Menyalakan Harapan Pesisir bersama Rubalang dan Rukmana, Alumni LPDP dari Belanda
Indonesia terkenal sebagai negara maritim. Luas laut Indonesia yang mencapai 62% dari keseluruhan wilayah Indonesia menyimpan berbagai potensi yang bisa dimanfaatkan untuk kemakmuran rakyatnya. Sayangnya, banyak kekayaan alam yang belum bisa dioptimalkan. Lagi-lagi pendidikan menjadi masalah dasar yang masih sulit teratasi. Luasnya wilayah Indonesia yang terdiri dari belasan ribu pulau membuat pemerataan di berbagai bidang masih jadi pekerjaan rumah pemerintah, terutama di daerah pesisir. Rumah Bahari Gemilang hadir untuk sedikit membantu dengan segala keterbatasan yang mereka miliki, untuk bisa berperan dalam proses pembangunan masyarakat pesisir terutama di Sulawesi Tengah (Sulteng).
Perempuan dari Tolitoli
Dia adalah Rukmana, sosok perempuan yang berasal dari Tolitoli, salah satu kabupaten berjarak sekitar 500 km dari kota Palu, Ibukota Sulawesi Tengah (Sulteng). Rukmana adalah salah satu generasi muda Indonesia yang berhasil mencicipi pendidikan di Belanda, tepatnya di Wageningen University lewat beasiswa LPDP. Nana, begitu teman-teman menyapanya, memilih jurusan Ilmu Lingkungan untuk menyempurnakan gelar masternya. Sebelumnya, Nana berkuliah di Unversitas Tadulako, salah satu perguruan tinggi ternama di Sulawesi, dan mengambil program Kimia di Fakultas Matematika Ilmu Pengetahuan Alam. Sedikit “menyimpang”, namun dengan alasan yang kuat.
Cerita ini berawal saat Nana berkuliah. Ketika memilih kuliah opsional yang disediakan kampusnya, Nana lebih tertarik untuk mempelajari kimia lingkungan dibanding mata kuliah lain. Dari situlah Nana belajar tentang pengelolaan sampah, remediasi, dan banyak hal lain yang berhubungan dengan lingkungan. Semasa kuliah, Nana juga terjun ke dunia kerelawanan. Dia bergabung dengan beberapa komunitas di Kota Palu. Pada 2014 berawal dari kelompok PKM (Pengabdian Kepada Masyarakat), Nana dan tujuh rekannya membuat Rumah Bahari Gemilang (Rubalang), yang awalnya Rubalang hanya rumah baca di desa kecil bernama Lero, dekat Kota Palu.
Selain rumah baca, Rubalang kemudian juga melakukan kegiatan yang mereka sebut Sekolah Pemuda Penggerak. “Ini tuh konsepnya kita akan tinggal bersama masyarakat yang ada di sana atau live in sembari kita mencoba untuk menggali lebih dalam apa sih permasalahan yang ada di keluarga tersebut,” jelas Nana. Dari situlah Nana menyadari banyak permasalahan yang timbul, salah satunya adalah pendidikan. Nana menemukan fakta bahwa banyak orang tua masih menganggap pendidikan itu tidak diperlukan, mereka lebih mementingkan anaknya untuk bisa mencari nafkah. Muncul juga masalah seperti anak yang ingin sekolah namun tidak memiliki biaya.
Refleksi
“Selain kita melaksanakan program live in tadi itu, kita juga mengadakan kegiatan pembelajaran bersama anak-anak di sana, misalnya (belajar) mengolah sampah atau semacam kelas inspirasi,” jelas perempuan berhijab itu. Selama satu tahun, Nana dan rekan-rekannya mencoba memecahkan masalah dengan program-program yang mereka buat. Selain itu, mereka juga mengembangkannya ke daerah lain yang sekiranya mereka bisa memberikan dampak dan kedatangan mereka dapat bermanfaat. Sebut saja Pulau Kabetan di Kabupaten Tolitoli, gugusan pulau di daerah Morowali, atau kepulauan Banggai.
