Kisah Janu, Tukang Sayur Lulusan University of Birmingham Inggris, Alumni LPDP Pendiri Sayur Sleman
Janu Muhammad adalah pemuda lulusan University of Birmingham, Inggris dengan jurusan Human Geography. Namun, uniknya, Janu, panggilan akrabnya saat ini menggeluti profesi sebagai agri-sociopreneur lewat usaha Sayur Sleman yang didirikannya pada 2020 silam. Kehidupan dewasanya penuh dengan prestasi. Namun, sifat membumi dan rasa sosial yang tinggi membuat sosok ini menjadi lebih spesial.

Geografi
Janu lahir dari keluarga sederhana di kota istimewa, Yogyakarta. Orang tuanya adalah penjual sayuran yang berdagang di Pasar Sleman. Untuk menambah penghasilan, ayah Janu juga menjadi buruh tani, sementara ibunya terkadang membantu berjualan ayam. Walaupun hidup sederhana, orang tua Janu selalu mendorongnya untuk terus bersekolah. Ibunya rela menyisihkan uang agar Janu bisa berkuliah. Tujuannya jelas agar Janu bisa menjadi orang yang lebih bermanfaat.
Setelah menyelesaikan pendidikannya di SMAN 2 Yogyakarta, Janu melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi. “SMA dulu saya IPA tapi melanjutkan kuliah di UNY (Universitas Negeri Yogyakarta). Sebenarnya UNY itu pilihan kedua, yang kesatu UGM (universitas Gadjah Mada) tapi belum rezeki. Kalau di UGM dulu pengin Geografi karena saya memang suka Geografi”, kenang lelaki kelahiran 1993 itu. Sekolah di mana saja asal negeri sudah membuatnya senang karena lebih terjangkau pikirnya, karena Janu menyadari kemampuan orang tuanya juga terbatas. Ketika ditanya kenapa harus Geografi Janu mantap menjawab, “selain saya suka belajar tentang ilmu alam dan juga ilmu manusia. Geografi merupakan perpaduan dua rumpun, ilmu sosial dan juga ilmu alam”.

Bangku Kuliah
Janu sempat mengikuti summer school di Universitiet Utrecht, Belanda saat masih berkuliah. Setelah 3 tahun 8 bulan, Janu mengenyam studi di UNY. Pada 2015 Janu berhasil lulus dengan predikat lulusan terbaik pada program studi Pendidikan Geografi. Setelah lulus, Janu sempat bekerja di salah satu start up belajar online. Namun hanya beberapa bulan, Janu memutuskan untuk keluar. Gaji yang ia kumpulkan selama bekerja digunakannya untuk melakukan tes IELTS. Setelah lulus Janu memang sudah membulatkan tekad untuk melanjutkan studi.
Banyak seleksi yang Janu ikuti. Banyak juga kegagalan demi kegagalan yang Janu temui. Bukan Janu kalau dia cepat menyerah. Pada tahun 2016, Janu menerima beasiswa pertukaran pelajar dari pemerintah Amerika, yang bertajuk Young Southeast Asian Leaders Initiative (YSEALI) di Arizona State University pada jurusan Civic Engagement. Pada tahun itu pula Janu akhirnya berjodoh lewat program beasiswa LPDP. Janu mendaftar lewat program beasiswa afirmasi tidak mampu. Janu memilih untuk melanjutkan studi ke Inggris, tepatnya di University of Birmingham. Janu memilih program Human Geography. “Itu ngambil masih linear sebenarnya geografi, tapi saya fokus di geografi manusia ataupun human geography. Karena memang saya lebih banyak ilmu sosial yang saya pelajari di situ,” terang Janu.

Pengalaman Berharga
Pada 2017 atau setelah setahun lebih Janu berada di Inggris, Janu berhasil menyelesaikan pendidikannya. Janu memilih untuk kembali ke Sleman, rumahnya. Banyak hal yang dilakukan Janu setelah lulus. Janu pernah bersama beberapa temannya mendirikan sebuah kampus. Setelah kampus itu berdiri, Janu merasa belum puas. Dalam lubuk hatinya ia ingin mengajar, kembali ke habitatnya sebagai guru. Janu bersama beberapa koleganya mendirikan sebuah sekolah Islam, masih di daerah Yogyakarta. Sekolah tersebut berdiri mulai dari jenjang TK hingga SMP. Janu mengurus segala hal mulai dari pendirian, perijinan, rekrutmen guru hingga pencarian siswa. Bahkan Janu didapuk sebagai kepala sekolah saat itu, di usianya yang baru menginjak 25 tahun. “Dari situ memang sebelumnya tersalurkan juga passion saya ngajar karena memang saya senang berbagi,” kata Janu.
Selain menjadi kepala sekolah, Janu merangkap beberapa pekerjaan, dari guru kelas hingga humas di yayasan. Hal itu membuat Janu sedikit gusar, musabab banyak waktu yang harus dia habiskan. “Jadi ada sesuatu yang hilang menurut saya. Seperti mungkin kegemaran lain, hobi, beraktivitas sosial, ataupun berkomunitas hilang gitu selama 3 tahun,” terang Janu.
Sebenarnya tak ada penyesalan dalam dirinya. Bahkan Janu banyak bersyukur telah diberi banyak pengalaman. “Bagi saya, setiap pengalaman ada pembelajarannya. Jadi kalau ada masalah atau apa ya kita bukan untuk malah lari ataupun bersembunyi, tapi memang harus dihadapi. Perkara nanti hasilnya seperti apa, saya serahkan sama Allah SWT,” ungkapnya.

