SMA Unggul Garuda: Pintu Menuju Kampus Top Luar Negeri
Sekolah Garuda merupakan bagian dari Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) Presiden Prabowo Subianto sekaligus upaya transformasi pendidikan menuju Indonesia Emas 2045. Program sekolah unggul berasrama ini bertujuan memperluas peluang bagi anak-anak Indonesia berprestasi agar mampu menembus kampus-kampus terbaik dunia dan bersaing di kancah global.
Pemerintah melalui APBN mengalokasikan Rp2 triliun atau setara 0,27% dari total Anggaran Pendidikan 2025 untuk program Sekolah Garuda. Separuh dari total anggaran atau Rp1 triliun dialokasikan sebagai dana abadi sekolah unggul untuk menjamin kesinambungan program.
“Secara garis besar, hampir 50 persen dari Rp2 triliun itu untuk memupuk dana abadi. Kenapa perlu dana abadi? Agar sekolah ini terus ada keberlanjutan,” ujar Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie di Jakarta, Senin (22 /9/2025) dilansir Metrotvnews.
Human Capital Index menunjukkan rata-rata siswa Indonesia baru memanfaatkan 54% dari potensi utuh mereka. Sebab itu, kehadiran Sekolah Garuda penting untuk meningkatkan kualitas SDM Indonesia.
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) secara resmi memperkenalkan Sekolah Garuda pada 8 Oktober 2025. Dari total 16 titik peluncuran, 12 di antaranya merupakan Sekolah Garuda Transformasi, sementara empat lainnya adalah Sekolah Garuda Baru yang ditargetkan mulai beroperasi di tahun ajaran 2026/2027.

Sekolah Garuda Transformasi merupakan program penguatan untuk Sekolah Menengah Atas (SMA)/Madrasah Aliyah (MA) unggul yang sudah ada, agar mampu mengoptimalkan potensi menuju perguruan tinggi terbaik dunia. Program tersebut meliputi peningkatan kompetensi siswa, penguatan kapasitas guru, serta pengembangan manajemen sekolah.
Sedangkan Sekolah Garuda Baru adalah sekolah yang dibangun dari nol di wilayah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T), serta daerah yang masih memiliki keterbatasan akses terhadap pendidikan unggul.
Hingga 2029, pemerintah menargetkan membina 80 Sekolah Garuda Transformasi dan membangun 20 Sekolah Garuda baru.
“Dengan ekosistem yang terwujud dalam dua skema ini, Sekolah Garuda bukan sekadar pembangunan sekolah, tetapi sebuah investasi jangka panjang untuk melahirkan generasi Indonesia yang cerdas, berdaya saing global, dan tetap berpijak pada nilai-nilai lokal,” tutur Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto.
Sekolah Garuda berbeda dengan sekolah pada umumnya. Brian menerangkan Sekolah Garuda berdiri di atas tiga pilar utama, yakni pemerataan akses bagi seluruh anak bangsa agar dapat berprestasi, inkubator pemimpin, terutama di bidang sains dan teknologi, serta pendidikan berkualitas yang menyatu dengan pengabdian masyarakat.
“Sekolah Garuda ini memang kita siapkan untuk melahirkan para petarung, garuda-garuda muda, yang lawannya bukan lagi sesama anak bangsa, tetapi negara lain,” ujar Brian.
Di samping memperluas akses sekolah unggul, pemerintah juga terus meningkatkan akses menuju kampus terbaik dunia untuk jenjang S1. Kemendiktisaintek dan LPDP menyediakan Beasiswa Indonesia Maju (BIM) dan Beasiswa Garuda bagi siswa berprestasi yang membutuhkan bantuan negara untuk melanjutkan pendidikan tinggi di dalam maupun luar negeri.
Terkait Beasiswa Garuda yang baru dimulai di tahun 2025 ini, Wamendiktisaintek Stella Christie menjelaskan beasiswa tersebut dirancang khusus bagi siswa Sekolah Garuda sebagai kelanjutan strategis program. Namun, siswa tidak serta merta mendapat beasiswa, melainkan harus lolos seleksi prestasi terlebih dahulu. Seleksi juga didasarkan pada latar ekonomi siswa.
“Sehingga beasiswa Garuda ini diprioritaskan untuk mereka yang berasal dari sekolah Garuda. Namun tidak otomatis, ya. Jadi harus diperjuangkan," ucap Stella dilansir detikEdu (22/7/2025).
