Alumni LPDP Ulfi Rohmawati: Menyiapkan SDM Indonesia Menguasai Teknologi Baterai
Di Morowali Sulawesi Tengah, masa depan industri tidak hanya bergerak melalui mesin, mineral, atau investasi yang besar. Tapi masa depan industri juga bergerak melalui manusia-manusia yang sedang belajar memahami proses, menguasai teknologi, dan perlahan mengambil peran lebih besar di industri strategis bangsanya sendiri.
Di salah satu simpul rantai produksi bahan baku baterai, Ulfi Rohmawati menjadi bagian dari proses tersebut.
Setiap hari, alumni penerima beasiswa LPDP asal Ponorogo ini bekerja di departemen prekursor, salah satu tahapan penting dalam pengolahan bahan baku baterai kendaraan listrik. Ia mencatat bahan baku, memantau proses reaksi, menelusuri anomali produksi, hingga membantu pelatihan bagi karyawan Indonesia yang terlibat langsung di lini produksi.
Bagi Ulfi, pekerjaannya ini bukan sekadar rutinitas teknis. Di balik catatan produksi dan proses reaksi yang ia pantau, ada harapan yang ia simpan dan lebih besar lagi. Ulfi memiliki mimpi agar semakin banyak generasi muda Indonesia memahami teknologi, menguasai proses industri, dan tidak hanya menjadi penonton dalam perkembangan sektor strategis nasional.
“Harapannya orang Indonesia bisa menguasai teknologi,” ujar Ulfi saat berbincang dengan Redaksi Majalah Media Keuangan.
Kalimat itu terlihat sederhana, tetapi memuat kesadaran yang dalam. Bagi Ulfi, bekerja di industri nikel bukan hanya tentang memasuki dunia profesional. Ia melihatnya sebagai ruang belajar, ruang alih pengetahuan, sekaligus ruang pembuktian bahwa sumber daya manusia Indonesia mampu tumbuh beriringan bersama sektor yang menentukan masa depan bangsanya.
“SDM Indonesia bisa bersaing, asalkan terjadi proses transfer ilmu pengetahuan dan teknologi,” katanya.
Dari Rumah Sederhana di Ponorogo
Jalan Ulfi menuju Morowali tidak dimulai dari kawasan industri, namun berawal dari sebuah rumah sederhana di Ponorogo, Jawa Timur.
Ulfi adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ayahnya seorang petani, sementara ibunya adalah ibu rumah tangga. Di rumah itu, pendidikan ditanamkan bukan sebagai kemewahan, melainkan sebagai kesungguhan yang harus dijalani dengan disiplin.
Ibunya secara telaten mendampingi anak-anaknya belajar. Ketika masa ujian tiba, sang ibu membangunkan mereka sejak subuh agar punya waktu lebih panjang untuk mempersiapkan diri. Selain pendampingan yang telaten dari sang Ibu, ayah Ulfi memberi kebebasan kepada anak-anaknya untuk memilih jalan hidup. Tetapi kebebasan yang harus dijalani dengan penuh tanggung jawab. Ayahnya secara tegas berpesan bahwa sekolah harus dijalani dengan sungguh-sungguh.
“Terserah kamu mau apa, tapi pendidikan itu tidak main-main. Kalau sekolah, ya sekolah yang benar,” kenang Ulfi menirukan pesan ayahnya.
Nilai itu melekat kuat. Bersama adik-adiknya, Ulfi tumbuh dalam suasana saling mendukung. Mereka bersekolah di tempat yang sama sejak SD hingga SMA. Berbagai prestasi yang sempat diraih adik-adiknya ikut memacu Ulfi untuk belajar lebih baik. Ia menyebut bahwa keluarga sebagai role model pertamanya. Dari orang tua, Ulfi belajar ketekunan. Dari adik-adiknya, Ulfi belajar bahwa keberhasilan orang terdekat dapat menjadi cambuk agar dirinya pun bisa berusaha lebih jauh.
