Berkat LPEI, Produk Home Dekor dari Desa Terpencil Ini Dikenal Sampai Eropa

16 Desember 2024
OLEH: Dimach Putra
Berkat LPEI, Produk Home Dekor dari Desa Terpencil Ini Dikenal Sampai Eropa
 

Siang itu terasa begitu terik seperti biasanya di Kasiman, sebuah desa di tengah hamparan hutan jati dan ladang jagung yang menguning di Bojonegoro. Desa yang cukup terisolir ini hanya terpisah anak Sungai Bengawan Solo dengan Kecamatan Cepu yang masuk wilayah Blora, Jawa Tengah. Sekelompok ibu-ibu nampak asik beraktivitas di dalam sebuah gudang dengan ditemani kipas angin yang menyala kencang menghalau hawa panas.

Kerajinan dari tangan-tangan terampil di desa terpencil

Jari jemari ibu-ibu itu nampak terampil melakukan berbagai kegiatan. Ada yang sedang membuat pola lalu memotongnya, menempel, menganyam dan sebagainya. Mereka terlihat asyik mengerjakan tugas masing-masing. Sesekali tawa mengisi ruang itu saat ada seseorang yang melemparkan candaan. Beberapa yang lain nampak sesekali mengusap-usap anaknya yang tertidur di pangkuan.

Kegiatan yang dilakukan empat orang ibu-ibu ini adalah rutinitas yang dilakukan oleh para perajin di CV. Grandis Home. Usaha rumahan ini memproduksi berbagai home décor berbahan serat alam. Siapa yang menyangka bahwa dari tangan-tangan terampil para ibu rumah tangga di desa terpencil mampu menghasilkan produk-produk rumah tangga unik yang mampu menembus pasar ekspor ke Korea Selatan, Belanda, Spanyol, dll.

Produk-produk yang dihadirkan Grandi Home memiliki keunikan sendiri karena berbahan dasar serat alam. Bahan-bahan alam yang dimanfaatkan antara lain kulit jagung, pelepah pisang, agel, ijuk, rayung, sisal dan bambu. Untuk kulit jagung dan pelepah pisang, bahan dasarnya berasal dari Desa Kasiman dan beberapa desa tetangga yang memang kaya akan komoditas tersebut. Bahan-bahan alam tersebut lalu diolah menjadi cermin, kap lampu, hiasan dinding, ataupun bentuk-bentuk home décor unik lainnya.

FIR_1653.JPG
Nesya Anggi (dua dari kanan) bersama para perajin di  workshop miliknya. (Foto: Firman Akhmadi H.)

Merintis ekspor dari nol

Nesya Anggi, pemilik Grandis Home, masih ingat betul kronologi bagaimana dirinya merintis usaha tersebut hingga akhirnya bisa tembus pasar global. “Awalnya di 2015 kami mengawali dengan melihat potensi yang ada di desa ini yaitu kerajinan kayu jati. Kami beri warna pastel dan jual di Instagram,” ucap perempuan yang akrab dipanggil Anggi ini. Produk tableware seperti mangkok, talenan, alat makan, dll itupun laku keras. Seiring waktu dengan bergesernya tren, pesanan produknya pun ikut turun.

Di akhir 2017, ia mulai mencari informasi mengenai ekspor. Dua tahun ia belajar seluk beluk ekspor ke berbagai tempat. Terakhir, ia mengikuti Coaching Program for New Exporter (CPNE) yang diselenggarakan di Malang pada tahun 2019. Di momen itulah, Anggi berkenalan dengan Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI). Lewat even yang digagas oleh salah satu special mission vehicle (SMV) di bawah Kementerian Keuangan ini Anggi mendapatkan banyak ilmu dan fasilitas.

“Di CPNE, waktu itu kami pemula banget ya. Jadi diajari dari awal tentang ekspor, yang perlu disiapkan, komoditi, syarat-syaratnya apa saja. Memang secara keseluruhan dari orang yang awam sampai jadi eksportir pemngetahuannya itu apa dari situ, CPNE itu,” bebernya. Alumni Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga itu ia lanjut menjelaskan manfaat yang Ia dapatkan dari pendampingan LPEI berupa fasilitas booth di TEI (Trade Expo Indonesia) di Jakarta. Sepulang dari acara tersebut, Anggi pun berhasil melakukan ekspor perdana yang dalam prosesnya juga dihadiri perwakilan LPEI untuk pelepasan ekspor.

Dari tiada menjadi sebuah desa devisa

Program pendampingan LPEI terhadap Grandis Home yang digawangi oleh Anggi pun semakin berkembang. Ia sempat diikutkan marketing handholding, sebuah kesempatan bagi Anggi menampilkan produknya di marketplace global. Grandis Home juga sempat menjadi peserta IFEX (Indonesia International Furniture Expo) yang diselenggarakan secara daring saat pandemi. LPEI juga sempat memberi bantuan sponsor berupa uang akomodasi dan transportasi untuk Anggi berangkat mewakili Indonesia sebanyak dua kali di Ambiente. Pameran bergengsi itu menjadi ajang bertemunya para pengusaha industri kreatif dengan buyer dunia.

