Melinda Damayanti: Anak Pesisir Penerima Beasiswa LPDP dan Founder Kainnesia Penggerak Tenun Nusantara
Melinda Damayanti tak pernah membayangkan bahwa langkah kecilnya dari pesisir Cilacap akan membawanya menjadi akademisi, penerima beasiswa LPDP, sekaligus pendiri brand tenun populer Kainnesia. Lahir dari keluarga sederhana—ayah seorang koki hotel dan ibu rumah tangga—Melinda tumbuh dengan pesan tunggal dari orang tuanya: sekolah setinggi mungkin. Pesan itu menjadi pendorong utama perjalanan pendidikannya.
Setelah lulus SMA, Melinda melanjutkan studi ke Universitas Negeri Semarang (UNNES) mengambil jurusan Geografi. Ia jatuh cinta pada geografi karena aplikatif; perencanaan tata ruang, mitigasi bencana, hingga perencanaan pembangunan. Kecintaan itu dibuktikan sejak SMA ketika ia meraih nilai sempurna 10 pada ujian nasional Geografi.
Jalan Menjadi Seorang Akademisi
Melinda kemudian melanjutkan pendidikan pascasarjana di Universitas Gadjah Mada (UGM) dengan fokus pada pengelolaan sumber daya pesisir—sejalan dengan latar belakangnya sebagai anak pesisir selatan Jawa. Semasa kuliah S2, ia mendapat banyak kesempatan dalam program internasional antara lain ia bergabung dalam program non-degree di University of the Philippines Los Baños (2017), Summer School di Universiti Putra Malaysia (2018), serta beasiswa Erasmus di Göttingen, Jerman (2019). Pengalaman itulah yang membentuk cita-citanya untuk menjadi seorang akademisi.
Selepas pascasarjana, Melinda pernah mengajar di lembaga kursus, menjadi guru SMA internasional, hingga akhirnya menjadi dosen di Universitas Budi Luhur Jakarta.
“Belajar itu membebaskan,” ungkap Melinda suatu ketika, “dan berbagi ilmu menjadikannya lengkap.”
LPDP membuka pintu itu. Melinda kemudian kembali ke UGM untuk meraih gelar doktor. Baginya, LPDP adalah kesempatan yang membuka pintu bagi generasi yang ingin menempuh pendidikan tinggi. Keinginannya untuk terus belajar akhirnya membawanya mendaftar beasiswa LPDP. Baginya, LPDP adalah kesempatan yang membuka pintu bagi generasi yang ingin menempuh pendidikan tinggi.
Membangun Bisnis Tenun
Bagi Melinda, hidup tidak pernah berjalan satu jalur. Di sela mengajar dan meneliti, Melinda akhirnya memilih jalan kedua—sebuah jalan yang tak semua akademisi berani tempuh: wirausaha.
Meski memiliki aktivitas akademik yang padat, Melinda justru menemukan peluang di bidang wirausaha. Ia memulai usaha kecil berupa jasa titip kain tenun dari berbagai daerah. Dari usaha itulah muncul gagasan membangun Kainnesia—sebuah brand yang kini dikenal luas sebagai produsen tenun dengan sentuhan modern.
Awalnya, ia dan suaminya sempat menemui jalan buntu. Penjualan stagnan, inovasi terasa minim, dan modal tak besar. Namun Melinda mengambil langkah baru: sang suami fokus pada produksi kain tenun, sementara ia mengolah kain menjadi produk siap pakai seperti pakaian, tas, dan sepatu. Perubahan strategi ini membuka jalan baru bagi bisnis mereka. “Bagi saya, bisnis itu bukan soal berapa banyak kita dapat, tapi berapa banyak yang bisa kita berikan,” tuturnya.
Kini Kainnesia bekerja sama dengan lebih dari 80 penenun dari Lampung, NTT, dan berbagai daerah lain. Ada pula 30 penjahit lokal di Yogyakarta dan delapan staf inti yang membantu operasional. Melinda bahkan sering mendapat ucapan terima kasih dari para penenun karena hasil tenun mereka bisa membantu membayar sekolah anak atau memenuhi kebutuhan penting lainnya. Momen-momen itu yang membuat Melinda semakin yakin bahwa bisnis harus memiliki nilai kebermanfaatan.
Kainnesia pun terus tumbuh. Ia menjadi mitra binaan BUMN, mengikuti berbagai pameran besar, hingga menembus pasar ekspor Asia Tenggara dan Eropa. Sebanyak 80% penjualan kini dilakukan secara daring melalui marketplace. Pencapaian ini menunjukkan bahwa warisan budaya bisa diterima pasar modern. Pada 2025, sang suami, Nur Salam, mendapat penghargaan UMKM BUMN Award. Kainnesia juga menjadi juara Pertapreneur Aggregator Pertamina yang menegaskan posisi mereka sebagai UMKM kreatif yang naik kelas.
Sekolah Tenun Swantara
Tak berhenti pada bisnis, Melinda juga mendirikan Sekolah Wastra Nusantara (Swantara)—ruang belajar yang mengajarkan teknik dasar menenun kepada masyarakat. Program dua hari satu malam ini berpindah-pindah lokasi dan diikuti peserta dari beragam latar belakang. Mulai dari mahasiswa, dosen, guru, hingga masyarakat umum. Ia tidak khawatir soal persaingan. “Semakin banyak yang menenun, semakin lama budaya kita hidup,” katanya.
Di balik semua pencapaian itu, Melinda tetap menjalankan perannya sebagai istri dan ibu. Ia mengatur waktu dengan ketat dan menjaga komunikasi dengan suaminya, terutama ketika harus menjalankan tiga peran sekaligus: mengajar, berwirausaha, dan menempuh studi S3. “Kunci semuanya adalah dukungan keluarga dan manajemen waktu,” ungkapnya.
Melinda punya mimpi besar setelah lulus S3: menjadi akademisi penuh, mengembangkan penelitian, dan membangun sekolah gratis di kampung halamannya agar anak-anak pesisir Cilacap bisa menjangkau pendidikan yang lebih tinggi. Ia juga bermimpi membawa Kainnesia semakin dikenal di pasar global agar tenun Indonesia bisa bersanding dengan batik sebagai ikon budaya nasional.
Di akhir cerita, Melinda tak lupa menyampaikan rasa terima kasihnya atas amanah beasiswa yang ia terima. “Dana LPDP adalah amanah rakyat. Saya pastikan manfaatnya kembali kepada masyarakat,” ujarnya dengan penuh syukur. Perjalanan Melinda adalah bukti bahwa asal-usul sederhana bukan batasan, melainkan fondasi untuk melangkah lebih jauh—selama seseorang memiliki tekad, komitmen, dan hati yang ingin memberi.