Kemendiktisaintek mencatat, tahun 2025 ini sebanyak 337 siswa/i asal berbagai SMA lolos menjadi penerima beasiswa BIM dan Beasiswa Garuda. Sebanyak 325 penerima beasiswa akan kuliah di luar negeri, sedangkan 12 lainnya di dalam negeri. Mayoritas penerima beasiswa memilih program studi di bidang Sains, Technology, Engineering, dan Mathematics (STEM) selaras dengan kebijakan pemerintah. Negara tujuan yang menjadi favorit antara lain Kanada, Australia, Amerika Serikat, dan Singapura.
Terbang tinggi bersama SMA Garuda Transformasi Pradita Dirgantara
Salah satu sekolah yang dipilih pemerintah untuk masuk ke dalam ekosistem Sekolah Garuda Transformasi pada tahun 2025 ini adalah SMA Pradita Dirgantara, sekolah swasta unggulan berasrama di Boyolali, Jawa Tengah yang berdiri sejak tahun 2018. Sekolah tersebut didirikan oleh Yayasan Ardhya Garini yang berada di bawah naungan TNI Angkatan Udara. Namun, sekolah ini bukan sekolah berkonsep militer. Lulusannya memiliki kebebasan untuk melanjutkan studi ke luar negeri, dalam negeri, sekolah kedinasan, ataupun akademi militer TNI/Polri sesuai preferensi.
SMA Pradita Dirgantara (PD) kerap meraih prestasi membanggakan, antara lain didapuk sebagai sekolah terbaik ketiga di Indonesia dan peringkat 1 di Jawa Tengah versi LTMPT (Lembaga Masuk Perguruan Tinggi) Tahun 2022.
Lalu pada 2023 SMA PD menduduki peringkat 1 sebagai sekolah yang meloloskan siswa terbanyak pada program Persiapan Beasiswa Indonesia Maju (BIM), yakni berjumlah 28 siswa dan pada 2024 tercatat 31 siswa menerima BIM tujuan perguruan tinggi luar negeri.
Tak hanya itu, per Februari 2025 Puspresnas (Pusat Prestasi Nasional) Kemendikbud mencatat SMA PD menempati posisi pertama dalam hal jumlah prestasi siswa yang selama ini mengikuti kompetisi dan dikurasi oleh Puspresnas.
“Visi misi kami adalah menjadi lembaga pendidikan menengah yang bereputasi di tingkat internasional tetapi tetap menjunjung tinggi budaya bangsa untuk mencetak pemimpin yang beriman, cerdas, kreatif, mandiri, dan berwawasan kedirgantaraan,” terang Kepala SMA Pradita Dirgantara M. Ridwan Aziz.
Untuk menjaga kualitas pendidikan bertaraf internasional, SMA PD mengaplikasikan Kurikulum International Baccalaureate Diploma Programme (IB DP), Kurikulum Cambridge, dan Program ASPNet (Associated Schools Network) UNESCO. Di samping itu, sekolah ini juga menerapkan Kurikulum Merdeka dan wawasan kedirgantaraan.
Aziz menyambut positif terpilihnya SMA Pradita Dirgantara sebagai salah satu pionir Sekolah Garuda Transformasi. Ia menuturkan Program Sekolah Garuda, baik yang baru maupun yang transformasi meningkatkan harapan dan peluang bagi peserta didik yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata untuk mendapatkan pelayanan pendidikan yang sesuai dengan potensi mereka.
“Potensi yang sudah besar, dikelola, dididik dengan sumber daya terbaik juga, maka mereka akan lebih unggul lagi. Sehingga harapan kita di 2045 Indonesia benar-benar bisa menjadi kekuatan yang diperhitungkan di dunia,” ujar Aziz.
Ia berharap kolaborasi antara SMA PD dengan Direktorat Jenderal Saintek Kemendikti dan Universitas Padjajaran (Unpad) sebagai pengampu program Sekolah Garuda Transformasi dapat meningkatkan peluang siswa SMA PD untuk menembus kampus-kampus top luar negeri.
“Harapannya program ini bisa lebih membuka wawasan dan peluang anak-anak untuk mencapai perguruan tinggi luar negeri yang bukan hanya top 100 atau 50, tapi bahkan 10 besar dunia,” imbuhnya.
