5 Tips Cara Survive Mengelola Keuangan di Tengah Kondisi Ekonomi yang Tidak Menentu
Kondisi ekonomi global dan nasional yang fluktuatif perlahan memengaruhi kondisi keuangan sehari-hari. Bagi para pegawai dengan penghasilan rutin, menghadapi kondisi yang serba tidak pasti ini serta kenaikan beberapa harga barang tentu memerlukan strategi baru. Berikut 5 (lima) tips mengelola keuangan di tengah kondisi ekonomi yang tidak menentu:
1. Pastikan Dana Daruratmu Aman
Memiliki dana darurat yang cukup adalah prioritas utama dalam keuangan pribadi, terutamasaat kondisi ekonomi tidak stabil. Dana ini berfungsi sebagai jaring pengaman saat terjadi risiko mendesak, seperti kehilangan pekerjaan dan pendapatan atau kemalangan lainnya.
Bagi kamu yang saat ini sudah memiliki keluarga, idealnya kamu perlu menyisihkan sekitar 5 persen dari penghasilanmu setiap bulan untuk memenuhi dana darurat.
Apabila kamu merupakan seorang kepala keluarga dan sudah memiliki anak, kamu perlu menyiapkan dana minimal 6x pengeluaran bulanan di luar dana yang kamu alokasikan untuk tabungan dan investasi. Sebagai contoh apabila pengeluaranmu setiap bulan sebesar 10 Juta per bulan, setidaknya kamu memiliki dana darurat sebesar Rp 60 juta, yang bisa kamu sisihkan dari penghasilanmu setiap bulan.
2. Jaga Kesehatan dan Optimalkan Asuransi
Ketika kondisi keuangan sedang tidak menentu, jatuh sakit tanpa proteksi bisa menjadi bencana finansial. Biaya medis yang tinggi berpotensi menguras tabungan dalam sekejap.
Sebagian pegawai umumnya sudah memiliki BPJS Kesehatan. Namun, apabila dirasa perlindungannya belum cukup, terutama untuk penyakit tertentu, tidak ada salahnya kamu mempertimbangkan tambahan asuransi kesehatan. Dana yang bisa dialokasikan untuk asuransi kesehatan ini sekitar 5-10 persen dari penghasilan bulanan.
Selain itu, investasi kesehatan juga penting dilakukan melalui olahraga rutin, konsumsi makanan bergizi, dan pola hidup sehat. Jika kondisi keuanganmu masih terbatas, pengeluaran konsumtif seperti rokok dapat mulai dikurangi agar anggaran lebih produktif.
3. Hindari Menambah Utang Baru
Di tengah kondisi ekonomi yang tidak pasti, menjaga arus kas bulanan menjadi sangat penting. Karena itu, sebaiknya hindari menambah utang baru yang tidak mendesak.
Bagi yang saat ini masih memiliki cicilan seperti kartu kredit, KPR, atau pinjaman lainnya, total pembayaran utang idealnya tidak melebihi 30 persen dari penghasilan bulanan. Jika beban cicilan sudah terlalu besar, menambah pinjaman baru justru berpotensi mengganggu kondisi keuangan dan mempersempit ruang kebutuhan pokok maupun tabungan.
Apabila ingin membeli barang tertentu, akan lebih aman jika kamu menabung terlebih dahulu dibanding mengambil pinjaman konsumtif baru. Jika saat ini kamu belum memiliki utang, sebaiknya jenis utang yang diprioritaskan hanya untuk kebutuhan produktif seperti KPR. Namun, pastikan total cicilan yang harus dibayarkan setiap bulan tidak melebihi 30 persen dari total penghasilan agar kondisi keuangan tetap sehat dan arus kas bulanan tetap terjaga.
4. Cek Kembali Biaya Langganan Bulananmu
Tanpa disadari, biaya langganan digital sering kali menjadi pengeluaran rutin yang cukup besar. Mulai dari platform hiburan, layanan streaming, hingga penyimpanan cloud untuk pekerjaan. Akumulasi biaya langganan kecil yang tidak terkontrol dapat membebani pengeluaran bulanan dan mengurangi kemampuan menabung.
Karena itu, penting untuk mengecek kembali layanan apa saja yang benar-benar digunakan dan mana yang sebenarnya sudah tidak diperlukan.
Untuk kebutuhan kerja, biaya langganan masih bisa diprioritaskan. Namun, kapasitas atau paket layanan tetap perlu disesuaikan agar lebih efisien. Sementara itu, pengeluaran hiburan sebaiknya dibatasi agar tidak melebihi 5 persen dari penghasilan bulanan.
5. Tingkatkan Tabungan dan Pilih Investasi yang Aman
Ketidakpastian ekonomi membuat setiap orang perlu lebih disiplin dalam menabung dan berinvestasi.
Idealnya, minimal 10 persen penghasilan bulanan dialokasikan untuk tabungan dan investasi. Dana tersebut bisa dipersiapkan untuk berbagai tujuan keuangan, seperti pendidikan anak, dana pensiun, atau membeli rumah.
Dalam kondisi ekonomi yang fluktuatif, instrumen investasi dengan risiko rendah dapat menjadi pilihan awal, seperti:
- Surat Berharga Negara (SBN),
- Reksa dana pasar uang, dan
- Emas.
Sementara itu, investasi dengan risiko lebih tinggi seperti saham atau reksa dana saham sebaiknya dilakukan setelah memiliki pemahaman yang cukup mengenai kondisi pasar dan profil risiko pribadi.
Kita perlu mengelola keuangan kita dengan lebih bijak supaya pengeluaran rutin bulanan kita bisa tetap terjaga, dan kita bisa mencapai tujuan keuangan yang diinginkan sesuai target dana dan jangka waktu yang diinginkan.