Pemikiran Ekonomi Sumitro Djojohadikusumo: Ilmu, Integritas, dan Pengabdian untuk Bangsa

14 Oktober 2025
OLEH: Gumilar Rachdityo Mumpuni dan Rukmi Hapsari
Pemikiran Ekonomi Sumitro Djojohadikusumo: Ilmu, Integritas, dan Pengabdian untuk Bangsa
 

“Tersenyumlah dalam menghadapi kemalangan, beranilah menantang bahaya, tegarlah dalam kekalahan, selalu rendah hati akan kemenangan.” — Sumitro Djojohadikusumo 

Sumitro Djojohadikusumo, salah satu ekonom Indonesia terkemuka, lahir di Kebumen pada 29 Mei 1917. Ia dikenal sebagai perintis pemikiran ekonomi nasional yang berpijak pada moralitas, keadilan sosial, dan keberpihakan pada rakyat kecil. Putra dari Raden Mas Margono Djojohadikusumo—pendiri Bank Negara Indonesia (BNI)—dan Raden Ayu Siti Katoemi Wirodihardjo ini tumbuh dalam keluarga Jawa yang menjunjung tinggi pendidikan dan diskusi intelektual.

Ayahnya, Margono, pernah menjabat sebagai Inspecteur van het Volkscredietwezen, lembaga yang kemudian menjadi Bank Rakyat Indonesia (BRI). Dari sang ayah, Sumitro mewarisi logika berpikir yang tajam dan kejujuran moral, sementara dari ibunya ia belajar empati dan kepekaan sosial. Perpaduan keduanya membentuk fondasi nilai yang menjadi pegangan Sumitro sepanjang hidupnya: ilmu harus diabdikan untuk bangsa.

 

Akar Pemikiran Ekonomi Sumitro

Kedudukan sosial dan kiprah profesional ayahnya berpengaruh besar pada arah hidup Sumitro, termasuk pilihannya menekuni ilmu ekonomi. Sejak mahasiswa, ia aktif menulis di berbagai media. Dalam buku semi-dokumenter “In het land van de overheerser: Indonesiërs in Nederland 1600–1950,” Sumitro tercatat sebagai kontributor majalah Soeara Roepi, terbitan Roekoen Pelajar Indonesia di Belanda (didirikan 1936). Bersama pamannya, Saroso, ia rutin menulis artikel ekonomi “vol met cijfers, tabellen en voetnoten” – yang penuh angka, tabel, dan catatan kaki. Tulisan-tulisan itu bukan sekadar latihan akademis, melainkan cara seorang anak muda dari Hindia Belanda bersuara di tengah dunia yang kerap meremehkannya.

Rumah keluarga Djojohadikusumo di masa kecil bukan hanya tempat tinggal, melainkan ruang hidup yang penuh percakapan. Diskusi-diskusi intelektual kerap hadir di meja makan atau ruang tamu, membuat Sumitro kecil terbiasa mendengar dan bertanya. Ia tumbuh di tengah suasana yang meyakinkan bahwa ilmu bukan sekadar pengetahuan, tetapi bekal untuk mengabdi. Bagi Sumitro kecil, rumah juga berperan sebagai ruang diskusi, tempat ide-ide besar bertumbuh dari percakapan sehari-hari.

Tahun 1935, Sumitro lulus dari sekolah menengah atas Belanda (Hogere Burgerschool – HBS) di Batavia. Di masa ini, ia mulai membedakan antara sekadar menjadi pelajar cerdas dan menjadi manusia yang bermanfaat. Kegelisahan Sumitro kian kuat. Pertanyaan mengenai mengapa bangsanya miskin di tanah yang kaya? Mengapa sistem ekonomi kolonial begitu timpang? mengusik hatinya.

“Ilmu pengetahuan tidak ada artinya jika tidak dipakai untuk mengangkat harkat bangsa sendiri,” ucap Sumitro suatu kali. Tekad tersebut kemudian menjadi kompas hidup Sumitro.

Menuntut Ilmu di Eropa, Mengasah Jiwa Nasionalis

Dengan beasiswa, Sumitro berlayar ke Belanda untuk menempuh studi di Rotterdam School of Economics. Rotterdam bukan sekadar kota perantauan, tetapi laboratorium intelektual yang menempanya. Di sana, ia belajar di antara dinginnya salju Eropa dan dinginnya perlakuan diskriminatif terhadap ‘pribumi’ dari Hindia Belanda.

Namun, alih-alih patah hati, pengalaman itu justru menguatkan daya juangnya. Ia meyakini prinsip hidup “Smile in the face of adversity, be contemptuous of danger, undaunted in defeat and magnanimous in victory” atau “tersenyumlah dalam menghadapi kemalangan, beranilah menantang bahaya, tegarlah dalam kekalahan, selalu rendah hati akan kemenangan.”