Ia lebih lanjut menjelaskan bentuk program Sekolah Garuda Transformasi yang diterima pihak sekolah dari pemerintah adalah sebatas program pengembangan kapasitas siswa, guru, dan manajemen untuk mendukung siswa agar dapat memenuhi persyaratan yang diperlukan dalam mendaftar ke perguruan tinggi luar negeri (PTLN).
“Jadi, hanya program-program penguatan kesiapan ke perguruan tinggi luar negeri, di antaranya IELTS, SAT, personal branding, tes bakat minat, terbatas sampai di situ,” terangnya.
Penjelasan tersebut sekaligus menepis anggapan bahwa dengan menyandang status sebagai Sekolah Garuda Transformasi maka seluruh biaya pendidikan otomatis menjadi gratis atau dibiayai pemerintah.
College Counselor SMA PD, Pipit Septiani yang telah mengikuti program pembekalan dari Dirjen Saintek Kemendikti dan Unpad mengakui keseriusan upaya pemerintah dalam membentuk keunggulan Sekolah Garuda.
Menurut Pipit, peserta dari College Counselor, guru SAT atau pengampu subjek STEM (Science, Technology, Engineering and Math), pengampu IELTS, dan manajemen sekolah dibekali secara holistik di program pelatihan tersebut untuk melatih para siswa agar bisa meraih skor tinggi.
Di samping itu, para guru yang mengikuti pelatihan tersebut juga dibekali pengayaan training of trainer (ToT) agar dapat menjadi pelatih ke depannya.
“Jadi, materinya itu betul-betul yang saat ini sedang kami butuhkan untuk pengembangan diri sebagai seorang guru yang ada di sini. Kami merasakan banyak sekali manfaatnya,” ungkap Pipit.
Sementara itu, manfaat yang diterima oleh siswa dari program Sekolah Garuda Transformasi juga tidak kalah besar. Mulai dari pembekalan SAT dan IELTS hingga fasilitas full test SAT dan IELTS.
“Bahkan sekolah-sekolah unggul juga mendapat peluang besar untuk memperoleh beasiswa ke luar negeri,” ujarnya.
Manfaat program Sekolah Garuda Transformasi tersebut tidak hanya dinikmati oleh SMA PD namun juga sekolah-sekolah sekitarnya melalui program pengimbasan. SMA PD dan Unpad memfasilitasi siswa dan guru-guru terbaik di masing-masing sekolah untuk mendapatkan pembekalan juga. Program pengimbasan tersebut diharapkan membuka wawasan dan harapan bagi siswa di luar SMA unggulan untuk berkuliah di kampus luar negeri terbaik.
“Nah, di Boyolali ini ada 50 SMA/MA negeri maupun swasta yang sudah kita sosialisasikan program pengimbasan, sudah mengikuti juga program-programnya. Namun, memang dari pemetaan awal tidak bisa semuanya langsung mendaftar ke perguruan tinggi luar negeri,” jelas Aziz.
Aziz juga mengharapkan ke depan program Sekolah Garuda Transformasi dapat lebih ditingkatkan terutama dari aspek alur waktu pelaksanaan kegiatan. Sehingga tidak menghambat jadwal pendaftaran siswa ke PTLN.
“Kami berharap ini bisa dilakukan mapping dari awal, mungkin di awal tahun. Kemudian programnya bisa dikerjakan setidaknya minimal 6 bulan. Sehingga anak-anak hasilnya nanti bisa lebih baik. Jadi, di bulan Oktober-November seperti sekarang, (anak-anak) sudah bisa mendaftar (PTLN). Dan di semester depannya, mereka bisa fokus untuk memperkaya diri sesuai dengan jurusan yang dia sudah diterima,” jelas Aziz memberi masukan.
Ayo wujudkan mimpi kuliah di kampus top dunia!
SMA Pradita Dirgantara (PD) menerapkan asas keadilan dalam penerimaan siswa baru. Tersedia tiga jalur penerimaan siswa baru yakni Jalur Reguler, Jalur Bantuan Biaya Pendidikan (B2P) dan Jalur Beasiswa.
Jalur Beasiswa terdiri dari tiga kategori: (1) Beasiswa keluarga prasejahtera; (2) Beasiswa daerah 3T atau Afirmasi; dan (3) Beasiswa prestasi bagi peraih prestasi Olimpiade Sains Nasional (OSN) tingkat nasional atau Pradita Dirgantara Competition (PDC).
