Hati Baja Sang Pendekar, Devi Ulumit, Alumni LPDP Master Teknik Kelautan
Tuhan tidak akan memberikan suatu cobaan yang melebihi kemampuan hambanya. Mungkin itu kalimat yang mendasari Devi dalam segala aspek kehidupannya. Senyumnya tetap terpasang rapi meskipun hatinya koyak, fisiknya terlampau lelah hingga langkahnya yang gontai. Devi percaya akan ada balasan dari setiap keikhlasan, yang pada akhirnya hari ini dia mampu menikmati buah hasil perjuangannya.

Anak Ambulu
Bidang kelautan telah akrab dengan perempuan satu ini. Devi Ulumit Tyas, wanita asli Ambulu, Kabupaten Jember ini merupakan konsultan di bidang Teknik Kelautan dan salah satu pengajar di almamaternya, Institut Teknologi Bandung. Siapa yang mengira dibalik penampilan tangguhnya tersimpan banyak kisah hidup yang mungkin bagi sebagian orang dirasa terlalu berat untuk dipikul.
Kisahnya bermula saat Devi, panggilan akrabnya, masih menjadi anak tunggal orang tuanya. Ambulu yang hanya sebuah kecamatan kecil yang jauh dari kota membuat orang tua Devi merasa kesulitan untuk memasarkan produk kerajinan hasil buah tangan mereka sendiri. Mereka sepakat untuk mencoba peruntungan di pulau sebelah, Bali, dengan segala kemegahan seni dan turis sebagai konsumennya. Rumah kontrakan kecil yang dibangun semi permanen di atas got menjadi tempat berlindung Devi dan keluarga saat itu. “Orang-orang Jember banyak yang merantau ke Bali termasuk Bapak saya yang menjual kerajinan tangan ibu-ibu di sekitar rumah, membuat kerajinan tangan, lalu itu dibawa ke Bali,” kata Devi.
Tak berjalan mulus, ternyata Bali tak mampu memperbaiki keadaan saat itu. Kembalilah mereka ke Ambulu saat usia Devi menginjak 4 tahun. Ayah Devi adalah seorang pendekar di salah satu perguruan silat. Sangat besar harapannya, jika ilmunya bisa diturunkan ke anaknya. Ayahnya berharap memiliki anak laki-laki namun hanya Devi yang ada saat itu. Devi sering merasa bahwa dia hanya menjadi "anak yang tidak diharapkan". Devi menutupi itu dengan rajin berlatih silat, bahkan sampai pukul 01.00 dini hari. Saat itu mungkin Ayahnya hanya melihat sebelah mata, namun lambat laun ketangguhannya memang teruji.

Membuat Bangga
Jika ada yang selalu diimpikan Devi adalah membuat bangga Ayahnya karena hanya dengan hal itu emosi Ayahnya akan mereda. Devi belia adalah langganan juara kelas saat SMA. Lagi-lagi, ia hanya ingin membuat Ayahnya bangga. “Nah, saya itu berasal dari keluarga yang patriarki. Bapak saya sangat keras. Lingkungan rumah saya tidak nyaman untuk saya. Motivasi terbesar saya adalah membuat situasi rumah nyaman. Caranya saya harus juara. Saya harus membanggakan Bapak saya supaya Bapak saya happy dan keluarga saya nyaman gitu,” kata anak sulung dari tiga bersaudara itu.
Di ujung masa SMA, ada seniornya yang datang untuk memberi motivasi pada adik kelasnya untuk lanjut berkuliah di ITB, tempat orang sukses menurut Devi. Tak pikir panjang, saat itu juga di kepalanya hanya jadi satu tujuan, masuk ITB. Bahkan, Devi sempat menolak beasiswa kedokteran dari salah satu universitas di Jawa Timur hanya untuk berkuliah di ITB.
Bermodal juara kelas berturut-turut tak membuat Devi lulus SPMB ITB. Kurangnya persiapan dan kaget dengan sengitnya persaingan di luar Ambulu, menjadi sebab Devi tak lulus. “Jadi saya enggak persiapan apapun karena situasi rumah saya juga enggak memungkinkan untuk belajar sebetulnya,” ujar Devi. Dunianya hancur. Ia kecewa, sedih. Devi sempat mengurung diri di kamar sempitnya, sebelum dia memutuskan ke wartel menelepon seniornya di ITB dan bercerita tentang kegagalannya.
Seniornya menyarankan agar ia ikut bimbingan di kota Jember. Berangkatlah Devi ke kota yang jaraknya kurang lebih satu jam untuk bimbingan selama setahun, bermodal uang yang Ayahnya coba pinjam kesana kemari sebagai biaya les. Tentu saja untuk hidup, Devi sehari-hari harus mengusahakannya sendiri. Berbagai pekerjaan serabutan ia lakukan untuk menyambung hidup. Apalagi ditambah dia harus indekos. “Saya jualan, melakukan segala hal yang bisa untuk mendapatkan uang,” kenang Devi.

