Dari Papua Untuk Papua

Generasi Emas
31 Agustus 2021
OLEH: Resha Aditya Pratama
Dari Papua Untuk Papua

Berada di daerah yang jauh dari ibukota negara tidak menyurutkan niat pemuda asal Manokwari ini untuk menempuh pendidikan sampai ke Inggris. Simon Tabuni merupakan  awardee LPDP yang mendapatkan penghargaan sebagai tokoh pemuda inspiratif pada acara Papua Barat Innovation Award. Dengan berbekal pengalaman saat berada di luar Papua, Simon mengabdikan diri untuk masyarakat Papua dengan membuat berbagai kegiatan sosial seperti Gerakan Pemuda Papua Inspiratif, Gerakan Angkat Mama Papua, Gerakan (FASTRA) Fasilitasi Kreatifitas dan Inovatif Anak Papua, dan Program (REMANG) Revitalisasi Taman dan Fungsinya. Seperti apa kisahnya? Simak obrolannya dengan Media Keuangan berikut ini.

 

Apa yang menginspirasi Anda untuk melakukan berbagai kegiatan sosial di Papua?

Menurut saya, kalau hanya tinggal di satu tempat saja tanpa pergi keluar maka kita tidak akan berkembang. Sehingga ketika pada tahun 2014 saya bisa masuk LPDP, saya senang sekali karena untuk pertama kali juga saya bisa ke luar Papua. Saat itu saya mengikuti pelatihan bahasa di berbagai tempat seperti Jogja dan Bali. Di sana saya sering berbelanja di supermarket. Supermarket itu mempunyai fungsi sebagai tempat penampungan dan penjualan sayur-sayuran, buah, dan daging. Sehingga petani tidak perlu menghabiskan waktu menjual produk mereka dan bisa fokus untuk mengurus peternakan atau lahan pertanian mereka.

 

Dari situ saya berpikir, kenapa hal-hal seperti ini tidak kita lakukan juga di Papua sehingga kita bisa membantu petani, nelayan, dan para pelaku UMKM? Bagi saya, di Papua masih banyak terjadi permasalahan seperti kesehatan, ekonomi, dan juga pendidikan, khususnya di daerah perkampungan. Sebagai contoh, bagaimana anak-anak di sebuah keluarga bisa berkembang untuk mendapatkan layanan kesehatan, ekonomi, dan pendidikan yang bagus apabila orang tuanya tidak punya waktu yang banyak untuk merawat mereka? Di Papua, waktu tersebut dipakai lebih banyak berada di pasar untuk menjual produk pertanian mereka. Akhirnya, kami membuat sebuah tempat penampungan dan penjualan secara offline dan online untuk produk-produk tersebut yang bernama Anggimart.

 

Apa yang menjadi tantangan Anda saat melakukan kegiatan sosial tersebut?

Banyak tantangan yang saya hadapi, baik dari dalam diri sendiri ataupun dari luar. Tetapi yang yang paling umum dan krusial itu bagaimana kita bisa mendorong masyarakat untuk menjadi mandiri. Ini hal yang paling sulit sekali. Jadi mindset berpikir masyarakat Papua lebih ke pola konsumtif. Ini menjadi sebuah tantangan ketika kita mau mendorong masyarakat untuk bergerak ke sektor produktif. Masyarakat tersebut ingin sesuatu yang sifatnya cepat dan instan, sangat susah sekali untuk mendapatkan sesuatu melalui sebuah proses. Ini yang menjadi tantangan kita untuk mendorong masyarakat bergerak pada sektor UMKM.

Pelatihan para pelaku UMKM di Manokwari (Foto: Dok. Pribadi)

Bagaimana Anda tertarik untuk apply beasiswa LPDP?

Saya kuliah S1 di fakultas Sastra Inggris dan selesai tahun 2014. Jadi setiap saya melihat foto dari tempat ikonik di luar negeri, seperti di Inggris, kemudian di Amerika, saya selalu mempunyai mimpi untuk keluar negeri. Saya mengikuti beasiswa LPDP melalui program afirmasi. Saat itu pertama kalinya program tersebut dijalankan. Saya tertarik karena saya memiliki basic bahasa Inggris sedikit-sedikit, jadi saya memberanikan diri saja. Puji Tuhan, saya bisa lulus beasiswa LPDP tersebut.

 

Apa yang membuat Anda tertarik belajar di School of Oriental and African Study (SOAS), University of London?

Waktu kuliah S1 dulu, saya bergabung dengan lembaga penelitian bahasa yaitu CLD (Center of Endangered Language Documentation). Tugas kami melakukan pendokumentasian bahasa-bahasa daerah di Papua yang akan atau hampir punah. Dari situ, saya bertanya kepada profesor atau teman-teman di lembaga tersebut tentang kampus di luar negeri yang cocok untuk menempuh studi tentang bagaimana mendokumentasikan bahasa dan bagaimana kita menjaga sebuah bahasa untuk tetap bertahan hidup atau istilahnya revitalisasi bahasa. Kemudian, prosesor tersebut merekomendasikan kampus School of Oriental and African Study (SOAS) di University London. Itulah kenapa saya sampai ke SOAS dan mengambil program yang spesifik langsung ke pendokumentasian revitalisasi bahasa.

SImon diundang ke istana negara sebaga tokoh pemuda inspiratif Papua (Foto: Dok. Pribadi)

Pengalaman menarik apa yang paling berkesan bagi Anda saat menempuh pendidikan di Inggris?

Pengalaman yang paling menarik itu ketika saya stuck pada sebuah tugas yang luar biasa susah. Saat saya stuck di situ, ada banyak tangan yang membantu. Jadi teman-teman disana, ketika kita mendapati sebuah masalah, mereka dengan tangan terbuka ingin membantu. Itu pengalaman yang menarik dan tidak pernah saya lupakan. Saya juga ingin ke depannya, sistem atau iklim pendidikan yang ada di Papua seperti itu. Sistem tersebut bagus sekali. Saya yakin ketika iklim pendidikannya seperti itu, tidak akan ada anak yang tertinggal, pasti semua akan maju.

 

Apa pesan Anda bagi anak muda Indonesia yang sedang berjuang meraih cita-cita?

Yang pertama, kepada teman-teman yang sedang menuntut ilmu, tetaplah menjaga kesehatan. Kedua yaitu fokus. Ini satu kata yang pendek hanya terdiri dari 5 huruf, tetapi sangat bermakna. Fokuslah pada hal-hal yang sedang teman-teman kerjakan. Kemudian yang ketiga, pada awalnya saya sangat minder sehingga saya tidak membuka diri untuk meminta masukan dari teman-teman sekitar. Mula-mula saya sangat sulit untuk menjalankan studi. Jadi pesan saya, teman-teman membuka dirilah untuk menyampaikan masalah yang sedang kalian hadapi. Kita bisa membuka diri kepada teman-teman sekelas dan tenaga pengajar. Lalu yang terakhir, istilahnya “sambil menyelam minum air”. Ketika kita sudah berada di luar, selain fokus pada studi, kita juga bisa belajar dari kemajuan-kemajuan yang sudah dicapai dari sebuah tempat atau negara. Pada saat kita kembali dan mengabdi ke daerah asal, pengalaman tersebut bisa menjadi sumber inspirasi untuk melakukan sebuah gerakan di tempat kita sendiri.