Tak puas hanya belajar di Rotterdam, ia melanjutkan studi ke Prancis—negara yang pernah menjadi pusat revolusi dunia. Di sana, ia memperluas cakrawala pemikiran, memadukan pendekatan ekonomi, filsafat, dan sejarah sosial. Sumitro membentuk bukan hanya gagasan, tetapi juga karakter berpijak pada tanah air, namun berpandangan global.

“Pembangunan ekonomi bukanlah soal angka semata, melainkan perubahan struktural yang menentukan martabat bangsa,” demikian Sumitro kerap menuturkan.

Ekonomi sebagai Jalan Pengabdian

Sejak kecil, Sumitro sudah akrab dengan buku-buku tebal yang memenuhi rak di rumah keluarganya di Kebumen. Salah satunya ensiklopedia negara-negara Eropa milik sang ayah. Dari halaman demi halaman itulah imajinasinya melayang jauh ke negeri-negeri asing yang saat itu hanya bisa ia bayangkan lewat peta usang dan gambar-gambar di buku. Di kota kecil itu, ia mulai memupuk mimpi besar memahami dunia lewat ilmu pengetahuan.

Ekonomi sebagai Jalan Pengabdian

Kegemarannya membaca membuatnya memandang ekonomi tidak sebatas hitungan angka. Ia melihatnya sebagai ilmu yang menyentuh sisi paling manusiawi, tentang bagaimana keadilan bisa memberi ruang hidup yang lebih baik bagi banyak orang. Bagi Sumitro muda, ekonomi adalah soal moralitas. Ekonomi dapat menjadi alat pembebasan ketika dikelola dengan benar.

Di luar ruang belajar, ia punya hobi mendaki gunung. Dari puncak-puncak itu, ia belajar arti risiko, strategi, dan ketahanan diri. Semua itu kelak menjadi bekal penting bagi seorang pengambil keputusan. Ilmu, bagi Sumitro, bukan sekadar tangga menuju karier, melainkan jalan hidup yang penuh makna.

Menjelang kemerdekaan, ia pulang ke tanah air. Bukan hanya dengan gelar akademik dan tumpukan buku, tapi juga membawa semangat baru. Indonesia harus membangun sistem ekonomi yang berpihak pada rakyat. Pembangunan, menurutnya, tak cukup dihitung dengan angka-angka, melainkan harus terasa dalam keadilan yang nyata. Dari Kebumen ke Rotterdam, dari halaman rumah sederhana hingga ke panggung Republik, Sumitro tumbuh sebagai teknokrat sekaligus pemikir bangsa.

Pilihan topik disertasi Sumitro mencerminkan kedekatan gagasannya dengan realitas rakyat. Ia menulis tentang perkreditan rakyat di masa depresi ekonomi, sebuah kajian yang lahir dari pengalaman masa kecilnya. Saat ikut sang ayah dalam perjalanan dinas, ia sering menyaksikan antrean panjang petani di kantor perkreditan. Pinjaman yang mereka cari digunakan untuk sekadar agar dapur tetap mengepul di musim paceklik. Disertasi berjudul Het Volkscredietwezen in de Depressie (Kredit Rakyat di Masa Depresi) yang ditulisnya dalam bahasa Belanda menjadi penanda awal jalan hidupnya sebagai ilmuwan, ekonom profesional, sekaligus pelayan masyarakat.

Dalam prakata terjemahan karyanya itu, Sumitro menegaskan ilmu ekonomi tak bisa dilepaskan dari kehidupan nyata, dari denyut masyarakat yang tengah bergulat dengan persoalannya sendiri. Keyakinan itu tidak lahir di ruang kosong. Ia tumbuh di tengah krisis global 1930-an, saat dunia dilanda depresi, dan ia menyaksikan bagaimana penderitaan rakyat Indonesia kian berat.

Alih-alih melemah, situasi itu justru meneguhkan kesadarannya. Ia percaya seorang ekonom sejati harus menautkan ilmu dengan keberpihakan sosial. Puluhan tahun kemudian, dalam sebuah retrospeksi ketika menerima Piagam Penghargaan Hatta di Jakarta tahun 1985, ia sempat menyebut dirinya diliputi “sindrom nostalgia”. Namun, di balik kerendahan hatinya, ia tetap teguh pada satu hal bahwa ilmu ekonomi baru bermakna jika dihayati dalam konteks sosialnya. Hanya dengan cara itu, ia bisa memberi arti nyata bagi masyarakat.

Jabatan sebagai Jalan, Bukan Tujuan

Sekembalinya dari Eropa pada 1946, Sumitro Djojohadikusumo tak menunggu lama untuk mengabdikan ilmunya. Ia pulang dengan semangat muda dan tekad besar untuk ikut menata Republik yang baru lahir. Ia memulai langkahnya sebagai staf Perdana Menteri Sutan Sjahrir, di masa ketika Indonesia masih meraba-raba arah sistem politiknya. Sebelumnya, ia sempat dipercaya menjadi Kuasa Usaha di Kedutaan Besar RI di Amerika Serikat dan turut serta dalam berbagai perundingan penting di luar negeri, termasuk sebagai anggota delegasi Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag pada 1949.

