Waitatiri, Alumni Harvard Jalur LPDP yang Lawan Bullying dengan Buku Anak

3 Maret 2025
OLEH: Irfan Bayu Pradhana
Waitatiri, Alumni Harvard Jalur LPDP yang Lawan Bullying dengan Buku Anak
 

Keinginan untuk menempuh studi yang lebih tinggi mendorong perempuan asli Jakarta, Waitatiri, menggapai mimpinya menempuh studi di Harvard Amerika Serikat lewat jalur beasiswa. Ketika Waitatiri berusaha menyelesaikan program magisternya di Harvard, Wai, panggilan akrabnya, membuat sebuah buku tentang bullying dalam proyek akhirnya. Tak ada yang menyangka, bukunya yang bertajuk “The Missing Colours” saat ini malah dijadikan salah satu kurikulum yang diterapkan di Harvard dan beberapa sekolah di Amerika Serikat.

FotoKecilV1.jpg

Timnas Jerman

Waitatiri, adalah perempuan asli ibu kota, yang saat ini menjabat sebagai Head of Marketing di salah satu startup di Jakarta. Dengan jabatan menterengnya, siapa sangka perempuan cantik ini menyelesaikan studi sarjananya pada bidang sastra Jerman. Wai, panggilan akrabnya menempuh Pendidikan di Universitas Indonesia pada 2012 dan berhasil lulus empat tahun setelahnya.

Ketika ditanya alasan mengapa memilih jurusan tersebut, dengan lantang Wai menjawab karena timnas Jerman. “Ini lucu sih sebenarnya karena saya memang tertarik bahasa asing dari dulu. Dulu kepikiran ingin mengambil antara Sastra Inggris, Sastra Jerman, atau Sastra Belanda. Namun, akhirnya memutuskan untuk memilih sastra Jerman karena saya suka timnas Jerman,” terang Wai dengan senyum khasnya.

Wai saat itu tertarik dengan dunia mengajar. Terbukti setelah lulus Wai sempat mencicipi menjadi seorang pengajar bahasa Jerman di salah satu Lembaga Internasional di almamaternya selama tiga tahun. Namun Wai mengakui kesukaannya sebagai pengajar bukan mimpinya. Wai lebih menikmati pekerjaan di bidang kreatif, seperti penulisan dan pemasaran. Hobi menulisnya dia dapat sejak lulus kuliah. “Saat lulus lagi zaman-zamannya menulis blog. Ternyata menulis terutama menulis kreatif menjadi sesuatu yang menarik. Saya akhirnya memutuskan untuk mendalami itu saja,” ungkap Wai.

FotoKecilV2.jpg

Ponsel untuk Sekolah

Selain menulis, hal yang Wai gemari sampai saat ini adalah dunia relawanan. Walau mengajar tak lagi jadi pekerjaannya, Wai tetap ingin menyalurkan ilmunya. Hal yang dilakukannya adalah mendaftar sebagai volunteer ketika ada yang membutuhkan kakak asuh untuk mengajar anak-anak SD. Tak hanya itu, Wai juga beberapa kali menggalang donasi bersama kawan-kawannya ketika terjadi bencana di Indonesia.

Pada tahun 2020 ketika pandemi melanda seluruh dunia, salah satu hal fundamental yang berubah adalah sistem pendidikan yang berganti menjadi daring. Saat itu banyak anak-anak yang kurang mampu terkendala mengakses pendidikan karena tak mempunyai gawai, bahkan ada yang sampai putus sekolah. Tergelitik dengan permasalahan yang terjadi, Wai menginisiasi program “Ponsel untuk Sekolah”. “Akhirnya saya mengajak lagi teman-teman untuk mengumpulkan donasi, kita belikan itu sampai sekitar 20 HP (handphone) dengan paket data yang akhirnya didistribusikan,” terang Wai.

