Bea Cukai Banjarmasin Dampingi Ekspor UMKM

Potret Kantor
1 November 2022
OLEH: Dimach Putra
Bea Cukai Banjarmasin Dampingi Ekspor UMKM

Deru mesin speed boat membelah aliran sungai Barito. Kapal milik Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean B (KPPBC TMP B) Banjarmasin itu sedang melakukan patroli rutin di wilayah kerjanya. Tak main-main , cakupan area pelayanan dan pengawasan kantor ini bisa dibilang seluas provonsi Kalimantan Selatan (Kalsel). Wilayahnya tersebar di sekitar daerah aliran sungai terlebar se Indonesia ini dan beberapa aliran sungai lain yang menyebar di Bumi Banua (red: sebutan desa di masyarakat adat Banjar).

Wilayah pelayanan dan pengawasan kantor yang dikenal dengan sebutan Bea Cukai (BC) Banjarmasin ini meliputi hampir seluruh kota dan kabupaten di Kalsel kecuali Kabupaten Tanah Bumbu dan Kotabaru. Daerah pengawasannya meliputi Banjarmasin, Banjarbaru, Tabalong, Balangan, Hulu Sungai Utara, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Selatan, Tapin, Barito Kuala, Tanah Laut, dan Tapin. Formasi kantor saat ini terbentuk sejak 5 Desember 2016 dan  memiliki dasar hukum dari Peraturan Menteri Keuangan RI Nomor 188/PMK.01/2016 tentang Tata Kerja Instansi Vertikal Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC). Kantor ini bertanggung jawab langsung kepada Kepala Kantor Wilayah DJBC Kalimantan Bagian Selatan.

kegiatan pengawasan tetap harus dilakukan contohnya lewat patroli rutin. Meski tidak terdeteksi adanya aktivitas ilegal di area tersebut, ancaman sebagai daerah pemasaran produk ilegal masih ada di sini. (Foto: Irfan Bayu)

Sulitnya akses bukan tantangan

Mengampu wilayah kerja sebesar itu tentu saja menyimpan tantangan tersendiri bagi kantor ini. ”Tantangannya tentu terkait pemetaan wilayah, mitigasi risiko dan tentunya akses,” ungkap Edy Susetyo, Kepala KPPBC TMP B Banjarmasin. Sebagai salah satu paru-paru dunia, Pulau Kalimantan terkenal memiliki bentang alam yang masih banyak berupa hutan hujan tropis. Beberapa daerah di pelosok tergolong sangat terpencil dan tidak terjangkau akses transportasi.

Edy mencontohkan kisah pegawai yang harus menempuh perjalanan 5-8 jam untuk melakukan tugas seperti survei harga pasar dan melakukan operasi gempur rokok ilegal. ”Itu harus naik mobil, setelah itu nyambung naik perahu dan masih dilanjut lagi naik ojek hingga ke lokasi sesuai penugasan,” ucapnya.

Meski memiliki bentang geografis yang cukup menantang, wilayah kerja BC Banjarmasin tergolong relatif aman. Daerah ini tidak berbatasan langsung dengan perairan internasional maupun perbatasan antarnegara. Namun untuk prevensi, kegiatan pengawasan tetap harus dilakukan contohnya lewat patroli rutin. Meski tidak terdeteksi adanya aktivitas ilegal di area tersebut, ancaman sebagai daerah pemasaran produk ilegal masih ada di sini. ”Contohnya rokok dan minuman alkohol ilegal dengan harga jauh lebih murah dibanding produk berpita cukai yang menyasar pekerja tambang,” beber pria kelahiran Madiun ini.

Komoditas unggulan lainnya dari daerah ini adalah CPO. Tidak hanya itu, produk turunannya pun juga menyumbang nilai bea keluar yang cukup besar. (Foto: Shutterstock)

Primadona ekspor bumi Banua

Rendahnya ancaman di wilayah Kalimantan Selatan membuat BC Banjarmasin lebih banyak melakukan aktivitas pelayanan. “Terutama pelayanan untuk ekspor, seperti batubara dan CPO (red: crude palm oil)” tegas sang Kepala Kantor. Provinsi ini terkenal kaya akan sumber daya alam, khususnya di bidang pertambangan. Hasil tambang yang ditemukan di sini terdiri dari bahan galian energi, logam, maupun industri.

Batubara dan bijih besi masih menjadi komoditas primadona hasil pertambangan di bumi banua ini. Nilai devisa untuk ekspor batubara di tahun 2022 ini ditaksir mencapai RP111 T. Kedua hasil tambang tersebut bahkan menjadi leading sector yang menopang perekonomian Kalsel. Selain emas hitam, provinsi ini juga dikenal sebagai produsen terbesar intan di Indonesia. Pendulangan dan penggosokan batu mulia ini dapat dijumpai di Martapura.

Komoditas unggulan lainnya dari daerah ini adalah CPO. Tidak hanya itu, produk turunannya pun juga menyumbang nilai bea keluar yang cukup besar. Selama periode 2022 ini telah dilakukan ekspor CPO dan produk turunannya dengan total nilai sekitar US$19 juta, menyumbang bea keluar senilai Rp22,8 miliar.

