Potret Sumitro Djojohadikusumo di Mata Keluarga dan Sahabat
“Jangan menanyakan ‘what can I get.’ Jangan sampai kita menuntut pengakuan. Kerja untuk masyarakat, itu saja.” – Sumitro Djojohadikusumo
Nama Sumitro Djojohadikusumo tak hanya tercatat dalam sejarah sebagai begawan ekonomi Indonesia, tetapi juga sebagai guru kehidupan yang sederhana, tajam berpikir, dan setia pada nilai-nilai kemanusiaan. Di mata banyak orang, ia bukan sekadar ekonom, melainkan pengajar yang menanamkan arti pengabdian. Ia adalah sosok pemikir besar yang memadukan filsafat, strategi, dan keberpihakan terhadap rakyat. Pemikirannya masih menjadi rujukan, baik di forum akademis maupun dalam praktik pembangunan nasional hingga hari ini.
Wakil Menteri Keuangan Tahun 2024-2025 sekaligus Guru Besar Universitas Gadjah Mada, Anggito Abimanyu, pernah bekerja langsung bersama Sumitro di Center for Policy Studies (CPS)—lembaga pemikir yang ia dirikan. Sumitro akrab dipanggil Pak Cum oleh rekan-rekannya. Anggito masih ingat betul bagaimana setiap pertemuan bersama Sumitro tak pernah sekadar membahas data atau grafik.
“Beliau selalu memulai dengan gambaran besar ekonomi nasional. Pidatonya bukan sekadar teknis, melainkan menembus prinsip dasar dari fungsi negara, peran koperasi, hingga arah deregulasi. Semuanya demi kesejahteraan rakyat,” ujar Anggito saat soft launching Sumitro Institute dan diskusi bertema Prolog Sumitronomics: Pembangunan untuk Ekonomi dan Ekonomi untuk Pembangunan.
Kesaksian itu sejalan dengan pengalaman Soedradjad Djiwandono, menantu sekaligus ekonom yang pernah menjadi asisten Sumitro saat menjabat Menteri Perdagangan.
“Bagi saya, beliau pendidik sejati, baik di ruang kuliah, kabinet, maupun meja makan. Hampir semua rapat beliau ajak, saya ikut. Dari situ saya belajar bagaimana merumuskan kebijakan secara jernih. Tapi, yang paling melekat adalah ajarannya, bekerja untuk masyarakat tanpa pamrih, jangan pernah menuntut pengakuan,” kenang Soedradjad.
Ayah dan Opa yang Sederhana
Meski publik mengenalnya sebagai begawan ekonomi, bagi keluarga, Sumitro tetaplah seorang ayah dan kakek yang penuh perhatian.
“Saya memanggil beliau, Opa. Sebagai cucu pertama, hubungan kami sangat dekat. Banyak orang mengenangnya sebagai ekonom, menteri, atau tokoh nasional. Tapi, Opa ingin dikenang bukan hanya karena jabatannya, melainkan sebagai pengajar. Itu hal yang jarang diketahui publik,” ujar Wakil Menteri Keuangan Thomas Djiwandono, cucu pertama Sumitro.
Sejak muda, bahkan ketika menjadi orang pertama di Indonesia yang meraih gelar PhD dari Rotterdam School of Economics, passion Sumitro adalah mengajar. Baginya, ilmu harus dibagikan, bukan disimpan. Ia menjadi salah satu pendiri Jakarta School of Economics—cikal bakal Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia—dan membimbing murid-murid yang kemudian menjadi tokoh nasional, seperti Widjojo Nitisastro hingga Emil Salim.
Di mata kedua putrinya, Bianti dan Maryani Djojohadikusumo, sosok sang ayah jauh lebih sederhana daripada yang terlihat di panggung publik.

“Sebenarnya waktu itu kami masih kecil, jadi tidak terlalu paham kalau beliau pejabat atau profesor. Bagi kami, jabatan itu hanya pekerjaan. Ayah juga sederhana—sering nyetir sendiri, padahal ada sopir. Di rumah, beliau ya ayah kami,” kenang Maryani.
Kebersamaan keluarga terasa setiap Minggu. Sumitro selalu meluangkan waktu, meski sibuk dengan jabatan negara.
“Hari Minggu selalu ada kebiasaan makan bersama atau jalan-jalan sesuai keinginan anak-anak. Saya suka minta makan es krim, Maryani lebih suka ke Kemayoran lihat pesawat, sedangkan Prabowo biasanya ke kebun binatang. Jadi tiap minggu, Ayah bertanya: ‘Mau ke mana minggu ini?’ dan semua ikut,” tambah Bianti sambil tersenyum.
Meja Makan, Ruang Hangat untuk Cerita dan Kebersamaan
Sumitro menikah dengan Dora Sigar dan dianugerahi empat anak, yakni Biantiningsih Djiwandono, Maryani Lemaistre, Prabowo Subianto Djojohadikusumo, dan Hashim Sujono Djojohadikusumo. Besarnya pengaruh sang ayah tak bisa dilepaskan dari peran ibu mereka, Dora Sigar, yang praktis membesarkan anak-anak ketika Sumitro harus berpindah-pindah karena pengasingan.