Setelah menjalankan program “Ponsel untuk Sekolah”, Wai menemukan tujuan hidupnya. Wai berpikir pentingnya kebutuhan pendidikan informal untuk anak-anak Indonesia. “Jadi seandainya mereka kebetulan ada satu dan lain hal yang membuat mereka terpaksa untuk tidak bisa ke sekolah, ada suatu sarana edukasi. Saya kepikiran pendidikan informal”, terangnya. “Akhirnya ketika saya cari di internet, saya menemukan ada program yang membahas tentang pendidikan informal untuk anak-anak yang bisa dilakukan dari buku, dari TV show, dari animasi dan itu adanya di Harvard,” lanjut Wai. Dari situlah kemudian Wai membulatkan tekadnya untuk melanjutkan studinya.

FotoKecilV4.jpg

Pendidikan Informal

Keinginan kuatnya memperjuangkan pendidikan informal untuk anak-anak di Indonesia berhasil mengantarkannya memperoleh beasiswa dari LPDP. Dengan kemantapan hati, Wai hanya mendaftar pada satu kampus dan satu program studi saja, yaitu Harvard School of Education dengan jurusan Learning Design, Information and Technology, jurusan dan tempat impiannya. Wai berhasil lolos dengan sekali mencoba. Menurutnya value yang dibawanya adalah rahasia bisa lulus dalam sekali percobaan saat mendaftar beasiswa.

Education in learning, design innovation and technology menurut Wai adalah jurusan yang mempunyai cakupan yang cukup luas. “Semacam lebih kreatif melihat desain pembelajaran. Jadi kita bukan mendesain seperti membuat kurikulum, tapi kita mendesain bagaimana caranya pembelajaran itu dapat terjadi di media manapun, media buku, media TV, media permainan misalnya, atau kegiatan-kegiatan luar ruangan misalnya outbond,” terang Wai yang memulai pembelajarannya di Harvard pada tahun 2022 lalu.

Tak mudah bagi Wai yang sudah 6 tahun tak berada di bangku kuliah lagi. Setelah lulus dari UI, waktunya dia habiskan di beberapa top tech companies di Indonesia yang sebagian besar bergelut di dunia marketing dan penulisan. Saat lanjut studi, Wai harus beradaptasi ulang dengan sistem pendidikan di sana yang menurutnya jauh berbeda dengan perkuliahannya di UI dulu. Namun, beberapa short course daring yang Wai ikuti sebelum dia berangkat ke Amerika cukup membantunya dalam beradaptasi di lingkungan barunya.

Meski dihiasi dengan tangisan dan ketakutan di awal, Wai berhasil menemukan ritme belajarnya. Apalagi menurutnya, sebagai orang Indonesia, ternyata ia mempunyai value lebih dimata dosen-dosennya. “Saya juga baru sadar bahwa ternyata menjadi orang Indonesia punya value di sana karena mereka ingin tahu. Mungkin kalau kita melihat Indonesia ya kita sehari-hari tinggal di Indonesia, jadi seperti tidak ada yang istimewa gitu. Tapi kalau kita menceritakan tentang Indonesia, tentang cara belajar, tentang anak-anak di sini, mereka ternyata benar-benar memperhatikan,” kenang Wai. Sedikit demi sedikit, ketakutan demi ketakutan yang Wai rasakan saat awal perkuliahan perlahan menghilang.

FotoKecilV3.jpg

Bullying

Setelah satu tahun menempuh pendidikan di Harvard, Wai sampai pada pengumpulan proyek akhirnya. Ada yang istimewa dari proyek akhir yang Wai buat. Wai memilih topik tentang education in uncertainty. Lebih spesifik lagi, Wai memilih bullying sebagai topik pamungkasnya di US. “Ketika mempelajari banyak isu pendidikan, saya sangat tertarik dengan isu bullying, karena saya merasa itu salah satu isu yang paling krusial dan paling urgen untuk diselesaikan di Indonesia,” terang perempuan yang hobi menulis itu.

