Panda Bond: Terobosan Baru Diversifikasi Pembiayaan APBN
Fondasi perekonomian Indonesia yang terus dijaga kokoh membuka semakin banyak peluang baru bagi pengelolaan fiskal negara. Pertumbuhan ekonomi nasional yang tercatat 5,61 persen pada triwulan I tahun 2026 merupakan capaian tertinggi untuk periode yang sama dalam 13 tahun terakhir. Ketahanan fiskal juga terlihat dari sejumlah indikator utama seperti defisit APBN semester I tahun 2026 yang terkendali di 0,76 persen terhadap PDB dan surplus keseimbangan primer sebesar Rp85,1 triliun.
Ketahanan ekonomi domestik ini terbukti tangguh dalam menghadapi berbagai guncangan dan volatilitas finansial global. Terlebih lagi, S&P juga mempertahankan peringkat utang Indonesia di level BBB dengan outlook stabil yang mematahkan rumor spekulatif mengenai potensi penurunan peringkat yang sempat menekan pasar saham domestik di awal Juli. Inilah yang menjadi modal kepercayaan bagi Indonesia melangkah lebih jauh.
Keberhasilan ini terlihat dari jangkauan pembiayaan APBN yang lebih luas ke pasar keuangan Tiongkok, salah satu pasar obligasi terbesar di dunia, melalui instrumen Panda Bond. Langkah ini menjadi babak baru dalam strategi pemerintah dalam terus memperkaya portofolio pembiayaan APBN dan memperkokoh ketahanan fiskal dalam jangka panjang. Dengan basis investor yang semakin beragam, Indonesia memiliki lebih banyak opsi sumber pendanaan pembangunan sekaligus semakin terintegrasi dengan pusat-pusat keuangan dunia.
Modal Kepercayaan: Rating AAA dari Lianhe Credit Rating
Dalam setiap penerbitan surat utang di pasar Tiongkok, proses pemeringkatan oleh lembaga rating setempat adalah proses yang lazim. Untuk Panda Bond dari Indonesia, proses pemeringkatan ini dilakukan oleh Lianhe Credit Rating, salah satu lembaga pemeringkat yang kredibilitasnya tidak diragukan di Tiongkok. Hasilnya sangat menggembirakan, Panda Bond dari Indonesia memperoleh rating AAA dengan outlook stabil. Ini adalah peringkat tertinggi yang bisa diberikan lembaga tersebut.
“Jadi AAA itu yang paling tinggi. Jadi di Cina peringkat utang kita itu yang mentok atas. Rata kanan ya, rata kanan. Ini penting sekali untuk kita, kenapa? Karena Cina merupakan pasar yang besar untuk surat utang. Tapi jelas market mereka amat menjanjikan dan modal di sana amat besar. Jadi dengan rating AAA ini harusnya kita akan tidak terlalu sulit menerbitkan surat utang di sana,” ucap Menkeu penuh optimisme.
Rating sempurna ini menunjukkan bahwa di mata investor Tiongkok, risiko gagal bayar Indonesia berada di level yang sangat rendah. Penilaian tersebut tidak lepas dari fundamental ekonomi domestik yang solid. Salah satu indikatornya terlihat dari angka pertumbuhan ekonomi yang mencapai 5,61 persen dan pengelolaan utang yang penuh kehati-hatian. Lembaga pemeringkat Tiongkok pun menilai bahwa utang luar negeri Indonesia relatif rendah dengan kapasitas pembayaran yang kuat.
“Ini menurut lembaga pemeringkat Cina, utang luar negeri kita relatif rendah, kapasitas pembayarannya cukup, devisanya juga cukup,” jelas Menkeu.
Capaian rating AAA ini juga sekaligus menjadi jawaban atas isu spekulatif yang sempat beredar mengenai keraguan akan ketahanan fiskal Indonesia. Faktanya, penilaian objektif dari Lianhe Credit Rating justru memperlihatkan bahwa kredibilitas fiskal Indonesia tetap terjaga kuat.
“Pertimbangannya mereka kenapa memberikan AAA? Ekonomi tetap kuat di atas 5%, fundamental ekonomi solid, dukung skala ekonomi terbesar di Asia Tenggara, terutama terhadap guncangan eksternal, kita emang jago. Ada gonjang ganjing kita tetap kuat kan,” ucap Menkeu.
Penilaian rasio utang terhadap PDB adalah metode yang standar digunakan secara luas di seluruh dunia untuk mengukur kemampuan suatu negara membayar kembali utangnya. Indonesia sendiri memiliki rasio utang pemerintah yang cukup prudent sebesar 40 persen dari PDB.
“Rasio utang pemerintah, prudent 40 persen dari PDB. Ini aja banyak yang nyerang, 40 persen dari PDB itu gak penting, yang penting berapa nominalnya. Orang bilang begitu kan. Padahal seluruh dunia memakai rasio utang ke PDB untuk menentukan utang kita aman apa enggak,” kata Menkeu.
Sebagaimana halnya perusahaan dengan omzet besar, tentu memiliki daya tahan yang lebih kuat dibandingkan perusahaan dengan omzet lebih kecil terhadap pinjaman dengan nominal yang sama. Dengan kata lain, yang menjadi ukuran bukan semata besaran nominal utang, melainkan seberapa besar kapasitas perekonomian dalam menopangnya.
“Kita sering bandingkan kalau satu perusahaan pinjam ke bank punya omzet sepuluh, satu lagi punya omzet seratus. Kalau yang omzetnya sepuluh, pinjam sepuluh maka rasio utangnya kan kira-kira seratus persen ya. Tapi yang kalau seratus, pinjam sepuluh maka cuma sepuluh persen. Tentunya, yang seratus lebih kuat dari yang sepuluh. Jadi, makanya kita kemarin memakai utang dibandingkan dengan size of economy-nya untuk melihat kemampuan membayar utang suatu negara. Itu yang dipakai,” tambah Menkeu.