“Dari ibu, kami belajar disiplin, sopan santun, dan kemandirian. Karena Ayah sering berpindah, praktis Ibu yang banyak membesarkan kami, seperti single mother. Itu sangat membentuk karakter kami,” ungkap Maryani.
Bianti menambahkan pesan ibunya yang terus melekat.
“Ibu selalu menekankan pentingnya pendidikan, terutama untuk perempuan. Pesannya jelas, ‘Kalian perempuan harus sekolah setinggi mungkin supaya bisa mandiri. Jangan bergantung pada suami.’ Itu saya dengar sejak umur 12 tahun, dan sampai sekarang saya turunkan ke anak-cucu,” terangnya.
Meski dikenal serius di panggung publik, di rumah Sumitro justru menghadirkan suasana penuh kehangatan dan kebersamaan.
“Nasi goreng itu makanan favorit Ayah sampai turun ke anak-cucu. Sangat sederhana, tidak pernah menuntut. Kami diajarkan untuk bersyukur dengan apa yang ada, tidak boleh mengeluh soal makanan,” kenang Maryani dan Bianti.
Bagi keluarga, meja makan adalah ruang penting yang bukan sekadar untuk mengisi perut, tetapi juga sarana berbagi cerita dan berdiskusi.
“Kami selalu duduk makan bersama, tidak seperti banyak keluarga lain yang makan sendiri-sendiri. Dari situ kami belajar berbagi cerita, berdiskusi. Topiknya bisa ringan sampai serius, politik, sejarah, budaya. Dan Ayah selalu memberi ruang untuk anak-anak menyampaikan pendapat, meskipun berbeda dengan beliau,” ujar Maryani.
Bianti menambahkan, tradisi itu melatih mereka untuk berpikir kritis.
“Kalau kami tidak setuju, boleh saja, asal bisa menjelaskan alasannya. Ayah tidak pernah marah karena berbeda pendapat, malah meluruskan kalau kami salah. Tidak pernah ada larangan ‘anak kecil tidak boleh bicara.’ Itu membentuk kami terbiasa berpendapat,” jelasnya.
Meski penuh kasih, Sumitro tetap tegas sebagai ayah.
“Tentu, beliau sering marah, terutama pada anak laki-laki karena lebih nakal. Prabowo dulu sering bikin ayah jengkel, sedangkan Hashim lebih keras kepala soal makanan. Tapi anak-anak perempuan jarang dimarahi,” cerita Bianti sambil tertawa.
Kedekatan juga berlanjut hingga ke generasi cucu.
“Cucu pertama, Tommy (Thomas Djiwandono), sangat dekat dengan beliau. Selama sembilan tahun, dia satu-satunya cucu. Jadi kemana-mana dibawa, bahkan ikut duduk di meja makan orang dewasa. Dari situ, sejak kecil Tommy terbiasa dengan pembicaraan serius tentang politik, budaya, sejarah, seperti yang dulu kami alami,” kenang Maryani.
“Bahkan ada istilah ‘Dewan Cucu’ di keluarga. Ayah selalu mengajak cucu-cucunya sebulan sekali untuk makan di restoran, pergi ke toko buku atau toko mainan, atau sekadar diberi angpao. Itu cara beliau menjaga kedekatan dengan generasi berikutnya,” tambah Bianti.
Dari sisi Soedradjad Djiwandono sebagai menantu, menurutnya makan malam keluarga selalu terasa seperti “seminar kecil”. Selalu penuh diskusi soal ekonomi, politik, hingga filsafat hidup.
“Beliau pada dasarnya pendidik, jadi kebiasaan itu muncul alami di keluarga. Suasana hangat, tapi substansinya dalam,” ujar Soedradjad.

Warisan Sejati: Nilai Hidup yang Melampaui Teori Ekonomi
Thomas mengakui bahwa minatnya pada bidang ekonomi sangat dipengaruhi oleh sang opa, meskipun perjalanan karirnya sempat berliku, mulai dari menjadi wartawan hingga bekerja di bidang lain.
“Landasan berpikir saya banyak berasal dari beliau. Opa selalu menekankan pentingnya berpikir luas dan memahami konteks sebelum mengambil keputusan,” ujar Thomas.
Dari perjalanan panjangnya, ada dua nilai yang selalu ditekankan Sumitro: human dignity (martabat manusia) dan social justice (keadilan sosial).
“Martabat manusia berarti kehidupan yang layak, tidak hanya secara ekonomi, tapi juga dalam aspek sosial, agama, kesehatan, pendidikan, hingga kebebasan. Sedangkan keadilan sosial berarti memastikan semua lapisan masyarakat merasakan manfaat pembangunan. Nilai ini bukan teori bagi Opa, melainkan panggilan jiwa,” tutur Thomas.
