Di Balik Julukan Begawan Ekonomi: Sumitro Djojohadikusumo dan Nilai Hidup yang Ia Wariskan

31 Oktober 2025
OLEH: Gumilar Rachdityo Mumpuni dan Rukmi Hapsari
Di Balik Julukan Begawan Ekonomi: Sumitro Djojohadikusumo dan Nilai Hidup yang Ia Wariskan
 

“Saya ini bukan arsitek kebijakan, hanya pengangkut bahan bangunan.” – Sumitro Djojohadikusumo.

Julukan Begawan Ekonomi memang melekat pada nama Sumitro Djojohadikusumo. Namun bagi keluarga, sahabat, dan murid-muridnya, ia lebih dulu seorang ayah, kakek, guru, dan sahabat. Gelar itu tidak semata lahir dari reputasi akademik atau kiprah politiknya, tetapi juga dari cara ia menempatkan diri. Ia sederhana, penuh humor, dan selalu mengingatkan bahwa ekonomi sejatinya adalah tentang manusia.

Ia sering merendah, “Saya ini bukan arsitek kebijakan, hanya pengangkut bahan bangunan.” 

Kalimat yang tampak ringan, tapi sesungguhnya sarat makna. Bentuk kerendahan hatinya yang tak ingin dikenang sebagai tokoh di puncak menara gading. Sumitro ingin orang mengenalnya sebagai seseorang yang menyiapkan jalan bagi generasi berikutnya.

Kesederhanaan yang Membentuk Karakter

Meski lahir dari keluarga priayi menengah pada masa Belanda, Sumitro tumbuh jauh dari kesan mewah. Saat kuliah di Rotterdam, hari-harinya lebih banyak dihabiskan di perpustakaan, larut dalam bacaan filsafat, sastra, dan politik. Ia mengagumi Malraux, Nietzsche, hingga Nehru, bahkan sempat mengikuti kuliah filsafat Henri Bergson di Sorbonne. Dari semua itu, pemikiran Andre Malraux-lah yang paling menancap dalam pikirannya.

Bagi Sumitro, Malraux lebih dari sekadar penulis besar. Malraux adalah seorang man of action, sosok yang gagasannya hidup dalam tindakan. Ia kerap mengutip salah satu kalimat Malraux dari pidatonya pada tahun 1935, di tengah bayang-bayang perang dunia. 

“Peradaban tiada lain berarti mengabdikan kekuatan manusia pada pencapaian impiannya; bukanlah menjadikan impian manusia sebagai abdi kekuatan,” pesan Malraux dalam pidato tersebut.

Bagi Sumitro muda, pesan itu adalah pengingat agar manusia jangan pernah kehilangan impian, sekelam apapun keadaan. Kekuatan manusia, menurutnya, justru lahir dari keberanian menjaga asa dan ikut terlibat dalam kehidupan masyarakat.

Renungan tersebut ia bawa dalam perjalanan panjangnya, mulai dari keterlibatannya di Partai Sosialis Indonesia, menyaksikan penderitaan rakyat desa, menghadapi krisis Eropa, hingga berjuang di masa-masa awal Republik Indonesia. Hidup membuatnya terbiasa dengan krisis. Ia tidak hanya man of action, tapi juga man of crisis. Sumitro selalu selalu teguh dan berpihak pada rakyat kecil. 

Ekonom dan Ketua Pengurus Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES), M. Dawam Rahardjo pernah menegaskan, “Warisan penting Sumitro bagi Indonesia adalah pemikirannya tentang bagaimana mengembangkan ekonomi yang berpihak kepada rakyat.” 

Ia mengutarakannya dalam acara mengenang 100 tahun Sumitro Djojohadikusumo pada 29 Mei 2017. Dawam juga mengenang kiprah Sumitro saat meluncurkan Sistem Ekonomi Gerakan Benteng, sebuah program yang bertujuan mengubah struktur ekonomi kolonial menjadi struktur ekonomi nasional. Program ini membuka jalan lahirnya para pengusaha pribumi yang bermodal lemah. Mereka perlu diberi kesempatan untuk berpartisipasi dalam pembangunan ekonomi nasional.

Menariknya, pilihan Sumitro untuk masuk ke jurusan ekonomi pun bukan keputusan yang penuh perhitungan. 