Uniknya, proyek akhir yang biasanya berupa paper atau jurnal, tak dipilih oleh Wai. Ia lebih memilih untuk membuat buku anak, yang kemudian diberi judul “The Missing Colours”. Tak main-main, Wai menulis bukunya berdasarkan kisah nyata dari salah satu penyintas perundungan di Indonesia.

Buku dwi bahasa itu bercerita tentang Putra, karakter utama yang merasa kehilangan warnanya. Putra merasa hidupnya hanya berwarna kelabu, namun dia tak tahu kenapa. Ternyata yang dirasakannya itu akibat perundungan dari teman-temannya. Pada akhir cerita, Putra berkesempatan keluar dari lingkungan yang merundungnya dan bertemu dengan kelompok baru yang lebih bisa menerimanya dengan hangat dan berhasil memberi warna pada dirinya. “Jadi sebenarnya inti dari bukunya adalah ingin menyampaikan bahwa kamu bisa menjadi orang yang berbeda. Kamu bisa menjadi orang yang baik, yang lebih baik dari kamu sekarang jika kamu dikelilingi dengan teman-teman yang mendukung. Mungkin si Putra itu tadinya merasa abu-abu karena memang dia enggak punya support system gitu. Tapi ketika ia pindah ke lingkungan yang lebih baik, menerima dia apa adanya, dia menjadi berwarna kembali,” ucap Wai.

Banyak yang tak tahu jika Wai juga adalah penyintas bullying. “Saya dulu mengalami bullying di sekolah dan merasa dari dulu bahkan sampai sekarang ketika saya mencari referensi kok enggak ada ya sesuatu yang ngebahas tentang pengalaman seperti saya. Kenapa enggak ada buku yang bisa menemani saya ketika saya menjadi korban? Sampai akhirnya saya harus pulih sendiri. Saat itu saya harus mencari tahu sendiri kenapa saya begini, kenapa saya sampai harus ibaratnya healing sendiri,” kenang Wai. “Tapi kalau orang-orang di luar sana, anak-anak di luar sana banyak yang mungkin sampai dewasa masih membawa traumanya. Karena itu, saya ingin buku ini semacam menjadi cara untuk memberi tahu bahwa walaupun seseorang sudah pernah mendapat bullying, di masa depan mereka bisa kok balik lagi menjadi manusia yang bahagia dengan lingkungan yang baik,” lanjutnya.

FotoKecilV5.jpg

The Missing Colour yang Istimewa

Setelah menyelesaikan bukunya, dosen Wai secara langsung menyampaikan kekagumannya padanya. Bahkan sang dosen meminta buku karya Wai untuk bisa dijadikan kurikulum sebagai bahan ajar di Harvard dan bahkan di Amerika Serikat. Setelah Wai menyelesaikan studinya di tahun 2023, selama setahun, Wai, dosennya dan satu orang yang mengurus tentang kurikulum menggarap detail dari buku karyanya. Hingga April 2024 akhirnya “The Missing Colours” resmi menjadi salah satu kurikulum yang diterapkan di beberapa sekolah di Amerika Serikat serta terpanjang di website resmi Harvard bersanding dengan bahan ajar lainnya yang bisa dipakai secara gratis bagi pendidik.

Wai tidak ingin proyeknya hanya berakhir sampai di situ. Saat ini Wai dalam tahap penulisan buku selanjutnya, masih dengan topik bullying yang ia perjuangkan. Wai ingin menghadirkan perspektif yang berbeda dengan menghadirkan cerita dari dua sisi. “Kalau sekarang targetnya itu lebih ke remaja dan orang dewasa. Jadi pembahasan bullying-nya lebih komprehensif. Saya mengambil cerita dari penyintas yang pernah menjadi korban dan juga menjadi pelaku,” terang Wai. Selain itu, Wai juga menghadirkan pandangan dari pihak guru dan sekolah. Harapannya adalah agar setiap orang dapat lebih memahami  dan lebih aware terhadap bullying dan masyarakat tidak boleh menormalisasi itu.