Saat SMA, Ulfi sempat ingin melanjutkan kuliah ke luar kota. Namun keterbatasan biaya membuat pilihan itu terasa tidak mudah. Jika harus kuliah, keluarganya berharap ia memilih kampus di sekitar Ponorogo saja. Tetapi, ketika melihat kakak-kakak tingkatnya mampu menembus perguruan tinggi negeri di luar daerah, Ulfi mulai percaya bahwa jalan itu sebenarnya masih terbuka lebar untuk bisa ia tempuh.
Ulfi memperbaiki nilai rapor, mengumpulkan sertifikat prestasi, dan berusaha membuka jalan menuju pendidikan tinggi. Kesempatan itu akhirnya datang melalui beasiswa Bidikmisi. Ulfi diterima di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), mengambil jurusan Fisika Murni. Dari sana, keinginannya untuk belajar dan melihat dunia lebih luas semakin tumbuh.
Belajar dari Ruang Kelas

Sebelum mengenal industri nikel, Ulfi pernah berdiri di depan kelas sebagai guru honorer di MAN 2 Ponorogo. Saat kuliah, ia juga pernah mengikuti program Kampus Merdeka untuk mengajar di daerah Ponorogo, tepatnya di SDN Jenangan Ponorogo. Pengalaman itu membekas kuat.
Di ruang kelas yang jauh dari pusat kota itu, Ulfi melihat bahwa masa depan anak-anak tidak hanya ditentukan oleh kemampuan akademik. Akses, pendampingan keluarga, dan lingkungan belajar ikut membentuk keberanian mereka untuk bermimpi.
Sebagian murid yang ia temui tumbuh dalam situasi yang tidak mudah. Ada anak-anak yang ditinggal orang tuanya bekerja di luar negeri dan diasuh oleh keluarga lain. Ada pula anak-anak yang semangat belajarnya memerlukan dukungan lebih besar. Namun, di sisi lain Ulfi juga menyaksikan anak-anak desa yang antusias, mampu menghubungkan pelajaran dengan kehidupan sehari-hari, dan menunjukkan potensi besar ketika diberi kesempatan.
“Sebenarnya anak-anak di desa itu apabila kita kembangkan potensinya, mereka bisa bertumbuh menjadi generasi yang bagus. Mereka bisa bersaing dengan anak-anak yang ada di kota,” ujarnya.
Setelah lulus dari UNY pada 2022, Ulfi melanjutkan perannya sebagai guru honorer selama sembilan bulan. Fase itu bukan sekadar masa tunggu sebelum mengambil langkah berikutnya. Di sela waktu mengajar, ia justru mempersiapkan diri untuk peluang yang lebih besar.
Pagi hingga sore ia mengajar di sekolah. Malam hari, ia mengambil pekerjaan tambahan sebagai guru les. Di antara kesibukan itu, ia belajar meningkatkan kemampuan bahasa dan menyiapkan diri untuk mendaftar beasiswa.
Sejak awal, Ulfi memang ingin masuk ke dunia industri. Namun, saat itu ia merasa informasi dan jalan menuju industri masih terbatas. Ia belum tahu harus memulai dari mana. Melanjutkan studi melalui beasiswa LPDP kemudian menjadi salah satu jalan dan pilihan hidup yang ia lihat dapat meningkatkan kapasitas dirinya.
LPDP sebagai Titik Ungkit
Bagi Ulfi, mendapatkan beasiswa LPDP bukan keberuntungan yang datang tiba-tiba. Ia melihatnya sebagai hasil dari proses panjang yang ia bangun selama bertahun-tahun. Sertifikat, pengalaman organisasi, rekam jejak akademik, kemampuan menyusun CV, hingga cara mempresentasikan diri, menurutnya tidak bisa disiapkan hanya dalam hitungan minggu.
“Proses pendaftaran LPDP itu bukan dalam beberapa bulan baru kita siapkan, tapi merupakan akumulasi dari apa yang saya lakukan selama ini,” katanya.
Kesempatan datang ketika LPDP membuka program kerja sama dengan Central South University (CSU) di Tiongkok dan perusahaan mitra industri GEM. Program tersebut berkaitan dengan metalurgi dan industri baterai, bidang yang sejalan dengan minat Ulfi terhadap dunia industri.