Bencana hebat terjadi di Palu pada 28 September 2018. Korban jiwa berjatuhan, banyak bangunan juga yang terdampak. Rubalang berubah menjadi salah satu tempat penyaluran bantuan bagi para korban. Hal itu juga menjadi titik balik bagi Nana dan Rubalang untuk melakukan refleksi dan mencoba mencari tahu bagaimana fokus mereka ke depannya. Daerah pesisir jadi daerah dengan kerusakan terparah saat bencana. Selain itu, Nana melihat daerah pesisir juga punya masalah yang kompleks, dari kurangnya kualitas SDM, masalah lingkungan seperti pengelolaan sampah, dan berbagai masalah lainnya. “Nah dari situ Rubalang menjadi, oke kita akan fokus ke pesisir. Lalu kita akan fokus untuk mengedukasi mereka mengenai pentingnya menjaga lingkungan gitu, terutama ya pesisir tadi,” terang pemilik gelar sarjana kimia pada 2017 lalu.
Merasa masih banyak hal yang perlu untuk dipelajari, Nana membulatkan tekad untuk mencari jalan melanjutkan pendidikannya. Nana ingin lebih banyak tahu tentang lingkungan. Banyaknya informasi tentang LPDP membuat Nana melabuhkan pilihannya di beasiswa plat merah tersebut. Setelah lulus kuliah sarjana, dalam persiapan meraih beasiswanya Nana menuju Pare untuk lebih banyak belajar Bahasa Inggris. Orangtuanya mewanti-wanti jika mereka hanya bisa membiayai kursusnya untuk tiga bulan saja, setelahnya Nana harus mencukupi kebutuhannya sendiri.

Hilang Arah di Pare
Target tiga bulan yang Nana canangkan ternyata tak bisa ditepati. Nana merasa masih banyak yang harus dia pelajari. “Tetapi ternyata ketika sampai di sana dengan saya yang bahasa Inggrisnya masih nol, jadinya wah 3 bulan enggak cukup ini. Jadi tuh kayak mikir cari cara, saya harus ngapain nih biar bisa survive di sini,” kenang Nana. Berawal dari hobi menulis yang dia tuangkan di blog pribadinya, kemampuanya dilirik pengurus kursus Bahasa Inggris tempatnya belajar. Nana diminta untuk menulis di blog lembaga belajarnya. Dengan imbalan kursusnya bisa tanpa bayaran, Nana yang sedang memutar otak untuk survive langsung mengiyakan. Baru sebulan dia bekerja, Nana malah diminta menjadi pengajar untuk kelas basic, lagi-lagi dengan imbalan bisa tinggal di asrama secara cuma-cuma yang langsung dia iyakan.
Namun, bukan tanpa resiko, Nana menjadi tidak fokus karena harus membagi waktu antara belajar dan peran sebagai pengajar. Hampir lupa dengan tujuan awalnya ke Pare, Nana sempat dilema, “Sampai akhirnya itu tes, pada waktu itu kan daftarnya afirmasi. Saya daftar TOEFL aja nih. Dari itu kebetulan skornya itu kayak bisa buat keluar (mendaftar ke luar negeri), jadi daftar sekalian buat yang keluar,” cerita gadis berkacamata itu. Hampir 2 tahun menghabiskan waktu di Pare, pada 2019 Nana mencoba apply beasiswa LPDP. Setelah membereskan seluruh administrasi, ia juga memutuskan untuk pulang ke Tolitoli untuk istirahat sejenak.
Lika Liku Meraih Mimpi
Sebulan kemudian dia mendapat pesan jika dirinya lolos untuk tahap berikutnya di Makassar. “Dan itu parahnya lagi saya baru mengetahui kalau saya itu lolos administrasi itu seminggu sebelum jadwal tes berikutnya. Jadi kayak panik. Kebetulan lagi itu di kampung enggak ada sinyal. Jadi kalau kita butuh internet untuk ngapa-ngapain, kita tuh kayak cuma ada 2 spot. Satunya itu di sekitaran Tanjung, itu sekitar 3 km dari kampung, atau opsi yang satunya itu sekitar tujuh kilometer dari kampung itu perbatasan antar desa,” terangnya. Kebetulan Nana sedang berada di Kota waktu itu karena ada saudaranya yang sakit, dan saat itulah semua email masuk. Nana langsung memutuskan untuk kembali ke rumahnya di desa dan bersiap-siap.