“Saya sebetulnya tidak tertarik pada ilmu ekonomi, tapi saya ingin mengerti apa yang terjadi di negara saya sendiri dan di dunia. Jadi itu pilihan yang betul-betul serampangan karena saya lebih tertarik pada filsafat dan sastra,” ujarnya suatu ketika dalam wawancara dengan Dr. Thee Kian Wie.

Kesederhanaan itu ia bawa sampai menjabat menteri. Fasilitas berlebih sering ia tolak. Baginya, jabatan hanyalah alat, bukan tujuan. Ia percaya integritas dan pengabdian lebih bernilai daripada segala privilese.

Guru yang Membuka Mata Mahasiswa

Sebagai dosen, Sumitro Djojohadikusumo tidak hanya mengajar teori. Ia hadir sebagai sosok yang mendorong mahasiswa untuk berpikir kritis, mempertanyakan keadaan, dan menemukan jawaban sendiri. 

Di ruang kelas, ia kerap menantang mahasiswa dengan pertanyaan sederhana tapi tajam, “Apa sebenarnya inti dari masalah ini?” 

Seringkali, jawaban pertama mahasiswa belum tepat. Tapi bukannya kecewa, Sumitro akan tersenyum dan membimbing mereka, hingga mereka menyadari sendiri kesalahan dan belajar mengartikulasikan pemikiran dengan lebih jernih. 

Di sisi lain, baginya kemampuan teknis saja tidak cukup. 

“Begitu banyak orang keliru menangani masalah. Atau lebih buruk lagi, mereka sama sekali tidak mengidentifikasi masalah. Mereka punya teknik, tapi tidak tahu apa yang sebenarnya perlu diselesaikan,” ujar Sumitro. 

Prinsip ini menjadi pedoman hidup yang ia tularkan dalam setiap diskusi santai di sela jam kuliah atau saat menegur mahasiswa yang terlalu cepat memberikan jawaban.

Ia juga peduli dengan masa depan murid-muridnya. Dialah yang pertama kali berani mengirim mahasiswa Indonesia belajar ke luar negeri, membuka jalan lahirnya generasi ekonom terkemuka. 

“Seorang guru tidak hanya memberi ilmu, tetapi juga menyiapkan muridnya menghadapi dunia,” katanya.

Buku, Humor, dan Sahabat Lintas Benua

Di balik wajah tegasnya, Sumitro memiliki selera humor yang khas. Kedua putrinya, Biantiningsih dan Maryani, pernah bercerita bahwa ayah mereka gemar sekali bercanda, bahkan iseng melakukan “prank.” Suatu kali di sebuah hotel di Prancis, ia meminta pelayan menyajikan kopi Banyumas. Tentu saja sang pelayan bingung, tapi tetap mencatat pesanan seakan-akan kopi itu bisa dicari suatu saat.

Hobinya pada bacaan juga unik. Ia melahap karya Freud dan Jung, bahkan membaca teori-teori Schumpeter dan Frank Knight dalam bahasa aslinya. Schumpeter, yang menekankan pentingnya inovasi dan keberanian mengambil risiko, ia akui sangat memengaruhi cara pandangnya. Namun, ia juga suka menertawakan dirinya sendiri. 

“Keynes? Saya pura-pura memahaminya,” katanya suatu kali sambil terkekeh, seolah menegaskan bahwa bahkan seorang begawan ekonomi pun bisa kebingungan menghadapi buku yang rumit.

Namun di luar itu, ia tetap punya sisi ringan. Di rumah ia gemar bercerita tentang masa kecilnya di pedesaan, tentang paceklik, atau sekadar kisah kecil yang membuat keluarga tertawa. Sahabat-sahabat dekatnya juga datang dari berbagai latar belakang. Ia akrab dengan ekonom seperti Walter Heller di Amerika, hingga Andreas Papandreou di Yunani, yang kelak menjadi Perdana Menteri. Pertemanan lintas batas itu menunjukkan betapa luas wawasannya, sekaligus betapa mudahnya ia menjalin hubungan personal.

Pandangan Visioner dan Kritik Tajam

Selain sisi pribadinya yang hangat, Sumitro Djojohadikusumo meninggalkan warisan pemikiran ekonomi yang tajam dan visioner. Dalam sambutannya yang berjudul The Political Economy of Indonesia, Past, Present and Future, ia menyoroti periode turbulensi yang sedang dialami Indonesia pada masanya. 

“Meski demikian, kita telah berhasil mencegah terjadinya suatu crash,” ujarnya dengan nada tenang, menunjukkan ketajaman analisis sekaligus keyakinan pada kemampuan bangsa.

