Pertunjukan Seni A Tale of Blencong Mencairkan Suasana Serius Pertemuan G20

Wawancara
15 Maret 2022
OLEH: Dimach Putra
Pertunjukan Seni A Tale of Blencong Mencairkan Suasana Serius Pertemuan G20

Rangkaian pertemuan para deputi keuangan dan bank sentral serta para menteri keuangan dan gubernur bank sentral, 2nd FCBD dan 1st FMCBG, pada G20 2022 telah usai pertengahan Februari lalu. Pertemuan-pertemuan tersebut berhasil membahas agenda-agenda penting bagi perekonomian dan isu lainnya. Untuk mencairkan suasana pertemuan yang serius, Indonesia sebagai tuan rumah pun tak lupa memberikan keramah-tamahan yang menjadi ciri bangsa ini bagi para delegasi.

Kami berbincang dengan Mia Johannes, sutradara dan penulis dari “A Tale of Blencong”. Pertunjukan seni yang diciptakannya ini menjadi pengisi dalam sesi makan malam para delegasi Group of Twenty tersebut. Lewat perpaduan teater, musik dan tari, Mia dan tim berhasil mengubah malam yang dingin itu menjadi hangat dan indah untuk dikenang. Seperti apa kisahnya? Berikut petikan wawancara kami.

Mia Johannes, sutradara dan penulis dari pertunjukan seni yang ditampilkan pada sesi makan malam para delegasi G-20

Apa dan dari mana inspirasi A Tale of Blencong ini berasal?

Blencong adalah sebuah wadah untuk penerangan di suatu pertunjukkan asli Indonesia yaitu Wayang Kulit. Alat ini berfungsi untuk menghidupkan bayangan wayang di layar. Wayang kulit yang dicat dasar warna prada emas akan terlihat berkilau dan lebih hidup saat terkena cahayanya. Begitu pula bayangan yang dihasilkan di belakang layar, akan terlihat lebih artistik.

Kami kemudian menampilkannya ke dalam sebuah karya seni pertunjukkan. A Tale of Blencong ini termasuk kategori pertunjukan mixed media. Tidak full teater, tidak juga sepenuhnya musikal. Bisa dibilang ini adalah sebuah musikal naratif yang mengadopsi pakem-pakem tradisi di Indonesia. Jadi, bisa dibilang ini memang custom made ya.

Seperti apa proses kreatif dalam melahirkan karya ini?

Sebenarnya proses kreatif dalam membuat karya ini tidak dimulai saat saya menerima orderan untuk tampil mengisi di G20 ini ya. Jadi bukan comission project atau comission based, di mana saya mendapat orderan baru memulai riset dan persiapan segala hal lainnya . Bukan seperti itu. Jika ditarik mundur, saya sebagai sutradara atau penulis memang harus selalu memperkaya diri dan pengetahuan melalui riset dan pembelajaran. Misalnya tentang bahan-bahan dan teks pendukungnya.

Si ‘blencong” ini bisa dibilang sudah memanggil jiwa saya sejak dua tahun yang lalu. Prosesnya bahkan dimulai sejak empat tahun lalu. Saat itu saya sudah mulai melakukan riset tentang sebuah kerajaan di Indonesia. Dua tahun yang lalu akhirnya saya diperkenankan untuk memegang blencong asli dari abad ke-13 di Trowulan.

Pengiring musik yang tampil menghibur para delegasi

Apa pesan yang ingin disampaikan dari pertunjukan ini?

 Saat menerima pesanan dan setelah kami cari tahu tentang perhelatan ini (Presidensi G20), kami menangkap tagline yang begitu kuat dari acara tersebut. Recover together, recover stronger. Menurut saya itu sangat in-line dengan filosofi blencong ini. Api yang terdapat di dalam wadah blencong itu memainkan peran penting dalam sebuah pertunjukan wayang kulit. Jika tanpa api dan wadahnya, pertunjukan wayang kulit nyaris tidak ada artinya. Seperti halnya Group of Twenty (G20) ini yang menjalankan perannya dan bersama merumuskan solusi dalam memulihkan perekonomian dunia dan beberapa isu lainnya, khususnya di kondisi yang menantang karena pandemi ini.

Untuk menyampaikan pesan tersebut, kami tidak serta merta menampilkan fakta-fakta sejarah seutuhnya. Saya kembangkan lagi dengan imajinasi saya. Saya tambahkan karakter-karakter asli yang mendukung terciptanya semesta fiktif dalam karya ini. Saya sadar bahwa para delegasi ini sudah penat memeras otak dan tenaganya mengikuti meetings dari pagi hingga malam, selama beberapa hari. Untuk itu, kami berusaha menghadirkan pagelaran megah namun tetap ringan dan mudah untuk dicerna.

Bisa dijelaskan sedikit sinopsis dari “A Tale of Blencong” ini?

Kisah ini berawal dari tokoh bernama Ibu Cahaya yang tinggal di Istana Cahaya dalam sebuah semesta yang bernama Cahaya. Ia memiliki enam orang anak yang menjaga keseimbangan semesta dengan sumber kekuatan berasal dari blencong. Saat kehidupan di semesta tersebut berjalan damai, datanglah Sang Musibah dan para serdadunya. Pertempuran pun terjadi yang dimenangkan oleh tokoh antagonis tersebut. Sang Musibah berhasil memadamkan enam api dari anak-anak Ibu Cahaya.

Ibu Cahaya pun meminta bantuan dua anak manusia bernama Artha dan Mahika. Mereka diminta menjalankan misi menuju beberapa titik di bumi untuk mendapatkan api abadi yang dapat kembali menyalakan blencong. Api tersebut berasal dari beberapa titik di Indonesia. Pertunjukan ini menampilkan perjuangan dan petualangan mereka dalam menjalankan misi tersebut demi terciptanya kembali stabilitas semesta.

Para penampil berfoto bersama Menteri Keuangan seusai pentas yang memukau

Apa harapan Anda dari pertunjukan dan kisah ini?

Dalam petualangan Artha dan Mahika yang juga dibantu oleh Ibu Cahaya ini tidak semata tentang pencarian api abadi saja. Dari kisah mereka, kita bisa belajar memahami tiga tingkat kehidupan manusia. Dalam perhentian di Sumatra dan Sulawesi mereka belajar interaksi kehidupan manusia dengan sesamanya. Beralih ke Kalimantan dan Papua, mereka belajar tentang hubungan manusia dengan satwa dan alam sekitarnya. Terakhir di Bali dan Jawa, mereka belajar tingkatan tertinggi sebuah hubungan, antara manusia dan Penciptanya.

Dalam perjalanan itu, saya selip-selipkan ritual untuk mendapatkan api abadi. Beberapa ritual mengambil ide dari kebudayaan asli di Indonesia yang masih dilakukan hingga saat ini. Contohnya pengadeganan ritual Sanghyang Dedari di Bali. Di Sumatra ditampilkan ritual meminum air cendana. Kami juga menampilkan Upacara Marakka Bola. Sebuah tradisi yang masih dilakukan oleh masyarakat di Sulawesi Selatan. Adegan itu menggambarkan pemindahan rumah utuh secara gotong royong, yang mustahil jika dilakukan sendiri. Jadi, dari setiap tiga tingkatan itu ada filosofinya yang bisa diambil oleh penonton. Itu semua mencerminkan upaya “recover together, recover stronger” yang menjadi tagline dari Presidensi Indonesia G20 - 2022.


Dimach Putra