Masuk Kampus Gajah
Setelah setahun persiapan, Devi lebih siap menghadapi seleksi masuk ITB. Benar saja, Devi berhasil masuk ke ITB di jurusan teknik. Ibunya mulai bergerilya mencari pinjaman sana sini untuk modal Devi ke Bandung. Hanya terkumpul 3 juta yang dapat Ibunya berikan. Kereta jadi pilihan Devi menuju kota kembang.
Saat waktu daftar ulang, Devi tiba pagi sekali. Namun ketika antriannya sudah di depan, Devi kembali mundur. Begitu seterusnya hingga bapak paruh baya yang menjaga loket kebingungan dan menanyakannya. Ternyata Devi tahu jika uang yang sedari tadi dibawanya masih kurang untuk pembayaran daftar ulang masuk ITB. Surat keterangan tidak mampu sebagai bekal "diskon"-pun tak ia punya. Bapak itu menyarankan penangguhan pembayaran, namun harus ada wali yang bersedia tanda tangan untuk bertanggung jawab. Devi kembali menelepon seniornya yang akhirnya bersedia untuk membubuhkan tanda tangannya.
Perjuangan Devi berlanjut dengan harus rela berputar-putar mencari rumah sementara yang murah karena terbatasnya dana. Akhirnya, ditemuinya kos seharga 900 ribu setahun yang pembayarannya bisa dicicil setelah Devi membujuk pada ibu kos. Jauh di bawah harga kosan umum namun dengan segala keterbatasan yang ada.
Lagi-lagi Devi harus memutar otak untuk bisa bertahan di ibu kota Jawa Barat itu. Devi paham bahwa orang tuanya tak mampu untuk mengiriminya uang bulanan. “Saya enggak tahu ke depannya harus gimana. Makanya saya ngirit ya karena belum tahu saya akan dapat uang dari mana? Saya bilang sama ibu, enggak usah kirim (uang),” kenang Devi. Pernah dia tak makan sampai 3 hari. Devi lebih memilih untuk tak makan namun bisa membeli pulsa untuk menelepon ibunya setiap hari.
“Karena balik lagi situasi rumah saya tidak aman, tidak nyaman. Jadi saya memilih uang saya buat beli pulsa untuk telepon ibu. Untuk memastikan bahwa ibu saya aman di rumah,” lanjutnya.
Segala pekerjaan yang terlintas di benaknya semua dilakukan. Dari berjualan donat sampai menjadi guru les, berjualan manik-manik, melamar di berbagai kafe. Dia mengambil pekerjaan itu sambil tetap berkuliah.