Menurut ekonom Stefan Sapto Handoyo, kontribusi Sumitro sangat besar terutama di awal kemerdekaan. 

“Keunikan Profesor Sumitro adalah bisa membaca situasi ekonomi makro pada saat itu dan bagaimana menerjemahkannya untuk bisa tepat guna, untuk menghidupkan ekonomi mikro Indonesia,” ungkap Stefan. 

Dalam pandangan Stefan, Sumitro adalah bapak perkreditan rakyat

“Kenapa beliau menekankan kredit dan perbankan? Karena beliau memahami benar, jika ekonomi itu diartikan tubuh manusia, jantungnya itu adalah bank. Kalau jantungnya tidak sehat dulu, ekonominya tidak akan jalan. Itulah briliannya Profesor Sumitro,” jelasnya dalam acara Peringatan 108 Tahun Sumitro.

Sumitro juga menekankan kewaspadaan terhadap utang luar negeri. Dengan debt service ratio yang sudah mencapai 32 persen, ia mengingatkan perlunya kebijakan yang mampu menarik investasi asing langsung, memperkuat ekspor, dan menyerap tenaga kerja. 

“Jika itu tercapai, debt service ratio bisa ditekan hingga 20–25 persen dalam lima tahun,” katanya optimis. Namun ia menegaskan, pandangannya bukanlah ramalan, melainkan panduan untuk membuat keputusan yang bijak.

Bagi Sumitro, menghadapi masa depan berarti siap menghadapi kabut dan ketidakpastian. Itu menuntut kemampuan untuk mengantisipasi kemungkinan, menyusun strategi, dan meneladani praktik terbaik yang relevan. Ia juga tidak segan mengkritik praktik inefisiensi dalam ekonomi Indonesia, yakni monopoli, proteksionisme, dan intervensi kebijakan yang salah arah yang menambah biaya produksi, transportasi, dan perdagangan. Menurutnya, jalan keluar tidak cukup hanya lewat kebijakan moneter atau fiskal; yang dibutuhkan adalah reformasi struktural dan perbaikan institusi.

Warisan intelektual Sumitro tetap relevan hingga kini. Ia mengingatkan bahaya utang luar negeri, menyoroti pentingnya investasi langsung dan ekspor, sekaligus mengkritik monopoli serta inefisiensi yang membebani rakyat. 

Baginya, pembangunan tidak bisa berhenti pada angka dan grafik, tetapi harus menyentuh kehidupan manusia. Ekonomi, katanya suatu kali, adalah soal bagaimana kita mengurangi kesenjangan dan memperbaiki keseimbangan masyarakat.

Di Balik Julukan, Ada Hati yang Hangat

Bagi banyak orang, nama Sumitro Djojohadikusumo selalu identik dengan angka, kebijakan, dan pemikiran ekonomi yang besar. Tapi bagi mereka yang dekat dengannya, Sumitro adalah sosok yang jauh lebih hangat dan akrab.

Di ruang-ruang kelas, ia tak segan bercanda dengan murid, menertawakan kesalahan kecil mereka, atau sekadar menyelipkan lelucon ringan di tengah diskusi serius. Di rumah, kesederhanaannya terpancar melalui pilihan hidup sederhana, waktu berkualitas bersama keluarga, dan perhatian tulus kepada orang-orang di sekitarnya.

Suatu kali, ketika diminta menilai perannya dalam pembangunan ekonomi Indonesia, Sumitro merendah.

"Saya kira saya tidak dapat disebut sebagai arsitek kebijakan ekonomi. Yang dapat saya klaim adalah bahwa saya sudah mengangkut sejumlah bahan bangunan. Para arsitek akan datang kemudian dan barangkali bisa memanfaatkan blok-blok bangunan saya," ungkapnya.

Kata-kata itu memancarkan kerendahan hatinya sekaligus mencerminkan filosofi hidup yang ia pegang, yaitu ilmu pengetahuan dan pemikiran besar seharusnya tidak berhenti di buku atau perdebatan, tetapi harus hadir nyata dalam kehidupan rakyat dan dibalut dengan sentuhan kemanusiaan.

Sumitro mengingatkan kita bahwa di balik gelar, julukan, dan prestasi, selalu ada hati yang hangat. Hati yang menuntun pikiran dan tindakannya, sehingga ia dikenal tidak hanya sebagai Begawan Ekonomi, tetapi juga manusia sejati.


Gumilar Rachdityo Mumpuni dan Rukmi Hapsari