Sumitro2.jpg
Suasana jamuan makan di Istana dalam suatu resepsi. Pada meja sebelah kiri dari kiri ke kanan: tampak Menteri Pertanian Mohammad Sardjan, Menteri Keuangan Soemitro Djojohadikusumo, Perdana Menteri Wilopo, Ibu Fatmawati Soekarnodan Wakil Perdana Menteri Prawoto Mangkusasmito, sedang beramah tamah di ruang makan.

Di usia yang masih belia, Sumitro langsung berada di jantung kekuasaan. Kursi menteri, yang bagi banyak orang adalah puncak karier, justru dipandangnya sebagai ladang pengabdian. Bagi Sumitro, jabatan hanyalah jalan, bukan tujuan. Ia ingin membuktikan bahwa teori yang selama ini ia pelajari di ruang akademik dapat diterapkan dalam kehidupan nyata, dan bahwa mimpi besar bangsa tidak perlu dibayar dengan kompromi atas nilai-nilai.

Sumitro dikenal sebagai sosok langka yakni teknokrat yang berpijak pada angka sekaligus visioner yang berani menatap jauh ke depan. Kekuasaan tidak pernah membuatnya silau. Dalam beberapa kesempatan, ketika idealismenya bertabrakan dengan kepentingan politik, ia memilih mundur. Sikap tersebut jarang ditemui di panggung politik.

Masa demokrasi parlementer membuatnya ikut merasakan pasang-surut politik kabinet. Dalam Kabinet Natsir (1950–1951), ia dipercaya menjadi Menteri Perdagangan dan Industri, tepat saat Indonesia kembali ke bentuk negara kesatuan. Setahun kemudian, di Kabinet Wilopo (1952), ia duduk sebagai Menteri Keuangan. Namun, seperti banyak menteri lain di era itu, masa jabatannya singkat, bukan karena gagal bekerja, melainkan karena rapuhnya stabilitas politik. Pola ini berulang di Kabinet Burhanuddin Harahap (1955–1956), di mana Sumitro kembali dipercaya sebagai Menteri Keuangan.

Walau hanya sebentar, jejak yang ia tinggalkan tetap membekas. Sebagai Menteri Perdagangan dan Industri, ia melahirkan Rencana Urgensi Perekonomian (RUP), yang dirancang untuk memperkuat industrialisasi dengan menyatukan industri besar dan kecil, terutama di desa-desa. Dari sinilah lahir Program Benteng—sebuah upaya membangun kelas menengah pribumi, melindungi pengusaha lokal, dan mengurangi dominasi asing dalam perekonomian.

Sumitro3.jpg
Suasana jamuan makan di Istana dalam suatu resepsi. Pada meja sebelah kiri dari kiri ke kanan: tampak Menteri Pertanian Mohammad Sardjan, Menteri Keuangan Soemitro Djojohadikusumo, Perdana Menteri Wilopo, Ibu Fatmawati Soekarnodan Wakil Perdana Menteri Prawoto Mangkusasmito, sedang beramah tamah di ruang makan.

Dalam bukunya Persoalan Ekonomi di Indonesia (1953), Sumitro menegaskan pentingnya melindungi petani dan rakyat desa dari cengkeraman asing. Perdagangan, menurutnya, harus “dipribumikan” agar mereka tidak sekadar menjadi penonton di tanah sendiri. Namun, idealisme itu sering kali berbenturan dengan kenyataan politik. Energi yang seharusnya dicurahkan untuk membangun bangsa, justru banyak tersedot oleh perebutan pengaruh di kalangan elite.

Warisan Pemikiran dan Keteladanan

Meski perjalanan politiknya kerap diwarnai tuduhan dan penyingkiran, Sumitro tak pernah berhenti berkarya. Semangatnya tak pernah padam. Ia terus menulis, mengajar, dan membimbing generasi ekonom muda, mereka yang kelak melanjutkan cita-cita besarnya untuk Indonesia.

Di balik segala pasang-surut kekuasaan, ia meninggalkan warisan penting: bahwa ekonomi tidak boleh kehilangan moralitas. “Ilmu, keberanian, dan integritas harus selalu diabdikan untuk kemajuan bangsa,” itulah pesan Sumitro yang terus relevan hingga kini.

Dari Kebumen hingga panggung Republik, dari ruang kuliah hingga kabinet, Sumitro Djojohadikusumo membuktikan bahwa pengabdian seorang ekonom sejati bukan pada kekuasaan, melainkan pada rakyat.

 


Gumilar Rachdityo Mumpuni dan Rukmi Hapsari