Rizal Azis, Peneliti Sel Punca Alumni LPDP Lulusan University of Nottingham
Menjadi peneliti di Indonesia sering dianggap profesi “kurang cuan”. Tapi bagi Rizal Azis, peneliti muda lulusan University of Nottingham dan penerima beasiswa LPDP, ilmu pengetahuan bukan soal uang—melainkan kontribusi untuk kemanusiaan.
Tahun 2024 lalu, Rizal mencatat sejarah sebagai pemegang hak paten di Inggris untuk media kultur sel punca non hewani (xeno-free)—temuan penting di dunia bioteknologi yang menekan biaya riset dan terapi sel punca secara signifikan.
“Yang saya lakukan mungkin kecil, tapi saya berharap dampaknya besar. Saya ingin terapi sel punca bisa dinikmati bukan hanya oleh orang kaya, tapi semua orang,” ujarnya saat ditemui di laboratorium Universitas Indonesia.
Dari Makassar ke Dunia
Rizal lahir di Makassar, Sulawesi Selatan, dari keluarga sederhana yang menanamkan pentingnya pendidikan. Sejak kecil, ia dikenal gemar belajar—bahkan sering harus diingatkan untuk beristirahat.
“Ibu saya yang stres lihat saya belajar. Dari SD sampai SMA saya bisa belajar sampai larut malam, rendam kaki di air biar enggak ngantuk,” ujarnya sambil tertawa.
Kecintaannya pada biologi membawanya menjuarai berbagai olimpiade sains di sekolah. Setelah lulus SMA tahun 2006, ia sebenarnya diterima tanpa tes di UGM, namun harus menahan diri karena orang tuanya belum mengizinkan merantau. Ia pun memilih Universitas Hasanuddin (Unhas), jurusan Biologi, dengan beasiswa penuh hingga lulus sarjana.
Beberapa tahun kemudian, Rizal akhirnya mewujudkan impiannya kuliah di Yogyakarta. Ia diterima di pascasarjana UGM, jurusan Bioteknologi, di mana untuk pertama kalinya ia berkenalan dengan konsep sel punca (stem cell).
Awal Ketertarikan pada Sel Punca
Tahun 2012 menjadi titik balik. Dalam salah satu kuliah, dosennya menjelaskan tentang stem cell—sel yang mampu memperbaiki jaringan tubuh manusia.
“Waktu itu saya langsung terpana. Hebat banget, sel ini bisa menggantikan sel yang rusak di tubuh,” kenangnya.
Rizal mulai meneliti sel punca dari tali pusar manusia, bersama dua rekannya di bawah bimbingan profesor. Tantangan terbesar justru datang dari masyarakat. “Di Yogyakarta, tali pusar dianggap benda sakral. Kami harus menjelaskan dengan bahasa sederhana bahwa ini untuk penelitian,” katanya.
Setelah melalui banyak kegagalan, Rizal berhasil mengembangkan metode isolasi sel punca dari tali pusar, yang kemudian dipatenkan di UGM dan menjadi pijakan karier risetnya.
Beasiswa LPDP dan Tantangan di Inggris
Tak puas, Rizal ingin memperdalam penelitian stem cell di luar negeri. Ia meraih beasiswa LPDP dan diterima di University of Nottingham, Inggris, dalam program Integrated PhD in Stem Cell Technology.
“Karena bidang saya sangat spesifik, tidak banyak kampus yang punya program itu. Nottingham termasuk salah satunya,” tuturnya.
Namun, baru tiga bulan kuliah doktoralnya berjalan, profesornya pindah kampus. LPDP tak mengizinkan Rizal ikut berpindah karena kampus baru tersebut tak memenuhi syarat akademik. “Saya sempat diminta pulang ke Indonesia. Rasanya hancur,” ujarnya.
Pada 2016, Rizal kembali ke tanah air. Ia sempat bekerja di laboratorium swasta di Bandung sebelum akhirnya diterima sebagai dosen di Universitas Indonesia (UI). “Awalnya saya pikir saya enggak cocok ngajar. Tapi ternyata dosen itu bukan cuma mengajar, tapi juga meneliti. Jadi saya jatuh cinta sama profesi ini,” katanya.
Paten dari Inggris
Empat tahun berselang, tahun 2020, Rizal kembali ke Inggris melanjutkan studi yang sempat tertunda.
“Hampir setiap hari saya di lab dari pagi sampai tengah malam. Sempat ingin menyerah,” ujarnya mengenang masa-masa sulit itu.
Namun dukungan profesor membuatnya bertahan. “Profesor saya bilang, kalau saya bisa bertahan di fase ini, saya akan kuat di riset apa pun,” kenangnya.
Kerja keras itu berbuah paten internasional. Rizal berhasil menemukan formulasi media kultur sel punca non hewani yang universal, serta protokol pembuatan sel turunan dari stem cell—dua inovasi yang kini terdaftar resmi di Inggris.
“Biasanya, untuk menumbuhkan sel punca butuh banyak jenis medium yang mahal. Saya membuat satu medium universal, jadi jauh lebih efisien,” jelasnya.
Untuk Indonesia
Temuan Rizal menarik minat banyak perusahaan bioteknologi, dari dalam hingga luar negeri. Namun Rizal tetap memilih memprioritaskan kontribusinya bagi tanah air. “Saya ingin hasil riset ini untuk Indonesia dulu,” ujarnya mantap.
Ia berharap terapi stem cell bisa diakses lebih luas. “Kalau bisa nanti aplikasi klinis sel punca masuk BPJS. Jadi rakyat kecil juga bisa merasakan manfaatnya,” katanya penuh harap.
Kini Rizal membimbing lebih dari sepuluh mahasiswa yang meneliti topik serupa. “Saya ingin ada estafet peneliti muda Indonesia yang terus hidup,” ujarnya.
Tantangan dan Harapan
Fasilitas penelitian di Indonesia masih jauh dari ideal, namun hal itu tak memadamkan semangat Rizal. “Kita memang kalah alat, tapi jangan kalah semangat,” katanya.
Ia menekankan pentingnya kolaborasi global dan pikiran terbuka. “Kalau jadi peneliti tapi berpikir kayak katak dalam tempurung, ya hasilnya akan begitu-begitu saja. Harus mau berkolaborasi lintas negara,” tegasnya.
Rizal juga menepis stigma bahwa peneliti tidak sejahtera. “Kalau punya paten dan publikasi internasional, peluang royalti besar. Yang penting mindset-nya jangan tertutup,” ujarnya.
Ilmu yang Mengabdi
Meski beberapa kali ditawari posisi di luar negeri, Rizal memilih kembali ke Indonesia. “Saya sudah disekolahkan negara miliaran rupiah lewat LPDP. Saya harus membalas dengan mengabdi,” katanya tegas.
Kini ia menyiapkan riset postdoctoral dan rencana pengembangan laboratorium stem cell di Indonesia. “Ilmu itu tidak berhenti di laboratorium. Ilmu harus hidup di masyarakat. Kalau sel punca bisa menyembuhkan luka tubuh, riset juga bisa menyembuhkan luka bangsa,” tutupnya.
Profil Singkat Rizal Azis
Asal: Makassar, Sulawesi Selatan
Pendidikan:
S1 Biologi, Universitas Hasanuddin
S2 Bioteknologi, Universitas Gadjah Mada
S2 & S3 Stem Cell Technology, University of Nottingham (Beasiswa LPDP)
Paten:
· Media kultur sel punca non hewani (xeno-free), Inggris (2024)
· Protokol pembuatan sel turunan dari stem cell
Profesi: Dosen & Peneliti Stem Cell, Universitas Indonesia