Bontor Humala, Alumni LPDP yang Memilih Pulang untuk Membangun Teknologi Negeri

2 November 2026
OLEH: Nur Wahyu Nugroho
Bontor Humala, Alumni LPDP yang Memilih Pulang untuk Membangun Teknologi Negeri
 

Kesempatan melanjutkan studi doktoral di Belanda tak membuat Bontor Humala mengurungkan niat pulang. Berbekal pendidikan Magister melalui beasiswa LPDP, ia memilih merintis perusahaan teknologi di Indonesia. Perjalanannya diwarnai kegagalan dan penolakan, sebelum akhirnya mampu mengembangkan solusi teknologi yang digunakan pada ribuan perangkat.

Kesempatan melanjutkan pendidikan doktoral di Belanda sudah di depan mata. Bontor Humala, penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), bahkan telah menjalani riset selama beberapa bulan setelah menuntaskan studi magisternya di Delft University of Technology pada 2017. Namun, sebuah panggilan telepon dari Indonesia membuatnya kembali menimbang masa depan.

"Kamu jadi pulang nggak? Karena kalau nggak pulang, apa kita tutup ini?" kenang Bontor, menirukan pertanyaan rekan-rekannya yang tengah merintis usaha teknologi di tanah air.

Pertanyaan itu menempatkannya pada persimpangan. Melanjutkan pendidikan doktoral berarti kesempatan memperdalam keahlian, sementara rekan-rekannya di Indonesia menaruh harapan pada rencana membangun perusahaan bersama. Bontor menyadari, peluang tersebut belum tentu datang untuk kedua kalinya.

"Saya toh kalau di sini S3 atau membentuk perusahaan di sini, yang saya kembangin negara orang. Sementara kalau pulang ke Indonesia, yang saya kembangin negara saya," ujarnya.

Bontor akhirnya memilih pulang. Keputusan itu menjadi bagian dari perjalanan yang membawanya mendirikan PT Iotera, perusahaan pengembang teknologi Internet of Things (IoT). Dari usaha yang sempat berjalan setahun tanpa klien, Iotera kini mengelola sekitar 5 ribu perangkat IoT setiap hari.

Namun, di balik pencapaian itu, ada kekalahan, kegagalan merintis usaha, dan penolakan yang ikut membentuk perjalanan Bontor.

 

Kekalahan Itu Mengubah Arah Bontor

Bontor2.png
Lomba IC Design di Jepang

Bontor tumbuh dalam keluarga yang menempatkan pendidikan sebagai prioritas. Keyakinan bahwa pendidikan dapat memperbaiki kehidupan membawanya menempuh studi Teknik Elektro di Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 2008 hingga 2012. Di bangku kuliah, ia semakin menggemari elektronika dan kerap mengerjakan proyek teknik yang sekaligus memberinya penghasilan.

Namun, salah satu pengalaman paling membekas justru datang dari kegagalan. Ketika mengikuti kompetisi desain integrated circuit atau chip di Jepang, Bontor dan timnya harus menerima kekalahan meski telah bekerja keras.

Pengalaman tersebut membuatnya menyadari bahwa semangat saja tidak cukup untuk menghasilkan teknologi yang mampu bersaing. Ia membutuhkan penguasaan ilmu yang lebih mendalam.

Selepas lulus dari ITB pada 2012, Bontor sempat merintis usaha di bidang elektroteknik. Namun, usaha itu tidak berjalan sesuai harapan. Dua pengalaman tersebut semakin menguatkan tekadnya untuk melanjutkan pendidikan.

 

LPDP, Bekal untuk Membangun Mimpi

Bontor03.jpg
Bontor bersama rekan kuliah di TU Delft

Kesempatan datang ketika seorang teman memperkenalkan Bontor pada beasiswa LPDP. Ia mengikuti seleksi dan diterima sebagai penerima beasiswa angkatan Persiapan Keberangkatan (PK) ke-21.