Yang terbaru, kolaborasi keduanya dengan didukung Pemerintah Provinsi Jatim adalah dengan resmi diluncurkannya Desa Devisa Bojonegoro di awal tahun 2024. Dinamika ini membawa amanah baru bagi Anggi yang menjadi pembina untuk klaster produksi kerajinan home décor unik berbahan serat alam di Desa Kasiman. “Untuk Desa Devisa Bojonegoro ini kan sebenarnya melibatkan 11 desa. Kami di desa ini melatih sekitar 100 lebih, tapi untuk yang aktif bekerja ya tergantung ordernya,” ungkap Anggi. Ia melanjutkan bahwa pernah untuk memenuhi suatu orderan, ia mengaku dibantu 25 ibu-ibu tenaga perajin lepas.

“Menantang banget tuh. Jadi soalnya kan kita memang benar benar ngajarin dari nol ya, bukan desa yang sudah existing desa perajin,” tuturnya mengingat awal-awal mengajak para warga sekitar bergabung menjadi perajin. Ia menyebutkan butuh beberapa minggu untuk berhasil merekrut orang. Anggi menambahkan bahwa butuh waktu juga baginya untuk membuat dan lalu mengajarkan teknik pembuatan tiap produknya. “Kita enggak bisa bikin produk yang terlalu jelimet karena terkait dengan quality dan quantity,” imbuhnya.

FIR_1638.JPG
Nesya Anggi di depan rumah yang dijadikan etalase produk-produk Grandis Home. (Foto: Firman Akhmadi H.)

Berdaya dan berkarya bersama lewat desa devisa

Hadirnya program desa devisa ini memberi warna baru bagi para perempuan di Desa Kasiman. Kegiatan menciptakan produk kerajinan ini bisa menjadi alternatif mata pencaharian sampingan bagi para ibu rumah tangga di sana. “Pas itu (sebelumnya) kan kerja gitu di supermarket. Pas punya si kecil ini kok bingung di rumah mau ngapain, akhirnya tahu dari saudara terus akhirnya ikut gabung ini. Di sini kan bisa disambi ngemong jadi fleksibel,” ungkap Rini menceritakan.

Mega, salah satu perajin di Grandis, yang sebelumnya merupakan perajin perabot kayu jati pun mengungkapkan alasannya akhirnya alih profesi bergabung ke Grandis. “Kalau melitur (jati) itu kan itu masih pakai modal sendiri. Nah ini kan enggak, semua bahan udah dari sini,” jelasnya. Kartini, perajin dengan usia paling senior di sana sangat bersyukur karena kegiatan ini tak hanya menambah pemasukan, tapi juga menjaga silaturahmi warga. “Selain bisa dapat duit juga, terus bisa kumpul sama temen-temen gini kan bisa bercanda jadi senang,” tukas Perempuan berusia 50 tahun ini.

Tak hanya sebagai wadah berkarya dan berdaya, hadirnya desa devisa ini dapat menambah pemasukan mereka. “Perekonomian ya, bisa membantu pokoknya buat aku. Kalau enggak ada ini ya mungkin enggak tahu tuh,” ucap Sus yang sudah bergabung di Grandis selama 8 tahun. Kehidupan keluarganya bergantung dari hasil bertani, sesekali suaminya juga menjadi kuli proyek tidak tetap selama seminggu atau dua minggu. “Otomatis penghasilan tetap kurang, Mas. Dengan adanya ini sangat membantu banget deh,” tambahnya.

LPEI dorong devisa dari penjuru desa

Cukup lama berkecimpung di dunia ekspor kerajinan home décor membuat Anggi bersyukur dengan kehadiran program desa devisa oleh LPEI. Ia merasa ada peningkatan perhatian dibanding saat dirinya baru mengikuti program CPNE saja yang terasa lebih general. Lewat program desa devisa, Ia merasa lebih dispesialkan. "Alhamdulillah banyak bantuan dari awal. Kalo di desa devisa itu mendengarkan sekali apa yang kita perlukan. Kalau komunikasinya alhamdulillah lancar. Kalau desa devisa memang seneng, bersyukurnya itu mereka tanya kita perlu apa. Jadi betul-betul tertarget, kita memang perlunya ini – dikasihnya ini.” Terang Anggi.

Saat ini Anggi tengah menunggu kehadiran mesin produksi yang memang telah mereka sampaikan kebutuhannya sebelumnya. Dari sisi peningkatan kemampuan perajin, Anggi mengaku bahwa LPEI kerap memberikan pendampingan dan pelatihan yang mereka butuhkan. Tak hanya untuk mengembangkan keahlian para perajin, tapi juga dalam diversifikasi dan pengembangan produk baru yang bisa mereka pasarkan.

Desa Kasiman Bojonegoro merupakan satu dari sekitar 1500-an desa devisa yang tersebar di seluruh penjuru Indonesia. Inisiasi dari LPEI ini mampu mengantarkan 25 produk komoditas untuk diekspor ke lebih dari 20 negara tujuan. Untuk desa terpencil seperti Kasiman bisa menjadi bagian dari gerakan itu memang sangat menantang, namun bukanlah hal yang mustahil. “Memang memulai dari titik ini tuh berat. Mungkin lebih mudah jika kita berada di tempat yang, misalkan untuk kerajinan, di sentra kerajinan memang jauh lebih mudah. Tapi bukan gak mungkin yang pasti kita terus berusaha karena nanti pasti ada jalannya. Yang membayar kita itu Allah. Yang penting kita jalan aja. Hasilnya itu urusan Allah” pesan Anggi menutup obrolan siang itu.


Dimach Putra