Antisipasi Tantangan, Jaga Pertumbuhan

1 Agustus 2024
OLEH: CS. Purwowidhu
Antisipasi Tantangan, Jaga Pertumbuhan
 

Di tengah tingginya ketidakpastian global, perekonomian Indonesia tetap stabil yang nampak dari terjaganya indikator-indikator ekonomi makro. Alhasil, hingga kuartal I 2024 ekonomi Indonesia mampu tumbuh solid sebesar 5,11%.

Kondusivitas perekonomian domestik perlu terus dijaga baik dari tantangan eksternal maupun internal, terlebih selama masa transisi dan awal pemerintahan baru Presiden terpilih Prabowo Subianto.

Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia menyoroti beberapa tantangan ekonomi global maupun domestik yang dapat berdampak pada pertumbuhan ekonomi dan perlu dimitigasi oleh pemerintahan yang baru.

“Paling tidak ada enam risiko ekonomi di tataran global dan juga berpengaruh terhadap perdagangan luar negeri Indonesia dan konsumsi domestik,” ujar Direktur Eksekutif CORE Indonesia Mohammad Faisal dalam webinar Tinjauan Tengah Tahun CORE Indonesia bertema “Mitigasi Risiko Ekonomi Jelang Pemerintahan Baru” yang digelar di Jakarta, Selasa (23/7/2024).

Faisal memaparkan enam risiko ekonomi tersebut meliputi pelemahan permintaan domestik dan oversupply di China, penurunan kinerja ekonomi Amerika Serikat, penguatan harga energi dan ancaman inflasi, pertumbuhan ekspor yang sangat lambat, lonjakan impor dan pelebaran defisit dengan China, serta pelemahan konsumsi domestik.

Optimalkan performa ekspor

Di sektor perdagangan, permintaan mitra dagang utama Indonesia seperti China dan Amerika Serikat tengah melemah sehingga mempengaruhi kinerja ekspor Indonesia. China yang menjadi negara tujuan ekspor utama Indonesia mulai menunjukkan perlambatan pertumbuhan ekonomi akibat penurunan permintaan domestik. Hal ini tercermin dari pertumbuhan penjualan ritel di China yang terus melambat di sepanjang paruh pertama hingga ke level 2,6% pada kuartal II.

Di lain sisi, pada saat bersamaan China juga mengalami oversupply. Faisal menuturkan produk-produk manufaktur China telah melampaui permintaan dalam negeri sehingga terjadi kelebihan pasokan. Kelebihan tersebut kemudian diekspor ke berbagai negara, termasuk Indonesia.

Aktivitas industri China terus meningkat nampak dari pertumbuhan indeks manajer pembelian (PMI) manufaktur China yang mencapai 51,8%. Pada periode Januari hingga Mei 2024, ekspor China secara tahunan tercatat meningkat 7,6%, sedangkan impornya hanya tumbuh 1,8%.  

Selain China, menurut Faisal penurunan kinerja ekonomi Amerika Serikat (AS) yang signifikan di kuartal II-2024 juga patut diperhatikan. Meskipun pelemahan tersebut dapat mengurangi tekanan terhadap Rupiah, namun di sektor riil akan mempengaruhi pertumbuhan impor AS dari Indonesia.

Sementara itu, pertumbuhan harga sejumlah komoditas utama Indonesia seperti sawit, gas, batu bara, besi dan baja pada kuartal II-2024 mengalami kenaikan signifikan dibandingkan 2023. Pertumbuhan harga komoditas andalan tersebut menurut Faisal semestinya berpotensi meningkatkan performa ekspor Indonesia.

Kinerja ekspor impor dan neraca perdagangan Indonesia menunjukkan sinyal positif yang menggembirakan di kuartal II-2024. Nilai impor mencatatkan kenaikan sebesar 1,80% (yoy) dan ekspor menunjukkan peningkatan yang lebih signifikan sebesar 1,93% (yoy). Sementara neraca perdagangan hingga semester pertama 2024 menunjukkan surplus sebesar US$246,3 miliar.

Meskipun menunjukkan kinerja yang positif, pertumbuhan ekspor Indonesia masih tertinggal dibandingkan negara-negara lain di kawasan Asia dan hal tersebut perlu diantisipasi.

Faisal memandang ketergantungan ekspor yang besar terhadap China sementara China mengalami pelemahan permintaan domestik, akan berdampak pada kinerja ekspor Indonesia.

“Salah satu penyebab ekspor kita lambat adalah kita punya ketergantungan ekspor yang besar terhadap China padahal permintaan domestiknya sangat rendah. Sehingga berdampak pada penurunan impornya dan ini mempengaruhi ekspor kita ke China,” ungkap Faisal.