Pilihan Sulit
Pada 2020, pandemi yang menyebar hampir di seluruh dunia termasuk Indonesia sedikit merubah ritme hidup Janu. Pasar mulai sepi, banyak aspek yang berubah dalam berkehidupan. Pasar tempat orang tuanya berjalan mulai sepi, banyak dagangan yang tidak laku. Bukan hanya orang tuanya tapi hampir semua pedagang merasakan dampak dari pandemi. Berawal dari curhatan orang tuanya yang mengeluh dagangan yang sepi, Janu bersama istrinya mencoba membantu dengan menjajakan produk-produk di pasar seperti sayuran lewat instagram dan pesanan lewat whatsapp.
Waktu itu janu bisa mendapat 15 sampai 20 orderan setiap harinya, mulai dari wilayah Klaten hingga Magelang. Perjalanannya saat itu lumayan berat, Janu harus bisa membagi waktu. Malam hari Janu menyiapkan pesanan sayur. Setelah subuh dia harus mengantar setiap pesanannya, dan sebelum setengah tujuh pagi ia harus sudah berada di sekolah untuk mengajar yang lokasinya berada di kaki gunung Merapi.
Setahun berlalu, Janu merasa dia harus lebih berfokus pada pekerjaannya. Dengan segala pertimbangan, berat hati Janu harus meninggalkan profesi gurunya. Janu memilih untuk berfokus membesarkan usaha berjualan sayurnya yang dia beri nama “Sayur Sleman”. Alasannya sederhana, “sekarang saya bisa (bekerja) di rumah. Lebih nyaman ya ternyata. Saya bisa lebih banyak interaksi dengan keluarga dan masyarakat,” ucap pemuda 31 tahun itu. Pada 2021, setelah anak keduanya lahir, Janu memutuskan berhenti menjadi guru.

Sayur Sleman Menebar Manfaat
Pada awal merintis Sayur Sleman, Janu merasa kesulitan untuk mengembangkannya. Pendapatannya hanya cukup untuk membayar kurir dan memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Namun Tuhan selalu memberi jalan bagi hambanya yang mau berusaha. Janu mengikuti kompetisi dari UNDP (United Nations Development Program) Indonesia. Ide inovasi tentang Sayur Sleman milik Janu berhasil memenangkan kompetisi tersebut. Janu mendapat dana dan fasilitas yang cukup untuk bisa mengembangkan usahanya.
Semakin banyak dia berinteraksi dengan masyarakat, Janu sadar dia ingin membantu lebih banyak. “Jadi menurut saya ada value yang harus saya kembalikan kembali ataupun giving back-kan ke masyarakat yang sudah mendukung saya selama ini gitu. Karena di mana pun saya melangkah ya pasti akan kembali lagi ke tempat di mana saya dilahirkan gitu,” terangnya.
Sayur Sleman yang awalnya hanya menjadi platform pemasaran sayur online saat ini telah berkembang dan memiliki beberapa program lain. Melalui program Sayur Sleman Berbagi Janu mencoba membantu masyarakat yang saat ini masih kesulitan dalam memenuhi kebutuhan dengan menyalurkan donasi dari dermawan kepada warga kurang mampu dalam bentuk paket sayur, lauk, dan buah. Banyak dari pelanggannya yang kemudian berbelanja sambil bersedekah. “Lewat program sedekah, saya setiap hari Jumat pagi sama Minggu pagi di 3 titik di jogja. Nah ini sebagian keuntungan juga kita salurkan ke situ. Tapi rata-rata orang-orang malah ingin sedekah sayur gitu,” kata agri-socioprenuership satu ini. Dikutip dari sayursleman.id, program yang telah berjalan sejak September 2020 itu telah menyalurkan lebih dari 100 juta rupiah kepada 220 penerima manfaat.
Selain itu, program lainnya adalah Sayur Sleman Academy, yaitu program pelatihan untuk menumbuhkan minat berwirausaha sosial (social entrepreneurship) bagi generasi muda usia 15-40 tahun maupun masyarakat umum. Yang salah satu tujuannya adalah memberikan solusi atas permasalahan sosial dengan membuka usaha yang menghasilkan nilai sosial (kebermanfaatan) untuk masyarakat miskin. Programnya bermacam mulai dari pemasaran digital, pelatihan kewirausahaan, agribisnis, manajemen organisasi, hingga pembuatan kompos dan pestisida nabati. “Ternyata kalau dari dulu saya bisnis modelnya hanya di bagian hilir ataupun ujung pasar, ternyata enggak cukup. Ternyata masalahnya justru di hulu juga. Hulunya adalah sulitnya mencari petani ataupun anak muda yang mau bertani. Di situlah kita ingin mengedukasi lebih banyak generasi muda untuk mau terjun di pertanian gitu,” terang Founder Sayur Sleman itu.

