Acniah Damayanti, alumni LPDP yang Mempersiapkan Gen Z Siap Kerja Lewat Career Development Center

16 April 2025
OLEH: Irfan Bayu Pradhana
Acniah Damayanti, alumni LPDP yang Mempersiapkan Gen Z Siap Kerja Lewat Career Development Center
 

Acniah Damayanti, nama yang mungkin masih asing terdengar di telinga kebanyakan orang, namun sangat familiar di kalangan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisipol) Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Profesinya sebagai staf pengajar di Departemen Komunikasi, membuatnya dikenal luas mahasiswa. Selain itu, Acniah, panggilan akrabnya, juga merupakan kepala Career Development Center Fisipol UGM.

FotoKecilGenmasApr25v03.jpg

Pentingnya Pendidikan

Acniah merupakan dara asli kota pelajar Yogyakarta. Hampir sebagaian besar hidup Acniah dihabiskannya di kota itu. Masa mudanya dia gunakan untuk menuntut ilmu di SMA 6 Yogyakarta, dan kemudian dilanjutkan ke Universitas Gadjah Mada. Acniah mengambil jurusan Ilmu Komunikasi.

Lahir dan tumbuh besar dengan latar belakang keluarga yang relatif sederhana,  orang tua Acniah sangat memprioritaskan pendidikan. Acniah adalah sarjana pertama dalam keluarganya. Menurutnya, sebuah keberuntungan dan privilige untuknya dapat mengenyam pendidikan tinggi di tengah lingkungan yang bisa dibilang, kesadaran untuk menuntut pendidikan, terutama pendidikan tinggi, sangat rendah. “Orang tua saya selalu menekankan pentingnya pendidikan. Mereka juga mendorong anaknya untuk kemudian bisa menempuh pendidikan di tempat tempat yang bagus,” ucapnya.

Di UGM, Acniah memilih peminatan media dan jurnalisme. Perempuan berhijab itu menyelesaikan sarjananya pada tahun 2010 silam. Setelahnya, Acniah sempat bekerja di salah satu Kementerian sebagai asisten dalam program pengembangan kapasitas. Dari hal itulah, Acniah merasa terinspirasi untuk lebih mengembangkan kembali ilmunya. Dia melihat bagaimana knowledge management ini berjalan pada sebuah organisasi, dan kemudian tertarik untuk mengetahui lebih lanjut peran komunikasi dalam dinamika organisasi.

 

FotoKecilGenmasApr25v02.jpg

Sekolah di Belanda

Setelah melakukan beberapa riset, Acniah menemukan Universitas Twente di Belanda yang menawarkan ilmu yang selama ini dia idamkan. Acniah juga melihat keunikan di universitas ini, karena jurusan yang diinginkannya adalah salah satu jurusan ilmu sosial di tengah jurusan lain yang bersifat sains dan teknologi.

Saat berdiskusi dengan teman-teman pejuang beasiswa dan melakukan riset di internet, Acniah dipertemukan dengan informasi dari LPDP. Seperti bertemu ruas dengan buku, Acniah yang sedang mencari beasiswa untuk melanjutkan studinya, menemukan program beasiswa LPDP. Setelah meyakinkan dirinya sendiri, Acniah memberanikan diri untuk mendaftar. Acniah termasuk berani, pasalnya, LOA (Letter of Acceptance) belum dia kantongi serta skor Bahasa Inggrisnya juga belum mencukupi. “Tapi kemudian saya berupaya agar bisa memenuhi persyaratan-persyaratan yang ditentukan. Dan saya mendaftar LPDP dan akhirnya alhamdulillah diterima,” ceritanya.

Acniah bergabung dalam PK 11 pada tahun 2014, mengambil jurusan Communication studies dengan penjurusan Corporate and Organizational Communication untuk studi masternya. Di sana banyak hal yang dia pelajari, salah satunya adalah bagaimana kemudian menyampaikan sesuatu yang bersifat scientific kepada khalayak sehingga bisa diterima dengan mudah.

Menurutnya, dapat diterima sebagai salah satu awardee LPDP adalah sebuah pengalaman yang sangat berharga baginya. Acniah sangat bersyukur selain karena beasiswa yang diterimanya, di negeri kincir angin itu, dia juga berkesempatan bertemu dengan guru-guru baru yang menawarkan perspektif berbeda dengan yang ada di dalam negeri. Selain itu, ia bertemu dengan teman-teman dari seluruh penjuru dunia yang membuat matanya lebih terbuka atas pengetahuan dan wawasan baru.

Namun, tak semudah yang dibayangkan, Acniah juga menemui beberapa tantangan, seperti adaptasi dengan lingkungan baru. Beruntungnya, teman-teman seniornya dari Indonesia yang sangat suportif membantunya melewati masa-masa sulitnya. Acniah berhasil menyelesaikan pendidikannya pada 2016 yang lalu.

