka ambil untuk kemudian digiling sesuai pesanan. Khusus untuk penggilingan dan pengepakan, prosesnya dilakukan oleh pekerja laki-laki.

FotoKecilUangKitaBuatApa_0924_1.JPG
Daun Kelor Kering yang Telah Digiling Kasar Siap Untuk Diekspor. (Foto: Firman Akhmadi H.)

Kelor si daun Ajaib

Bagi Heri Siswanto, pemilik CV Bhumikara Kula Sejahtera, daun kelor tak sekadar bahan pangan yang umum dikonsumsi warga Pulau Madura. Pohon yang tumbuh subur dan bebas di pekarangan dan menyebar seantero pulau garam ini ternyata memiliki beragam khasiat bagi kesehatan. Setidaknya, informasi yang didapatnya dari media sosial itu yang membuatnya yakin mencoba mengolah dan meningkatkan nilai daun dari sekadar sayur konsumsi ini.

Usaha yang dibuka Iwan ini telah berjalan kurang lebih sepuluh tahun. Ia mengingat momen-momen awal mengawali bisnis ini di saat harga jual tembakau sebagai komoditas utama di Madura sedang lesu. Iwan merintis usahanya dengan menjual daun kelor kering. Permintaan yang kian banyak membuatnya membutuhkan pasokan yang lebih banyak lagi. Ia pun mulai berusaha membeli daun dari pohon milik tetangganya. “Awalnya mereka gak percaya kalau mau dibeli. ‘Sudah ambi saja’,” ucapnya menirukan respon tetangga-tetangganya kala itu. Perlahan Heri pun menjelaskan keseriusan maksudnya tersebut yang akhirnya disambut baik oleh warga sekitar.

Tak hanya mampu memenuhi pasar nasional. Iwan mulai menerima pesanan pembeli dari Thailand sebagai tujuan ekspor pertamanya. “Kemudian menyusul ke Malaysia dan Jerman,” beber bapak dua anak ini. Untuk menaikan harga, Iwan pun mengolah produknya menjadi bentuk serbuk. Untuk klien di Malaysia, ia kini rutin mengirim 2 hingga 5 ton per bulan.

FotoKecilUangKitaBuatApa_0924_2.JPG
Heri Siswanto, pemilik CV Bhumikara Kula Sejahtera yang Kerap Dipanggil Pak Iwan. (Foto: Firman Akhmadi H.)

Melipatgandakan manfaat untuk masyarakat

Proses pengolahan daun kelor yang dilakukan Iwan menimbulkan efek berganda bagi masyarakat sekitar dibanding ketika dijual mentah. Perusahaan pria asli Sumenep ini mempekerjakan 6 pegawai tetap, bahkan saat pasokan sedang banyak Iwan harus menambah setidaknya 25 pegawai lepasan. Mayoritas pegawainya adalah ibu-ibu warga desa sekitar. CV Bhumikara Kula Sejahtera juga melibatkan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan), satu dari desa setempat dan hingga 4 desa imbas di sekitar. “Total bisa melibatkan hingga sekitar 1000 petani lebih,” jelas Iwan.

Keterlibatan para petani itu meliputi pemenuhan pasokan daun kelor untuk diolah di perusahaan tersebut. Iwan mengandaikan jika setiap rumah memiliki 3 hingga 5 pohon kelor, setidaknya ia menjamin bisa menambah pemasukan keluarga tersebut hingga Rp300 ribu setiap 40 hari (sekali siklus panen). Saat ini, banyak warga yang sengaja menanam pohon kelor di tanah hamparan. "Mereka udah ada yang bisa punya sampai 50 pohon, 100 pohon. Untuk yang seperti itu penghasilan tambahan mereka sudah bisa sampai Rp 2 juta sebulan," tuturnya.

Tak hanya berpuas mengolah daun kelor, Iwan pun mulai melakukan diversifikasi produk. Ia mulai melirik sargassum yang melimpah di wilayah perairan kepulauan lepas pantai Sumenep. Sargassum adalah sejenis rumput laut yang sering dianggap hama. Padahal, hasil olahan sargassum yang disebut alginat menjadi bahan baku banyak produk industri farmasi dan kecantikan, seperti untuk cangkang kapsul, emulsifier, dan stabilizer selain bahan baku shampoo, sabun, dan lain-lain.