Sementara, persyaratan umum pendaftaran siswa SMA PD antara lain rata-rata nilai rapor SMP semester I-V minimal 90 untuk mata pelajaran IPA, Matematika, Bahasa Inggris dan memiliki IQ minimal 115 dengan mengikuti tes psikologi yang diselenggarakan oleh Dinas Psikologi TNI AU.
“Kita menerapkan asas keadilan, dalam arti tidak semua disamaratakan. Tentu ada orang tua yang memiliki ekonomi yang cukup, ada yang kurang. Dan semuanya memiliki kesempatan untuk bersekolah di SMA Pradita. Asal persyaratan utamanya terpenuhi dulu. Rapor dan juga IQ,” ungkap Aziz.
Setiap tahun SMA PD membuka kuota penerimaan siswa baru sebanyak 150 orang siswa. Kendati demikian, Aziz mengungkapkan penyaringan calon siswa tidak berbasis kuota melainkan tes kemampuan yang memenuhi standar SMA PD agar kualitas sekolah mereka tetap terjaga.
"Jadi kalau tidak memenuhi standar kami, kami tidak memaksakan untuk kuota 150 itu terpenuhi. Seperti tahun sekarang, kita hanya (menerima) 139 (siswa baru), bahkan sebelumnya hanya 87. Kita ingin menjaga kualitas, karena kita berasrama, sehingga tidak hanya akademis, tapi bagaimana (aspek) sosialnya, psikologinya juga kita pertimbangkan," bebernya.
Adapun data penerimaan alumni menunjukkan komitmen SMA PD dalam mencapai standar global. Setiap tahun, terjadi peningkatan yang signifikan pada jumlah siswa yang melanjutkan studi ke PTLN.
Aziz menyebut dari 122 siswa yang lulus tahun 2025, 58 siswa atau sekitar 48% dari total siswa melanjutkan studi ke PTLN di top 100 universitas terbaik dunia. Yang lebih mencengangkan, jumlah LoA (Letter of Acceptance) dari 58 siswa itu mencapai 300 lebih LoA. Hampir 100% siswa (50 siswa) kelas 12 peminatan luar negeri raih beasiswa untuk melanjutkan studi mereka.
Sementara itu, 40-an% siswa lainnya berhasil diterima di berbagai perguruan tinggi dalam negeri ternama seperti UI, ITB, UGM, UNS. Sedangkan 10% siswa lainnya melanjutkan pendidikan ke akademi militer TNI/Polri.
“Tahun ini minat untuk kuliah di luar negeri melonjak menjadi sekitar 70% dari total siswa,” kata Aziz.
Keberhasilan siswa SMA PD tak lepas dari dukungan tenaga pendidik profesional. Marinda Noor Eva, Guru Fisika SMA PD menuturkan selain memiliki kompetensi dasar, guru-guru SMA PD juga memiliki kompetensi dalam membimbing akademis dan karakter siswa.
“Kita harus memiliki kompetensi untuk bisa mendampingi siswa dari kelas 10 hingga 12. Membangun portofolio siswa, mendampingi siswa dalam riset, mempersiapkan IELTS dan SAT. Kami guru-guru di sini juga sudah IB certified (bersertifikasi IB) karena memang kurikulum kami kurikulum IB,” ungkap Marinda.
Pemetaan minat bakat siswa yang dilakukan pihak sekolah sejak awal masa orientasi siswa baru, membantu anak-anak untuk lebih optimal di bidang yang mereka tekuni.
“Kami sudah tahu potensinya anak, jadi tinggal support mereka untuk bisa melenting lebih tinggi,” terangnya.
Sementara itu, Nadya, Guru Bahasa Inggris dan IELTS SMA PD menuturkan salah satu keunggulan SMA PD adalah penerapan kurikulum IB yang didesain agar siswa siap menjalani masa perkuliahan. Siswa diberikan pilihan untuk subjek yang mereka ingin pelajari sesuai dengan minat dan bakat mereka. Total ada 6 subjek mencakup language and literature, language acquisition, individuals and societies, sciences, mathematics, dan arts.
“Untuk pembelajarannya sendiri juga dipersiapkan sebagaimana universitas akan belajar, yaitu kelas-kelas yang sesuai dengan subjeknya,” ucapnya.