Roda Kehidupan
Paruh kedua tingkat pertama, setelah menebar jala pada banyak beasiswa, Devi berhasil mendapat beasiswa penuh untuk biaya kuliahnya selama empat tahun ditambah uang 200 ribu sebagai uang buku yang lebih sering dia gunakan untuk makan. Devi punya julukan “bolang” (bocah petualang) yang diberi teman-temannya karena kebiasaannya yang berjalan kaki. Bukan tanpa alasan, Devi memang tidak punya uang untuk naik angkot atau kendaraan lainnya. Dia harus berjalan kaki kemanapun dengan jarak berkilo-kilo meter melewati hujan dan panas kota kembang.
Saat masuk ke tingkat dua adalah waktu penjurian untuk Devi. Jurusan teknik yang dipelajarinya mewajibkannya memilih kekhususan di tingkat ini. Devi memilih Teknik Kelautan. Belum banyak yang berminat katanya, sesederhana itu. Lewat Teknik Kelautan ini juga Devi sedikit menemukan harapan. Pasalnya, dia mendapat pekerjaan di bagian tata usaha jurusan. “Jadi ketika masuk Teknik Kelautan saya menghadap ke Kaprodi. Saya minta kerjaan gitu. Nah di tingkat dua, begitu dapat itu, (saya) dapat gaji 600.000,” cerita Devi.
Devi sedikit lega karena ada penghasilan tetap untuk sementara. Dia membantu pekerjaan membuat copy berkas, kadang juga membuatkan teh, dan segala bantuan yang diminta pegawai di situ. Namun sayang, pekerjaannya hanya bertahan setahun.
Beruntung, ada dosen yang menawarinya pekerjaan lain. Pak Handoyo namanya. Dosennya memang punya beberapa proyek dan Devi diminta untuk membantunya. Devi senang bukan main. Tak jarang dia sampai menginap di kantor untuk menyelesaikan pekerjaan. Namun Devi tetap tak melupakan kuliahnya. Dengan dedikasinya itu, Pak Handoyo memberinya sepeda onthel untuknya agar tak perlu lagi berjalan kaki kemana-mana. “Dosen saya itu mengajari dari nol. Saya dipinjami semuanya. Dipinjami laptop terus habis itu dikasih sepeda. Waktu itu dibeliin terus, jadinya semangat. Semua difasilitasi terus kayak keren banget,” kata Devi sambil terkekeh.
Hingga akhirnya pada tahun 2011 Devi menyelesaikan kuliahnya di ITB, ia masih bekerja bersama dosennya itu. Dari pekerjaanya Devi bisa membantu orang tuanya di kampung. Setiap bulan dia mengirim uang untuk kebutuhan hidup keluarganya. Dia juga membantu biaya untuk sekolah dua adiknya. Devi sadar uang dari berjualan kerajinan tak seberapa. Karena hal itu, Devi harus hidup irit. Pernah dia tak makan hingga 2-3 hari, yang terpenting menurutnya adalah kedamaian di rumah. “Tabungan utang” orang tuanya juga sedikit demi sedikit dicicil oleh Devi. Bisa dibilang Devi jadi tulang punggung keluarganya saat itu.

Asupan Jiwa
Selain disibukkan dengan kegiatan perkuliahan serta pekerjaan sambilan untuk menyambung hidup, Devi juga aktif dalam kegiatan sosial seperti menjadi reader di panti tunanetra serta ikut membantu di panti jompo. Bahkan orang yang dibantu di panti tuna netra oleh Devi sempat dibantu hingga lulus CPNS.
“Jadi saya sporadis aja sendirian ke panti tunanetra, ke panti jompo. Itu masih untuk memenuhi kebutuhan sosial,” jawab Devi ketika ditanya alasannya. “Jadi kita bahagia kalau bisa membantu orang lain. Ya saat itu uang saya enggak berlebih, jadi saya gak bisa bantu dengan uang. Saya hanya punya sisa-sisa tenaga, ya sudah saya lakukan itu,” lanjutnya.
Cerita Devi berlanjut dengan dia mengundurkan diri dari pekerjaannya dan memutuskan untuk mengikuti seleksi Indonesia Mengajar, sebuah program bagi volunteer untuk mengajar di daerah terpencil. Bosnya sempat bingung dengan pilihannya ini. Pekerjaan tetap yang ada malah ditinggalkannya, tapi bosnya akhirnya mafhum. Sedari awal Devi melakukan semua untuk membanggakan Ayahnya. Ia belum sempat membahagiakan hatinya sendiri, dan perjalanan ini adalah cara Devi "memberi makan" pada hatinya.
Devi ditempatkan di Musi Banyuasin, sebuah daerah di pinggir Sungai Musi yang bisa dicapai menggunakan speedboat selama 6 jam dari ibukota Sumatera Selatan. Devi mendapat tugas untuk mengajar di Sekolah Dasar, mengisi kekosongan guru yang ada. Pernah pula dia jadi guru kelas. Dia mengajar di beberapa sekolah di daerah tersebut. Murid-murid Devi menyukai model pembelajaran "bahagia" yang dilakukan Devi. Meskipun jika dihitung dengan materi, uang dari Indonesia Mengajar malah minus karena Devi lebih sering memberinya kepada anak-anak dan warga desa yang kekurangan.
Devi membuat program "road to olimpiade"-nya saat mengajar anak didiknya. Dia mengajarkan soal-soal yang sering muncul di perlombaan itu. “Akhirnya bisa 11 murid lulus Olimpiade ke Kabupaten,” kenangnya. Hingga salah satu anak didiknya berhasil lulus sampai tingkat nasional. Tidak ada yang menyangka sebelumnya, sekolah pelosok yang tiba-tiba muncul dalam waktu singkat mewakili Sumsel dalam kejuaraan Olimpiade.