Pengakuan Lianhe Credit Rating atas rasio utang Indonesia yang prudent ini menjadi konfirmasi independen bahwa pendekatan pengelolaan fiskal pemerintah selama ini sudah berada di jalur yang benar dan dapat dipercaya oleh pasar internasional.
Strategi Bertahap: Menguji Pasar dengan Penerbitan Perdana USD1 Miliar
Dengan bekal rating tertinggi tersebut, pemerintah resmi menguji daya serap pasar surat utang Tiongkok melalui penerbitan perdana senilai USD1 miliar. Angka ini dipatok sebagai tahap awal sebagai benchmarking untuk mengukur tingkat imbal hasil (yield) dan respons pasar sebelum melangkah ke emisi yang lebih besar di kemudian hari. Pendekatan yang terukur ini mencerminkan kehati-hatian pemerintah dalam mengelola instrumen pembiayaan baru.
“Targetnya 1 miliar dolar, ini pasar baru kita jajakin dulu, walaupun mungkin offeringnya, bid-nya gede sekali. Cuman kita batasin dulu 1 miliar dolar, nanti kalau perlu beberapa bulan kemudian kita isu lagi dalam jumlah yang lebih besar,” jelas Menkeu.
Hal yang menarik adalah meski nilai penerbitan dibatasi, animo pasar justru jauh melampaui ekspektasi. Permintaan investor yang tinggi ini semakin diperkuat dengan keikutsertaan sederet institusi keuangan besar Tiongkok. Bertindak sebagai lead underwriter adalah Bank of China, salah satu bank swasta besar di Tiongkok yang didampingi joint lead underwriter dan joint book runners dari Industrial and Commercial Bank of China (ICBC), CITIC Securities, China International Capital Corporation (CICC), dan DBS Bank China, serta co-manager dari Agricultural Bank of China (ABC) dan China Construction Bank (CCB).
“Ini semuanya gede yang ikut co-manager karena mereka terlambat masuk, mereka bilang ke depan mereka akan menjadi underwriter. Jadi respons dari China terhadap surat utang kita amat bagus,” ucap Menkeu.
Skala pasar obligasi Tiongkok sendiri tidak perlu diragukan lagi. Menurut Menkeu, ada masanya Tiongkok bahkan pernah memegang surat utang pemerintah Amerika Serikat senilai lebih dari USD3 triliun, meski kini porsinya telah menyusut bertahap mendekati USD1 triliun. Fakta ini menggambarkan betapa besarnya kapasitas modal yang tersedia di pasar keuangan Tiongkok. Ini adalah sebuah peluang besar yang kini mulai dijajaki secara serius oleh Indonesia melalui instrumen Panda Bond.
Manfaat Diversifikasi bagi Ketahanan Fiskal Nasional
Di luar aspek teknis penerbitan, Panda Bond membawa manfaat strategis yang jauh lebih luas bagi pengelolaan fiskal negara. Pertama, instrumen ini meringankan beban ketergantungan pada pasar tunggal melalui diversifikasi mata uang, Renminbi, dan basis investor. Ini dapat meminimalisir risiko volatilitas yang seringkali muncul dari pasar modal Amerika Serikat.
Kedua, langkah ini turut memperkokoh posisi Indonesia dalam integrasi ekosistem keuangan di kawasan Asia Pasifik, sekaligus memperkuat hubungan bilateral dan regional dengan Tiongkok. Dengan terbukanya jalur pembiayaan baru ini, Indonesia memiliki funding pipeline tambahan untuk mendukung pembangunan nasional jangka panjang dengan biaya modal (cost of fund) yang tetap kompetitif.
Tiongkok sendiri adalah pasar obligasi terbesar kedua di dunia dan menjadi rumah bagi para investor bermodal jangka panjang. Keberhasilan menembus pasar ini membuka peluang pembiayaan dalam skala yang signifikan ke depan. Tingginya minat investor pada penerbitan perdana ini memperlihatkan bahwa kredibilitas fiskal Indonesia bukan hanya diakui secara formal oleh lembaga pemeringkat internasional, tetapi juga terlihat dari aksi keputusan investasi para pelaku pasar.
Penerbitan Panda Bond perdana ini menjadi tonggak penting dalam portofolio pembiayaan APBN. Capaian ini adalah cerminan kepercayaan internasional atas akuntabilitas dan kredibilitas fiskal Indonesia yang selama ini terus dijaga oleh pemerintah. Ke depannya, pemerintah akan terus berkomitmen untuk menjaga batas aman defisit APBN dan mengelola setiap instrumen pembiayaan dengan penuh kehati-hatian demi menjaga stabilitas makroekonomi.
Panda Bond menjadi simbol bahwa Indonesia mampu menjaga akses pendanaan dari berbagai pusat keuangan dunia, memperluas ruang gerak fiskal, memperkuat ketahanan ekonomi nasional, dan membuka babak baru kerja sama keuangan dengan salah satu kekuatan ekonomi terbesar dunia.
Di usia ke-81 kemerdekaan Republik Indonesia, capaian tersebut menjadi salah satu wujud nyata kedaulatan ekonomi bangsa. Dengan fondasi fiskal yang semakin kokoh, akses pembiayaan yang semakin beragam, serta kepercayaan internasional yang terus menguat, Indonesia memiliki modal yang lebih besar untuk menjaga stabilitas ekonomi, mempercepat pembangunan yang inklusif, dan mewujudkan cita-cita Indonesia yang berdaulat, adil, dan makmur.