Lalui Semester Pertama, APBN 2024 Turunkan Tingkat Kemiskinan dan Pengangguran

1 Agustus 2024
OLEH: Reni Saptati D.I.
Lalui Semester Pertama, APBN 2024 Turunkan Tingkat Kemiskinan dan Pengangguran
 

Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2024 sudah melewati separuh perjalanan. Meski kondisi global selama beberapa bulan terakhir penuh guncangan, perekonomian nasional pada semester I 2024 menunjukkan kinerja stabil. APBN tetap menjadi pelindung ekonomi dan rakyat Indonesia.

Menurut aturan perundang-undangan, pemerintah menyampaikan laporan realisasi semester I dan prognosis semester II APBN selambat-lambatnya akhir Juli tahun berjalan. Pada tahun ini, Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati sebagai wakil pemerintah melaporkan laporan realisasi semester I dalam Rapat Kerja Badan Anggaran DPR RI pada Senin, 8 Juli 2024. Pada kesempatan itu, Menkeu mengawali laporannya dengan menjelaskan bagaimana perkembangan ekonomi baik domestik maupun global yang mempengaruhi kinerja APBN.

Menurut Menkeu, situasi perekonomian global dalam kondisi stagnan dan lemah, antara lain dipengaruhi ketegangan geopolitik antarnegara dan pelaksanaan pemilihan umum di sejumlah negara. Keputusan The Fed menunda pemangkasan suku bunga Fed Funds Rate juga berdampak terhadap menguatnya mata uang dolar AS terhadap rupiah dan meningkatkan kembali sentimen suku bunga tinggi dalam jangka waktu lama.

Sementara itu, perekonomian domestik dalam kondisi baik. Inflasi terkendali yang ditandai oleh menurunnya harga pangan sejak Maret 2024. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) juga selalu berada di atas nilai 100 hingga semester I tahun 2024 yang menunjukkan optimisme konsumen terhadap ekonomi Indonesia. Neraca perdagangan Indonesia hingga akhir Mei 2024 melanjutkan tren surplus 49 bulan berturut-turut.

Kabar baik lainnya, tingkat kemiskinan menurun dari 9,36 persen pada 2023 menjadi 9,03 persen pada Maret 2024. Selain itu, tingkat pengangguran juga menurun dari 5,45 persen pada 2023 menjadi 4,82 persen pada Februari 2024.

“Selama satu semester ini, indikator makro ekonomi Indonesia serta realisasi APBN 2024 tercatat cukup baik,” lanjut Menkeu.

Terjaganya indikator-indikator ekonomi tersebut mendorong kinerja positif perekonomian nasional pada triwulan I yang tumbuh 5,11 persen (yoy) dan diperkirakan tetap bertahan sampai dengan semester I tahun 2024. Kerja keras APBN untuk menjaga daya beli masyarakat Indonesia melalui program perlindungan sosial, mendukung perekonomian nasional, serta melaksanakan agenda pembangunan nasional telah membuahkan hasil positif.

Realisasi APBN Semester I 2024

Harga komoditas dunia cenderung masih fluktuatif sehingga mempengaruhi upaya pemerintah dalam mencapai target pendapatan negara. Selain harga komoditas dunia, pendapatan negara juga dipengaruhi oleh kondisi perekonomian nasional dan implementasi kebijakan pemerintah, terutama di bidang perpajakan dan PNBP.

Pendapatan negara semester I tahun 2024 mencapai Rp1.320,7 triliun atau sebesar 47,1 persen dari target APBN tahun 2024. Di sisi penerimaan pajak, capaiannya dipengaruhi antara lain oleh pajak-pajak transaksional (non-PPh Badan) yang tumbuh positif sejalan dengan resiliensi ekonomi nasional, penurunan PPh Badan khususnya sektor pertambangan karena penurunan laba akibat moderasi harga komoditas tahun sebelumnya dan perubahan status izin Wajib Pajak Batubara, serta restitusi yang meningkat signifikan.

Pada penerimaan kepabeanan dan cukai, capaian pendapatan negara dipengaruhi oleh downtrading ke golongan rokok yang lebih murah yang berdampak pada penurunan tarif efektif, harga CPO yang lebih rendah dan kebijakan relaksasi ekspor mineral mentah, serta nilai impor dan kurs USD terhadap rupiah.