Kampung Nana berada di Desa Pinjan Kecamatan Tolitoli Utara, Kabupaten Tolitoli atau sekitar 500km dari Kota Palu. Dari kampungnya dia harus menempuh perjalanan sekitar 3 jam ke Ibukota Kabupaten, kemudian melanjutkan perjalanan dengan travel ke Palu dengan jarak 350-an Km, baru kemudian melanjutkan dengan bus ke Makassar kurang lebih 17 jam. Perjuangannya membuahkan hasil, Nana berhasil mendapatkan beasiswa ke Wageningen University jurusan Environmental Sciences. Wageningen saat ini memang yang terbaik untuk pendidikan ilmu lingkungannya.
Tak lama setelah dinyatakan lulus di 2019, pandemi Covid-19 melanda dunia. Banyak hal terimbas akibatnya, tak terkecuali perkuliahan yang harusnya Nana jalani. Awalnya saat menjalani persiapan keberangkatan, Nana yang saat itu berada di Jakarta tak bisa kembali ke kampungnya karena terjadi lockdown, padahal kelas persiapan dijadikan daring. Ketika teman-temannya pulang, Nana harus terjebak di Jakarta. Selain itu, tak ada lembaga yang buka untuk dirinya bisa melaksanakan tes IELTS. Puncaknya, keberangkatannya ke Belanda harus diundur hingga Januari 2021.

Terpuruk di Negeri Tanah Rendah
Saat Nana pertama kali datang ke Belanda, Nana sempat mengalami kesulitan, “di tiga bulan pertama, saya mengalami entah sindrom apa namanya, saya enggak mau ketemu orang karena takut ditanyain,” terang Nana. Hal itu cukup beralasan. Pada periode awal, Nana mengalami culture shock dengan sistem pendidikan di Wageningen, mulai dari kendala Bahasa, perkuliahan daring, yang membuat ada mata kuliah yang tidak lulus, sehingga membuat Nana merasa minder dan merasa tak layak berada disana. Selain itu bayang-bayang deportasi jika tidak mencapai SKS minimum juga sangat menghantuinya.
Untungnya, ada study advisor yang disediakan cuma-cuma oleh kampus yang membantu permasalahan mahasiswa. “Jadi kita bebas bercerita apapun ke mereka, mau konsultasi juga oke, permasalahan akademis oke. Pun kalau misalnya ada masalah yang dia udah ‘nggak bisa handle, kampus juga menyediakan psikolog yang kalau misal ada yang ingin dikonsultasikan bisa banget ke situ. Itu sangat membantu,” kata Nana.
3 bulan lamanya Nana harus menjalani masa tersulitnya, namun setelah itu Nana sudah bisa berdamai dengan dirinya dan mampu beradaptasi dengan sistem pendidikannya. Tahun 2023, Nana berhasil menyelesaikan study ilmu lingkungan. Sepulangnya dari Belanda, Nana berfokus lagi pada Rubalang.
Menyalakan Harapan Pesisir
Kegiatan Rubalang saat ini kurang lebih sama dengan apa yang sudah dilakukan sebelumnya. Namun di beberapa tempat ada kegiatan baru seperti Rubalang The Explorer. “Banyak anak muda yang mereka itu tertarik untuk mengikuti kegiatan-kegiatan. Akhirnya kita ajak mereka, kemudian kita mengunjungi satu pulau. Di sana mereka tidak sekedar jalan-jalan, tetapi ada aktivitas-aktivitas lain yang mereka lakukan. Jadi jalan-jalan sambil berdampak positif,” terang Co-Founder Yayasan Rumah Bahari Gemilang Nusantara ini.
Merasa masih terlalu umum, Rubalang bertransformasi untuk lebih berfokus pada lingkungan yaitu pada pendidikan maritim dan konservasi melalui pelibatan anak muda. Itu juga yang mendasari Nana ingin belajar lebih banyak pada ilmu lingkungan. “Apa gunanya kan saya jauh-jauh kuliah keluar, tapi setelah balik saya enggak bisa apa-apa. Ilmunya enggak bermanfaat gitu kan,” kata Nana. “Jadi itu kan kadang saya malu gitu kan kalau misalnya lulusan dari luar, tapi apa yang sudah saya perbuat? Jadinya kayak motivasi juga bahwa, oke ini kita harus bisa memberi manfaat lebih ke orang-orang yang di sekitar kita. Lupakan kamu lulus dari mana, tapi bagaimana cara kamu agar kamu bisa memanfaatkan pengetahuan yang kamu dapatkan di tempat kamu berada sekarang,” lanjutnya.