FotoKecilUangKitaBuatApa_0924_3.JPG
LPEI Memberikan Serangkaian Pendampingan dan Pelatihan dengan Berkolaborasi bersama Pemerintah Provinsi Jawa Timur. (Foto: Firman Akhmadi H.)

Desa devisa di ujung Madura

Perlahan, daun kelor dan sargassum ini memang menjadi salah satu primadona komoditas unggulan ekspor Kabupaten Sumenep. Potensi ini ditangkap oleh Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI). Salah satu special mission vehicle (SMV) di bawah Kementerian Keuangan ini lantas meresmikan Desa Batang-Batang Daya menjadi Desa Devisa Daun Kelor dan Sargassum pada tahun 2023. “Saya ikut pelatihan oleh LPEI dan Disperindag Jawa Timur di tahun 2021, mungkin karena melihat catatan usaha kami yang telah rutin ekspor, tak lama ditetapkan menjadi desa devisa,” ungkap Iwan menceritakan awal perkenalannya dengan LPEI.

Selain dari sisi pembiayaan, penjaminan, dan asuransi, LPEI mendukung UKM berorientasi ekspor untuk mengembangkan usahanya melalui program jasa konsultasi. Program jasa konsultasi ini menyediakan pelatihan, pendampingan, dan business matching untuk mendukung pelaku usaha berorientasi ekspor sehingga mampu meningkatkan kualitas produknya dan dapat bersaing di pasar global. Menurut penilaian LPEI, Desa Devisa Daun Kelor dan Sargassum Sumenep berpotensi memberdayakan hingga 3.500 petani di 38 desa.

Dalam memberikan serangkaian pendampingan dan pelatihan, LPEI juga berkolaborasi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan Kemenkeu Satu. Bantuan lain yang diberikan juga berupa pemberian alat produksi berupa pengering daun kelor, tali tambang untuk sargassum, serta sertifikasi organik untuk bahan baku produk olahan usaha ini. Program ini  mampu meningkatkan kapasitas usaha Iwan dengan meningkatnya kapasitas produksi daun kelor dalam bentuk powder dari 500 kg/hari menjadi 1.5 ton/hari. Efisiensi biaya produksi sebesar +Rp14.400/kg serta meningkatnya kapasitas produksi sargassum untuk permintaan ekspor dari 90% menjadi 95%

FotoKecilUangKitaBuatApa_0924_4.JPG
Iwan Memamerkan Sargassum yang Sudah Diolah Menjadi Bubuk. (Foto: Firman Akhmadi H.)

Kelor dan Sargassum Sumenep untuk dunia

Kegigihan Iwan dan warga Desa Batang-Batang Daya dengan didampingi pembinaan dari LPEI berhasil mengangkat derajat produk olahan yang dihasilkan CV Bhumikara Kula Sejahtera. Dalam lingkup nasional, daun kelor dari Sumenep dikenal memiliki kualitas terbaik. “Kalau dari Sumenep, para pembeli ini sudah tahu. Sudah ada standar, jadi gak berani nawar-nawar lagi mereka,” ujar Iwan bangga.

Kini, dalam hal produksi daun kelor, Desa Devisa Daun kelor bisa mencapai 12 ton/bulan dalam bentuk powder dan 20 ton/bulan dalam bentuk daun kering dengan pangsa ekspor mencapai 90% ke negara Republik Rakyat Tiongkok dan 10% untuk memenuhi permintaan lokal. Saat ini pun Desa Devisa Daun kelor juga rutin ekspor ke negara Malaysia. Sementara untuk sargassum, produksinya mencapai 100-200 ton perbulan dengan porsi pasar ekspor mencapai 100% yang dikirim ke negara Republik Rakyat Tiongkok.

Selain memastikan peningkatan kualitas dan kapasitas produk, Iwan bersemangat menjelaskan perbedaan sebelum dan setelah mendapat pendampingan, serta menjadi desa devisa. “Satu yang pasti, usaha ini jadi lebih tertata,” tuturnya mengawali. Tak hanya menyediakan berbagai pelatihan yang semakin mengokohkan hubungannya dengan para petani, LPEI juga memberikan pelatihan manajemen keuangan dan pembukuannya. Selain itu, Iwan juga bersyukur dengan koneksi dan eksposur yang diberikan oleh LPEI. “Lebih dikenal, dan pembeli jadi lebih percaya bahwa usaha ini beneran dan gak bodong,” ucapnya menutup perbincangan kami sore itu.

 


Dimach Putra