Sementara itu, pada sektor penerimaan negara bukan pajak (PNBP), capaian pendapatan negara dipengaruhi oleh penurunan lifting minyak dan gas bumi, turunnya SDA pertambangan minerba dampak dari moderasi harga mineral dan batu bara, serta kenaikan setoran dividen BUMN atas peningkatan kinerja keuangan BUMN.

Beralih ke realisasi belanja negara, pada semester I tahun 2024 belanja negara terealisasi sebesar Rp1.398,0 triliun atau tumbuh 11,3 persen dibanding tahun sebelumnya. Belanja pemerintah pusat sampai dengan semester I tahun 2024 meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Capaian belanja tahun ini dipengaruhi oleh belanja kementerian/lembaga melalui dukungan pelaksanaan pemilihan umum, penyaluran berbagai program bantuan sosial, dan pembangunan infrastruktur. Di sisi belanja non kementerian/lembaga, realisasi belanja didorong oleh realisasi subsidi/kompensasi energi dan pembayaran manfaat pensiun.

Pemerintah terus menjaga komitmen untuk menjaga langkah konsolidasi fiskal demi keberlangsungan APBN tahun 2024. Seiring dengan kinerja pendapatan negara dan belanja negara, postur APBN sampai dengn semester I tahun 2024 mengalami defisit sebesar 0,34 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Kondisi defisit APBN semester I menyebabkan realisasi pembiayaan anggaran pada semester I tahun 2024 juga mengalami kenaikan dibandingkan dengan realisasi tahun lalu. Pembiayaan anggaran dipenuhi diantaranya melalui penerbitan utang yang dilaksanakan secara terukur dan hati-hati dengan mempertimbangkan dinamika pasar keuangan serta kondisi saldo kas pemerintah.

Prognosis APBN Semester II 2024

Laporan World Economic Outlook (WEO) yang dirilis pada April 2024 memuat proyeksi Internasional Monetary Fund (IMF) bahwa perekonomian global tahun 2024 dan 2025 tumbuh stagnan di level 3,2 persen. World Bank bahkan memperkirakan ekonomi global tumbuh stagnan di level 2,6 persen pada tahun 2024. Lemahnya kinerja ekonomi global dipicu oleh kombinasi faktor jangka pendek, seperti tingkat suku bunga global yang bertahan tinggi, terbatasnya ruang kebijakan pemerintah, peningkatan tensi geopolitik, serta faktor struktural lain seperti fragmentasi global, perkembangan demografi, dan dampak perubahan iklim.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada semester II tahun 2024 diperkirakan mencapai 5,0-5,2 persen sehingga secara keseluruhan pertumbuhan ekonomi tahun 2024 akan mencapai 5,0-5,2 persen. Melanjutkan laju inflasi yang terkendali pada semester I 2024, diperkirakan inflasi pada paruh kedua tahun 2024 juga tetap terkendali. Meski IMF dan World Bank memproyeksikan tingkat inflasi dunia di tahun 2024 akan lebih rendah jika dibandingkan tahun 2023 yang mencapai 6,8 persen, tetapi pemerintah tetap mewaspadai risiko tensi geopolitik dan potensi bencana hidrologi akibat pergantian fenomena El Nino dan La Nina.

Kinerja pendapatan negara pada tahun 2024 dipengaruhi harga komoditas utama dunia dan implementasi reformasi perpajakan. Dengan memperhatikan capaian pendapatan negara pada semester I dan faktor-faktor lainnya, diperkirakan pendapatan negara 2024 mencapai Rp2.802,46 triliun. Sementara itu, prognosis belanja negara semester II tahun 2024 diperkirakan akan mencapai Rp3.412,2 triliun atau 102,6 persen dari alokasinya di dalam APBN 2024.

Merujuk berbagai strategi fiskal dan outlook pendapatan negara dan belanja negara, defisit anggaran sampai akhir tahun 2024 diperkirakan akan berada pada level 2,70 persen terhadap PDB atau lebih tinggi dari target APBN. kebijakan defisit tersebut diikuti kebijakan pembiayaan anggaran dengan komitmen menjaga kewaspadaan atas dinamika global terutama di pasar keuangan yang volatile.


Reni Saptati D.I.