Rubalang yang telah berganti status pada 2018 menjadi Yayasan itu juga berupaya untuk bisa memberikan lebih. Salah satunya yaitu membuat departemen khusus yang bertugas mengembangkan modul pendidikan maritim dan konservasi, dan telah menghasilkan sebuah buku modul pada 2023 lalu. Pada Februari 2024, Rubalang bermitra dengan PT Amati Karya Indonesia yang merupakan mitra dari program MSIB serta beberapa mahasiswa. Salah satu program yang mereka lakukan adalah mengimplementasikan modul ini di salah satu SMP yang ada di pulau Pangalangsiang.
“Ke depannya harapannya pendidikan konservasi dan maritim ini bisa dimasukkan dalam kurikulum Pendidikan. Tetapi kita sadar itu bukan proses yang mudah,” harap Nana. Dan program tadi menjadi pilot project yang nantinya respon dan impact-nya dijadikan sebagai bahan evaluasi modul Rubalang ke depannya. Untuk saat ini Rubalang berfokus pada daerah Sulteng untuk selanjutnya bisa menjangkau daerah yang lebih luas.

Mimpi Besar untuk Indonesia
Nana mengaku mengembangkan Rubalang memang tidak mudah. Sebagai contoh timnya yang saat ini berjumlah 15 orang, selalu ada yang masuk dan keluar. Hanya dua orang saja yang bertahan sejak awal dibentuk pada 2014 lalu. Hal yang wajar untuk organisasi filantropi. Namun dengan segala dinamika yang ada, Rubalang tetap menunjukkan eksistensinya. Salah satunya ketika AVPN Asia mencoba membuat pilot project untuk Global Leadership Academy dengan mengundang beberapa komunitas dari Indonesia, Brazil, India, serta Afrika, Rubalang jadi salah satu perwakilan Indonesia bersama 4 komunitas lainnya.
Melalui Rubalang, Nana berharap bahwa teman-teman yang ada di dalamnya membawa banyak manfaat. “Jadi bukan hanya kita yang mencoba untuk bermanfaat untuk orang lain, tapi bagaimana caranya rumah ini juga menjadi tempat kita untuk mengembangkan potensi yang kita punya,” harap Nana. Saat ini Nana mendorong teman-temannya untuk tidak hanya stuck di kondisi saat ini, namun harus terus berkembang, seperti melanjutkan pendidikan. “Untuk menciptakan sesuatu yang lebih baik, kualitas kita harus ditingkatkan juga. Dan itu bisa kita dapatkan dari pendidikan,” kata perempuan yang mimpinya ingin melanjutkan ke jenjang doktor ini.
Nana juga berharap ke depannya dia dan teman-temannya mampu membuat berbagai macam modul pendidikan konservasi maritim lainnya dan dapat diimplementasikan di sekolah-sekolah serta mampu menjangkau daerah yang lebih luas lagi. “Ayo kita sama-sama mengembangkan ini karena pendidikan maritim itu sangat penting,” ujar Nana. “Jadi kita perlu ada untuk mengedukasi mereka dan kita menggunakan modul yang kita punya. Kemudian Rubalang bisa berkembang lagi ke depannya, bisa memberikan lebih banyak manfaat,” lanjutnya lagi.
“Indonesia itu kan negara maritim ya. Banyak pulau-pulau yang ada di dalamnya bahkan 70% dari Indonesia adalah pesisir. Jadi kita sangat kaya akan potensi kelautan tersebut. Dan sebuah fakta juga bahwa laut sebenarnya adalah sumber oksigen yang cukup banyak sehingga sebenarnya dengan kita menjaga laut, kita menjaga kehidupan. Jadi pesan saya buat semuanya adalah ayo kita jaga laut karena laut adalah masa depan semua,” pungkasnya.