Sebelumnya, ia pernah menyusun proposal penelitian tentang baterai, meskipun proposal itu belum berhasil memperoleh pendanaan. Ketika program LPDP tersebut muncul, Ulfi melihat ada kesesuaian antara minat, bekal akademik, dan peluang kontribusi.
“Kesempatan LPDP yang diberikan kepada saya, khususnya yang dari anak daerah ini, ternyata bisa membawa saya sampai ke jejak pendidikan yang benar-benar membangun kapabilitas diri saya,” ujarnya.
Bagi Ulfi, beasiswa bukan hanya pembiayaan pendidikan. Beasiswa adalah akses untuk menembus ruang yang sebelumnya terasa jauh: belajar di luar negeri, masuk ke jejaring baru, memahami industri global, dan membangun keyakinan bahwa anak daerah pun dapat mengambil peran di sektor strategis.
Membaca Jarak antara Kampus dan Industri

Pada Februari 2023, Ulfi berangkat ke Tiongkok untuk menempuh studi di Central South University (CSU). Di sana ia memasuki lingkungan akademik yang benar-benar baru. Latar belakangnya di bidang Fisika Murni membuatnya harus beradaptasi dengan dunia metalurgi dan pengolahan nikel yang sarat dengan konsep dan istilah baru.
Awalnya, Ulfi merasa tertinggal dibandingkan beberapa rekan yang telah memiliki pengalaman industri. Namun justru dari situlah proses belajarnya berkembang. Ia belajar dari dosen, teman-teman, serta pengalaman melihat bagaimana dunia kampus terhubung erat dengan kebutuhan industri.
Salah satu hal yang paling membekas baginya adalah kedekatan antara riset akademik dan dunia industri di Tiongkok. Banyak dosen yang terlibat langsung dalam proyek industri sehingga penelitian tidak berhenti sebagai pengetahuan di ruang kelas, melainkan menjawab kebutuhan nyata di sektor produksi.
Program yang diikuti Ulfi merupakan kolaborasi antara LPDP, Central South University, dan perusahaan GEM. Selain mengikuti perkuliahan, peserta juga memperoleh pengalaman praktik di lingkungan industri dan pusat penelitian perusahaan.
Melalui pengalaman tersebut, Ulfi melihat bagaimana pendidikan dapat dirancang lebih dekat dengan kebutuhan industri. Mahasiswa tidak hanya belajar teori, tetapi juga memahami bagaimana ilmu pengetahuan diterapkan dalam proses produksi dan pengembangan teknologi.
“Penelitian di kampus bisa relate dengan apa yang dibutuhkan industri. Menurut saya, ini penting untuk diterapkan di Indonesia juga,” katanya.
Di Simpul Bahan Baku Baterai

Saat ini, Ulfi bekerja di departemen prekursor. Dalam bahasa sederhana, departemen ini berada pada tahap ketika bahan setengah jadi yang telah mengandung nikel diolah lebih lanjut menjadi bahan baku baterai atau precursor NCM. Dalam rantai industri nikel, tahap tersebut menjadi bagian penting dalam peningkatan nilai tambah.
Peran Ulfi sehari-hari sangat konkret. Ia mencatat bahan baku yang masuk ke departemen, memantau durasi proses reaksi, mencatat jumlah output produksi, serta ikut membantu jika ada anomali proses yang memerlukan eksperimen sederhana di skala laboratorium.
Di luar itu, ia juga terlibat dalam pelatihan bagi kru Indonesia.
Kru yang dimaksud bukan sekadar pekerja pendukung. Mereka menjalankan proses inti produksi seperti mengambil sampel, memasukkan bahan ke reaktor, menjalankan reaktor, mencuci material, hingga memastikan tahapan produksi berjalan sesuai prosedur. Dalam pelatihan, Ulfi biasanya berkolaborasi dengan ketua tim dari Tiongkok agar materi yang disampaikan kepada kru Indonesia semakin kaya dan tepat.
“Tupoksi utama saya adalah memberikan pelatihan kepada karyawan Indonesia terkait teknologi yang ada di departemen,” ujar Ulfi.