Data menunjukkan rasio ekspor Indonesia ke China terhadap total ekspor mencapai 22,47% pada semester pertama 2024, jauh melampaui negara-negara ASEAN lainnya. Sebagai perbandingan, pada periode yang sama, rasio ekspor ke China dari Malaysia sebesar 12,04%, Filipina 11,15%, dan Thailand 10,58%.

Sementara itu, ekspor Indonesia ke China pada kuartal II-2024 terkontraksi sebesar minus 4,2%. Perlambatan ekspor terjadi khususnya pada komoditas andalan di sektor manufaktur, seperti besi dan baja yang hingga kuartal II-2024 mengalami kontraksi pertumbuhan minus 26,9%.

Sebaliknya, impor dari China tumbuh 5,1% sejak awal 2024. Lonjakan impor tekstil dan produk tekstil dari China sebesar 35,5% (yoy) pada kuartal II-2024. Sementara pangsa pasar impor dari China di pasar Indonesia mencapai 41% untuk produk tekstil, utamanya pakaian jadi.

Dalam tinjauannya, CORE menyoroti fenomena "friend-shoring" dalam pola ekspor Indonesia ke China mengakibatkan kinerja ekspor nasional menjadi sangat rentan terhadap fluktuasi ekonomi negara itu. Hal tersebut menimbulkan risiko konsentrasi pasar yang signifikan bagi perekonomian Indonesia.

Untuk meningkatkan ketahanan ekonomi, Indonesia perlu melakukan diversifikasi pasar ekspor dan mengurangi ketergantungan berlebihan pada satu mitra dagang. Strategi ini dapat membantu memitigasi risiko dan meningkatkan stabilitas pertumbuhan ekspor dalam jangka panjang.

Lindungi daya beli masyarakat

Di samping risiko di sektor perdagangan, pelemahan konsumsi rumah tangga khususnya kelas menengah bawah turut menjadi risiko yang menurut Faisal perlu dimitigasi. Mengingat konsumsi rumah tangga berkontribusi paling besar terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia.

"Kami proyeksikan setelah kuartal I kemarin realisasi pertumbuhan ekonomi di 5,11%, di kuartal kedua tahun ini kami prediksikan hanya 4,9 sampai 5%, jadi ada perlambatan," ujarnya.

Faisal menuturkan penurunan tersebut utamanya disebabkan oleh perlambatan pada komponen konsumsi rumah tangga, yang diperkirakan hanya akan tumbuh sebesar 4,8- 4,9%.

Melemahnya konsumsi pascapemilu dan lebaran terlihat dari menurunnya indeks penjualan riil di kisaran 1% pada kuartal II. Pelemahan tersebut lanjut Faisal juga sejalan dengan minimnya peningkatan upah. Rata-rata upah riil tahunan hanya tumbuh 0,7%.

Indikasi perlambatan konsumsi juga terlihat dari tren penurunan proporsi konsumsi. Pengeluaran untuk konsumsi pada kuartal II-2024 turun menjadi 73%. Sementara pengeluaran untuk cicilan pinjaman naik menjadi 9,9%.

Penurunan ini terjadi bersamaan dengan penurunan pertumbuhan tahunan simpanan perbankan untuk rekening di bawah Rp100 juta yakni kalangan menengah bawah hanya tumbuh 4%, yang mencakup 98,8% dari total rekening.

Daya beli masyarakat atau tingkat konsumsi tidak terlepas dari laju inflasi. Inflasi pangan (volatile food) yang meningkat semasa El Nino perlahan mulai menunjukkan tren penurunan. Pada tingkat konsumen, inflasi volatile food pada bulan Juni 2024 ini mencapai 5,96% (yoy), mereda dibandingkan bulan Maret 2024 yang bahkan mencapai 10,33% (yoy).

Kendati demikian, Faisal menggaris bawahi menjelang pemerintahan yang baru, ada potensi kenaikan inflasi harga-harga yang diatur pemerintah terutama harga energi.

"Karena kalau kita melihat harga minyak juga sedikit demi sedikit mengalami peningkatan apalagi kalau ditambah dari keterbatasan dari sisi fiskal, ruang fiskal yang mana banyak program-program yang harus dibiayai menjelang pemerintahan yang baru," ungkapnya.

Sebab itu, CORE Indonesia memprediksi inflasi 2024 pada kisaran 2,5-3,0% (yoy) dengan catatan tidak terjadi kenaikan harga barang diatur pemerintah.

Di akhir paparannya Faisal menekankan perlunya mengantisipasi berbagai risiko dan tantangan ekonomi dengan terobosan dalam hal strategi kebijakan agar target pertumbuhan ekonomi dapat tercapai.


CS. Purwowidhu