Kantor yang berlokasi di area Pelabuhan Trisakti Banjarmasin ini juga turut mendukung program pemulihan ekonomi nasional (PEN) yang dicanangkan pemerintah melalui penggalian ekspor usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). (Foto: Irfan Bayu)

Potensi penerimaan terbarukan

Meski didominasi oleh ekspor hasil tambang dan perkebunan sawit, tidak membuat jajaran di BC Banjarmasin ini menutup mata terhadap potensi lain yang ada. Salah satu produk unggulan Kalsel adalah industri pengolahan rotan. Hasil dari industri rotan ini antara lain berupa lampit (tikar) yang ternyata saat dibuat dengan spesifikasi khusus mampu menembus pasar Jepang. Salah satu produsen yang sudah mengawali langkah ini sejak dekade 80-an adalah PT Sarikaya Sega Utama. Untuk membuka kesempatan, BC Banjarmasin pun getol melakukan customs visit customer (CVC) untuk memberi asistensi sekaligus mendengarkan langsung kendala dari  para pelaku usaha lainnya. Langkah ini sekaligus dilakukan untuk meninjau kegiatan dan meningkatkan kepatuhan pelaku usaha dalam pemanfaatan fasilitas yang ada.

Kantor yang berlokasi di area Pelabuhan Trisakti Banjarmasin ini juga turut mendukung program pemulihan ekonomi nasional (PEN) yang dicanangkan pemerintah melalui penggalian ekspor usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). Sepanjang 2021 hingga 2022, BC Banjarmasin mampu mengantar beberapa pengusaha UMKM melakukan ekspor perdananya. Adapun jenis usaha yang berhasil dibantu untuk menembus pasar internasional antara lain berupa ekspor kepiting hidup, getah damar, sarang burung walet dan berbagai tanaman hias.

Hasil nyata tersebut tentu merupakan buah dari proses yang panjang. Seluruh jajaran di BC Banjarmasi berhasil memformulasikan program unggulan dalam mendorong potensi UMKM di sana. Langkah mereka diawali dengan mengadakan sosialisasi dan workshop yang bekerja sama dengan media lokal dan berbagai instansi terkait. Beberapa kelas ekspor juga kerap mereka laksanakan sejalan dengan dilakukannya CVC, pendampingan dan konsultasi. Mereka bahkan menggandeng Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Hongkong untuk meeting dan pendampingan buyer dari sana.

Keberhasilan program-program pelayanan dan pengawas BC Banjarmasin tentu didukung oleh kekuatan sumber daya manusia (SDM) pilihan yang bertugas di sana. (Foto: Irfan Bayu)

Sehat, bugar dan begawi cangkal

Keberhasilan program-program pelayanan dan pengawas BC Banjarmasin tentu didukung oleh kekuatan sumber daya manusia (SDM) pilihan yang bertugas di sana. Sehari-hari, Edy Susetyo membawahi 90 punggawa keuangan negara yang berada di bawah koordinasinya. Dalam melaksanakan tugasnya sebagai kepala kantor, Ia dibantu oleh sebelas kepala sub seksi, 17 pejabat fungsional dan 62 orang pelaksana. Komposisi pegawai di sana didominasi oleh pegawai muda yang berasal dari generasi milenial dan gen-z yang mencukap sekitar 70 persen pegawai.

Edy dan timnya berkomitmen untuk menciptakan suasana kerja yang profesional namun tetap santai. Perlu trik tersendiri untuk mencairkan suasana di lingkungan kerja yang identik dengan gemblengan semi militer dengan kedisiplinan tinggi, ditambah adanya disparitas antargenerasi tersebut. Dari semangat itu lahirlah Bekal Ngopi yang merupakan singkatan dari ”begawi cangkal (red: bekerja keras dalam Bahasa Banjar) ngobrol pengalaman dan inspirasi”. Melalui platform itu pegawai yang terpilih diberi kesempatan berbagi kisah inspirasinya kepada sesama pegawai dan pejabat. Di akhir sesi, pegawai yang telah berbagi kisah diperbolehkan untuk menunjuk rekan yang akan berbagi di kesempatan berikutnya. Acara rutin di hari Kamis ini dinilai mampu membuat pegawai bisa lebih mengenal satu sama lain, selain dapat meningkatkan kompetensinya di bidang komunikasi publik.

Sebagai kepala kantor yang baru diberi amanah memimpin BC Banjarmasin selama 6 bulan terakhir, Edy melihat pentingnya kebugaran pegawai dalam menunjang pekerjaan. Ia ingin mengadakan tes untuk memetakan tingkat kebugaran tiap pegawai. Dari sana, Ia berencana untuk mendukung peningkatan kesehatan pegawai melalui kegiatan olahraga dan fisik sesuai dengan tingkat kemampuan pegawai tersebut. Jika kembali melihat luasan wilayah dan beban kerja, fisik yang prima memang menjadi faktor yang penting bagi mereka. Terlebih banyak target-target yang masih harus mereka penuhi, salah satunya mewujudkan zona integritas wilayah birokrasi bersih dan melayani (WBBM) di 2023. ”Sehat itu investasi bagi kita dan murah, yang mahal justru saat kita sakit. Tentunya dengan kesehatan fisik dan mental yang baik, kinerja kami akan menjadi lebih baik juga,” tutupnya.


Dimach Putra