Bagi Bontor, seleksi LPDP bukan sekadar persaingan memperoleh beasiswa. Proses menyusun esai dan menjalani wawancara justru menjadi kesempatan merefleksikan tujuan hidup serta kontribusi yang ingin diwujudkan.

"Seleksi itu adalah momen saya bisa menemukan diri saya yang berikutnya," tuturnya.

Pada 2015, Bontor berangkat ke Belanda untuk mendalami embedded systems di Delft University of Technology. Ia sengaja memilih bidang yang mengintegrasikan sistem komputasi dengan perangkat elektronik karena dinilai lebih memungkinkan untuk diterapkan di Indonesia dibandingkan pengembangan industri desain chip yang membutuhkan proses panjang.

Di Belanda, Bontor tidak hanya memperdalam pengetahuan teknis, tetapi juga mempelajari cara merancang teknologi secara sistematis. Berbagai potensi gangguan, mulai dari koneksi internet hingga pasokan listrik, harus diperhitungkan sejak tahap pengembangan produk.

Pengetahuan itu kemudian menjadi bekal penting ketika ia mengembangkan perangkat IoT di Indonesia, yang memiliki kondisi infrastruktur beragam. Melalui LPDP, Bontor memperoleh bukan hanya ilmu, tetapi juga perspektif dan kepercayaan diri untuk mengembangkan teknologi sendiri.

 

Setahun Tanpa Klien

Bontor04.jpg
Bontor mulai merintis usaha

Membangun perusahaan teknologi ternyata membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan akademis. Bontor bahkan mengaku pernah kesulitan mendapatkan pekerjaan. Pengalamannya yang itu turut mendorongnya memilih jalan kewirausahaan.

"Saya lama kerja di mana-mana nggak diterima. Jadi karena nggak ada yang mau terima, ya sudah saya usaha sendiri," katanya.

Pada 2019, Bontor bersama rekan-rekannya mendirikan Iotera, perusahaan pengembang solusi IoT yang menjadi bagian dari PT Trikada Intronik. Mereka ingin membuktikan bahwa tenaga ahli Indonesia mampu menghadirkan teknologi yang bersaing dan sesuai dengan kebutuhan pasar.

Namun, kenyataan tak langsung berpihak pada mimpi tersebut.

Selama sekitar satu tahun pertama, perusahaan yang dirintis tiga orang itu tidak memperoleh satu pun klien. Tanpa proyek, mereka bertahan dengan mengandalkan tabungan dan dukungan perusahaan induk.

"Setahun itu nggak ada proyek apa pun," kenang Bontor.

Masa-masa tersebut tidak hanya menguji keberlangsungan usaha, tetapi juga ketangguhan dirinya. Bontor menyebut penolakan atau rejection sebagai salah satu tantangan terberat. Tidak setiap gagasan diterima calon pelanggan, sementara pekerjaan sehari-hari menuntutnya mengesampingkan ego.

Berbekal pendidikan tinggi dan pengalaman belajar di luar negeri, ia tetap harus mengerjakan berbagai pekerjaan sederhana, mulai dari memasang kabel hingga membersihkan layar perangkat.

Dari situ, Bontor belajar bahwa keberhasilan perusahaan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan individu. Kepercayaan pelanggan dan kerja sama tim sama pentingnya dengan kecanggihan teknologi.

Setelah melewati masa tanpa klien, peluang pertama akhirnya datang. Iotera memperoleh proyek pengembangan sistem pembayaran untuk sekitar 50 perangkat mesin laundry. Proyek tersebut menjadi pijakan awal pertumbuhan perusahaan.

 

Membuktikan Daya Saing Teknologi Lokal

Dari sekitar 50 perangkat pada proyek pertama, Iotera terus berkembang. Saat wawancara berlangsung, perusahaan tersebut telah mengelola sekitar 5 ribu perangkat IoT setiap hari, dengan jumlah anggota tim bertambah dari tiga menjadi sekitar 30 orang.

Teknologi yang dikembangkan pun semakin beragam, mulai dari sistem pembayaran otomatis, pelacakan aset, hingga pemantauan bahan bakar untuk armada industri.

