Merajut Asa Kereta Cepat Karya Anak Bangsa bersama Agus Windharto dan Rispro LPDP
Kereta Kini
Pesatnya pertumbuhan teknologi menjamah di segala bidang, termasuk pada transportasi. Dunia perpindahan barang dan manusia ini terus berkembang mulai dari yang dulunya menggunakan tenaga hewan untuk penggeraknya, saat ini telah banyak digunakan mesin canggih yang mampu menyentuh kecepatan ratusan kilometer per jamnya. Selain itu jarak yang dulu ditempuh berhari-hari kini bisa dipangkas hanya dalam hitungan jam.
Salah satu mode transportasi dambaan masyarakat Indonesia saat ini adalah kereta. Bagaimana tidak, jadwal yang hampir selalu on time, waktu perjalanan yang singkat, serta kenyamanan yang selalu diberikan oleh PT. KAI (Kereta Api Indonesia) sebagai pengelola, terbukti berhasil menggaet hati penggunanya. Sebagai mode transportasi massal tertua di Indonesia, roadmap perkeretaapian sendiri punya tujuan besar untuk meningkatkan layanan transportasi darat berbasis rel yang cepat, aman, nyaman untuk mendukung pertumbuhan ekonomi wilayah yang dilalui. Selain itu, kereta juga bertujuan mengurangi beban jalan raya yang saat ini sudah terlalu sesak oleh kendaraan.
Dengan kereta yang ada saat ini saja, Jakarta menuju Surabaya hanya ditempuh dengan waktu kurang dari setengah hari saja. Belum lagi saat ini telah bermunculan next level train, seperti LRT, MRT dan Whoosh yang cukup menggemparkan warga ibu kota dengan segala fasilitasnya.
Sudah tak kalah lagi dengan negara maju di dunia, Indonesia lewat putra putri terbaiknya juga sedang mengembangkan kereta cepat yang direncanakan akan mengantarkan masyarakat dari Jakarta ke Surabaya dengan durasi kurang dari 5 jam dengan kecepatan lebih dari 200 km/jam. Proyek yang diberi nama Kereta Cepat Indonesia yang merupakan salah satu program utama dalam meningkatkan state of the art technology perkeretaapian Nasional.
Lintas Keilmuan
Dialah Dr. Agus Windharto, DEA., yang merupakan ketua tim dalam risetnya tentang desain eksterior-interior dari kereta cepat Indonesia yang diberi nama Kereta Cepat Merah Putih. Riset ini sendiri mendapatkan pendanaan dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) melalui skema Riset Inovatif Produktif (RISPRO) Kompetisi. Program ini melibatkan Perguruan Tinggi, Industri Kereta Api (PT INKA), Operator(PT KAI), BRIN(Lembaga Riset Inovasi dan pengujian, Kemendikbud Ristek dan Kementerian Perhubungan khususnya Direktorat Jenderal Perkeretaapian . Penelitian ini didanai selama 3 tahun mulai dari tahun 2019 sampai 2023, dan berfokus pada rancang bangunan eksterior dan interior dari Kereta Cepat Indonesia. Riset terhadap rancang bangunan dan prototype Kereta Cepat Merah Putih Jakarta - Surabaya dilakukan oleh tim peneliti dari Departemen Desain Produk Industri Institut Teknologi Sepuluh November (ITS).
Agus bukan orang baru dalam pembuatan desain kereta. Sebut saja LRT Jabodebek dan Palembang, serta pembuatan lokomotif CC300 produksi INKA adalah beberapa proyek yang dia pernah buat rancang bangunnya. Setelah proyek-proyek tersebut, Agus merasa tertantang untuk membuat lebih, “Jadi untuk kereta sampai dengan kecepatan 120 km/jam itu teknologinya sudah dikuasai oleh INKA. Sehingga kami berinisiasi untuk merancang kereta menengah yang kita sebut dengan medium speed train yang kecepatannya sekitar 160 km/jam dan high speed train yang kecepatannya itu lebih dari 200 km/jam,” sebut dosen Desain Transportasi di Departemen Desain Produk Industri Universitas Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya ini.
