Perjalanan Amelia Khairani, Perempuan Pertama Masinis MRT Jakarta Peraih Beasiswa LPDP

1 April 2026
OLEH: Nur Wahyu Nugroho
Perjalanan Amelia Khairani, Perempuan Pertama Masinis MRT Jakarta Peraih Beasiswa LPDP
 

Dari dalam kabin kereta Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta ada panel kendali, kursi masinis, dan kaca besar yang menghadap rel panjang di depan. Dari kursi itu, ada seorang masinis mengendalikan perjalanan ratusan penumpang yang setiap hari bergerak dari selatan Jakarta menuju pusat kota, dan sebaliknya

Pagi itu, kereta MRT meninggalkan depo Lebak Bulus dengan kecepatan yang stabil. Lampu indikator menyala tenang di panel kendali. Setiap sinyal diperhatikan dengan cermat. Di kursi masinis duduk seorang perempuan. Amelia Khairani Sutrisno, namanya.

Bagi banyak orang, perjalanan MRT hanyalah bagian dari rutinitas harian menuju tempat kerja atau sekolah. Namun tidak banyak yang menyadari bahwa salah satu yang mengendalikan kereta itu adalah masinis perempuan pertama MRT Jakarta, sekaligus penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).

Perjalanan Amelia hingga duduk di kabin masinis itu bukanlah jalan yang lurus. Mimpi itu dimulai jauh dari Jakarta, di sebuah kota kecil di Jawa Timur. Dan seperti banyak kisah tentang mimpi besar, semuanya berawal dari rumah. Amelia menunjukkan bahwa kesempatan pendidikan dapat membuka jalan bagi perempuan untuk berkontribusi dalam sektor strategis yang sering dipandang sebagai dunia laki-laki.

 

Disiplin dari Rumah

Amelia lahir dan besar di sebuah Kabupaten kecil di Jawa Timur, yaitu Tulungagung. Ayahnya seorang prajurit TNI Angkatan Darat, sementara ibunya bekerja sebagai perawat di rumah sakit swasta. Dari kedua orang tuanya itulah Amelia belajar mengenai nilai-nilai yang membentuk karakter hidupnya.

Ayahnya dikenal sangat disiplin. Ketepatan waktu, tanggung jawab, dan konsistensi adalah hal yang ditanamkan sejak kecil. Bagi Amelia, nilai-nilai itu kemudian terasa sangat relevan dengan profesinya hari ini. Di dunia perkeretaapian yang saat ini ia geluti, keterlambatan satu detik pun bisa berarti sesuatu.

“Kalau sudah memutuskan sesuatu, harus dijalani sungguh-sungguh,” kenang Amelia tentang didikan ayahnya.

Lingkungan tempat ia tumbuh juga menyimpan cerita tersendiri. Kantor ayahnya berada tepat di depan Stasiun Kereta Api Tulungagung. Sejak kecil, Amelia terbiasa melihat kereta api berlalu lalang. Ia sering memperhatikan para masinis yang berdiri di kabin depan kereta. Semua yang ia lihat saat itu adalah laki-laki.

Masa kecil Amelia justru tidak pernah membayangkan dirinya akan bekerja di dunia kereta api. Waktu itu, cita-citanya ingin menjadi seorang dokter. Mengikuti jejak ibunya sebagai paramedis.

Selain didikan sikap disiplin dan tangguh dari Ayahnya, Amelia juga mendapatkan nasihat dan didikan dari Ibunya. Ada satu kalimat dari sang ibu yang terus ia ingat hingga sekarang.

“Nggak apa-apa sekolah di kampung. Siapa tahu nanti kalau kamu udah sukses dan ada yang mewawancari, kamu bisa cerita bahwa kamu dulunya sekolahnya di desa,” terang Amelia menirukan Ibunya, saat bertemu dengan redaksi Media Keuangan. Kalimat itu terasa seperti doa yang baru Amelia pahami maknanya bertahun-tahun kemudian.