FotoKecilGenmasApr25v01.jpg

Career Development Center

Tak berselang lama setelah Acniah kembali ke Indonesia, dia mendapat tawaran kerja dari UGM, tepatnya dari Career Development Center (CDC) Fisipol UGM. Achniah diminta menjadi research and development officer. “CDC UGM itu sendiri tidak hanya memberikan informasi terkait dengan lowongan pekerjaan maupun menghubungkan mahasiswa dengan industri. Tapi kami juga memastikan mahasiswa tersebut siap ketika mereka akan terjun di dunia industri, baik itu untuk magang ataupun untuk bekerja,” terangnya.

Mulai dari simulasi interviu, pelatihan Bahasa Inggris, serta konsultasi psikologis maupun karir. “Jadi kami berharap bahwa mahasiswa nanti selain siap secara kemampuan mereka juga sehat secara psikis untuk terjun di dunia kerja,” tambah Acniah yang saat ini diberi amanah baru sebagai kepala CDC Fisipol UGM saat ini.

Keberadaan CDC ini sebenarnya sangat penting, baik di level universitas maupun fakultas. Acniah menuturkan, selain untuk link and match antara mahasiswa dengan industri, CDC juga berjasa menyiapkan mahasiswa untuk siap terjun di dunia kerja, dengan dilakukannya pelatihan sehingga mendorong mereka mampu mengenali diri dan potensinya.

Pusat pengembangan karir ini sebenarnya sangat membantu mahasiswa namun belum semua fakultas bahkan universitas memilikinya. “Dan itu yang tidak saya alami ketika saya kuliah dulu begitu. Jadi saya cukup buta ya ketika kemudian ditanyakan jenis karir untuk bidang studi ilmu komunikasi itu seperti apa. Itu juga kita tidak dapatkan, kita harus mencari cara mandiri begitu,” kenangnya. “Jadi dengan adanya pusat karir, saya rasa upaya untuk peningkatan karir, sosialisasi pengetahuan tentang karir ini menjadi lebih sistematis,” imbuhnya.

FotoKecilGenmasApr25v04.jpg

GEN Z

Gen Z saat ini terkenal dengan stigma negatif pada pekerjaan seperti mudah bosan, demanding, snowflake-ism, dan sederet stigma lainnya. Namun, menurut Acniah, setiap generasi memang punya karakternya masing-masing. Menurutnya, Gen Z saat ini tidak hanya mempunyai deretan stigma negatif, tapi juga banyak hal yang patut diapresiasi. Seperti suka mengeksplorasi sesuatu, generasi yang berani, dalam artian mereka mengenali haknya dan mau untuk memperjuangkannya. Semua sifat positif yang dimiliki mereka sebenarnya bagus jika diarahkan dengan benar. CDC menurut Acniah punya peran untuk menyiapkan Gen Z dengan pengetahuan sehingga nantinya dalam membuat keputusan mereka telah well informed, mengetahui segala akibat dan risiko yang akan terjadi. CDC juga membekali mereka tentang bagaimana mereka harus merespon hal yang di luar ekspektasinya sehingga mereka bisa resilien dan mampu bertahan di tengah dunia kerja.

Sebagian besar masalah yang dialami mahasiswa saat ini adalah tentang kebingungan mereka saat pasca lulus. Padahal, seharusnya sejak pertama kali masuk dunia perkuliahan seharusnya para mahasiswa sudah bisa dipersiapkan, sehingga mereka dapat mengenali potensi dan passion mereka.

“Tidak fear of missing out (FOMO) atau yang anak-anak sekarang mungkin sering mengeluhkan juga adalah FOMO karena banyak temannya yang sudah sampai tahap ABC sementara mereka belum sampai ke situ,” ucap Acniah. Untuk mengetahui potensi diri seorang mahasiswa, Achniah memberikan saran dengan mengikuti berbagai kegiatan di lingkungan kampus. Selain itu, upaya meningkatkan kemampuan sosial dengan aktif membangun jejaring juga tak kalah penting dan bisa bermanfaat dalam perkembangan karir ke depan.

Achniah juga berpandangan bahwa para dosen punya peran penting dalam proses perkuliahan dan mempersiapkan mahasiswa sebagai angkatan kerja. Perempuan kelahiran Yogyakarta ini menambahkan perlunya dosen untuk lebih meningkatkan kreatifitas dalam mengajar dengan melibatkan mahasiswa, serta memberikan otonomi dalam belajar melalui pemberian kesempatan mahasiswa untuk belajar dari sumber mana pun dan siapa pun selama kredibel untuk mengatasi hausnya gen Z dalam eksplorasinya. “Saya rasa mereka ini generasi yang cukup adaptif dan mampu mengikuti perkembangan zaman dengan cepat. Jadi saya rasa memberikan trust kepada mereka dalam proses belajar mengajar itu juga salah satu yang saya rasa perlu dilakukan,” pungkas Acniah.