Agus yang telah menjadi dosen sejak 1985 ini menggandeng banyak pihak untuk bekerjasama dalam risetnya ini. “Anggota kami ada teman-teman dari teknik sipil yang mempelajari tentang rute sistem transportasi dan infrastruktur. Nah, kemudian ada teman-teman dari teknik mesin yang mempelajari tentang aerodinamika, tentang desain engineering, desain analisis, material, struktur, dan produksi. Kemudian ada teman-teman dari teknik material yang memberikan masukan tentang material yang sesuai untuk kereta cepat. Ada teman-teman dari desain produk yang membuat human factor engineering atau aspek manusia, melakukan studi ergonomi dan studi kenyamanan dan aspek-aspek keselamatan yang dilakukan oleh mereka. Kita juga mempelajari banyak aspek tentang keselamatan, misalnya ada crash worthiness yaitu regulasi yang harus dipenuhi untuk mendesain suatu kereta cepat. Di samping itu ada ilmu-ilmu lain yang tentunya banyak sekali, termasuk interaksi antara manusia dan kendaraan yang kita sebut dengan interaction design. Itu juga kita kembangkan suatu sistem digital cockpit yang menggunakan teknologi tinggi dalam desain pengendalian kereta itu sendiri,” jelas lulusan Institut Teknologi Bandung ini.
Pengalaman Agus yang pernah bekerja di Industri pesawat terbang Air Bus Industry di Perancis dan Industri Pesawat Terbang Nasional (IPTN) atau yang saat ini dikenal sebagai PT. Dirgantara Indonesia juga membantunya dalam mengkordinasikan anggota tim yang berasal dari lintas keilmuan tersebut.
Jalan Panjang
Untuk membuat desain rancang bangunan eksterior dan interior carbody (badan kereta) Kereta Cepat Indonesia, yang diberi nama Kereta Merah Putih, mulai dari ujung depan hingga ujung belakangnya, bagian luar serta dalamnya, memang butuh proses yang bisa dibilang rumit selama 3 tahun periode riset.
Dimulai dengan product planning, kemudian proses mendefinisikan track kereta, seperti bagaimana nanti track, jembatan dan terowongan yang akan dilalui. Setelah itu memasuki tahapan preliminary desain dengan mencari ide konsep produk, baik bentuk, geometri dengan beberapa alternatif. “Kalau di dalam desain itu nggak boleh ucuk-ucuk langsung, tapi ada optimasi desain. Jadi kita membuat hampir 20 alternatif dengan berbagai skenario dan kita diskusikan dengan industri dalam hal ini dengan INKA dan juga dengan pengguna dalam hal ini adalah PT Kereta Api Indonesia,” jelas pria berkacamata ini. Dengan adanya konseptual desain , detail engineering mulai dikerjakan, baik car body serta sistem lainnya.
Hasil akhirnya adalah engineering mock up dengan skala 1:1 yang kemudian dilanjutkan prototyping. “Kami hanya membuat engineering mock up dengan skala satu-satu, tapi tidak dengan material yang sebenarnya. Tapi paling tidak tergambar bagaimana konfigurasinya, seperti apa produk akhirnya nanti termasuk kita juga membuat simulator di sebelahnya ini. Itu kita bisa melihat seperti apa nanti bentuk fisik dan sistem yang ada di produk akhirnya,” terang Agus yang menyelesaikan gelar master di Ecole Nationale Superieure d’Arts et Metiers (ENSAM) Paris. “Nah di samping itu, ada uji operasional, uji sistem, kemudian ada uji statik, ada uji dynamic atau running test yang akan dilakukan oleh PT INKA di Banyuwangi. Sekarang ini sedang dibangun track test untuk pengujian di Banyuwangi,” lanjutnya. Kereta cepat ditargetkan rampung dibuat pada 2025 dan melalui uji coba sistem pada 2026.