Nilai-nilai kedisiplinan yang ia pelajari dari ayahnya yang seorang prajurit TNI dan perhatian pada kesehatan yang diwarisi dari ibunya yang seorang perawat, membentuk pola pikir dan karakter yang membawa Amelia untuk serius di jalur masinis.

 

Jalan yang Tidak Direncanakan

Amelia menempuh pendidikan dasar hingga menengah di Tulungagung. Ia termasuk siswa yang berprestasi. Buktinya, ia bisa masuk pada program akselerasi sehingga bisa menyelesaikan sekolah lebih cepat dari teman-teman sebayanya.

Ketika tiba waktunya memilih perguruan tinggi, ia mengikuti seleksi di beberapa sekolah kedinasan. Namun, pada akhirnya ia memilih Politeknik Perkeretaapian Indonesia (PPI) yang ada di Madiun Jawa Timur.

Awalnya pilihan itu lebih karena pertimbangan praktis saja. Pendidikan kedinasan yang memberi peluang karier yang lebih jelas setelah lulus. Namun ternyata di tempat itulah Amelia mulai benar-benar mengenal dunia transportasi berbasis rel.

Selama menjalani pendidikan di PPI, ia mengikuti berbagai praktik kerja lapangan di sejumlah wilayah Indonesia. Pengalaman itu membuatnya melihat betapa pentingnya peran transportasi dalam kehidupan masyarakat Indonesia.

Kesempatan besar datang ketika MRT Jakarta membuka program pelatihan masinis. Seluruh taruna PPI mengikuti seleksi. Nilai seleksi Amelia termasuk yang tertinggi. Dan karena itulah, ia terpilih menjadi salah satu kandidat pelatihan train driver. Kesempatan itulah yang pada akhirnya mengubah arah hidupnya.

 

Ketika Perempuan Masuk ke Kabin Masinis

Profesi masinis selama puluhan tahun identik dengan laki-laki. Pekerjaan itu dianggap membutuhkan ketahanan fisik, konsentrasi tinggi, dan tanggung jawab besar terhadap keselamatan penumpang.

Ketika MRT Jakarta memulai beroperasi, paradigma baru mulai diperkenalkan. Pada 2018, Amelia bersama delapan perempuan lainnya menjadi bagian dari angkatan pertama masinis perempuan MRT Jakarta. Waktu itu, sebagian pihak mempertanyakan apakah perempuan mampu menjalankan pekerjaan dengan tanggung jawab sebesar itu.

Namun Amelia melihatnya dari sudut pandang berbeda. Menurutnya, profesi masinis bukan soal gender. Ini soal disiplin, soal konsentrasi, dan soal tanggung jawab. Dan perempuan bisa melakukan itu juga. Di balik kendali kereta, keselamatan penumpang selalu menjadi prioritas utama baginya.

“Menjadi masinis itu tidak ada ruang untuk lengah,” tegas Amelia.

 

Melayani dari Balik Kendali Kereta

Setiap hari, kereta MRT membawa ribuan penumpang melintasi Jakarta. Bagi Amelia, pekerjaan itu memiliki makna yang lebih dalam dari sekadar tugas operasional. Ia memaknainya sebagai bentuk pelayanan kepada masyarakat.

My calling is to serve people,” katanya.

Ia menikmati momen ketika bertemu penumpang di stasiun, pegawai yang mau berangkat kerja, anak-anak sekolah, atau warga yang ingin menghindari kemacetan ibu kota.

Ada satu cerita yang terasa hangat baginya. Suatu hari seorang anak kecil memberinya surat di stasiun. Isinya sederhana yaitu ucapan terima kasih karena telah mengantarkan perjalanan mereka. Bagi Amelia, momen itu menjadi pengingat bahwa pekerjaan yang ia lakukan memiliki arti bagi banyak orang.

 

LPDP dan Investasi Negara

Meski telah berkarier sebagai seorang masinis, Amelia merasa bahwa perjalanan akademiknya belum selesai. Di dalam benaknya, dunia transportasi terus berkembang. Sistem keselamatan, teknologi rel, hingga integrasi transportasi menuntut pengetahuan yang semakin luas.