Ulfi menyebut ada 46 kru Indonesia yang berada dalam lingkup tersebut. Bagi Ulfi, proses ini bukan semata urusan pekerjaan. Ia melihatnya sebagai bagian dari transfer pengetahuan. Harapannya, semakin banyak karyawan Indonesia memahami proses, menguasai teknologi, dan mampu mengambil tanggung jawab lebih besar di kemudian hari.
Setiap Juni, dunia memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Momentum itu mengingatkan bahwa masa depan tidak hanya menuntut pertumbuhan ekonomi, tetapi juga cara baru dalam mengelola sumber daya, membangun industri, dan menyiapkan energi yang lebih berkelanjutan. Dalam percakapan global itu, baterai dan kendaraan listrik kerap hadir sebagai bagian dari transisi menuju sistem energi yang lebih rendah emisi.
Namun, bagi Indonesia, percakapan tersebut tidak berhenti pada teknologi. Di balik bahan baku baterai, ada pertanyaan yang lebih mendasar. Apakah anak-anak bangsa ikut memahami prosesnya, menguasai pengetahuannya, dan mengambil peran dalam rantai nilai yang sedang tumbuh?
Di titik itulah kisah Ulfi menemukan relevansinya. Ia tidak sedang berdiri di luar agenda besar itu. Ia berada di salah satu ruang kecil di dalamnya untuk mendampingi proses produksi, belajar dari praktik industri, dan ikut memastikan pengetahuan teknis tidak hanya berputar di tangan segelintir orang saja, tetapi juga perlahan dapat dikuasai oleh lebih banyak SDM Indonesia.
Industri Tumbuh, SDM Harus Ikut Tumbuh

Indonesia memiliki potensi nikel yang besar. Dalam beberapa tahun terakhir, pengolahan nikel tidak lagi berhenti pada bahan mentah. Ulfi melihat prosesnya bergerak dari raw material menuju bahan setengah jadi, lalu terus naik menjadi bahan baku baterai. Dengan meningkatnya tahapan pengolahan, nilai ekonomi nikel yang dihasilkan juga berpotensi bertambah.
Namun, bagi Ulfi, kemajuan industri tidak boleh hanya diukur dari volume produksi atau nilai tambah komoditas. Ada pertanyaan lain yang tak kalah penting yaitu sejauh mana SDM Indonesia ikut naik kelas di dalamnya?
“Ketika industri ini berkembang dengan cukup pesat, seharusnya SDM-nya juga ikut bertumbuh,” katanya.
Ia berharap lebih banyak orang Indonesia menjadi tenaga ahli, masuk ke sistem manajerial, dan menguasai teknologi dalam industri nikel maupun baterai. Bagi Ulfi, kehadiran teknologi dan investasi harus berjalan beriringan dengan penguatan kapasitas manusia Indonesia.
“Yang penting itu bagaimana Indonesia membangun SDM. Ke depan, pengelolaan nikel dan industri baterai ini bisa diambil alih oleh anak-anak bangsa. Bukan lagi kita yang hanya sekadar menjadi kru,” ujarnya.
Pernyataan itu bukan berarti Ulfi menutup diri terhadap kerja sama internasional. Sebaliknya, ia memahami bahwa industri modern tumbuh melalui kolaborasi, pembelajaran, dan pertukaran pengetahuan. Namun, kolaborasi akan menjadi lebih bermakna jika diikuti proses alih kemampuan yang nyata.
Di sanalah Ulfi melihat ruang kontribusinya.
Perempuan di Industri yang Teknis

Masuk ke industri nikel bukan tanpa tantangan. Saat magang, Ulfi untuk pertama kalinya masuk ke area tambang dan menangani topik mineral processing, yaitu pengelolaan atau persiapan bahan mentah sebelum masuk ke tahap proses berikutnya. Lingkungan itu benar-benar baru baginya. Sebagian pekerjaan juga menuntut ketahanan fisik dan lebih banyak dilakukan laki-laki.