Hasil yang Bercabang
Dari segi teknologi, desain yang dibuat Agus dan tim mampu menunjang kecepatan kereta, dan mampu digeber maksimal hingga 250 km per jam, dengan kecepatan operasional di angka 160 hingga 200 km per jam. Perbedaan berat gerbong juga bisa dibilang cukup signifikan dengan kereta api konvensional dengan gap hampir 15 sampai 20 ton. Tak tanggung-tanggung, Agus menargetkan nantinya kereta ini akan bisa menempuh perjalanan Jakarta – Surabaya hanya dengan waktu kurang dari 5 jam.
Dari riset ini tidak hanya dihasilkan prototipe desain eksterior dan interior kereta cepat, namun banyak hal turunan yang dihasilkan, seperti data analisis engineering CFD dan FEA, Hak Kekayaan Intelektual (HKI), dan animasi 3D Kereta Cepat. Selain itu, Agus menambahkan jika dalam risetnya kali ini, dia juga memanfaatkan talenta muda berbakat. Menurutnya dalam periode tiga tahun itu banyak mahasiswa yang membantunya sampai dia lulus. Dengan pengalaman membantu mendesain kereta cepat, beberapa anggota tim juga bisa lolos dalam program beasiswa dan melanjutkan Pendidikan. Ada juga yang mendapat pekerjaan bagus, sehingga bukan hanya output fisik berupa produk saja, namun ada produk turunan lain seperti sumber daya Manusia yang berkualitas yang dihasilkan dari riset ini.
Selain talenta, Agus menjelaskan jika dengan adanya riset ini menjadi pintu masuk bagi beberapa industri penunjang. “Jadi misalnya di riset ini tercipta rantai pasok untuk INKA. Di situ ada industri misalnya eksklusi alumunium yang menjadi car body-nya kereta ini. Itu juga dalam negeri ya alhamdulillah ada di Jakarta. Kemudian ada industri kursi kereta api yang ini ada beberapa ya. Jadi ini kita lihat berkembang juga komponen-komponen lain, termasuk ada industri lavatory, dan seterusnya,” jelas pemilik gelar doktor dari Universite de Technologie De Compiegne France (UTC).
Agus dan timnya juga memperkirakan tingkat kandungan dalam negeri dari kereta cepat ini cukup besar antara 35%-40%. “Saya kira ini tidak mudah ya, tapi satu awal yang baik,” katanya. Diharapkan dengan adanya era kereta cepat juga turut berdampak pada peningkatan riset produksi komponen dalam negeri dengan mengurangi impor.
Harapan
Tantangan terbesar menurut Agus dalam riset ini adalah waktu. Di samping karena terkendala pandemi saat itu yang membuat Agus dan timnya harus banyak beradaptasi dalam proses penyelesaian riset, panjangnya proses pengerjaan membuat beberapa anggota timnya yang saat itu merupakan mahasiswa sarjana dan master “terlanjur” lulus, sehingga Agus harus merekrut mahasiswa tingkat di bawahnya dan harus beradaptasi lagi dari awal. Namun Agus berhasil melewati itu. Menurutnya, generasi muda saat ini sangat peka terhadap dunia digital dan mampu belajar dengan cepat. Hal itu memudahkan dalam proses mereka beradaptasi.
“Jadi saya ini sebenarnya hanya jadi mentor, yang kerja ini anak-anak muda itu. Kami hanya berbagi pengalaman, kasih tantangan dan memfasilitasi. Dengan software hardware, dengan teknologi yang ada sekarang, dengan adanya internet, informasi terbuka, tidak mustahil kita bisa bersaing dengan negara maju,” terang Agus optimis.
Agus berharap prototipe kereta cepat segera selesai dan produknya dapat berguna bagi industri dan terutama masyarakat luas. “Negara kita ini perlu inovasi karena seperti kita semua tahu untuk lepas dari middle income trap Indonesia untuk menjadi negara maju, yang diperlukan itu adalah inovasi yang berdampak pada masyarakat,” pungkasnya.