Lanjut Studi
Setelah setahun mengabdi, Devi kembali ke Bandung. Belum tahu apa yang akan dilakukannya, dia lantas bersilaturahmi ke Pak Handoyo yang dia anggap seperti Ayahnya sendiri. Tak disangka Pak Handoyo malah memberi pekerjaan lamanya. Pekerjaan inilah yang berlanjut hingga hari ini.
Devi sempat hilang arah, merasa terlalu nyaman dan butuh tantangan baru. Menambah ilmu dan keterampilan di bidangnya adalah hal baik menurutnya. Mulailah Devi mencari informasi tentang studi lanjut. Devi memilih LPDP sebagai kendaraan. ITB dengan jurusan sama, Teknik Kelautan, menjadi targetnya dengan banyak pertimbangan.
“Tapi kita realistis, anak saya masih kecil. Adik saya juga masih kuliah di Jember. Hal-hal yang di luar kendali harus sesedikit mungkin. Kalau saya ke luar negeri saya harus penyesuaian lagi. Untuk diri saya sendiri masih agak berat, tapi kalau saya lanjut di sini saya bandingkan kurikulum dan segala macamnya saya lebih oke di sini untuk S2,” tutur Devi.
Tak mengulang kesalahannya dulu saat pertama masuk kampus gajah, Devi menyiapkannya betul-betul seleksinya. Dengan sekali tes, ia lulus pada 2019 lalu. Dua tahun kemudian Devi mendapat gelar baru, Master di Bidang Teknik Kelautan. Baru-baru ini Devi juga sempat mendapat penghargaan Kartini Awards dalam bidang passion education yang diberikan pada wanita peduli pendidikan dan berjasa sesuai dengan pendidikannya. Devi dengan Teknik Kelautan dan Indonesia Mengajar di Musi Banyuasin terpilih menjadi pemenangnya.

Mimpi dan Pesan Devi
Ambisi besar Devi saat ini adalah ingin melanjutkan kuliahnya ke tingkat doktoral. Impiannya ingin menjadi salah satu pengajar di almamaternya sekaligus membantu mahasiswa di sana. Dia tak ingin ada mahasiswa yang kesulitan seperti dirinya dulu seperti seniornya yang mengajarkannya untuk memotivasi saat dia terpuruk, memberikan semangat kepada adik-adik kelasnya. “Saya ingin membantu mereka,” jawabnya lugas.
Tak lupa Devi juga berpesan agar jangan merasa paling oke, jangan merasa paling menderita juga. Ia berharap jika ada yang merasa kepentok di suatu hal, carilah jalan yang lain. “Jangan meratapi, lanjut aja, yakin pasti akan ada jalan keluar,” pesannya.
“Kalau misalkan kalian tidak beruntung seperti saya dulu, tidak beruntung secara ekonomi, kalian cari informasi (pendidikan) sebanyak-banyaknya. Yakinlah bahwa cara paling mudah untuk mengubah hidup kalian adalah pendidikan. Itu yang paling mudah. Ketika ada masalah dalam mencapainya ya tambah kembalikan lagi kepada Allah,” pungkasnya.