Dengan kurikulum yang student-based atau berpusat pada siswa, siswa bukan sekadar objek penerima informasi namun subjek aktif dalam proses belajar.
“Jadi, guru lebih sebagai fasilitator atau jembatan agar anak mampu belajar secara mandiri. Bukan sebagai seorang yang know all and then give to them,” tutup Nadya.
Talenta emas garuda muda Pradita Dirgantara
SMA Unggul Garuda Transformasi Pradita Dirgantara terus berkontribusi mencetak talenta bervisi dan berdaya saing global. Pada kesempatan ini, tiga siswa perwakilan kelas 12 SMA Pradita Dirgantara (PD) berbagi inspirasi dengan Media Keuangan.
Muhammad Zaki Azdzikra atau kerap disapa Zaki siswa kelas 12 SMA PD mengungkapkan ketertarikannya bersekolah di SMA PD bermula dari cerita kakak kelasnya tentang program sekolah yang sangat mendukung siswa meraih cita-cita, khususnya untuk melanjutkan studi ke perguruan tinggi di luar negeri.
“Yang paling menarik bagi saya adalah kurikulum International Baccalaureate (IB) yang diterapkan di sini,” kata Zaki.
Menurutnya, kurikulum IB sangat mempermudah proses pendaftaran ke universitas luar negeri karena nilai IB dapat langsung digunakan untuk mendaftar.
Berbekal kemudahan tersebut, Zaki kini membidik tiga kampus impian yakni University of Toronto (Kanada), Nanyang Technological University (NTU) di Singapura, dan University of Sydney (Australia).
Jauh dari cita-cita konvensional, Zaki memiliki visi yang jelas, menjadi insinyur di bidang pengembangan produksi energi berkelanjutan, khususnya energi nuklir.
“Seiring berjalannya waktu, saya melihat potensi energi nuklir. Dengan risiko yang lebih rendah, hasilnya bisa lebih tinggi,” jelas siswa lulusan SMPN 1 Singosari ini.
Zaki mengakui peran besar sekolah dalam mendukung persiapannya menembus kampus impiannya, baik melalui persiapan ujian standar internasional maupun sharing session dengan perwakilan kampus global secara langsung.
“Baru-baru ini ada perwakilan dari University of Toronto dan UNSW yang datang. Ada banyak banget hal-hal yang gak bisa didapatkan dari kita cuma searching Google gitu. Jadi, bener-bener sekolah ini mendatangkan orang-orang spesialis ke sini untuk menjelaskan kepada kita tentang universitas tersebut,” ujar mantan Ketua OSIS yang baru saja meraih medali emas di ajang kompetisi riset sains internasional.
Risetnya berfokus pada sistem elektrolisis yang mampu memproduksi hidrogen dan oksigen dari air keruh. Di samping itu, Zaki juga meraih Juara 1 tingkat provinsi untuk kategori monolog di ajang FLS2N.
Selain berprestasi di area akademis, Zaki mengakui pengalamannya sebagai Ketua OSIS juga turut membentuknya menjadi pemimpin yang tangguh ke depan.
“Lingkungan organisasi di sini sangat berbeda. Pressure-nya lebih besar dan kami dituntut untuk mandiri dalam problem solving, mengendalikan situasi, dan mengorganisir sebuah event tanpa banyak bantuan guru. Kami harus mencari cara sendiri agar event itu berhasil,” tuturnya.
Bagi calon siswa yang ingin mengikuti jejaknya, Zaki menyarankan agar mempersiapkan nilai rapor terbaik dan menguasai materi pelajaran sebaik mungkin.
“Pradita membutuhkan siswa yang menunjukkan bahwa mereka mampu. Jadi, siapkan ilmu pelajaran dengan baik,” tegasnya
Menanggapi status baru SMA PD sebagai Sekolah Garuda Transformasi, Zaki berharap SMA PD bisa menjadi contoh bagi sekolah lain dalam menciptakan lingkungan belajar yang inklusif dan egaliter. Sekolah mendorong siswa untuk memiliki rasa penasaran, berpikir kritis, dan kebebasan berpendapat sehingga siswa bisa menghadirkan ide-ide segar yang bermanfaat bagi masyarakat.
“Siswa tidak lagi butuh sistem belajar yang sekadar menghafal. Mereka perlu sistem yang mendorong kreativitas dan inovasi,” katanya.