Ridho Orang Tua adalah Kunci
Tidak ada penyesalan yang dirasa Janu saat ini. Walaupun awalnya orang tua Janu menginginkan anaknya menjadi PNS, saat ini mereka malah menjadi orang yang paling bahagia dengan pekerjaan Janu karena ada yang meneruskan profesi mereka. “Saya juga enggak malu karena yang kami lakukan juga halal, enggak nyuri juga gitu maksudnya. Kadang kalau alumni LPDP mungkin masih pada gengsi, ya gimana bisa maju negeri kita gitu,” saat ditanya tentang profesinya saat ini. “Karena dari akar rumput itu harus dibangun secara kuat kalau mau ada perubahan besar,” lanjutnya.
Janu selalu mengingat pesan dari orang tuanya, ”tolong jujur di manapun dan kapanpun, di profesi apapun. Ya dari situ beliau sebenarnya selalu berdoa apa pun yang menjadi keputusan saya. Saya harus tanggung jawab terhadap keputusan saya, Bapak ibu hanya bisa mendoakan. Kalau beliau ridho saya tenang ya sebagai anak,” ucap Janu.
Selain disibukkan dengan pekerjaannya di Sayur Sleman, Janu juga memiliki banyak kegiatan lainnya. Seperti kegiatannya di komunitas petani milenial yang mengantarkannya menjadi salah satu Duta Muda Pertanian dari Kementerian Pertanian. Ia memiliki tugas untuk meresonansi serta meningkatkan keterlibatan anak muda dalam dunia pertanian. Janu pernah mengikuti temu petani milenial se-ASEAN, serta telah melatih 65.000 anak muda di 28 provinsi di Indonesia bersama rekan-rekan duta pertanian lainnya. Selain itu masih banyak kegiatan Janu lain, antara lain Community Manager pada RCE Regional Youth Coordinator for Asia-Pacific, kegiatan di Equity initiative yang telah mengantarnya ke berbagai negara, delegasi Indonesia di 2024 One Young World Summit, ASEAN Youth Fellow dan lainnya.
Dari sekian banyak pengalaman yang diperoleh Janu, menurutnya Equity Inisiative fellowship sangat berkesan, “karena dari filosofi ini saya bisa menginjakkan ke HBS gitu, di Harvard Business School. Iya enggak nyangka bisa ke Harvard mas gitu. Siapa yang nyangka mas orang kampung bisa di Harvard. Saya waktu di outlet juga sempat nangis sih. Kok bisa sampai di sini saya enggak expect bisa terbang sampai sini gitu. Ya itu jadi life changing experience sih menurut saya,” kenangnya sembari tersenyum.

Jadi Bermanfaat
“Menurut saya ya saya hanya ingin pengin jadi orang yang bermanfaat membawa keluarga saya menjadi keluarga yang bermanfaat juga,” jawab Janu ketika ditanya apa mimpi besarnya. “Menurut saya harus ada something yang bisa kita siapkan. Kebaikan-kebaikan yang sedang kita tabung dan itu bisa kita lakukan dalam bentuk apapun yang memang bernilai pahala ataupun manfaat untuk orang lain gitu,” lanjutnya.
“Saya enggak tahu caranya menjadi role model gimana. Tapi saya yakin apa yang bisa kita perbuat, sekecil apapun itu asalkan bernilai kebaikan itu bisa menjadi inspirasi buat orang gitu,” tutur Janu. Kedepan Janu ingin mencetak lebih banyak smart farmer dari para pemuda Indonesia. Janu juga ingin membuka kursus Bahasa Inggris untuk petani agar teman-teman petani bisa lebih mengglobal.
Janu juga mengajak anak muda untuk bisa berbagi ilmu dan berkolaborasi dengannya terutama dalam hal wirausaha dan pertanian. “Untuk teman-teman, para pemuda generasi terdidik di Indonesia. Ayo sama sama kita membuat sebuah perubahan dengan mengawali mencoba menjadi wirausaha seperti itu. Terutama di pertanian. Kalau hanya sekedar bertani tapi tidak memiliki skill wirausaha itu agak susah nanti untuk bisa lebih maju. Sama-sama kita ini memperjuangkan sektor pertanian dengan terlibat langsung di dalamnya,” pungkasnya.