Salah satu penerapannya dekat dengan kehidupan sehari-hari. Mesin penjual otomatis, kursi pijat, hingga permainan yang dapat diaktifkan melalui pembayaran QRIS merupakan contoh teknologi IoT yang dikembangkan Iotera. Di sektor industri, teknologi serupa digunakan untuk membantu perusahaan melacak aset dan memantau operasional armada.

Namun, bagi Bontor, pencapaian tersebut bukan semata-mata soal jumlah perangkat. Ia ingin membuktikan bahwa engineer Indonesia mampu menghasilkan teknologi yang bersaing dengan produk asing.

Iotera mengembangkan perangkat keras dan perangkat lunak secara terintegrasi untuk menghadirkan solusi yang sesuai dengan kebutuhan pelanggan dalam negeri. Menurut Bontor, sekitar 80 persen komposisi tim perusahaannya merupakan engineer.

Ia juga merasakan manfaat kehadiran talenta berpendidikan tinggi, termasuk sesama alumni LPDP yang bergabung dalam pengembangan perusahaan. Kemampuan mereka membuka peluang untuk mengerjakan proyek yang sebelumnya dianggap terlalu sulit.

Pengalaman itu memperkuat keyakinannya bahwa manfaat pendidikan tidak berhenti pada kelulusan. Pengetahuan yang diperoleh dapat berkembang menjadi inovasi dan memperkuat daya saing industri nasional.

 

Mimpi yang Lebih Besar dari Iotera

Bontor05.png

Bontor masih menyimpan ambisi untuk memperluas jangkauan teknologi Iotera, termasuk meningkatkan jumlah perangkat yang dikelola dari sekitar 5 ribu menjadi 20 ribu dalam beberapa tahun mendatang.

Namun, cita-citanya tidak berhenti pada pertumbuhan perusahaan. Ia membayangkan Indonesia memiliki industri elektroteknik yang semakin maju, tempat lebih banyak masyarakat dapat bekerja sebagai perancang teknologi, pengembang perangkat lunak, dan tenaga ahli dalam industri bernilai tambah tinggi.

Bontor bahkan berharap anggota timnya kelak berani mendirikan perusahaan teknologi sendiri. Baginya, keberhasilan industri tidak bisa bertumpu pada satu perusahaan, melainkan membutuhkan semakin banyak inovator dan pelaku usaha yang saling melengkapi.

"Saya justru berharap tim yang ada di kantor ini kalau pengen memulai bisnis baru di bidang teknologi itu saya sangat senang," ujarnya.

Untuk mewujudkannya, Bontor menekankan pentingnya akses pendidikan tinggi yang berkualitas. Ia mengibaratkan perjalanan membangun usaha teknologi seperti mendaki tebing yang semakin curam. Pendidikan bukan satu-satunya jalan, tetapi dapat menjadi bekal menghadapi tantangan inovasi dan persaingan global.

Bagi Bontor, LPDP telah menjadi bagian penting dari perjalanan tersebut. Kesempatan belajar di Belanda memberinya pengetahuan dan kepercayaan diri yang kemudian diterapkan dalam membangun Iotera. Ia pun berharap para alumni LPDP terus berkolaborasi agar keahlian mereka dapat memberikan manfaat lebih luas bagi Indonesia.

Mimpi membangun industri elektroteknik Indonesia yang maju memang belum sepenuhnya terwujud. Namun, melalui Iotera, Bontor telah mengambil bagian dalam perjalanan panjang itu.

Dulu, kekalahan dalam kompetisi menyadarkannya akan pentingnya memperdalam ilmu. Beasiswa LPDP kemudian membuka jalan untuk memperkuat kemampuannya. Kini, pengetahuan tersebut ia gunakan untuk membangun usaha, mengembangkan teknologi, dan membuka peluang bagi lahirnya talenta baru.

Bagi Bontor, keputusan pulang dari Belanda bukan akhir dari perjalanan pendidikan. Justru di Indonesia, perjuangan mewujudkan mimpinya benar-benar dimulai.