Zaki juga berharap adanya pemerataan akses pendidikan unggul di seluruh Indonesia. Ia juga mengharapkan pemerintah dapat memfasilitasi lulusan yang kembali dari studi luar negeri untuk berkontribusi bagi negara.
Aurellyallodia Faiza Kusuma atau yang biasa dipanggil Aurel, siswa kelas 12 lainnya dari SMA PD juga memiliki aspirasi serupa.
Impian untuk bisa berkuliah di kampus top di luar negeri mendorongnya untuk melanjutkan pendidikan di sekolah unggul yang menerapkan kurikulum IB.
Di samping itu, berasal dari keluarga yang sering berpindah kota mengikuti tugas sang ayah, Aurel juga menyadari pentingnya untuk lebih fokus dalam menempuh pendidikan, khususnya di jenjang SMA yang kelak menjadi jembatan penting menembus kampus impiannya. Sehingga ia lebih memilih bersekolah dia sekolah berasrama. Akhirnya pilihan pun jatuh pada SMA PD.
Meskipun mulanya skema asrama membawa tantangan tersendiri bagi Aurel yang gemar berkegiatan di luar sekolah, namun ia senang karena dikelilingi banyak teman dari seluruh Indonesia.
Bagi Aurel, SMA Pradita Dirgantara ibarat Indonesia kecil yang sarat keberagaman yang mendorongnya untuk memperkuat nilai-nilai kolaborasi, inklusivitas, dan berwawasan terbuka terhadap berbagai perspektif.
“Bersekolah di sini mengajarkan saya untuk menerima dan mempelajari budaya-budaya baru tanpa menutup diri saya sendiri. Jadi saya dilatih untuk mengetahui hal-hal baru tanpa melepas identitas saya sendiri. Dan itu menurut saya sangat penting untuk dimiliki oleh anak-anak Indonesia yang akan berkuliah di luar negeri,” papar Duta SMA Provinsi Jawa Tengah Tahun 2024 tersebut.
Sederet prestasi lain yang berhasil ia raih di antaranya medali perunggu Olimpiade Sains Nasional bidang Biologi 2025 dan Best Presenter di kategori paralel Biophysics and Medical Physics pada International Physics Seminar yang diadakan Universitas Negeri Jakarta.
“Yang paling memorable untuk saya adalah kemarin saya berhasil mendapatkan beasiswa full untuk mengikuti kegiatan workshop inovasi di MIT dan Harvard dari Massachusetts Institute of Technology Regional Entrepreneurship Acceleration Program,” tutur Aurel dengan penuh semangat.
Aurel lanjut menceritakan semenjak kecil ia sangat tertarik dengan bidang STEM dan ketika bersekolah di Pradita ia menemukan talentanya lebih spesifik di bidang biologi. Sehingga ia memutuskan untuk menjadi ahli bioteknologi ke depannya.
Tak tanggung-tanggung, Aurel memantapkan diri menyasar kampus-kampus top seperti MIT serta jajaran kampus Ivy League seperti Harvard University dan Princeton University.
“Penting banget untuk kita semua tahu apa yang kita inginkan dan kita harus membuka jalan sendiri juga. Sekolah perlu untuk mendukung mimpi dari peserta didiknya. Namun, sebagai peserta didik kita juga harus punya kesadaran dan tanggung jawab terhadap diri sendiri untuk membuka jalan dan berusaha mencari hal-hal yang memang akan membantu kita untuk mencapai cita-cita kita,” pesan Aurel.
Menanggapi terpilihnya SMA PD sebagai salah satu pionir Sekolah Garuda Transformasi, Aurel menyampaikan rasa syukurnya. Menurutnya ada banyak anak Indonesia yang sebetulnya berbakat namun tidak mendapat akses pendidikan memadai untuk membantu mereka melanjutkan pendidikan tinggi di luar negeri.
Siswi yang baru-baru ini berhasil memublikasikan hasil riset di bidang Fisika yang dilakukannya bersama tim dari SMA PD di salah satu jurnal sains internasional terindeks tersebut berharap kolaborasi antara pemerintah dan SMA PD dapat membina dan melatih putra-putri terbaik bangsa agar kompeten dan mampu bersaing secara global.
"Saya berharap dari adanya program ini, kita semua bisa berkolaborasi bersama dan juga bertemu bersama untuk mewujudkan nantinya Indonesia Emas di tahun 2045," harap Aurel.