Keinginan untuk melanjutkan studi sebenarnya sudah lama ia miliki. Ia akhirnya menemukan program beasiswa yang dapat membawanya belajar di University of Birmingham Inggris, salah satu pusat studi perkeretaapian di dunia.

Beasiswa LPDP membuka peluang besar bagi Amelia untuk mengembangkan wawasan dan keahlian di bidang perkeretaapian internasional. Bagi Amelia, LPDP bukan sekadar beasiswa, melainkan investasi negara terhadap sumber daya manusia yang memiliki potensi untuk mengubah wajah transportasi Indonesia.

Value LPDP sejalan dengan value saya,” katanya.

Menurutnya, LPDP tidak hanya mendanai pendidikan, tetapi juga menekankan karakter kepemimpinan dan pengabdian kepada masyarakat.

 

Belajar di Tengah Kesibukan

Proses mendapatkan beasiswa LPDP ini bukanlah perjalanan yang mudah bagi Amelia. Sebagai masinis MRT, ia memiliki jadwal kerja yang padat. Ia sering harus berangkat bekerja sejak dini hari.

Namun di tengah itu semua, ia tetap menyisihkan waktu untuk mempersiapkan diri. Amelia belajar IELTS bersama teman-temannya, bahkan sering berlatih praktek speaking sebelum berangkat kerja. Rutinitas kecil, namun sangat membantu dia mempersiapkan diri untuk tes seleksi beasiswa.

“Saya curi-curi waktu untuk belajar,” tukasnya.

Baginya, proses seleksi LPDP justru menjadi pengalaman yang sangat berharga. Saat itu, ia bertemu dan bergabung dalam komunitas calon awardee yang saling membantu satu sama lain. Dan ketika akhirnya ia dinyatakan lolos seleksi, Amelia merasa perjuangan panjangnya terbayar. Namun, justru itulah awal mulai pengabdiannya yang lebih besar bagi negara.

 

Kontribusi Pasca Studi

Bagi Amelia, menerima beasiswa LPDP bukanlah titik akhir perjuangan. Ia justru melihatnya sebagai tanggung jawab yang lebih besar. Dana LPDP berasal dari APBN, dari uang publik yang harus dikembalikan dalam bentuk manfaat bagi masyarakat. Karena itu ia percaya bahwa setiap awardee memiliki tanggung jawab moral untuk memberikan kontribusi nyata bagi negara.

“LPDP bukan garis finish, justru dari situ kita harus memperluas kontribusi kita,” imbuhnya

Amelia memiliki mimpi sederhana namun besar bagi masa depan transportasi Indonesia. Ia berharap sistem transportasi nasional dapat terintegrasi dengan baik. Menghubungkan kota, wilayah, bahkan antar pulau dengan mudah dan terjangkau bagi masyarakat.

Menurutnya, transportasi harus menjadi layanan publik yang benar-benar berpihak kepada masyarakat.

“Kita harus menciptakan transportasi yang prorakyat,” katanya.

 

Pesan untuk Perempuan

Menjelang momentum Hari Kartini, Amelia memiliki pesan bagi perempuan muda Indonesia. Ia percaya bahwa mimpi tidak boleh dibatasi oleh stereotip. Laki-laki dan perempuan memang diciptakan berbeda, namun bukan berarti tidak setara.

“Jangan pernah membatasi mimpi hanya karena belum ada orang seperti kalian yang menekuni bidang laki-laki,” tegasnya.

Melalui perjuangan dan pencapaiannya, Amelia bukan hanya menjadi simbol perempuan yang mampu menembus batas profesi tetapi juga bukti nyata bahwa kesempatan pendidikan dapat mengubah hidup dan membawa dampak besar bagi masyarakat.

Perjalanan Amelia sebagai gadis kecil dari Tulungagung hingga ke kabin masinis MRT Jakarta menunjukkan satu hal sederhana. Bahwa mimpi, cita-cita, dan kesempatan pendidikan dapat membuka jalan bagi siapa saja untuk berkontribusi bagi negeri. Dan memang, mimpi besar memang dimulai dari tempat yang sederhana.