Dari semua pengalaman, ada nilai-nilai yang terus diwariskan. Maryani menekankan tentang tanggung jawab dalam setiap keputusan.
“Ayah selalu mengajarkan, orang tua atau teman bisa memberi masukan, tapi keputusan tetap harus kita ambil sendiri, dengan segala konsekuensi,” tandasnya.
Sedangkan Bianti mengingatkan ajaran ayahnya tentang keteguhan hati. Jika harus menggambarkan sosok Sumitro dengan tiga kata, Maryani dan Bianti sepakat yaitu kejujuran, kesederhanaan, dan cinta tanah air adalah hal yang selalu lekat dengan beliau.
“Always hope for the best but prepare for the worst. Hidup penuh siklus, tapi itu bukan berarti selesai. Yang penting tetap rendah hati,” imbuhnya.
Setelah Panggung Publik, Tetap Mengabdi Lewat Pemikiran
Setelah pensiun dari pemerintahan, Sumitro tetap aktif berbagi pemikiran. Ia menaruh perhatian besar pada koperasi sebagai sarana memperkuat masyarakat dari bawah. Baginya, tidak ada satu sistem ekonomi yang bisa diimpor mentah-mentah. Semuanya harus disesuaikan dengan sejarah dan filosofi Indonesia.
Di keluarga, Sumitro dikenal memegang teguh prinsip noblesse oblige, jika seseorang memiliki kemampuan atau posisi lebih tinggi, itu adalah kewajiban untuk membantu yang kurang mampu. Prinsip ini ia warisi dari ayahnya, Margono Djojohadikusumo, pendiri Bank Negara Indonesia.
Soedradjad Djiwandono, mengenang bahwa prinsip itu selalu tampak dalam keseharian.
“Pak Mitro selalu bilang, selama kita kerja di pemerintahan harus tanpa pamrih, jangan menanyakan ‘what can I get.’ Jangan sampai kita menuntut pengakuan. Kerja untuk masyarakat, itu saja. Itu ajaran yang selalu beliau tekankan, dan menjadi aset berharga bagi kami,” tutur Soedradjad.
Setelah pensiun dari pemerintahan, Sumitro tidak berhenti mengabdi. Ia tetap mengajar, menulis, bahkan masih sempat mengedit naskah buku Soedradjad di akhir hayatnya.
“Itu sudah menjadi darah dagingnya. Seorang pendidik seumur hidup,” ujar Soedradjad.
Bagi Soedradjad, Sumitro bukan hanya mertua, tapi panutan.
“Beliau walk the talk. Seorang nasionalis, patriotik, sekaligus humanis dalam arti yang sejati, selalu berpihak pada rakyat. Bahkan ketika berbeda pandangan dengan penguasa, beliau tetap memegang integritas,” pungkasnya.
Soedradjad menyampaikan bahwa wejangan paling berharga datang saat krisis 1998. Kala itu, ia tengah disorot publik dan dielu-elukan mahasiswa setelah tidak lagi menjadi pejabat. Sumitro menegurnya dengan bijak agar jangan terlena dengan popularitas sesaat, karena bisa membawa bahaya.
“Beliau hanya berkata ‘go’. Pergilah, lanjutkan jalan akademikmu. Dari situlah saya kemudian berangkat ke Harvard dan menemukan ruang aman untuk menulis serta mengajar,” kenang Soedradjad.
Mengajarkan Hidup dengan Keteladanan
Bagi Thomas, waktu yang ia habiskan bersama sang opa di masa tuanya adalah kenangan yang tak ternilai.
“Banyak sekali, apalagi setelah beliau pensiun. Saat itu, saya bisa lebih sering bersamanya. Opa bukan hanya kakek bagi saya. Beliau juga guru kehidupan. Beliau mengajarkan kesederhanaan, disiplin, dan rasa hormat pada ilmu,” kenang Thomas.
“Dari Opa, saya belajar bahwa kejayaan seseorang tidak diukur dari jabatan, melainkan dari seberapa besar arti yang ia berikan bagi hidup orang lain,” imbuhnya.
Bagi Thomas dan seluruh keluarga, warisan Sumitro jauh melampaui teori-teori ekonomi yang ia tinggalkan. Lebih dari itu, Sumitro mewariskan nilai-nilai kemanusiaan yakni tentang pentingnya membangun bangsa dengan terlebih dahulu membangun manusianya. Dari ruang sidang kabinet hingga ruang tamu rumah keluarga, Sumitro tetaplah Sumitro, seorang pembelajar seumur hidup, pengajar yang setia, dan kakek yang penuh kasih.
Kenangan itu sejalan dengan yang disampaikan Maryani.
“Kami ini sebenarnya keluarga yang beruntung, privileged. Dari kecil sudah mendapat kesempatan pendidikan dan pengalaman luas. Dengan privilege itu, Ayah menanamkan kewajiban untuk mengembalikan apa yang diterima, tidak hanya kepada negara, tapi juga lingkungan sekitar. Itu yang selalu kami pegang sampai sekarang,” tutupnya.