Terinspirasi dari komik biografi Sir Isaac Newton yang dibacanya di masa kecil, Aurel menekankan pentingnya menemukan hal yang disukai, berani bermimpi besar, dan mengejar mimpi di bidang tersebut.
“Percayalah bahwa kita semua punya kemampuan untuk mencapai kesuksesan maksimal di hal yang memang kita sukai. Jadi, jangan terpaku sama hal-hal yang mungkin dicapai oleh orang lain. Jangan fomo (fear of moving out). Fokuslah terhadap apa yang kita suka dan kejarlah mimpi-mimpi kita sampai kita bisa berkarya di hal tersebut,” pungkasnya.
Kisah inspiratif juga datang dari Glorious Ariel Heaveniawan Purwoto, salah satu potret nyata bahwa kecerdasan dan ketekunan mampu membuka pintu pendidikan terbaik.
Berasal dari keluarga sederhana, lulusan SMPN 1 Salatiga ini tak menyerah dengan kendala finansial keluarga untuk melanjutkan pendidikan di SMA PD. Berkat prestasi dan keunggulannya, ia berhasil memperoleh beasiswa dari SMA tersebut.
“SMA Pradita Dirgantara menjadi salah satu tempat di mana saya bisa memecahkan tantangan ke depan dan mengembangkan kapasitas dan skill saya,” ujar Ariel.
Beradaptasi dari sekolah konvensional saat SMP ke sistem boarding school yang ketat membawa tantangan tersendiri bagi Ariel yang awalnya cenderung introvert. Di SMA PD, Ariel tak hanya terlatih mengelola waktu dengan efektif, namun ia juga belajar mengembangkan keterampilan sosial dan empati di tengah keberagaman. Tempaan jadwal dan kedisiplinan yang tinggi pun membuat mentalnya hari demi hari semakin kuat.
Menimba ilmu di lingkungan sekolah yang suportif, nyaman, dan menyenangkan membuat Ariel merasa memiliki keluarga kedua di SMA PD sehingga ia pun dapat mengembangkan potensinya secara optimal.
Di samping itu, kesempatan untuk ke luar kota dan berkompetisi di berbagai ajang nasional juga menjadi pengalaman mengesankan bagi Ariel selama bersekolah di SMA PD. Beberapa prestasi yang pernah ia raih antara lain Juara 1 National Critical Essay yang diadakan oleh Lembaga Kajian Fakultas Hukum Universitas Indonesia (UI) dan Juara 1 Lomba Filsafat Menulis ISEI di UGM.
Talenta muda yang kerap dijuluki ‘Si pemikir’ oleh kawan-kawannya tersebut bercita-cita menjadi seorang diplomat atau dosen filsafat. Ariel ingin membawa filsafat yang dianggap sulit dan abstrak menjadi media pembelajaran yang mudah diakses, bahkan bagi anak-anak SMA.
“Saat ini, saya berencana untuk mengembangkan platform di mana anak-anak SMA bisa belajar filsafat, terutama dari luar SMA ini karena mungkin di SMA ini ada pelajaran filsafat tapi di luar sana belum tentu ada,” ungkap siswa penggemar filsafat ini.
Untuk mengejar mimpinya, Ariel mengincar beberapa universitas terkemuka dunia, antara lain University of Edinburgh dan King's College London di Inggris, serta University of Sydney dan UNSW di Australia.
Upaya yang ia lakukan dimulai sejak kelas 10 dengan mempersiapkan skor IB yang tinggi, mendalami pelajaran filsafat dan sejarah, serta mempertajam keahlian berbahasa Inggris dengan mengikuti ekskul debat dan ajang Model United Nations.
Dengan semakin banyaknya program pemerataan akses pendidikan berkualitas dari pemerintah, Ariel mendorong anak-anak Indonesia untuk tekun menjalani studi dan jeli mencari serta mengambil kesempatan.
“Saya percaya, Tuhan menyiapkan jalan untuk semua orang. Tapi juga, keberuntungan ada untuk orang-orang yang menjemputnya. Karena seringkali orang itu menyesal bukan karena mereka melewatkan sesuatu, tetapi karena ketika mereka bisa mendapatkan sesuatu tetapi mereka memilih untuk tidak,” tutup Ariel.