FotoKecilV7.jpg

Buku Buat Semua

Selain proyek buku pribadinya, Wai juga menggagas program lainnya yaitu “Buku Buat Semua”. Karena ketertarikannya dengan dunia tulis menulis, Wai tergugah untuk mengumpulkan penulis-penulis serta ilustrator untuk bergabung dengan programnya. “Saya menyusun “Buku Buat Semua” itu seperti platform yang menggabungkan penulis dan ilustrator. Jadi para penulis dapat menulis cerita kemudian nanti dipilih ilustratornya juga, kita pasangkan. Wai mempersilahkan siapa saja yang ingin bercerita tentang anak, untuk ikut serta mengumpulkan kisahnya yang kemudian nanti akan dikurasi dan dibuatkan ilustrasinya dengan hasil akhir berupa sebuah buku cerita anak. Buku ini nantinya akan dicetak dan didistribusikan secara cuma-cuma ke perpustakaan umum, sekolah, RPTRA, panti asuhan, serta dapat diakses gratis secara online pada website bukubuatsemua.com.

Awalnya Wai merasa ragu ketika pertama kali membagikannya di media sosial karena proyek ini gerakan sukarela dan Wai merasa belum cukup punya nama. Namun antusias warganet atas program ini luar biasa. Sampai saat ini, telah terkumpul puluhan cerita dari berbagai penulis di seluruh Indonesia. “Ternyata banyak orang-orang yang berbakat dalam hal penulisan dan ilustrasi. Mereka mau bikin buku anak-anak secara gratis,” kata Wai. “Salah satu buku bahkan penulisnya berasal dari Kepulauan Yapen, Papua. Dua anak SD kelas 5. Cerita mereka diilustrasikan sampai akhirnya menjadi buku dari kisah yang mereka karang,” lanjutnya.

Saat ini Wai juga sedang mengembangkan platform belajar untuk anak umur 4 hingga 14 tahun yang membahas tentang literasi numerasi pada Smartick Indonesia, sebuah startup yang diinisiasi oleh beberapa alumni LPDP yang kemudian mengajak Wai bekerja sama. “Harapannya ini bisa membantu anak-anak di sekolah karena memang ini kan sifatnya platform ya, website gitu, jadi anak-anak belajar di rumah. Selain secara personal mereka berkembang, mereka juga bisa berpikir kritis, lebih percaya diri dengan kemampuannya sendiri dan dapat perform lebih baik di sekolah,” ungkap Wai.

FotoKecilV6.jpg

Impian dan Pesan

Setiap orang pasti punya mimpi dan harapan, begitu juga Waitatiri. “Ada dua cita-cita yang saya impikan. Pertama, memiliki perpustakaan gratis. Perpustakaan untuk anak-anak di beberapa titik supaya bisa menjangkau lebih banyak, yang isi bukunya adalah buku-buku dari “Buku Buat Semua”. Saya sangat berharap “Buku Buat Semua” dapat berkembang hingga kami dapat mewujudkan memiliki perpustakaan,” ujar Wai menjelaskan. “Kedua, saya ingin membuat wadah bagi teman-teman yang pernah menjadi korban bullying. Sebuah wadah penguatan untuk bagaimana caranya kita dapat saling menguatkan, saling mengedukasi juga agar kita dapat menyebarkan pesan ke masyarakat luas bahwa perundungan adalah masalah yang sangat penting untuk diselesaikan,” lanjutnya.

Wai juga membagikan salah satu prinsip hidupnya, yaitu coba aja dulu! “Setiap ingin melakukan sesuatu, saya selalu bilang ke diriku, cobain saja gitu. Seandainya gagal ya sudah nanti dicoba lagi. Tapi yang terpenting sudah mencoba. Lebih baik merasa sebal sudah mencoba tapi gagal, daripada menyesal karena tidak pernah mencoba sama sekali,” pungkas Wai.