Ulfi mengaku proses adaptasi awal tidak selalu mudah. Ia pernah merasa perkembangannya lebih lambat dibanding teman-teman lain. Hampir setiap minggu, ketika harus menyampaikan laporan perkembangan kepada supervisor, ia merasa tertinggal dan sempat menangis. Namun, dukungan teman-temannya dan keterbukaan supervisor membuatnya perlahan mampu memahami proses.
Pengalaman itu membentuk keyakinannya tentang perempuan di industri teknis. Menurut Ulfi, selama seseorang memahami proses dan memiliki kapabilitas, perbedaan laki-laki dan perempuan tidak seharusnya menjadi pembatas.
“Selagi kita paham dengan apa yang ada di industri, selagi kita memiliki kapabilitas, sebenarnya tidak ada perbedaan antara laki-laki sama perempuan,” katanya.
Pernyataan itu menjadi penting karena menunjukkan bahwa industri strategis membuka ruang bagi talenta dari berbagai latar belakang. Termasuk perempuan muda dari daerah seperti dirinya yang berani masuk ke ruang-ruang teknis yang selama ini kerap dianggap jauh.
Makna Kontribusi di Ruang Industri
Sebagai alumni LPDP, Ulfi menyadari ada pertanyaan yang mungkin muncul. Mengapa penerima beasiswa negara bekerja di perusahaan multikultural, bukan langsung di pemerintahan atau lembaga negara?
Bagi Ulfi, kontribusi tidak selalu hadir dalam bentuk yang sama. Ia dapat dilakukan melalui banyak jalur, termasuk di ruang industri.
Kontribusi yang paling dekat baginya saat ini adalah membantu meningkatkan kapabilitas SDM Indonesia di tempatnya bekerja. Ia tidak melebih-lebihkan perannya. Ia menyebutnya sebagai hal kecil. Namun, dari hal-hal kecil itulah proses besar sering dimulai. Satu pelatihan, satu pemahaman baru, satu kru yang semakin terampil, dan satu proses yang semakin dikuasai.
“Kita tetap bisa berkontribusi dengan cara meningkatkan kapabilitas SDM yang ada di sini,” katanya.
Di titik ini, kisah Ulfi menjadi lebih dari cerita mobilitas sosial. Ia menjadi gambaran tentang bagaimana investasi negara pada pendidikan dapat masuk ke ruang-ruang pembangunan yang sangat konkret. LPDP tidak hanya mengantar seseorang meraih gelar, tetapi juga menyiapkan manusia yang mampu membawa ilmu ke sektor yang membutuhkan.
Dari Penguasaan Teknologi Menuju Kedaulatan SDM

Indonesia memiliki cadangan nikel yang besar dan tengah membangun rantai industri baterai yang semakin terintegrasi. Namun bagi Ulfi, keberhasilan hilirisasi tidak hanya diukur dari meningkatnya nilai tambah komoditas atau besarnya investasi yang masuk.
Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah sumber daya manusia Indonesia ikut bertumbuh bersama industri tersebut.
“Ketika industri ini berkembang dengan cukup pesat, seharusnya SDM-nya juga ikut bertumbuh,” katanya.
Ia berharap semakin banyak generasi muda Indonesia yang menjadi tenaga ahli, mengisi posisi strategis, dan menguasai teknologi yang menopang industri masa depan Indonesia.
Perjalanan Ulfi menunjukkan bahwa investasi negara melalui LPDP tidak berhenti pada pemberian beasiswa atau gelar akademik. Investasi itu terus berlanjut melalui manusia-manusia yang membawa pengetahuan ke ruang-ruang produksi, ruang inovasi, dan ruang pembangunan yang nyata.
Dari rumah sederhana di Ponorogo, kampus di Yogyakarta, ruang belajar di Tiongkok, hingga kawasan industri di Morowali, Ulfi membuktikan bahwa kesempatan pendidikan dapat menjadi jembatan menuju penguasaan teknologi.
Di balik rantai pasok nikel dan baterai yang terus tumbuh, ada rantai kesempatan yang bekerja lebih sunyi. Ulfi adalah salah satu mata rantainya.